KEMEWAHAN WANITA

KEMEWAHAN WANITA
17. Cemburu


__ADS_3

***Jika aku yang memohon tak bisa mengubahmu.


maka


aku akan tetap dibelakangmu dan menjadi sandaranmu.*


*Kendra Mahendra***


setibanya dirumah, ken tidak membangunkan Nara, tapi menggendongnya dan membawanya naik ke atas kedalam kamarnya, membaringkan Nara di ranjang dan menyelimutinya. Buttler Jang sangat senang melihat pemandangan ini. karena selama di luar para pengawal selalu memberi kabar lewat telefon genggam.


"ternyata Tuan Muda punya hati yang lembut, gadis ini sungguh hebat, mampu menaklukkan monster jahat yang ada dalam diri Tuan Muda"


Ken masuk ke dalam kamarnyaa, membersihkan diri, mengganti pakaian dengan piyama, lalu berbaring tapi tidak bisa tidur.


"sial siapa si Clay itu, apakah dia lebih tampan dari aku? mungkinkah dia lebih kaya dari aku? ah.. benar benar menyebalkan"


Ken bicara sendiri


"pelayan panggilkan Buttler Jang"


"baik Tuan Muda"


tak lama kemudian.


"ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?"


"cari tau siapa si Clay pacar Nona Muda, lalu hancurka dia bersama keluarganya"


"baik Tuan, saya permisi"


"Buttler Jang tunggu, nanti kalau aku menghancurkan si Clay, dan ketahuan Nara, aku mungkin tak akan bisa melihatnya untuk selamanya.... wahhh jangan... jangan buttler Jang"


"lalu, apa yang Tuan ingin saya lakukan"


Ken berjalan mondar mandir sambil memegang dagunya dan berpikir keras.


"hemm cukup cari tahu saja, siapa dia"


"itu saja Tuan"


"ya itu cukup"


"baik Tuan"


"hebat sekali gadis ini, dia bisa menenangkan seorang monster agar bisa menahan diri dari menghancurkan orang lain, karena dia takut pada gadis ini, hmm aku harus melaporkannya pada Tuan besar, dan aku harus melakukan sesuatu agar gadis itu tidak pergi kemana mana, karena selama ini tidak ada seorangpun yang bisa mengendalikan Tuan Muda, sekalipun itu ayahnya, tapi gadis ini bisa."


pikir buttler jang, dan langsung melaporkan hal tersebut, kepada Tuan Besar Brata Mahendra. lewat telefon.


"benarkah itu Jang"


"iya benar Tuan Besar"


"kalau begitu jalankan seperti rencanamu"


"baik Tuan"


keesokan harinya Nara bersiap untuk ke kampus.


"Nona anda mau sarapan di ruang makan atau sarapan di kamar?"


"aku mau sarapan di kamar saja, aku benci melihat wajah Ken"


"baik Nona Muda"


pelayan itu pun, mundur perlahan menuju pintu, karena Buttler Jang melarang para pelayan membelakangi majikannya. tak lama kemudian si pelayan kembali dengan tangan kosong.


"loh mana sarapannya?"


"maaf Nona, tapi Tuan Muda menunggu di meja makan"


"ah.. bisa terlambat kalau kelamaan, tapi kalau tidak sarapan, bisa kelaparan aku di kampus, mana uang bulanan mulai menipis masih seminggu lebih baru dapat kiriman"


Nara buru buru ke ruang makan, baru setengah turun tangga Nara berhenti.


"eh maaf mbak, ruang makannya kanan atau kiri?"


"lurus belok kiri, kalau ke kanan arah ke kolam renang dalam ruangan Nona, mari saya antarkan, tugas kami selalu menemani Nona"


sampai diruang makan, Nara berdiri memegang sandaran kursi, menatap ken dengan wajah cemberut, Nara terlihat sangat cantik dengan Rok mini yang memamerkan kaki jenjang dan paha putih mulus bak kaki boneka barbie, dan kemeja sutra putih yang memamerkan kedua gunung kembar yang molek, dan ransel kulit kotak putih, menunjukkan lekuk tubuhnya, membuat Ken kepanasan dipagi hari.


"kamu ke kampus dengan pakaian itu?"


"ia, kenapa?"


ken langsung berdiri, memegang Nara dan menyeret Nara kembali ke kamarnya.


"tidak boleh, ayo ganti baju"


"kenapa? nggak mau, lepaskan aku Ken"


"aku bilang ganti"

__ADS_1


"aku bilang tidak"


Ken menatap Nara tajam, tapi Nara tidak mau kalah, dia juga menatap Ken dengan tatapan menantang, Buttler Jang memperhatikan keduanya dalam diam, dan memerintahkan semua pelayan yang ada disitu untuk keluar. buttler Jang ikut keluar dan menutup pintu ruang makan.


