KEMEWAHAN WANITA

KEMEWAHAN WANITA
11. Masihkah??


__ADS_3

* saat seorang wanita menjaga harga dirinya, bukan berarti tidak bisa bersenang senang.


saat seorang wanita bersenang senang bukan berarti merendahkan harga dirinya.


hanya jagalah kesenanganmu agat tak berubah menjadi derita


Narabella***


"aku tidak boleh menyia nyiakan masa mudaku, harus nenikmatinya, yang penting aku harus menjaga harga diri, dan kesucianku, aku tak akan perduli apa kata dunia, asalkan aku bahagia, karena aku tak akan pernah percaya akan Cinta. yah..karena Cinta itu tidak indah, Cinta itu menyakitkan, suka pada lawan jenis sah sah saja, sayang....juga masih manusiawi, tapi kalau tak ingin disakiti, jangan berani untuk jatuh Cinta. tidak boleh.....Cinta itu menyakitkan, Cinta hanya membawa kesepian yang tak berujung"


Nara tidak fokus saat berbicara dengan Meycan, karena kembali terkenang luka lama yang belum sembuh, Nara kembali teringat saat dia sangat merindukan Clay, menunggu kabar sekecil apapun, saat tak menerima kenyataan bahwa Clay tak lagi ada disisinya, masa yang paling indah dalam hidupnya, dihabiskan dengan kesedihan, terpukul, merana, hingga ambang batas kemampuannya. serasa hampir gila.


Nara berusaha menghadapi kenyataan dengan melakukan apapun tanpa berpikir panjang, membuang kesedihan dengan tingkah laku yang mikirnya belakangan, bersenang senang dengan sahabat barunya yang adalah anak anak orang kaya, bahkan Nara bersahabat, jalan bareng, berkumpul lebih banyak dengan teman teman Cowok ketimbang Cewek, alasannya Nara nggak suka teman yang cengeng.


"hallo hallo Nara... kamu masih disana...? kok diam aja aissh... hallo...hallo.."


Nara tersadar dari lamunannya


"ha..ha..lloo iya Mey sorry, aku lagi banyak pikiran jadinya nggak fokus."


Meycan mengerti, pasti Nara nggak fokus setelah mendengar suara Clay.


melihat keadaan Clay yang seperti ini, membuat Meycan salut kepada Nara. Clay aja terduduk lesu seperti ini, tapi Nara masih bisa bicara, itu artinya Nara semakin tegar dalam menghadapi kenyataan.


"ya udah Nara berikan nomor telefon rumah kamu, sebentar aku ambil pulpen dulu."


"baiklah"


"sudah siap nih berapa Ra?"


"ditulis ya..0**********disimpan ya ini nomor telefon rumah kakak aku"


"baiklah, nanti aku hubungin kamu lagi bye....."


"bye mey"


Setelah menutup telefon, Nara terduduk di lantai, menutup wajah dengan kedua tangannya, dan terisak kencang. untunglah setiap hari dari pagi hingga malam, Nara selalu sendirian di rumah, karena kakaknya bersama suami bekerja.


"dengan susah payah aku baru saja mulai menjalani kehidupan Normal tanpa bayangmu Clay, kenapa kau harus kembali hadir dalam anganku."


jauh diseberang sana


Meycan berjongkok didepan Clay


"kamu kenapa..? kok bisa ....nangis gini??


Clay kamu baik baik aja?


Meycan bingung melihat tingkah Clay. memang selama dua bulan ini setelah selesai ujian akhir, Meycan tinggal di rumah bibinya, yang tidak lain adalah ibunya Clay, tapi Clay tak pernah sekalipun bicara sama Meycan, apalagi menanyakan Nara.


"aneh.. kok dengar suaranya aja reaksinya seperti ini? sudah dua bulan gue disini nggak pernah sekalipun nanyain Nara, dasar jahat, kirain dia udah lupa sama Nara"


Meycan jadi bingung dengan sikap Clay saat ini yang benar benar di luar dugaan


"gue pikir lo udah lupa sama Nara, kok sikap kamu seperti ini!"


