KEMEWAHAN WANITA

KEMEWAHAN WANITA
6. Ditinggalkan


__ADS_3

*Kebahagiaan dalam hidup yang tercipta karena orang lain tak selamanya berujung indah.


kebahagiaan dalam hidup, kita sendiri yang menentukan.


kita bahkan bisa membuat penderitaan menjadi kebahagiaan.


semuanya tergantung pikiran, dan cara kita pribadi menyikapinya*


Narabella**


Ketiga sahabat yang meskipun jarang bertemu. tapi, sekali bertemu tetap lengket kayak perangko itu. sangat gembira.


"Ra..kamu makin cantik deh betul kan Liv!"


"iya nih Ra.. makin putih dan makin montok nih bumper ha..ha..ha..."


"ya iyalaaahhh.. namanya juga masa pertumbuhan! kalian juga nggak nyadar banyak berubah?"


"biasa aja kok Ra! iya kan Liv?"


"nggak, emang kita makin montok dan makin cantik Mey hi..hi..hii"


"iya juga ya pantesan banyak yang naksir"


"iya tuh kamu mau dijadiin istri ketiga pak RT"


merekapun tertawa trrbahak bahak sambil bercanda dan melepas rindu.


"masuk yuk aku bawa oleh oleh dari aku dan dari Clay"


"wuuiiiiihhh yang lagi jatuh cinta???"


"apaan sih kalian, ntar nggak gua kasih"


sampai dikamar Nara merekapun bongkar koper.


"nih pie susu keju buatan Clay, ini kaos buat kita bertiga sama sih beda warna, gua pesannya sesuai warna kesukaan kita masing masing, trus ini diary biar kita bisa tulis kegiatan kita, nanti kalau sudah full kita simpan dan 20 tahun lagi kita baca sama sama ya..tanggal 1 juli 20 tahun dari sekarang, jam 20.00 dirumahku, nanti dimanapun aku berada kalian datang diwaktu yang dijanjikan ok!"


"ok janji"


"siap, janji, tapi kalo kamu tinggalnya diluar negeri gimana?"


"mana mungkin mey orang nggak liat hidup gua apa? keluar negeri itu butuh banyak duit, trus duitnya dari mana coba? he.he..he.."


"nanti kalo gue jadi artis, trus punya banyak duit gue ajak lo berdua kemana aja"


"janji???"


seru Nara dan livi kompak


"nggak janji, sumpah."


"horeee..."


"ingat sumpah memey hari ini Ra"


"iya catatan pertama diari gue *Janji Memey.


1 juli tahun ini. kalau Meycan dinata menjadi artis dan punya banyak uang maka akan mengajak Sahabatnya Saya Narabella dan Livianty ke luar negeri khususnya Eropa. janji ini dibuat dengan tulus tanpa paksaan.* ayo tanda tangan dibawah tulis nama lengkap kamu mey biar jelas"


disahkan dengan tanda tangan mereka bertiga.


"Ra aku ngbrol ama Clay di wartel"


(maklum masih jaman telpon rumah)


"trus kenapa?"


"Gilex...dia tuh Cinta banget ama lo Ra, katanya dia harus sekolah tinggi tinggi biar sukses, trus dia bakalan nikah ama kamu Ra"


"haahh... Nikah?? omaigat lulus aja belum pikiran gua masih jauh banget pengen sukses dulu Mey, pengen mandiri, kerja baik baik, biar kalo nikah nggak nyusahin suami, juga biar nggak diremehin kaum pria Mey"


"iya... iya...pidatonya udah kayak pak Camat"


"Ra, Mey, nanti kita kalo mau nikah janjian yuk di tahun yang sama 20 tahun lagi!"


"iihhh..... ketuaan dong liv! ntar anak gue dikira cucu gue....! itupun kalo masih bisa punya anak. nanti masa produktifnya lewat"


"waaahh...anak pinter"


"ya iyalah... pinter dong anak IPA"


merekapun tertawa renyah dan janjian jalan jalan sore ke bukit bunga buat berfoto bersama, karena Nara membeli beberapa rol film agar puas berfoto selama liburan.


"asstagaaaa ..Nara.. banyak banget rol filmnya, kamu lagi kaya ya? ini kan agak mahal"


livi takjub melihat belasan rol film di tas Nara.


"oh itu, gue nggak beli kok"


"trus nyuri??"


"enak aja kirain gue pencuri apa? ini tuh dibeliin temen"


"teman apa teman? past cowok kan?"


tanya Livi


"cewek apa cowok??"


Meycan juga nggak kalah penasaran.


"best friend gue dulu"


wajah Nara berubah sedih


"kok dulu??? siapa?? cewek apa cowok??"


