KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU

KEKEJAMAN SUAMI LUMPUHKU
24. Pesta Yang Hancur


__ADS_3

Asya masih belum berhenti mencari keberadaan suaminya. Agaknya gadis itu bingung karena semua orang sudah turun ke lantai dansa. Pasangan-pasangan yang mulai bergerak membuat pandangan Asya tak juga menemukan Fagan. Hingga seseorang menarik paksa tangan Asya hingga dia tertatih. 


"Lepaskan," keluh Asya berkali-kali. 


Hingga akhirnya Asya justru terpelanting dan jatuh tepat dengan posisi terduduk. Asya mengalami kejadian yang cukup memalukan, dia menutup rapat matanya karena pasti dia akan terkena makian Fagan. 


"Astaga, aku bunuh diri ini namanya," ujarnya dan dia begitu ketakutan. 


Matanya masih mengatup erat, Asya tak berani membuka matanya. 


"Kenapa? Apa sakit?" Pertanyaan itu terdengar begitu lembut dan syarat akan kekhawatiran. 


"Tuan Fagan," batin Asya mendengar suara pria itu dengan cukup merdu, lain dari biasanya. 


"Buka matamu, apa kamu tak ingin merasakan suasana pesta dansa seperti yang lain?" tanya Fagan lagi. 


Asya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Terang saja dia menolak, dia sama sekali tak pernah tahu macam apa pesta dansa itu. Dia hanya melihat pesta dansa di layar kaca saja selama ini. Mendengar jawaban itu, tentu saja Fagan hanya tersenyum. Gadis itu masih belum menyadari jika dia berada di pangkuan suaminya. Fagan menaruh tangan Asya di kedua pundaknya, sedang tangan Fagan mengendarai kursi roda modern itu menembus kerumunan orang. Dia menuju ke bagian tengah lantai dansa dan membuat semua orang merasa terpukau. 


Pria lumpuh itu mampu membuat istrinya merasakan hangatnya lantai dansa tanpa berdiri. Fagan mengayunkan kursi rodanya maju dan mundur layaknya anak kecil yang sedang bermain mobil-mobilan. Sedangkan Asya mulai menyadari jika dia dibawa Fagan ke suatu tempat. 


"Masih belum ingin buka matamu?" tanya Fagan.


Asya tak bereaksi, dia bingung harus berkata apa dan bersikap bagaimana. Hingga akhirnya perlahan dia membuka sebelah matanya. Saat itu, wajah tampan Fagan yang terlihat. 


"Sejak kapan kamu melihat hanya dengan satu mata? Apa aku terlihat lebih tampan jika dilihat dengan mata sebelah begitu?" tanya Fagan menggoda istrinya. 


Asya membuka kedua matanya perlahan dan dia melihat puluhan pasang tamu undangan tengah berdansa dengan sangat mesra dengan gandengan masing-masing. Semantara dia duduk di atas pangkuan Fagan yang begitu hangat. Ternyata pria itu sudah cukup lihai memainkan pengendali kursi rodanya. Fagan mampu membuat istrinya merasakan lantai dansa walau hanya dengan duduk di pangkuannya. 

__ADS_1


"Tak perlu khawatir kamu tak pandai berdansa, aku sudah berhasil membuatmu menari dengan sangat indah. Bahkan semua orang melihay ke arahmu sekarang," sambung Fagan. 


Kesombongan dan keangkuhan pria yang sangat mengerikan itu nampak begitu nyata. Dia tak pernah membuat keadaan menjadi lebih manis sebelum hari ini. Wajah mereka berdua yang berada dekat, membuat jantung Asya tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang. 


"Apa yang terjadi dengan diriku?" tanya Asya dalam hati. 


Dia merasakan hatinya bergejolak dengan sangat mendadak. Dia tak pernah berpikir ini akan terjadi setelah berbagai perlakukan yang dia alami selama ini. 


Mata Asya tiba-tiba bergetar, dia mencoba mengalihkan pandangan, tapi tak berhasil. Fagan menahan dagu gadis manis itu dan mendaratkan kecupan manis di bibir Asya. 


"Kamu lihat ini, Elina. Aku mampu melakukan ini tepat di depan matamu," gumam Fagan dalam hati. 


Bibir hangat Fagan menelusup lembut menyentuh bibir Asya. Sontak pikiran Asya menjadi kosong melompong dan membuat segala urat nadinya serasa berhenti. Tak ada rencana apa pun tentang adegan ini, sehingga Asya sama sekali tak siap dengan apa yang terjadi. 