"kenapa kamu berpikir seperti itu???


Clay mengangkat wajah dinginnya, dan betapa terkejutnya Meycan saat melihat wajah itu penuh dengan air mata.


"astaga.... Claymore... kamu beneran nangis??? wah...keajaiban!"


Meycan tak perduli dengan kesedihan Clay


"yah... soalnya selama ini kamu nggak ada kabar beritanya, trus udah dua bulan gue disini lu nggak pernah nanyain Nara, jadi gue pikir lu nggak perduli lagi sama dia, nggak ingat lagi, jadi gue ngerasa aneh aja ngeliat kamu seperti ini!"


ujar Meycan sewot. Clay hanya diam, menatap Meycan, berdiri dan berlalu dari depannya, masuk kedalam kamarnya. jatuh telungkup diatas kasur dengan wajah terbenam diatas bantal. tiba tiba dengan cepat Clay melompat bangun, berjalan cepat kearah pintu kamar, mengintip keluar, dan ketika melihat tak ada orang diluar, Clay berlari ke arah meja telefon, dan menatap secarik kertas bertuliskan nomor telefon.


lalu kembali ke dalam kamarnya.


kembali kepada Nara yang duduk melamun diatas kasurnya. tiba tiba.


kriiiing...kriiiing......kriiing....


Nara melompat berlari keluar


"hallo"


"hallo selamat sore mbak, bisa mengganggu sebentar kami dari asuransi menang ingin menawarkan polis asuran....."


tutt...tutt..tutr...


Nara sudah menutup telefonnya


kriing..kriing....kriing....


"hallo"


"hallo selamat sore mbak, bisa minta waktunya sebentar, kami dari jasa pinjaman tunai, ingin menawar..."


tuttt....tutt...tutt...


Nara kembali menutup telefonnya


kriiing...kriing...kriing...


"hallo"


"hallo bisa bicara dengan sutradara aji"


"astagaaaa salah sambung"


Nara menutup telefonnya dengan kesal


kriing...kriing... kriing....


"hallo apa lagi siihhh.... salah sambung.."


Nara hendak menutuo telefon ketika terdengar samar suara yang sangat dikenalnya.


"Nara...."


Nara kembali meletakkan gagang telefon di telinganya.


"iya..."


"a...pa kabar...?"


"ba..ba..ik"


"syukurlah"


lalu keduanya terdiam lama tanpa suara, tanpa menutup telefon, hanya ******* nafas keduanya yang terdengar, karena keduanya tak tau harus berkata apa, dan memulai percakapan dari mana. setelah lama terdiam.


"Nara.."


"iya..."


"terima kasih.."


"untuk apa?"


"karena masih mau bicara denganku"


"hemmm..."


"apa kau membenciku?"


"untuk apa?"


"apa kau marah padaku??"


"hemm sudahlah..."


"terima kasih"


"untuk apa lagi??"


"karena masih mau bicara denganku"


"hemm.."


Nara hanya mendehem karena serasa tak sanggup bicara, mendengar suara yang sangat dirindukannya diseberang sana. jantungnya berdetak sangat kencang membuat suaranya bergetar. kembali terdiam.


"Nara....Nara..."


"hemm..."

__ADS_1


"Narabella"


"apaan sih...kenapa??"


Nara mulai kesal


"aku sangat merindukanmu"


deg.....Nara tersedak, dengan nafas tertahan dengan perasaan berkecamuk antara benci dan rindu


"Clay, andaikan kau tau betapa aku mengharapkan untuk mendengar hal itu sampai setahun yang lalu, andaikan kau tau, bagaimana diriku merindukanmu, jika tak ada sahabat sahabatku, mungkin aku bisa berakhir di Rumah Sakit jiwa saat ini, setelah aku baru saja mulai menerima kenyataan, kenapa kau tiba tiba muncul, kenapa kau mengatakan hal itu. haruskah aku bahagia? atau haruskah aku menangis? apakah kau tau saat ini aku benar benar bisa gila"


pikiran Nara melayang entah bahagia, entah benci, entah marah, entah sedih.