"cowok"


"trus kenapa dulu?"


"dia pergi"


"kenapa pergi? kok bisa best friend ama cowok? pacaran kali"


"enak aja Liv, gue kan udah punya Clay!"


"trus kalo nggak punya Clay gimana mau sama Best friendnya?? eh.. namanya siapa Ra?"


"Khayl"


Nara duduk duujung ranjang livi disampingya sedangkan Meycan duduk dilantai sambil menikmati pie susu keju.


"namanya bagus, ganteng?"


"banget"


"emang perginya lama?"


"entahlah"


"emang perginya jauh? kok kamu keliatan sedih banget emang pergi kemana?


"Norwegia"


"ooohhh emang Norwegia jauh? kalo naik Bis berapa lama?"


"di Eropa Liv"


"oooohhh dekat menara Eifel dong!"


Meycan yang lagi asik makan jadi gemes


"Astagaaa...Livi makanya kalo sekolah sekolah yang bener jangan duduk dibelakang trus makan kapur. nanti selesai liburan tanya Sama Guru sejarah Norwegia di mana?"


"kok Guru sejarah? tanya Guru Geografi kali Mey"


"iya sih, tapi Livi kan jurusan Bahasa"


ahirnya kesedihan yang mulai merayap diwajah Nara menghilang melihat tingkah kedua temannya yang kocak entah mereka pura pura, atau memang beneran bego


"nanti selesai foto foto dibukit bunga lanjut ke pasar malam yuk"


ajak Meycan


"ayo... tapi aku ijin Bunda dulu ya! kalau boleh"


"ok, kita berdua juga harus minta ijin dulu iya kan Liv"


"iya"


"tapi besok aja ya hari ini, aku berbenah dulu trus pengen istirahat"


"ok, kamu istirahat aja dulu, kita berdua pulang dulu ya, makasih oleh olehnya ya!"


"iya Nara makasih ya, besok pagi kita kesini lagi trus kita jalan jalan ya"


"iya sama sama"


setelah pamit sama bundanya Nara merekapun pulang kerumah masing masing. besoknya mereka kompak pakai kaos yang sama oleh oleh dari Nara walaupun beda warna. mereka foto foto di bukit bunga, dengan Livi sebagai penata gayanya. Livi memang sangat berbakat membuat segala sesuatu terlihat indah, apalagi difoto. setelah puas jalan jalan dibukit bunga hari menjelang malam ketiga sahabat itu lanjut kepasar malam, naik komidi putar, kora kora versi mini, kerumah hantu, setelah puas makan bakso, lanjut martabak coklat keju, sampe ketiganya kekenyangan.


"hoooaaammm.... kenyang banget nih, pengen tidur ngantuk!"


ujar livi sambil menguap


"iya aku juga capek banget, pulang yuk"


seru Nara

__ADS_1


"ya ayo....kita pulang sekarang"


ketiganya berpisah dipersimpangan dekat rumah mereka karena memang rumah mereka saling berdekatan.


setelah berpisah dari teman temannya, disitulah Nara bertemu Clay, dan mendapatkan ciuman pertama dan terakhir karena malam itu ternyata adalah terakhir kalinya Nara bertemu Clay, karena Clay dibawa ibunya untuk pindah keluar daerah untuk tinggal bersama ibunya dan tak pernah kembali lagi. namun saat itu Nara belum tau kalau Clay berangkat malam itu juga. karena Clay tak mengucapkan kata perpisahan bahkan selamat tinggal pun tidak.


seminggu kemudian sahabat Clay si Rio datang kerumah mencari Nara setelah berputar putar mencari rumah Nara, ahirnya mereka bertemu.


"Astaga, Rio kok bisa kesini??"


Sapa Nara terkejut melihat Rio sahabat Clay bisa ada didepan pintu rumahnya


"hai Nara apa kabar?"


"baik, masuk... ayo masuk"


"nggak usah aku naik taksi tuh ditungguin"


"wah naik taksi kesini kan mahal banget Rio!"


"gua dikasih uang taksi ama Clay, gua bakal langsung balik lagi"


"loh trus nggak masuk dulu?"


"ia nih takutnya nggak bisa pulang nggak ada kendaraan umum disini, Bis jam segini udah nggak ada kata Clay"


"Clay mana?"


"saya disuruh Clay, soalnya katanya dia nggak sanggup buat ngomong langsung , karena berangkatnya tiba tiba."


"haahh.. maksudnya???"


