
Tak hanya Maria yang mendengar mobil Fagan masuk halaman. Rupanya Asya juga mendengar hal itu. Dia merasa apa yang menjadi keinginannya terkabulkan. Saat dia bicara berulang-ulang di dalam hatinya, ternyata Fagan seperti orang yang mendengar permintaan itu dan dia benar-benar pulang.
"Tuan Muda, kamu pulang?" kata Asya senang.
Dia berharap Fagan menghentikan ibunya yang memintanya membereskan dan membersihkan kamar itu. Asya yang saat itu sedang memanjat tangga lipat untuk membersihkan bagian atas lemari tas ibu mertuanya sedikit melakukan selebrasi atas kedatangan Fagan. Hingga tanpa sengaja dia menyenggol tas mahal yang di display di lemari itu. Spontan dia berusaha untuk meraih kembali tas itu sehingga membuat tangga menjadi oleng dan Asya yang tak bisa menjaga keseimbangan akhirnya tergelincir.
"Akh," rintih Asya yang merasa tubuhnya dihantamkan cukup kuat ke lantai granit warna coklat muda itu.
Tubuhnya terasa mati rasa dan tulangnya terasa remuk. Asya melihat darah yang mengalir di lantai.
"Astaga, Tuhan, darah apa ini?" gumamnya dalam keadaan yang tak berdaya. Mata Asya terasa sangat berat hingga sebelum ibu mertuanya masuk, matanya sudah menutup rapat. Asya kehilangan kesadaran setelah beberapa detik dia jatuh dari ketinggian.
"Asya?" tiru Fagan saat ibunya menyebut nama istrinya itu dengan cukup keras.
Kemudian pria itu mengarahkan kursi rodanya ke kamar sang ibu mengikuti Maria.
"Apa yang terjadi, Asya?" Maria melihat Asya tergeletak di lantai dengan posisi tubuh tertelungkup dan dahi yang mengeluarkan darah.
Maria menoleh ke kanan dan ke kiri mencari penyebab jatuhnya Asya hingga akhirnya dia mendapati tas super mahalnya tergeletak di lantai dan tangga yang ambruk menimpa kaki Asya.
"Astaga, gadis bodoh apa yang kamu lakukan?" gumamnya dan segera menjauhi Asya.
Dia berjalan ke arah tasnya dan meninggalkan Asya begitu saja tanpa peduli jika menantunya itu sedang bersimbah darah.
"Apa yang Mama lakukan? Kenapa Mama diemin Asya?" sentak Fagan yang saat masuk melihat ibunya memilih menghampiri tasnya dari pada Asya.
Fagan melorot dari kursi rodanya dan membalik tubuh Asya. Dia melihat Asya terluka dan tak sadarkan diri.
"Bangun, Asya. Bangun," kata Fagan dengan suara yang sangat bergetar.
Dia sangat panik dan juga ketakutan. Bagaimana juga keadaan Fagan sekarang ini sama seperti Asya. Dia sedang mencoba mendalami apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya tentang Asya. Saat memutuskan pulang juga karena Fagan merasa Asya membutuhkannya.
__ADS_1
"Sam!" teriak Fagan memanggil ajudannya. "Asya, bangun, Asya." Fagan mencoba menepuk pipi Asya lembut agar istrinya itu membuka mata.
Perlahan, Asya membuka matanya. Kesadaran Asya kembali setelah mendengar suara Fagan.
"Tuan, apa saya sudah mati?" tanya Asya.
"Jangan sembarangan ngomong, kamu." Fagan menjawab ketus. "Sam!" sambungnya memanggil Abrisam.
"Sekalipun saya mati, sepertinya tak akan ada penyesalan, Tuan." Kalimat itu seperti sebuah pesan tersirat dari Asya, karena setelah itu Asya kembali pingsan.
"Ada apa ini, Tuan?" Abrisam sampai ke kamar Maria dan mendapati Fagan duduk di lantai sembari memangku kepala Asya.
"Jangan banyak omong, Sam. Cepat bawa dia ke rumah sakit," perintah Fagan penuh dengan emosi.
"Ba ... baik, Tuan." Abrisam bersiap meraup tubuh Asya.