"Nara maafkan aku, meski tak layak, tapi aku benar benar rindu"


"aku juga.."


ucap Nara lirih hampir tak terdengar. saat tersadar, Nara menampar pipinya, memukul mulutnya.


"astaga....apa aku benar banar sudah gila?


astaga.....bisa bisanya kata itu keluar dari mulutku"


Nara membatin.


"benarkah...?????"


wajah Clay yang tadinya tertunduk, dengan tatapan hampa seakan tak berjiwa,tak bersemangat, tiba tiba mengangkat wajahnya dengan mata berbinar bahagia.


"benarkah itu Nara????


"astagaaaa.... kok bisa nih mulut asal ngomong"


Nara menjambak rambutnya.


"hah..eh..ehm..anu..apa? aku bilang apa??


"aku juga"


"hah..aku juga?? a.. a.ku ju..juga kenapa???


"kamu juga merindukanku"


"banget"


kembali kata yang keluar dari mulut Nara membuatnya meringis kesal


"astaga... apa lagi ini, kenapa kata kata itu keluar nggak pake mikir sih.... aduuuhh.. Nara ngomong tuh pakai otak dong.... jangan pakai hati"


"ehm...aishhh.. anu..maksudku..."


"terima kasih Nara, terima kasih"


tutt..tutt..tutt...


tiba tiba telefon diditutup diseberang sana membuat Nara menjadi semakin bingung dan sangat kesal. menatap gagang telefon.


"haahhh... apa apaan Clay, aku hitung sampai sepuluh kalau dia tidak telefon lagi, aku nggak akan pernah lagi mau bicara sama kamu. satu..................


dua...................


tiga...................


empat...............


Nara menghitung sambil menatap telefon yang tergeletak di atas meja samping sofa.


"lima...........


enam..........


tujuh...........


delapan......


sembilan....


sepuluh......


iiiiihhhh.......dasar.... sampai sepuluh lagi deh..


dua......


diseberang sana Clay melompat lompat kegirangan keliling ruang tamu, dari lantai, melompat ke kursi, bahkan meja.


"yess...yess...yes... thank you God ....thank you .....thank you...."


sambil sujud syukur. Clay tersadar dari kegembiraannya dengan wajah masih menghadap lantai bahkan dahi masih menyentuh lantai.


"astaga....... telefonnya... astaga... gue lagi ngobrol sama Nara... trus..... ya ampun..."


Clay bangun menepuk jidatnya dan langsung kembali menekan nomor telefon yang tadi.


"tiga..........


empat.......


lima...........


enam........


kriiing...kriiing...kriing....


tidak ada jawaban


"kalau kamu telefon yanglagi baru kuangkat...


kan aku hitung satu sampai sepuluh hampir dua kali"


Nara berbicara pada telefon yang ada di depannya.dan diseberang sana Clay kembali menekan nomor yang sama


kriing...kriing....kriing....kriing...


"ehem eehemmm..."


Nara mengangkat pada dering yang ke empat.


"hallo"


"Nara please....please.... maaf....hufs hufs hufs maafkan aku, tadi aku terlalu senang"


Clay menjelaskan sambil tersengal sengal....


"iya tenang dulu kamu kenapa seperti diburu hantu!"


"maafkan aku,.... maaf ya...aku masih seperti bermimpi, aku aku tidak sedang bermimpi kan?? Nara.....ini benar kamu kan????.... Nara kamu nyata kali ini banar kan?"


Rasa iba Nara mulai muncul mendengar cara Clay bicara seperti orang yang sangat ketakutan dan putus asa.