Ken tak mampu lagi menahan Amarah, karena selama ini tak pernah ada satu orang pun yang berani menantang Ken. Ken mendorong Nara dengan tubuhnya, hingga tersandar di dinding, Nara berusaha melepaskan diri tapi Ken menahannya.


"sudah ku bilang ganti pakaianmu, kalau tidak"


Ken berbisik ditelinga Nara.


"dan aku bilang tidak"


Nara balas berbisik ditelinga Ken dengan kesan menantang. bukannya marah Ken malah tergoda, dia langsung ******* bibir wanita didepannya, dan lebih menakjubkan lagi karena wanita yang kelihatan sedang marah itu membalas ciuman Ken dengan penuh gairah, malah memeluk pinggang pria tampan didepannya, dan semakin menempelkan tubuhnya sehingga kedua gunung kembarnya tersandar pada tubuh Pria yang sedang terbakar gairah yang berusaha ditahannya selama ini. ciuman Ken mulai turun ke leher.


"ah... Ken"


Nara membuka dua kancing kemeja sutranya dan mulai membelai Ken. merasa diijinkan untuk berbuat lebih, Ken mencium belahan dada Nara dengan nafas yang memburu, tangannya meremas salah satu gunung kembar yang kenyal, membuat gadis itu mendesah.


"oh..."


tak tahan lagi Ken mengangkat Kaki Nara disilangkan ke pinggangnya, dan mengangkatnya ke meja makan. Ken menyapu dengan tangan semua piring dan makanan diatas meja, sehingga bunyi piring pecah berhamburan terdengar seperti orang yang sedang mengamuk, dan mendudukkan Nara diatas meja. Nara membiarkan Ken melakukan apapun yang dia inginkan, sampai saat Ken mengangkat rok Nara dan hendak menyatukan diri mereka, Nara melompat turun dari meja, dan merapikan pakaiannya.


"astaga.... aku bisa terlambat ke kampus, astaga Ken ayo cepat.... antarkan aku....


sudah telat sekali nih...."


"Buttler jaaaaaang......"


teriakan panjang Ken menggelegar membuat semua yang mendengarnya terkejut ketakutan, sedangkan Nara menahan senyum.


"ya Tuan Muda"


Buttler jang menggigil ketakutan.


"suruh supir mengantarkan Nona Nara ke kampus"


"baik Tu.. Tuan Muda, mari Nona"


"tapi kamu berjanji akan mengantarku ke kampus"


suara Nara membuat Buttler jang menahan nafas.


"ayo Nona.."


bisik buttler Jang.


"ka....kamu....aiiissshh sial.. sial....siaaaalll..."


ken kembali mengamuk dengan melempar apapun yang ada didekatnya, tapi Nara tetap tenang.


Ken manarik nafas panjang berusaha menenangkan diri, dan berkata lembut kepada Nara.


"ayo...sana Ikut Buttler Jang ya, nanti kamu terlambat kuliah"


"mari Nona...ikut saya"


Buttler Jang mempersilahkan Nara mengikutinya. dengan berat hati Nara pun ikut.


"oh ya... satu lagi Buttler jang"


"iya Tuan"


"suruh supir menunggu Nona sampai selesai kuliah, dan kirim dua pengawal menemani Nona"


"baik Tuan"


"hahhh... apa apaan kamu Ken, memangnya kamu siapa?"


Ken yang berusaha menahan amarah, kembali murka, tapi tetap berusaha mengendalikan diri. sedangkan buttler Jang menahan nafas karena takut.


"Nara, kamu tau aku bukan orang biasa kan???"


"ho..oh"


Nara mengangguk


"kamu tau banyak orang takut kepadaku, tapi musuh dibelakangku juga banyak"


"hem...itulah susahnya jadi orang jahat"


"apa kamu bilang"


"susah jadi orang kaya puas"


"karena kamu tinggal disini, nanti akan ada orang yang menyakitimu untuk menyerang aku, kamu mengerti"


"bilang saja aku salah satu pelayanmu, mudah kan"


"sudah sana pergi nanti terlambat"


"mari Nona"

__ADS_1


Nara pun ikut buttler Jang kedepan rumah, dan Ken ikut mengantarkan Nara ke depan. saat supir turun untuk membukakan pintu buat Nara.


"astagaaa.... Ken supirmu ganteeeng..he..he.."


Ken yang sudah berbalik hendak masuk kembali kedalam rumah, berbalik arah langsung berjalan ke arah kemudi. dan duduk di kursi supir.


