
***rasa suka bisa untuk siapa saja,
rasa sayang bisa untuk sapa saja
rasa rindu bisa untuk siapa saja
begitu pula
rasa iba
rasa benci
rasa marah
bisa untuk siapa saja
kita bisa memilih untuk siapa rasa itu ada
tapi rasa Cinta,
kita tak bisa memilih mencintai siapa,
tapi Cintalah yang memilih kita*
*Narabella*****
"kalau aku mau sama Dave, walaupun tinggal kamu satu satunya lelaki di bumi, aku pasti sudah gila"
Nara berjanji dalam hati.
"tampangnya saja ganteng tapi perlakuannya
seribu banding kosong dengan Clay. mana sombongnya nggak ketulungan, ihh amit amit deh.. punya pacar kayak gitu."
Nara bangkit berdiri, sambil menepuk bajunya yang kotor karena terpeleset, tanpa jawaban,dengan perasaan malu dan kesal Nara berjalan kearah kumpulan teman teman barunya yang melingkari api unggun, dan bergabung dengan mereka, bernyanyi, bermain, bercanda, tertawa, Dave terus memperhatikan Nara dari kejauhan, sangat cantik, dalam sweater jingganya.
"Nara, kamu berani menolak aku, kamu tidak tau banyak gadis cantik diluar sana yang rela melakukan apa saja untuk bisa bersamaku, kau yang pertama menolakku, akan kubuat kau bertekuk lutut di kakiku. dengan cara apapun juga."
Dave mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalan, karena selama ini tidak pernah ditolak, memang perawakan Dave sangat tampan, tinggi dan badan berotot bak atlet membuatnya diidolakan kaum hawa, bahkan tidak sedikit kaum adam yang iri akan penampakan Dave yang sempurna bak peragawan. Nara diapit kedua sahabatnya yang sedang menatap Dave.
"astagaaa Ra... ganteng bangeeettt.. senang bangeeettt...akhirnya idola kamu takluk sama kamu....gue jadi iri...wwaahhhh"
celetuk Livi sambil tatapannya tak lepas dari Dave.
"Nara tatapannya bak tatapan para Dewa ...menghanyutkan.... kok bisa ada manusia seganteng Dave, memang pilihan kamu mengidolakan Dave luar bisa tepat...astaga ngiler gue ngeliatin idola kamu Ra..."
"apaan sih kalian, biasa aja lagi, lebih ganteng clay tau..."
"dasar yang lagi dimabuk cinta"
"iya nih...Liv... padahal kita juga butuh pemandangan yang indah indah..."
"Nara...Meycan coba perhatiin kemana arah tatapan semua gadis yang ada disini...??"
Mata Nara menatap sekeliling, dan betapa terkejutnya Nara saat menyadari semua mata para Gadis tertuju pada Dave, yang sedang berjalan menuju ke arah api unggun.
Dave duduk disamping Drew, yang langsung menyodorkan gitar ditangannya kepada Dave.
"Nih giliran kamu, gue cari minum dulu haus banget, dari tadi"
Dave mulai memetik gitar dan melantunkan sebuah lagu
*Bila Cinta menggugah
begitu indah mengukir hatiku
menyentuh jiwaku hapuskan semua gelisah
Duhai cintaku, duhai pujaanku
datang padaku,dekat disampingku
kuingin hidupku, selalu dalam peluknya
terang saja aku menantinya
terang saja aku merindunya
terang saja aku mendambanya
karena dia,
karena dia begitu indah
Duhai Cintaku, pujaan hatiku
peluk diriku, dekaplah jiwaku
bawa ragaku melayang memeluk bintang
(padi)
penulis lagu (piyu*)
tatapan Dave tertuju pada satu orang, seakan menyanyikan lagu ini khusus buat Nara.
__ADS_1
tapi Yang ditatap malah memeluk kedua lututnya dan menatap ke arah api unggun, tak memperdulikan tatapan tatapan iri para gadis yang memperhatikan pandangan Dave yang hanya tertuju pada Nara.
"hey.. Nara..kayaknya ada yang perhatiin kamu iya nggak Mey!!!"
"ahhh.. biarin aja"
"liat deh...Nara...coba liat sekeliling"
"apaan siiihh..."