"gini Nara, ada yang ngelaporin hubungan kalian, dan Ibu Clay memang sudah lama ingin membawa Clay untuk tinggal bersama Ibunya, tapi Oma dan Ayahnya tidak mengijinkan. dengan diketahuinya hubungan kalian Ibunya jadi punya alasan untuk membawa Clay pergi untuk menjauhkannya dari kamu, tapi Clay titip pesan buat Kamu katanya dia bakalan sekolah tinggi tinggi dan bakalan jadi orang sukses nanti, agar saat pulang bisa buat kamu bangga"


tiba tiba Nara terduduk di lantai dengan tangan kanan memegang dadanya, dan nafas yang mulai sesak.


"Nara kamu kenapa?? kamu sakit?"


"nggak apa apa Rio kamu pergi aja, tuh taksinya nungguin, nanti argonya tambah mahal"


"tapi kamu yakin nggak apa apa?"


"iya nggak apa apa kok ayo pergi aja!"


"kalau begitu aku pergi dulu ya, oh ya satu lagi Nara katanya jangan lupakan janji kalian berdua larut malam di pantai, aku pamit ya"


Nara tak menjawab hanya mengangguk dan melambaikan tangan, karena tak mampu bersuara menahan air mata yang sudah penuh di kedua mata Nara, yang mulai jatuh menetes setelah kepergian Rio.


apakah aku benar benar ditinggalkan?


apakah aku benar benar tak berarti dimata orang yang kusayang, hingga kata selamat tinggal pun tak ada? yah.. seseorang yang sangat berarti yang mengajarkanku bagaimana rasanya disayangi, dibutuhkan, dihargai, dirindukan, untuk pertama kalinya


Nara teringat


sewaktu Clay pertama kali mengantarkan Nara pulang setelah seminggu nginap bersama sahabatnya Meycan di rumah Clay, sore harinya Clay benar benar datang kerumah Bibi Untuk mengajak Nara jalan jalan, tapi Nara malah tidak mau bertemu, keluar kamar pun tidak. tapi Clay malah jadi akrab dengan orang orang rumah yang kasihan karena Clay dengan sabar menunggu Nara yang mengunci diri di kamar.


Bahkan sejak saat itu Clay sering mampir ke rumah bibi dan dengan sabar menunggu Nara sampai ahirnya Nara luluh juga dengan kesabaran Clay.


"kok sepi ya? orang orang pada kemana? ya sudahlah mandi Ahh"


tok..tok..tok...


"Nara ada yang nyari? buruan"


teriak Vibi sepupunya dari luar kamar mandi


"siapa???"


"ntah"


sahut Vibi sambil senyum senyum sendiri. membuat Nara heran, karena Vibi mengenal semua teman Nara


"kamu boong lagi ya? mau ngerjain gue lagi?:


"nggak kok bener ada yang nyariin"


sambil senyum senyum simpul.


Nara keluar hanya dengan tank top, hot pants, dan handuk yang masih melingkar di kepalanya.


"haaai...."


sapa Clay tersenyum


" Kyyaaa.."


nara kembali masuk kedalam kamar dengan mata terbelalak karena kaget.


"kok kaget kayak liat hantu sih?"


tanya Vibi heran.


bisik Nara yang masih kaget.


"siapa dia Ra? kok rame rame cewek cewek itu siapa?


"Sssttt jangan keras keras ngomongnya, nanti mereka denger."


ucap Nara kikuk


"emang kenapa? ayo keluar ngobrol lu kan dicariin."


"Vibi, sepupuku yang cantik dan baik hati tolongin gua ya! kelur deh ngobrol sama mereka gua malu"


"Astaga... aneh super girl punya urat malu ternyata. aneh banget ada apa nih? kamu pacaran ya?"


"glek... nggak kok"


Nara makin salah tingkah, antara ingin keluar tapi malu ama gengsi. Vibi menyeret Nara keluar


"ayo keluar, masa tamu dicuekin."


"ehmm kalian dari mana?"


ucap Nara setenang mungkin.


"dari rumah teman didekat sini makanya mampir"


jawab Clay sambil menatap Nara lekat dengan senyum senang terpancar diwajahnya.


"ohhh"


jawabNara singkat, lalu kembali masuk ke kamar dan tidak keluar lagi.


Malu, marah, cemburu, senang, bahagia, ge-er berkecamuk jadi satu. Nara lompat lompat di ranjang, tiduran, bangun, berguling, entah apa lagi yang Nara lakukan. setelah dua jam, Clay pamit Vibi langsung masuk ke kamar, dan interogasipun dimulai.


"lu gila ya.. adek kelas itu loh"


"lha emang kenapa? ganteng nggak?


"bangeeet....Astaga Narabella dapat dimana tuh ..! woww nggak nyangka gue tenyata


elo.....ck..ck..ck..!


