Keluarga Posesif

Keluarga Posesif
43


__ADS_3

Sesuai yang mereka janjikan, hari ini seorang tuan putri, queen, princess mereka melakukan hiling mudik ke panti asuhan kasih bapak, tempat anak perempuan satu-satunya tuan Malik di besarkan.


Mereka sepakat berangkat bersama-sama termasuk para sahabat Abangnya.


Amel yang melihat semua abangnya berkumpul, melingkar di ruang tamu dengan tampang pari pura lantas bertanya


"Abang... udah siap?".


"udah" jawab mereka kompak menatapnya yang ingin duduk di sisi Abang kembar .


"Ayah,mana?" tanya Amel yang baru saja sadar ayah nya tidak ada bersama mereka, meskipun ayah jarang pulang Amel tidak pernah merasa di abaikan ayahnya selalu menjadikannya prioritas utama meskipun hanya sekedar mendengarkan keluh kesahnya lewat handphone.


"Ayah masih mengurus keberangkatan kita, mending princess duduk di sebelah Abang " kata Abang aldo menjawab pertanyaan Amel sambil menepuk sopa sisi kirinya yang kosong .


"nggak cebol udah duduk di sini, nggak bisa pindah " tolak Zidan dengan mendekap kedua bahu Amel yang ingin berdiri.


"Amel duduk di sini aja bang" terpaksa duduk kembali.

__ADS_1


mendengar penolakan cebol twins menyunggingkan senyum kemenangan pada kedua abangnya yang mengeluarkan aura tak menyenangkan .


"Kenapa nggak ngurus dari kemarin sih bang tengil?"


"udah dari kemarin ngurusnya tapi ayah masih ingin memperketat penjagaan selama kita dalam perjalanan sampai pulang." jawab bang Alan yang kembali sibuk Mabar dengan bang Maikel dan Gilang setelah adegan tatapan,tatapan dengan twins .


" ayah juga mau pindai keamanan pesawat yang kita gunakan secara langsung " sahut bang Zidan yang masih bermanja-manja di lengan Amel.


"wahhhh...... protektif sekali ayah Malik sampai-sampai turun langsung mengawasi mereka " sahut Gilang


"ayah mah ngagetin Amel" protes Amel menekan jantungnya yang Dang Ding dong


"anak anak ayak udah siapkan ?" tak menghiraukan protes tuan putrinya malah mengusap rambut amel yang terhalang hijab


"udah yah " jawab mereka kompak berdiri dengan semangat membara


"sahabat Amel jadi ikut?" tanya ayah beranjak keluar

__ADS_1


"nggak jadi yah, mereka semua ada kesibukan sendiri " jawab Amel dengan tangan melilit di lengan ayahnya ingin bermanja-manja.


"emmmm.... sayang sekali ayah kepingin ketemu sama sahabat kamu " jawab ayah dengan membuka pintu mobil untuk Amel, memang sesuai rencana Amel akan selalu ada di dekat ayahnya selam mereka berpergian ,jika Amel udah nempel sama sang ayah maka terpaksa para abangnya akan merasa menjadi Abang tiri .


"kalau Amel sama ayah..kita berdua juga ikut ayah " kata bang Zaid masuk ke mobil ayah Tampa mendengar respon dari ayah.


" kalau Zaid sama ayah sudah seharusnya Zidan juga ikut mobil ayah.


Tampa perdebatan panjang mereka langsung bergegas membelah jalan beraspal dengan iringan para bodyguard di depan dan belakang mereka, mungkin total mobil yang ikut sekitar puluhan ikut memecah jalan beraspal.


selama perjalanan tak ada kata membosankan untuk mereka selalu saja ada yang mereka lakukan mulai dari keusilan Zidan yang selalu menganggu kembarannya Zaid yang notabenenya pendiam nggak banyak tingkah.


"oh..ya bang Zidan gimana hubungannya sama kak Nisa?, aku sampai lupa loh sama kak Nisa nggak pernah ada kabar semenjak pindah sekolah" entah angin dari mana tiba-tiba membuat ia membahas tentang Nisa


" Lo mau ngomong sama Nisa ?" bukan menjawab Zidan malah menawarkan.


"Mau banget" sahut Amel mengangguk antusias,sedangkan ayah dan Zaid hanya menjadi pendengar saja.

__ADS_1


__ADS_2