Nara mengangkat wajahnya dan melihat sekeliling dengan heran dan bingung.
"astaga...ada yang salah ya...kok semua mata para gadis disini menatap gue ya? apa salah gue?? "
"Memey.. Livi... ada yang salah sama aku, liatin dooong... kok semua mata menatap ke aku sih..."
kata Nara pada kedua temannya sambil berbisik
"nggak ada yang salah sama kamu, tuh yang salah disana tuh."
Livi memberi isyarat kepada Nara dengan mengangguk ke arah Dave , membuat Nara langsung mengerti alasan para Gadis menatapnya. karena mereka mengidolakan Dave, dan sang idola tak melepaskan pandangannya, bahkan terlihat jelas menatap Nara penuh cinta. membuat Nara mulai risih dan beranjak keluar dari lingkaran masuk kedalam tenda. dan terlelap, membuat Dave kebingungan mencari cari alasan agar Meycan dan Livi mau mengajak Nara keluar dari dalam tenda.
"Mey... kok Nara buru buru masuk ke tenda, ajak keluar sebentar dong..ada yang pengen gue omongin, harusnya dia bersyukur gue pengen ngobrol sama dia"
"udah dehhh... jangan diganggu dulu, dia pasti kecapaian, hiking tadi siang sangat melelahkan. lagian udah gue kasih waktu semalam, tapi udah lu sia siakan, yah sekarang tergantung usaha lu sendiri"
"sia siakan gimana maksud lo Mey"
"pikir aja sendiri"
sambil berlalu meninggalkan Dave yang merasa tak berdosa
"hmm.. benar juga kata Nara, emang sombong banget si Dave jadi orang, sandal aja pelit, tadi juga pas Nara jatuh bukannya ditolong malah diketawain, udah gitu nggak nyadar lagi, nyesel gue punya rencana ngejodohin mereka berdua, sok kegantengan banget tuh orang.... tapi...emang ganteng sih. wahh... kok gue jadi kepikiran mereka sih"
Meycan kembali bergabung bersama Livi dan teman teman baru mereka didepan api unggun.
"Mey.. liat tuh si Dave didepan tenda kita, kayaknya nungguin Nara keluar deh"
"biarin aja, nggak usah ditanggapi nanti dia berusaha sendiri"
sampai hari terakhir berkemah, Dave selalu menempel pada Nara, tapi Nara biasa aja dengan sikap cueknya, membuat Dave makin penasaran. karena jika Nara duduk dan Dave merangkul pundaknya, Nara tak menolak, ataupun jika Berjalan dan Dave memegang tangan Nara, Juga tidak ditolak. tapi Nara memang seperti itu pada sahabatnya baik Cewek ataupun Cowok, membuat Dave bingung dengan statusnya. Dave takut untuk memperjelas hubungan mereka, karena takut jika bertanya dan mendapat penolakan.
"ahhh.. akhirnya kita pulang..."
"nggak kerasa sebentar lagi liburan selesai,dan sekolah dimulai. yahhh.. kita bakal jarang ketemuan lagi deh....Gue sama Memey bakalan rindu banget sama kamu Nara"
"iya aku juga bakal rindu sama kalian berdua"
setelah pulang kerumah, Nara mulai berbenah untuk kembali ke rumah bibi karena sekolah akan dimulai.
"hooaaamm....gue ngantuk banget nih ayo tidur, kamu juga harus tidur Nara, besok perjalanan kembali ke kotanya agak jauh."
"iya Ra..nanti kamu disana jangan sedih ya!