"Clay.... ini aku Nara... kamu tenang dulu ya..."


"iya tapi kamu benar benar nyata kan??? kamu bukan hanya ilusi! kamu Naraku, kamu milikku kan??


"Clay sadar... aku benar benar manusia kamu pikir aku hantu apa"


Nara mulai takut mendengar pertanyaan pertanyaan Clay, yang biasanya selalu tenang tapi setelah beberapa tahun kembali mendengarkan suaranya, walaupun hanya lewat telefon, Nara merasa ada yang aneh.


"Nara...."


lirih hampir tak terdengar suara seperti menahan tangis memanggil namanya.


"Clay ada apa? kamu kenapa? ayo bicara, aku jadi takut Clay!"


"Nara... aku biasa hanya bicara dengan bayanganmu, dan kini aku mulai terbiasa, aku bahkan tak perduli, kau nyata atau tidak, hingga aku mulai tak bisa membedakan antara ilusi dan kenyataan dalam hidupku. asalkan kau adalah Naraku sayang. aku sangat merindukanmu"


Nara sangat terpukul mendengarkan Clay bicara, dan tak lagi dapat membendung air mata yang sedari tadi ditahannya. semua kebencian Nara berganti menjadi rasa rindu, ingin rasanya memeluk Clay dan memberikan rasa aman.


"Clay, kenapa kamu menjadi seperti ini???"


ini aku Nara, sungguh aku Nara, sadarlah Clay"


"Nara.....andaikan kau ada disini aku ingin memelukmu, walaupun itu tak mungkin, aku tetap akan memelukmu, meskipun hanya dalam mimpiku, kau tau? aku akan selalu menyayangimu, sampai aku mati, aku akan menyimpan bayanganmu dalam hatiku selamanya.


meskipun hanya dalam anganku marilah kita tua bersama, aku ingin melihat rambutmu memutih perlahan lahan bersamaku. karea aku sangat mencintaimu"


"Clay ini aku....."

__ADS_1


"sampai jumpa besok Naraku sayang..."


sambungan telefon terputus, Nara terisak.


"Clay apa yang terjadi denganmu"


beberapa hari kemudian Meycan menelefon Nara dengan sedih.


"Ra... kamu jangan sedih ya...saat kalian berpisah, rupanya Clay sering mengirim surat, tapi dicekal oleh mamanya, sampai akhirnya, Clay depresi, sudah setahun ini dirawat karena psikosis. kerjanya hanya sekolah dan belajar. tak mau bicara, hanya bicara sama kamu Nara, seakan akan kamu nyata didepan dia. mamanya menyesal dan takut akan penyakitnya, tapi disembunyikan, takut nanti kalau papanya tau keadaan Claymore, dia bisa murka, dan mengambil Clay kembali. makanya mamanya menyembunyikan penyakitnya"


"astaga...Mey ternyata Clay lebih menderita dari aku, padahal selama ini aku berusaha membencinya"


"Nara... tolong jangan benci Clay, tapi bantulah dia"


"aku akan berusaha semampuku Mey"


"terima kasih Nara, kamu beneran memang yang terbaik"


"tapi bagaimana caranya aku bisa membantunya Mey?"


"sering seringlah bicara dengannya meskipun hanya lewat telefon"


"baiklah, kuusahakan, sudah dulu ya.. sampai nanti, terima kasih infonya"


"sama sama, kamu baik baik disana ya!"


"ok, bye......"


Nara sangat bersedih hati mendengar kabar Clay.


"tak kusangka ternyata kau lebih menderita dan terpukul, tak kusangka kau sebenarnya berusaha menghubungiku. maafkan aku yang berusaha melupakanmu, disaat kau bahkan sakit karena tak bisa jauh dariku"


air mata Nara menetes tanpa terasa.


