KEMEWAHAN WANITA

KEMEWAHAN WANITA
29. TAKDIR


__ADS_3

misteri hidup bukanlah apa yang terlihat oleh mata, bahagia bukan hanya tentang dicintai, atau tentang mencintai. takdir menentukan segalanya kita manusia hanya menjalani saja.


"Bye Ken aku akan merindukanmu"


air mata menetes tak hentinya dari mata Indah Nara, memang sesuatu itu hanya akan menjadi berarti jika kita merasa kehilangan, tapi saat didepan mata terkadang tak berarti.


"Nara ayo masuk diluar dingin hari sebentar lagi gelap, lagi pula mendung sudah dari tadi mungkin sebentar lagi hujan"


yahh hari ini mendung semendung hatiku.


"hmm ia tante ayo masuk"


Nara punya seribu satu pertanyaan untuk tante Tina


"ayo madi biar segar, Tante baru selesai mandi, oh ya ini pakain buat kamu"


"ia trima kasih Tan"


Nara beranja ke kamar mandi dan membersihkan diri. kamar tempat mereka memang untuk 2 orang dengan kamar mandi didalam kamar. selsai membersihkan diri


"sudah selesai mandi Nara, ayo siap2 kita makan malam, jangan lupa tiketnya di bawa ya"


"ia tante"


Nara duduk di kasur sambil menyisir rambutnya, dan dia kembali teringat Ken yang akan mulai cerewet jika rambutnya tidak dikeringkan dengan pengering rambut. Nara tersenyum


ahh Ken aku sudah merindukanmu, bagaimana denganmu saat ini apa yang kamu lakukan, jangan sedih ya Ken, aku sebentar lagi kembali kok


" Nara sudah selesai? ayo kita makan Malam, nanti selesai malan kita ngobrol, kamu pasti punya banyak pertanyaan! "


###


di sisi lain


di rumah Ken Butler jang sedang gemetar ketakutan di depan pintu ruang kerja tuannya, berkali kali Butler jang hendak mengetuk pintu, tapi tidak jadi. seorang butler jung yang biasanya tenang meskipun ada badai kini terlihat gugup dan berkeringat dingin di depan pintu ruang kerja Ken. tiba tiba pintu terbuka

__ADS_1


"Buttler jang apa yang kau lakukan di depan pintuku, ada apa? kenapa tidak masuk? kenapa wajahmu seperti melihat hantu"


"a... a.. anu.. Tuan Muda begini"


"Nara sudah pulang? hari sudah malam"


"nahh itu... itu... maksudnya... "


"ada apa buttler jang tidak biasanya segugup itu"


"begini Tuan muda Emm.. Nona Nara pulang"


"di mana dia? biasanya kalau dia pulang pasti mencariku dan menggangguku"


"Nona pulang kampung"


akhirnya buttler jang bisa bernafas karena sudah bisa menyampaikan.


"apa maksudnya?"


"hah... kata siapa? "


nada Ken mulai meninggi


"panggil bodyguardnya, panggil supirnya"


ken mengepalkan tangannya masih tak percaya, dan kembali masuk ke ruang kerjanya dengan wajah marah dan membanting pintu dengan kencang


tok.. tok.. tok...


"Masuk.. "


"maaf Tuan muda, ini supir dan bodyguarnya"


"apa kalian tau aku membayar kalian dengan mahal agalr selalu bersama dengan nona muda dimanapun kemanapun dia pergi, apa kalian mengertiiii"

__ADS_1


"ia Tuan"


"lalu kenapa kalian bisa kehilangan dia hahh... "


Ken tak bisa menahan amarahnya dan berteriak membuat semua yang berada diruangan itu membeku.


" maaf Tuan, Nona ikut tantenya naik kapal laut, kami hendak ikut tapi tidak punya tiket"


"lantas... tiket tujuan Nona kemana? "


"ke kampung halamannya Tuan, tapi Nona bilang dia akan segera kembali setelah menyelesaikan masalah keluarganya"


"iya... kampung halamannya dimana"


"maaf Tuan muda, kami tidak sempat bertanya karena Nona dan tantenya buru buru, dan kami pikir Tuan muda pasti tau Kampung halaman Nona dimana"


Ken terdiam kedua tangannya meremas rambutnya, wajahnya menengadah ke atas dengan seakan berpikir keras.


"astagaaaa bagaimana bisa aku tidak pernah menanyakan alamanya, bahkan nama kampung halamannya aku tidak tau, apalagi menanyakan nomor telefon orang tuanya aaarrrgghh sial"


batin Ken berkecamuk nafasnya tersengal entah karena marahatau sedih. Buttler jang dengan cepat membuka laci mengambil pil dan menuangkan air putih ke dalam gelas yang tersedia di meja tamu dalam ruang kerja Ken dan meletakkannya kedalam baki dan memberikannya pada Ken.


"Tuan muda, minum obat anda dulu"


Ken mengambil obat menelannya lalu minum air seteguk


"keluar kalian.... keluar kataku... "


mereka semua keluar dengan cepat dan buttler jang menutup pintu.


terdengar barang2 berjatuhan di dalam kantor Ken.


"Buttler jang gawat Tuan Muda mengamuk, aapkah kami bakalan di pecat? "


"mmm itu mungkin saja"

__ADS_1


__ADS_2