Vibi masih terkesima dengan ketampanan, kejujuran dan ketulusan Clay.


"kok pulangnya lama banget lu interogasi Clay ya? dia bukan pacar kok tapi sepupunya temen gue"


"jangan bohong kamu!"


"lagian lihat tuh temennya cewek semua cantik cantik lagi."


Nara sedikit kesal


"kata si Clay dia memang ngajak temen temennya kesini setelah selesai belajar kelompok, buat pamerin pacarnya yang kakak kelas ya kamu! "


jelas Vibi bersemangat


"ah masa sih,"


kaget campur terharu


"iya dengan bangganya dia pamer ke teman temannya, cantik kan..cantik kan! mana sambil senyum manis banget lagi, meleleh gue ngeliatnya!"


cerita Vibi menggebu gebu. Nara tersenyum kesenangan tapi pura pura tenang, padahal rasanya pengen lompat lompat jungkir balik.


semenjak saat itu Clay sering main kerumah bibi dan makin akrab dengan orang dalam rumah, kebetulan anak bibiku yang cowok memang bad boy adiknya Vibi tapi akhirnya bisa akrab dengan Clay, karena walaupun terkesan cool, Clay ramah dan supel. dam setiap kali Clay datang Nara hanya menyapa sekedar basa basi lalu masuk kamar dan tidak bakalan keluar lagi.


Setelah libur selesai dan mulai masuk sekolah, suatu hari sepulang sekolah, karena kelaparan, perut Nara mulai berbunyi. kukuruyuk pun menggema didalam perut. sesampainya dirumah bibi Nara langsung makan, Mandi dan tidur.


tok tok tok....


pintu kamar dibuka Nara sambil mengucek matanya karena baru bangun.


"iya Tante ada apa?"


"itu si Clay datang, temuin ya, Tante mau keluar sama Om dan anak anak"


"iya Tante"


Nara keruang tamu dengan kaos oblong, celana pendek, rambut dikuncir asal keatas tanpa alas kaki


"hallo Clay"


ujar Nara basa basi masih setengah mengantuk, berusaha setenang mungkin karena jantung Nara seakan pengen loncat keluar.


"udah malam baru bangun, apa mau tidur?"


"baru bangun, hoaayem...?"

__ADS_1


Nara menguap belum sempat duduk, Clay langsung meraih tangan kanan Nara dan berjalan keluar.


"ikut aku" ujarnya tenang


"tapi..ta...pi.."


sambil menahan tangan Clay dengan tangan kirinya


"kenapa?"


"Clay aku tidak pakai sendal"


sambil menatap kakinya, Clay langsung menggendong Nara dan mendudukkan Nara di kursi belakang Mobil.


"aku belom ijin sama Tante Clay!"


"sudah, aku sudah minta ijin kok!"


"tapi sandal..."


"udah.. nanti kita beli di jalan, aku takut kalau kamu masuk lagi nanti nggak bakalan keluar"


senyum Clay merekah dibibirnya, dengan tatapan sendu yang selalu bisa membuat Nara meleleh, membuat Nara sekuat tenaga menahan debaran didadanya, agar jangan sampai kedengaran oleh Clay.


dalam perjalanan, Clay mampir ke toko sepatu, tak lama kemudian Dia kembali dengan penjaga toko, membawa beberapa model sandal dan sepatu datar, Clay mengambil salah satu, berjongkok didepan pintu mobil, memegang kaki Nara dan memasangkan sepatu dikaki Nara, yang merasa bak cinderella.


"iya pas, nomor segini mbak semua model ini ambil satu nomor segini ya!"


sambil berdiri dan mengembalikan sepatunya kepada penjaga toko


"baik, sebentar ya, nanti bayarnya dikasir"


"Nara sebentar ya!"


ucap Clay lembut, Nara yang masih gemetar merasa bak cinderella hanya mampu menganggukkan kepalanya. Clay kembali dengan lima pasang sandal dan tiga pasang sepatu.


"ini buat kamu pilih aja mana yang mau dipake malam ini"


"haahh.. semuanya...???"


"iya.."


"nggak bisa ini kebanyakan kembaliin aja, aku hanya butuh satu"


"nggak bisa udah pake aja, nonton yuk!"


"nggak mau"


"kenapa?"


"nggak ganti baju"


"cantik kok!"


Nara Memegang kedua pipinya yang terasa seperti terbakar.


"apaan sih Clay"


"ayo..."


"kemana"


"beli baju"


"nggak!"


"maunya apa dong!"


"pulang"


Clay ahirnya masuk kemobil duduk disamping Nara.


"jalan Pak Roni!"