Tangan Asya yang masih menempel di tubuh Fagan spontan meremas jas yang suaminya kenakan. Dia sadar jika tak mungkin melepaskan ciuman itu begitu saja dan dengan kasar. Dia baru saja memulai sandiwara kehidupan pernikahannya dengan Fagan. Kini pria itu justru membuat perkara baru dengan menciumnya tanpa izin di depan umum. 


"Wah, Fagan, Asya, kalian berdua memang luar biasa. Cinta kalian berdua benar-benar membuat kami iri," ujar Lionel dengan nada iri. 


"Berhenti, Lionel," lirih Elina yang berdiri di samping pria itu. 


Lionel melirik dan menyadari jika Elina tak suka atas apa yang dia respon saat ini. Bagaimana juga, hal. Yang paling membuat Elina kesal malam ini terulang kembali saat ini. Mereka terus menerus membela dan menyanjung Asya dan Fagan di depan matanya. 


Elina dibuat pusing sepanjang pesta dengan decak kagum para tamunya pada hubungan cinta Asya dan Fagan. Dia merasa tak menjadi ratu di pestanya sendiri. Elina kalah dengan Asya, hingga sepanjang pesta hati wanita itu terus saja mengumpat dan kesal. Wajah muram durjana Elina terlihat dengan jelas. 


"Kamu salah besar, Elina. Kamu mengira Fagan akan datang dengan wajah patah hatinya, kan? Ternyata dia justru datang dengan sejuta kebahagiaan yang menyelimuti pernikahan mereka berdua," ujar Lionel mengejek gadis yang menyiakan sahabatnya tanpa hati itu. 


Hingga beberapa saat, bibir Fagan akhirnya melepaskan bibir Elina dengan cukup basah. Mereka benar-benar berciuman dengan sangat hangat di lantai dansa. Tanpa diminta, Asya meladeni setiap gerakan bibir yang Fagan inginkan. Hingga pada akhirnya, mata Asya menangkap simpul senyum di bibir Fagan. 

__ADS_1


"Tu ... Tuan, apa ini tadi?" tanya Asya gagu. 


"Bukan apa-apa, aku hanya ingin menambah kebahagiaan yang sudah ada saat ini," ujar Fagan sembari mengusap lembut bibir Asya dengan ibu jarinya. 


Spontan detak jantung Asya menjadi semakin kencang. Dia seperti orang yang lupa akan segala yang pernah pria itu lakukan dengan tangannya. Bahkan pria mengerikan itu tak lagi menyeramkan bagi Asya. Entah kemana hilangnya rasa benci dan muak Asya saat itu saat sorot mata Fagan membuatnya menjadi lemah seketika. 


"Kenapa?" tanya Fagan saat mendapati Asya terus menatap matanya. 


"Bu ... bukan apa-apa, Tuan." Asya menghindari kontak mata. Seketika Asya salah tingkah dan terlihat gusar. 


"Sudah saatnya kita pulang, kamu sudah menaklukan semuanya dan kamu bisa ambil hadiahmu sekarang," ujar Fagan pada Asya. 


Mendengar kata lulus dari Fagan, tentu saja Asya kegirangan. Dia tersenyum lebar dan juga berjingkrak, padahal dia masih berada di atas pangkuan suaminya. 


"Sungguh?" teriak Asya tanpa sadar. 


Kebahagiaan tak terhingga untuk bertemu ayahnya membuat Asya lupa jika mereka masih di tengah lantai dansa. Hingga semua orang menatap ke arah keduanya yang begitu mesra berpangkuan di atas kursi roda. 


"Sayang, jangan terlalu bersemangat." Fagan menimpali Asya dengan jawaban yang tak kalah mengejutkan. 


"Astaga, kalian berdua membuatku muak. Pergi sekarang juga!" Elina kesal dan membentak pasangan romantis malam itu. 


Suasana pesta menjadi riuh karena tamu yang lain mengumpat Elina. Mereka menyalahkan Elina karena mengundang mantan kekasihnya itu, sehingga menjadi ajang menunjukkan diri yang justru membuat Elina sakit hati dan kesal. 


"Ayo, Sayang. Yang punya pesta sudah mengusir kita, sudah saatnya kita pergi dari sini," ajak Fagan. 


Asya bangun dari pangkuan suaminya dan berdiri dengan sangat anggun. Dia melangkah pergi tepat di sisi kanan kursi roda Fagan sembari menggandeng mesra tangan suaminya. 

__ADS_1


"Brengsek kalian berdua," teriak Elina tanpa kendali. 


__ADS_2