Kembalinya Gadis Cupu

Kembalinya Gadis Cupu
Siksaan


__ADS_3

Kiara mengerjapkan matanya, kepalanya terasa begitu sakit dan juga berat. Matanya seakan susah untuk terbuka, bahkan pandangan matanya seakan kabur ketika dia berusaha untuk membuka matanya.


Sepertinya Kiara sudah terlalu lama tertidur, tetapi dia masih merasa mengantuk dan susah untuk membuka matanya. Kiara menjadi ketakutan dibuatnya. Namun, sinar mentari yang menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut membuat mata Kiara menjadi silau.


"Di mana aku?" tanya Kiara yang merasa susah untuk bergerak.


Kiara kini mulai bisa membuka matanya, tetapi pandangan matanya masih terasa kabur. Wanita itu nampak menggerakkan tubuhnya, tetapi tetap saja tidak bisa.


"Ada apa ini? Kenapa tubuhku begitu susah untuk digerakkan?" tanya Kiara lagi.


Semakin Kiara berusaha untuk bergerak, dia merasakan sekujur tubuhnya sakit luar biasa. Bahkan, Kiara merasa jika tangan dan juga kakinya sangatlah sakit.


Bahkan, dia juga merasakan tulang-tulang di dalam tubuhnya seakan rontok. Entah apa yang sudah terjadi kepada dirinya, Kiara tidak paham.


Seingatnya dia sedang duduk di bangku taman, dia sedang mencari udara segar dengan menghirup aroma wangi bunga. Namun, tidak lama kemudian ada asap yang begitu tebal dan membuat dirinya susah untuk bernapas.


"Sudah bangun, Kiara?"


Kiara yang sedang berusaha untuk menggerakkan tubuhnya langsung terdiam, tentunya hal itu terjadi karena dia mendengar ada seseorang yang menegur dirinya.


Namun, suara itu terdengar tidak asing di telinganya. Kiara langsung mengingat-ingat siapa wanita yang dia rasa berada tidak jauh dari dirinya itu, tidak lama kemudian dia mengingat suara siapa yang menegur dirinya tersebut.


"Kayesa?" ujar Kiara dengan tanya karena takut salah menebak.


Kayesa langsung tertawa dengan terbahak-bahak mendengar Kiara yang mampu menebak namanya, padahal wanita itu terlihat lemas dan kurang awas dalam melihat.


Namun, ternyata wanita itu mampu menebak siapa dirinya hanya dengan mendengar suaranya. Sungguh Kayesa merasa salut dibuatnya.


"Pandai, aku adalah Kayesa. Kamu tidurnya sangat lama, padahal aku ingin segera memberikan pelajaran untuk kamu yang sudah berani menghancurkan hidupku." Kayesa mengambil seember air lalu mengguyurkannya pada tubuh Kiara.


Byur!


Kiara langsung gelagapan, terlebih lagi Kayesa mengguyurkan air tersebut tepat di wajah Kiara. Dia sampai mual dan muntah, karena Kayesa mengguyurkan air kotor yang tercium begitu bau.

__ADS_1


Kayesa yang melihat akan hal itu tidak merasa kasihan, justru dia malah tertawa dengan terbahak-bahak. Dia merasa bahagia melihat penderitaan wanita yang ada di hadapannya.


Tujuan Kayesa membawa Kiara ke tempat itu memang untuk menyiksa wanita itu, dia ingin menyiksa wanita itu sampai puas.


"Dua puluh enam jam kamu tertidur, Kiara. Kini saatnya kamu bangun, karena aku ingin memberikan pelajaran kepada kamu." Kayesa menghampiri Kiara, lalu dia menjambak rambut wanita itu.


Kiara yang memang masih merasakan lemas langsung berteriak kesakitan, karena Kayesa menarik rambut Kiara dengan begitu kuat.


"Lepaskan aku, Kayesa. Ini sangat sakit," ujar Kiara seraya mengerjapkan matanya.


Dia berusaha untuk menajamkan pandangannya, setelah diguyur air oleh Kayesa, pandangan matanya terasa mulai merasa jelas.


"Baiklah, Sayang. Aku akan menuruti keinginan kamu," jawab Kayesa yang langsung melepaskan jambakan rambutnya.


Namun, tidak lama kemudian Kayesa malah mencekik leher Kiara. Wanita itu sampai kesusahan untuk bernapas, bahkan untuk bergerak pun dia seolah tidak mampu.


Ternyata Kayesa mengikat kaki dan juga tangan Kiara, wanita itu didudukkan di atas sebuah bangku. Lalu, tangan Kiara diikat ke belakang bangku tersebut. Kaki wanita itu juga diikat dengan sangat kencang.


Jika Kiara berusaha untuk melepaskan diri, kaki dan tangannya akan merasa sakit karena ikatannya sangatlah kuat.