"aku harus bagaimana??? mungkinkah kau sakit karena aku, maka kau bisa sembuh karena aku pula!"


setelah beberapa bulan sering bicara dengan Nara, dan menjalani perawatan, Clay berangsur angsur sembuh.


"Nara..."


"hemm.."


"bagaimana jika kita bertemu lagi?"


"bagaimana?"


"kalau aku tak mengenalmu gimana?"


"aku juga akan mengacuhkanmu"


"he..he..kalau aku menatapmu gimana?"


"aku juga akan menatapmu"


"kalau aku menyapa?"


"akan kubalas menyapa"


"kalau aku memelukmu?


"aku juga akan memelukmu"


"kalau aku mencimmu?"


"kamu juga kucium"


"janji??"


"iya janji"


"andaikan kita tidak berjodoh dan sudah menikah dengan pasangan kita masing masing, lalu kita bertemu lagi, apakah janji itu masih berlaku?"


"hem...menurutmu?"


"ya, harus tetap berlaku"


"kalu begitu, tetap berlaku."


seiring waktu berjalan, Nara sibuk kuliah, ketika ibu Clay melihat anaknya kembali pada kehidupan normal, maka ibunya kembali berusaha memisahkan Clay dan Nara.


suatu hari, saat makan malam.


"Clay... "


"ya..Ma"


"sebentar lagi kamu kuliah, suami mama bakalan pindah tugas ke Amrik kamu kuliah disana, kamu mau?"


"hah...???"


"uhuk..uhuk..."


meycan tersedak


"iya, kalau kamu kuliah disana kan masa depan kamu lebih terjamin"


"boleh juga"


"kapan berangkatnya??"


tanya Meycan


"setelah Clay lulus. kamu juga ikut Tante ya Mey"


"hemmm liat nanti deh Tan...memang Mey punya tawaran jadi model disana, tapi Mey pikir pikir dulu deh."


"pikirkan secepatnya, karena tiga bulan lagi kita pindah."


selesai makan Clay langsung menghubungi Nara dan menceritakan rencana kepindahan keluarganya.


"wahhh bagus dong Clay"


"kok bagus?? aku kan bakalan jauh dari kamu!"


"ini juga kamu memang jauh dari aku, tapi kan kita tetap bisa saling berhubungan. itu juga buat masa depan kamu!"


"tapi... apa kamu mau nunggu aku???"


"iya.. dong pasti"


"baiklah.. tapi jaga diri kamu baik baik ya..!"


"iya dong harus itu, kamu juga ya....jangan melirik cewek bule disana ha..ha..ha.."


"nggak mungkin Naraku sayang, kamu segalanya buatku"


"gombal"


"sungguh..kamu matahari...bulan...dan bintang...kamu alam semestaku"


"wahhh... bisa terbang kebulan aku sekarang,


gombalnya jangan kelewatan ah..."


"asalkan jangan terbang kematahari ya... bisa gosong"


"tuh...kan bercandanya kelewatan"


"serius Nara kamu segalanya bagiku"


"iya...iya...tau..."


tak terasa waktu berlalu, Clay bersama keluarganya pindah ke Negeri Paman Sam, Meycan juga ikut dan mengembangkan karir disana. dan Nara semakin disibukkan dengan kuliahnya. dan semakin banyak pria yang berusaha mendekati Nara karena kecantikannya.


"Nara kamu datang kan ke ulang tahunku nanti malam?"


tanya Riska, teman sekampus Nara yang terkenal di kampus, karena tergabung dalam Klub sosialita yang terbagi dua, satu Klub anak anak konglomerat, dua Klub piaraan konglomerat. Riska tergabung dalam Klub yang pertama.


"aku usahakan ya..tugas menumpuk nih.."


"Nara kamu juga harus menikmati masa muda dong"


sahut Angela teman Riska


"pokoknya kamu harus datang ke Club Cloud, jam sembilan malam nanti ok.!"


"baiklah"

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2