"kemana den?"


"pantai"


yes..yes..yes..syukur nggak pulang beneran


Nara bersorak dalam hati, di pantai sangat sepi karena sudah malam, tapi cahaya bulan purnama menerangi malam ini. Clay mengambil seonggok kayu yang tergeletak di atas pasir, dan berkata lembut


"tunggu disini Nara lihat baik baik dan ingat, jangan pernah lupakan."


kemudian Clay mulai menulis sesuatu yang sangat besar di atas pasir. hingga Clay agak jauh


"Nara...."


Clay setengah berteriak


"iya...."


"baca tulisannya.."


suara Clay samar samar terdengar diantara suara ombak dan angin.


"I Love You...."


astaga.. kok bisa gua teriak I Love You siihh..aiisshhh mulai lagi deh nih jantung, apa karena bahagia? mungkin karena kaget! duuhhh...


batin Nara bergelora, seperti ombak yang menderu malam itu, seperti itulah hati Nara.


Clay tersenyum maut.


astaga... senyumnya...


"apa...aku gak dengar"


dengan sisa kekuatan menahan gengsi.


"I Love You..."


"siapa namaku?"


"Claymore..."


*astaga... semudah itu I love you Clay


"yes...yes...yes*...."


Clay tertawa bahagia sambil menengadah ke langit, seakan bersyukur pada sang pencipta, lalu menghambur berlari ke arah Nara, belum lagi hilang keterkejutan Nara, tiba tiba Clay memeluk Nara dengan erat.


"terima kasih Nara, I Love You More, ingat baik baik hari ini, jam dan detik ini, karena tulisan bisa tersapu ombak, kata kata bisa berubah, cara bisa berbeda, seiring waktu, saat bertambah usia. tapi perasaan tak akan berdusta, hati yang tulus selalu jujur."


"hmm...."


Nara mengangguk bahagia


merekapun duduk diatas pasir menatap bintang, Nara merebahkan dirinya diatas pasir, Clay ikut rebahan sambil berpegangan tangan menikmati kilauan bintang bak berlian ditaburkan di karpet hitam, terasa damai sambil sesekali saling mencuri pandang.


Seiring waktu berjalan, kedekatan semakin tercipta, terkadang larut malam


ting...ting...


jendela kamar dilempari kerikil.


"siapa sih..."


gerutu Vibi sambil membuka jendela


"hah..Nara... bangun liat tuh.."


sambil menggoyang goyangkan tubuh Nara


"Nara liat tuh di bawah..."


dengan malas Nara melangkah ke jendela


Clay melambaikan tangan sambil tersenyum


"astaga.... Clay, ini kan tengah malam kamu sama siapa?"


Nara setengah berbisik


"sama Rio"


"kesini naik apa, tengah malam udah nggak ada angkot, diantar pak roni ya?"


"nggak jalan kaki"


"gila...nanti kalau ada orang jahat gimana?


besok kan ulangan, kok belum tidur"


Clay hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya


"aku hanya rindu, nggak bisa tidur, cuma pengen bilang I Love you"


"astaga....romantis banget Ra, kayak barang antik tuh, dijaga..... gampang hilang tuh benda berharga susah dapetnya. so...sweeettt..."


Nara hanya tersenyum, serasa terbang sampai ke langit tingkat tujuh. maka gantian Nara yang nggak bisa tidur.besoknya disekolah, Nara berusaha menahan ngantuk saat ulangan.


sampai selesai penerimaan hasil ujian bahkan sampai mudik liburan, Nara sudah tak pernah ketemu Clay, terakhir bertemu sebentar dipinggir jalan dekat rumah orang tua Nara dan itulah terakhir kalinya mereka bertemu ciuman pertama dan terakhir mereka berdua.


clay cinta pertamanya... yang pertama membuat hati Nara berdebar, yang pertama membuat Nara memahami apa itu Cinta, yang mampu membuat Nara rindu sampai ingin gila, yang pertama membuat Nara berbunga bunga hanya dengan melihat wajahnya yang tenang dan menghanyutkan, senyumnya yang membawa kedamaian, tingkah lakunya yang selalu tenang disegala situasi hampir tanpa ekspresi, perlakuannya, perhatiannya, namun kabar dari Rio membuat Clay orang pertama yang membuat Nara berbulan bulan menangis diujung ranjang, yang membuat air mata menetes sendiri bila melewati setiap tempat yang pernah dikunjungi bahkan hanya dilewati bersama Clay.


lengkap sudah Nara benar benar merasa sendirian, setelah sahabatnya pergi tanpa pamit, kini giliran kekasihnya pergi tanpa pamit.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2