Kiara mengedarkan pandangannya dengan gerak yang begitu terbatas, saat ini dia berada di sebuah ruangan yang begitu kotor dan juga pengap.


Namun, dia masih bisa melihat ada sinar mentari yang menerobos masuk lewat lubang yang ada pada tembok di sana. Sepertinya kini dia berada di dalam gudang, entah gudang apa tetapi dia tidak tahu.


Kayesa sengaja membawa Kiara ke pulau pribadi milik keluarganya, dia ingin menyiksa Kiara terlebih dahulu. Setelah merasakan kepuasan, Kayesa akan membunuh Kiara dan melemparkan mayat wanita itu ke dalam lautan.


"Baiklah, aku akan melepaskan kamu. Tapi, aku akan--"


Kayesa tiba-tiba saja terdiam, karena dia melihat sinar mentari yang tiba-tiba saja meredup. Sontak saja hal itu membuat ruangan itu nampak gelap, Kayesa yang takut akan kegelapan nampak mengambil ponselnya dan menyalakan senter dari ponsel tersebut.


"Sial! Kenapa malah gelap?" tanya Kayesa yang tidak paham.


Kayesa nampak ketakutan, tetapi dia berusaha untuk bersikap tegar dan sok kuat di hadapan Kiara. Kiara hanya menahan tawa di sela rasa sakit yang teramat kuat pada tubuhnya.

__ADS_1


Namun, di satu sisi Kiara merasa bahagia. Jika bumi mulai gelap, itu artinya gerhana matahari sedang berlangsung. Seingatnya, Kiara sempat membaca berita jika gerhana matahari akan berlangsung selama lima belas menit.


Itu artinya, penderitaannya akan segera berakhir. Kekuatan dari wanita itu akan kembali, sungguh dia berjanji akan membalas apa yang sudah dilakukan oleh Kayesa terhadap dirinya.


"Aku kira kamu adalah wanita kuat, nyatanya kamu hanyalah seorang pecundang." Kiara berkata seperti itu, Kayesa terlihat begitu marah.


Dia langsung menampar pipi Kiara dengan begitu kencang, rasa perih dan juga panas langsung terasa di pipi wanita itu.


"Teruslah berbuat jahat, Kayesa. Tapi kamu harus ingat satu hal, tidak akan ada kata kepuasan di dalam diri kamu, walaupun kamu membunuh aku sekalipun. Tidak ada nama baik yang akan kembali, walau aku mati saat ini juga."


Kayesa yang mendengar ucapan dari Kiara terlihat begitu marah, wanita itu bahkan mengambil kayu yang ada di sana dan langsung memukul punggung Kiara dengan kencang.


"Argh!" erang Kiara penuh kesakitan.


"Rasakan, Kiara! Itu adalah hukuman untuk orang yang berani berkata seperti itu kepadaku, apa mau lagi?" tanya Kayesa seraya mengayunkan kayu yang dia bawa.


Kiara hanya tersenyum getir melihat kebencian di mata Kayesa, karena sungguh dia tidak pernah bermaksud untuk menghancurkan wanita itu. Kiara hanya berusaha untuk membalas dendam terhadap apa yang sudah dilakukan oleh Kayesa terhadap dirinya.


"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, Kayesa. Tapi ingat, kamu tidak akan bisa membunuhku." Kiara menolehkan wajahnya ke arah lubang yang ada di tembok, di luar nampak gelap sekali.


Seperti tidak ada cahaya matahari sedikit pun, sepertinya matahari kini benar-benar tertutup sehingga cahayanya tidak sampai menembus ke bumi.


"Berisik!" teriak Kayesa yang kembali memukul punggung Kiara menggunakan kayu yang sejak tadi dia pegang.


"Argh!" kembali Kiara berteriak, karena punggungnya terasa perih dan juga sakit. Bahkan, dia sampai mengeluarkan darah dari bibirnya.


Kiara mengeratkan giginya, dia berusaha untuk menahan rasa sakit yang datang dengan luar biasa. Di dalam hatinya, dia berdoa agar gerhana matahari total yang sedang berlangsung akan segera berakhir.


"Jangan berisik makanya, memohonlah kepadaku, Kiara. Siapa tahu aku bermurah hati kepadamu," ujar Kayesa yang langsung menendang bangku yang sedang diduduki oleh Kiara.


Sontak saja hal itu membuat Kiara jatuh tersungkur, Kiara sampai menjerit kesakitan karena bangku itu nampak menindih tubuhnya. Bahkan, Kiara merasa kesakitan karena ikatan pada kaki dan juga tangannya terasa semakin mengencang.


"Bersiaplah, karena sebentar lagi aku akan--"

__ADS_1


Kayesa nampak tidak meneruskan ucapannya, karena tiba-tiba saja dia melihat Kiara yang berusaha untuk berdiri.


__ADS_2