"Tunggu, tunggu. Ngapain repot-repot ke rumah sakit? Ngabisin duit aja, biar aja. Nanti juga sadar sendiri," cegah Maria.
Abrisam menuruti perintah Fagan dan dengan cepat membawa Asya ke rumah sakit. Sementara Fagan berusaha sekuat tenaga menggunakan sisa tenaganya untuk kembali duduk di kursi roda agar bisa menyusul Asya dan Abrisam.
Dengan susah payah Fagan berusaha, bahkan dia beberapa kali tergelincir. Hingga akhirnya dia mampu bertumpu pada satu kakinya yang selama ini lemah tak berdaya. Maria merasa heran dengan hal tersebut. Hingga dia berseru kagum pada Fagan.
"Sayang, apa kakimu mulai ada tenaganya?" tanya Maria.
Fagan sama sekali tak menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Yang dia lakukan hanya berusaha bangkit dari lantai dan kembali duduk di kursi roda. Fagan segaja melakukan semua itu sendiri karena memang dia kesal pada ibunya.
"Fagan, kakimu mulai bisa kamu gunakan untuk bertumpu? Sungguh?" desak Maria.
"Aku nggak peduli, Ma. Aku nggak akan maafin Mama kalo terjadi sesuatu yang buruk sama Asya." Fagan menjawab dengan sangat ketus dan penuh emosi.
Ini adalah kali pertama Fagan memaki ibunya setelah sekian lama. Hal itu cukup membuat Maria terkejut dan juga heran. Putra yang selama ini menurut dan selalu takhluk pada apa yang dia katakan menjadi pembangkang dan berani membentak.
__ADS_1
"Fagan," lirih Maria dengan mata penuh rasa tak percaya.
"Fagan pergi sekarang, Ma. Fagan harus susul Asya ke rumah sakit," pamit Fagan pada ibunya karena tak mau masalah menjadi berkelanjutan.
Pria itu memutar kursi rodanya dengan kendali yang ada di samping kanannya dan segera menuju ruang depan. Dia memanggil seorang sopir rumah dan memintanya mengantar ke rumah sakit untuk memastikan keadaan istrinya.
Sementara Fagan berangkat, Asya dan Abrisam baru saja sampai di rumah sakit. Asya sudah dipindahkan ke brankar dan sekarang tengah dibawa menuju IGD, sedangkan Abrisam terlihat berlarian di tepi brankar Asya untuk mendampingi istri atasannya itu. Abrisam sampai tak mempedulikan ponselnya yang terus berdering karena rasa khawatir dan ketidakpastian akan keadaan Asya.
"Maaf, Tuan. Tunggu di luar. Kami akan tangani istri Anda dengan baik," kata seorang perawat pria.
Wajah penuh rasa khawatir dan takut yang Abrisam tunjukkan memang seperti seorang suami yang mengkhawatirkan keadaan istrinya. Mereka menyangka Abrisam adalah suami Asya. Mereka belum melihat dengan jelas jika wanita yang wajahnya bersimbah darah itu adalah istri dari Fagan Elvander, pengusaha sukses yang sering mereka lihat di layar kaca.
"Astaga, ini Nyonya Asya Elvander," kata perawat setelah membersihkan wajah Asya yang bersimbah darah.
"Akh, kamu benar. Dia gadis itu," balas yang lain.
"Kupikir istri pria yang mengantarnya," sahut perawat yang mencegah Abrisam masuk tadi.
"Sudah, sudah. Kalian malah ribut nggak jelas, cepet pasang infusan." Dokter memperingatkan.
Semua orang bergerak memeriksa satu persatu, mereka juga memastikan kondisi tubuh Asya baik-baik saja.
"Detak jantung dan tekanan darah mulai normal, Dok." Seorang perawat melaporkan.
"Bagus, hentikan dulu pendarahan di dahinya dengan jahitan," balasnya memastikan luka di dahi Asya harus di jahit.
"Baik, Dok. Kami siapkan," jawab perawat lain.
Ruang IGD menjadi sangat sibuk karena darah dari dahu Asya yang tak kunjung berhenti.
"Bagaimana keadaan Asya? Kenapa kamu di luar?" cecar Fagan begitu sampai lobi dan melihat Abrisam berdiri di depan IGD.
__ADS_1