kalau bisa sih.. lupain dulu si Clay, walaupun dia sepupu aku tapi, aku nggak sudi dia sudah nyakitin kamu seperti ini"
"yah... bukan salahnya juga sih.. Mey"
"yah.. jelas salahnyaa dialah Ra... ngapain nggak ngomong kalau udah mau pergi jauh"
"aku juga salah"
"kamu nggak salah, dia yang salah"
"salah apa nggak, yang pasti kita tidur dulu lah ini sudah subuh tau"
setelah kembali mulai sekolah, Bukannya melupakan kesedihannya, malahan Nara semakin menjadi jadi tenggelam dalam kesedihan, Nara tidak bisa tidur berbulan bulan lamanya, hingga jatuh sakit, susah makan sampai kurus, biasanya cerewet kini lebih banyak diam, lebih banyak mengurung diri dikamarnya. bahkan sering terisak disudut ranjangnya. memang sulit untuk melupakan Clay dikota ini, setiap sudut kota, setiap tempat yang pernah dikunjungi Nara bersama Clay, membuat Nara sedih saat mengunjungi ataupun hanya melewati. karena setiap kenangan yang tercipta lewat kebersamaan dengan Clay, ada disetiap sudut kota ini.apalagi setiap kali Nara sedih dia selalu mengadu dan dihibur Khayl. dan kini Khayl pun tak ada disisinya. mereka berdua tiba tiba menghilang dari kehidupan Nara. membuatnya rapuh. hingga dengan sekuat tenaga, berusaha melupakan mereka.
"kalau seperti ini terus bisa bisa nggak naik kelas. aku harus kuat, aku nggak bisa terus terusan begini,aku nggak boleh membodohi diri sendiri, aku harus bahagia, sudah setahun tanpa kabar, mungkin Clay sudah melupakan aku"
Nara berjanji pada dirinya sendiri untuk mencari cara agar bahagia. Nara menyibukkan diri dengan traveling bersama teman teman sekelasnya, bahkan mereka sering bolos, hingga sering mendapat surat panggilan orang tua, bahkan pernah di skors, hingga ibunda Nara mengirimkan Nara pindah sekolah dan tinggal bersama kakaknya yang baru menikah. disana Nara sempat mencoba hatinya untuk menyukai seseorang, tapi gagal, Nara bahkan merasa dipermainkan.
kriing..kriing...
"hallo..."
"hallo selamat sore, mau bicara dengan siapa ya....?"
"Nara ya...?"
terdengar suara diseberang sana
"iya betul...Livi ya?"
"aaahhhhh...ahirnya.. gue kangen banget sama kamu..Ra....."
terdengar teriakan dari balik telepon genggam yang memekakan telinga, hingga Nara Agak menjauhkan gagang telpon sambil mengernyit.
"dapat dari mana nomor telpon rumah kakak aku?"
"dari Bunda kamul"
"kamu baik baik aja kan?"
"iya baik, kamu sama Meycan juga baik baik kan?"
__ADS_1
"oh.. ya Meycan pindah ke ibu kota, karena jobnya makin banyak sekarang, trus dia kirim surat ke aku, kasih tau nomor telponya, dutulis ya 0xxx-xxxxxx katanya kasih tau ke kamu Ra, dia juga minta nomor telepon kamu, udah ditulis belom?"
"iya sudah. trus kamu telpon sekarang ini dari mana?"
"dari warte lah....kan dirumahku nggak punya telepon?"
"kapan Meycan pindah?"
"sekitar tiga bulan yang lalu, kamu jangan lupa telpon Meycan ya...udah dulu ya Ra, gue masih pengen ngobrol tapi interlokal bayarnya mahal banget ...udah ya...nanti kalo punya duit gue telpon lagi. bye.."
tutt..tutt...tutt....
"ahh...aku masih rindu Liv."
Narapun menekan Nomor telepon yang diberikan Livi, dan telepon berdering diseberang sana membuat Nara bahagia karena sangat Merindukan Meycan.
"hallo"
terdengar suara diseberang sana yang membuat gagang telepon yang dipegang Nara terjatuh, mungkin jika punya penyakit darah tinggi, saat ini Nara sudah kena stroke.
"astaga... apa nggak salah dengar? suara ini sangat kurindukan siang dan malam selama hampir dua tahun ini. aku nggak sedang bermimpi kan?"
Nara mencubit tangannya
"aawww....sakit, ternyata ini bukan mimpi"
Nara memungut gagang telepon yang jatuh, menarik nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang berdetak cepat hingga membuat suara Nara bergetar
"hallo, bisa bicara dengan Meycan?"
kembali hening tak ada suara terdengar dari seberang sana, Nara menunggu tapi tak ada jawaban.
"hallo.....hallo....bisa bicara sama Meycan, ini dengan sahabatnya"
"Narabella....."
lirih terdengar suara yang sangat dirindukan Nara selama ini, tapi Nara tak ingin lagi percaya, karena saking rindunya seringkali Nara mengalami Delusi . terdiam tak bisa berkata kata Nara hanya mengangguk, lalu kembali terdengar suara dibalik telepon.