"pindah kedepan"


"nggak udah enak duduk disini"


"kamu pikir aku supirmu"


"aku mau tidur disini"


Nara membaringkan tubuhnya di kursi balakang, membuat Ken tidak memaksa lagi. tanpa mereka sadari buttler Jang memperhatikan tingkah mereka berdua. Ken menekan pedal Gas sedangkan sang supir bingung ditinggal sang majikan.


****


"Tuan jang apa salah saya?"


"karena kamu tampan"


"apakah saya dipecat"


"tenang saja, Tuan muda sedang bahagia, tidak akan ada yang dipecat selama Nona muda ada disini"


mendengar itu para pelayan mulai berbisik bisik, agar memperlakukan Nona muda dengan baik, agar dia betah dan tidak pergi.


***


di dalam mobil, Nara yang tiduran di jok belakang, menutup matanya dan pikirannya kembali, pada saat Ken mencumbunya diruang makan.


"wah.. bahaya kalau begini, bisa bisa aku tergoda, wah..ternyata rasanya seperti ada sesuatu yang sangat panas didalam tubuh, terasa semua sentuhan membuat seluruh tubuh bergetar, terus dan terus menginginkan sesuatu yang entah apa itu. sepertinya ada yang sesak dan ingin keluar dari dalam jiwa.apakah rasanya terangsang seperti itu? tidak boleh terulang lagi, aku sudah berjanji pada Clay, tapi begitu aku dapat kiriman bulanan, aku harus segera pindah dari rumah Ken, aku tidak boleh berutang budi terlalu banyak. memang aku diusir sebagian juga salahnya kan????"


"apa yang sedang kamu pikirkan Nara"


"Bukan apa apa"


Nara menjawab sambil tetap menutup mata.


"Ken"


"hem"


"kenapa aku tidak jadi diantar supir?"


"karena aku ingin mengantarkan kamu"


"ah.. kamu cemburu ya...?"


Nara membuka matanya dan duduk kemudian menatap Ken di kaca spion.


"siapa yang cemburu???"


"kamu cemburu sama supir kamu kan"


"apa... cemburu sama supir????? aku Kendra Mahendra cemburu sama supir??? nggak salah dengar aku?"


"iya soalnya supirnya aku bilang tampan, tapi memang tampan sih"


Kendra mengerem mendadak membuat Nara kaget.


"tuh.. kan cemburu"


"kamu itu ya.... benar benar pintar membuatku marah, nanti aku turunkan di jalan mau"


"mau banget, kita kan sudah sampai, terima kasih Tuan yang baik hati, sudah mengantarkan hamba yang hina ini dengan selamat, nanti jangan cemburu lagi ya, berhubung hamba ini sudah punya pacar"


Kendra menghentikan mobilnya, turun dari kursi kemudi, membukakan pintu dan Nara turun dengan santainya tanpa memperhatikan mata mata yang menatap kagum dan iri.


"Nara..."


panggil Ken, saat tersadar diperhatikan puluhan pasang mata yang ada disitu, Nara menjadi salah tingkah, dan menutup wajahnya dengan tas ransel yang dibawanya, sambil berjalan cepat masuk ke dalam kampus. dan memberi isyarat dengan tangan agar Ken segera pergi.


"ada apa dengan gadis itu, apa dia malu dengan keberadaanku? apa dia tidak tau berapa banyak gadis yang sedang iri padanya saat ini, apakah si Clay juga kuliah disini??"


"Nara apa si Clay tau, kita tinggal bersama?"


Nara yang tadinya sok tidak mengenal Ken, berbalik dengan capat berlari dan membekap mulut Ken dengan tangannya.


"apaan sih.. Ken ayo masuk mobil"


"nggak mau"


"Ken malu tau diliatin orang orang, lagi pula si Clay nggak kuliah disini"


senyum tanda bahagia, menghias wajah tampan Ken, tapi di palingkan wajahnya, agar Nara tidak melihat seringai bahagia yang terpancar jelas diwajahnya. karena selama ini Ken sangat pintar menunjukkan wajah dan tingkah yang angkuh, tapi semua itu tak mampu dilakukannya didepan Nara.


"ayo masuk ke dalam mobil Ken, kamu malu maluin"


Ken tetap berdiri sambil berdiri dan bersandar di samping mobil mewahnya, sambil nemeluk dada dengan gaya yang angkuh, membuatnya terlihat semakin tampan.

__ADS_1


"kamu tidak tau arti aku berdiri disini dan berbicara denganmu Nara, itu menandakan kau adalah milikku, tak ada seorangpun yang akan berani mengganggumu mulai saat ini. lihat saja nanti"


Bersambung.........


__ADS_2