"maafkan aku..walaupun tak layak untuk kukatakan, sungguh maafkan aku...maafkan aku Naraku sayang.."
lirih hampir tak terdengar, kata maaf dari seseorang yang membuat jantung Nara serasa berhenti berdetak, Nara terduduk di lantai karena lemas, air mata mengalir dipipi,dengan gagang telefon yang masih menempel ditelinganya. kembali terdengar suara dibalik telepon.
"Clay... kamu kenapa??? siapa yang telepon??
loh....kok..?? kamu baik baik aja Clay??? astaga.. kamu nangis??"
Meycan berjongkok disamping Clay, bingung, bahkan heran, karena Clay yang dulu dikenalnya kini hilang, dulu Clay orangnya cuek tapi ramah, kini malah semakin dingin dan angkuh, tersenyum saja tidak pernah, seakan hanya hidup dalam dunianya sendiri. Clay yang terduduk lesu di lantai dan bersandar pada pegangan kursi, dengan gagang telepon tergelak dilantai, meskipun masih dalam genggamannya. membuat Meycan takjub, apalagi melihat air yang menetes di wajah angkuhnya.
Meycan mengambil gagang telepon dari tangan Clay.
"hallo...hallo....hallo...ini dengan siapa ya????"
tanya Meycan judes, karena melihat keadaan Clay.
"Meycan... Memey....?"
tanya suara diseberang sana
"Nara.....astagaaa....."
Meycan berteriak senang, tanpa memperdulikan Clay yang kini menyandarkan kedua lengan pada lututnya dengan kepala tertunduk diantara kedua lututnya, dan air mata yang menetes, Clay mulai terisak pelan.
"Nara apa kabar....?? kamu baik baik aja kan??
kamu dimana sekarang??? kamu lulus kan???
kamu mau kuliah dimana??kamu..."
"astaga Mey...nanya kok borongan!!! pelan pelan dong"
"iya habisnya aku kangen banget, kamu nggak ada kabar beritanya, gimana gua ama Livi nggak khawatir! gimana kabarmu sekarang?? kamu baik baik aja kan???"
"iya... aku baik baik aja, dan yang pasti lulus lah... orang pintar pasti lulus dong, emang kamu pikir nggak lulus apa?"
"gimana nggak khawatir, sebelum pindah hidup kamu kacau banget, trus nggak bisa dihubungin lagi"
kedua sahabat itu ngerumpi di telepon tanpa, Meycan tak memperdulikan Clay, sedangkan diseberang sana Nara berusaha menenangkan dirinya saat berbicara dengan Meycan setelah mendengar suara Clay, yang membuat luka lamanya kembali menganga.
stahun pertama Nara sangat terpukul, hidup seolah olah tak berharga, sehingga saat kakaknya menikah,ibundanya mengirim Nara sekolah ditempat kakanya, tahun kedua Nara mulai menikmati hidup dengan berpesta pora bersama sahabat barunya disekolah barunya, yang mana lebih liar, dan lebih gaul daripada teman disekolah lamanya. karena mereka semua anak anak orang kaya. bahkan setiap liburan Nara kalau kebetulan ketemu Dave, mereka berdua pasti pacaran, tapi kalau tidak ketemu, pasti ada saja pasangan buat Nara menghabuskan libuarannya. karena parasnya yang cantik dan kini Nara semakin aduhai bentuk tubuhnya, membuatnya menjadi dambaan kaum Adam. yah Nara sering gonta ganti pacar.
"*aku tidak boleh menyia nyiakan masa mudaku, aku harus nenikmatinya, yang penting aku harus menjaga harga diri, dan kesucianku, aku tak akan perduli apa kata dunia, asalkan aku bahagia, karena aku tak akan pernah percaya akan Cinta. yah..karena Cinta itu tidak indah,
Cinta itu menyakitkan,
suka pada lawan jenis sah sah aja,
sayang....juga masih manusiawi,
tapi kalau tak ingin disakiti, jangan berani untuk jatuh Cinta.
tidak boleh.....
Cinta itu menyakitkan,
Cinta hanya membawa kesepian yang tak berujung"
__ADS_1
***Bersambung****........