
***Walaupun dikeramaian,
menatap hampa, merasa sesak, termenung sendiri, terdiam beku, tidak fokus,
Sepi*
Narabella****
"ternyata sangat sulit menghilangkan pikiran tentang kamu Clay, bahkan keramaian tak bisa menghapus bayangmu walau sekejap, bahkan orang yang dahulu sangat kuidolakan, kini tak mampu membuatku bahkan menatapnya, apalagi memikirkannya. Clay entah bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku tanpamu"
air mata kembali menetes tanpa terasa dari mata indah gadis cantik yang sangat merindukan seseorang. yang amat sangat dia sayangi untuk saat ini.
"Nara kemana?"
Bisik Dave pada Drew
"entahlah"
"kemana dia?"
"entahlah"
"udah tidur ya?"
"entahlah"
karena terus terusan diganggu Dave
"Nara kemana?"
tanya Drew kepada kedua sahabatnya
Meycan dan Livi baru menyadari ketidakhadiran Nara,
saat Meycan hendak masuk kedalam tenda untuk melihat Nara, terdengar isakan pelan, yang membuat Meycan mengurungkan niatnya, dan kembali bergabung dengan para sahabat barunya.
"Naranya mana Mey? ini jagungnya udah matang"
tanya Drew penasaran,
"buat aku aja, wah.. kelihatan enak banget nih"
Livi berusaha mengalihkan pembicaraan karena sudah paham dengan situasi Nara.
"Drew sini deh.."
Meycan mengajak Drew mendekat dan berbisik
"Nara lagi patah hati, jadinya sediiiiih banget, apa apa nangis, kita ngajak dia kesini, eh.. nggak ngajak sih, tapi maksa..itu untuk menghibur Nara, biar liburan ini jadi bermakna, soalnya kalo dirumah bawaannya nangiiiiss... terus. kita berdua jadi bingung deh"
jelas Meycan panjang lebar
"hmmm... Nara diputusin pacarnya?gitu?"
Drew penasaran
"nggak.. nggak.. nggak diputusin, tapi pacarnya pindah ke ibukota ikut ibunya, Nara jadi sedih gitu loh, padahal dulu si Dave teman kamu itu idolanya Nara, tapi jangan kasih tau Nara ya kalo gue kasih tau kamu soal si Dave"
"ok ..hemm gimana kalau kita coba jodohin Nara sama Dave, ajak Nara keluar trus kita tinggalin mereka berdua, kayu bakarnya kita sembunyiin, senternya kamu bawa trus kita sembunyi, Nara kan perempuan, pasti takut gelap, gimana?"
Drew mengajak Meycan berkomplot
"Owen sama si kembar urusan Gue, si Livi urusan kamu ok!"
Meycan pun masuk kedalam tenda
"Ra kamu kenapa??"
"nggak kenapa kenapa kok, hanya capek aja"
"kita kan kesini buat refreshing, ayo dong keluar, kita lagi bakar jagung manis enak banget loh dioles margarin, ayo dengerin si Dave idola kamu nyanyi sambil main gitar, astaga...keren banget ..ganteng bangeett.."
"iya sebentar lagi gue keluar"
sedangkan diluar, sikembar sudah mulai menyembunyikan kayu bakar atas perintah Drew, lalu sembunyi.
"ayolah Narabella jangan seperti ini hidup harus jalan terus, dunia ini besar dan indah untuk dinikmati, lupakan Clay malam ini, kita hepi hepi liat bintang, nyanyi nyanyi, makan makan, ayo..kalaupun Clay nggak kembali, masih banyak pria baik diluar sana ngerti...! sekarang ayo keluar."
Kata Meycan tegas sambil menarik tangan Nara, merekapun keluar, Owen dan sikembar tak terlihat. ketika Drew melihat Nara keluar
"Dave tolong terusin bakar jagung buat Nara, bentar lagi matang, Gue ambil kayu bakar sebantar"
sambil memberi isyarat pada Meycan untuk meninggalkan Dave dan Nara sendirian.
"Drew.. sebentar gue ikut bantu kamu ambil kayu bakar. ayo Liv bantuin Drew!"
Livi yang belum tau rencana Drew dan Meycan menolak
"lu aja, sana... Nara sendirian kalo gue ikut"
"kan ada Dave, lagian cuma sebentar itu kayu bakarnya dibelakang tenda"
ajak Meycan sambil main mata pada Livi yang masih belum mengerti
"ya sudah kamu sama Drew aja, aku sama Nara deh"
tak tahan, Meycan menarik tangan Livi
"ayo ikut gue sebentar, lu pegang senternya"
"iya deh tapi jangan tarik tarik dong"
ahirnya Livi terpaksa ikut, setelah agak jauh, Meycan menjelaskan rencananya bersama Drew.
"ooohh begituu..ngomong dong..."
Livi sewot karena tidak tau rencana dadakan sahabatnya itu.
Dave bingung dan merasa aneh karena semua orang menghilang satu persatu, tersisa Nara yang duduk hanya menatap api unggun dengan tatapan hampa.
"Nara ini jagungnya sudah matang"
sambil menyodorkan jagung manis yang ditancapkan pada sebatang kayu dan dipanggang pada api unggun yang menyala.
"ini... pegang pada kayunya, hati hati panas"
"ini buat aku?"
"iya.."
__ADS_1
"lalu... buat kamu mana"
"aku udah kenyang dari tadi udah makan sama mereka"
"mereka pada kemana ya kok belum balik?"
"katanya ambil kayu bakar buat persediaan api unggun, ini sudah mulai padam apinya soalnya kayunya mau habis"
"iya nih udah mulai terasa dinginnya apinya mau mati"
"kalau begitu aku ambil kayu dulu ya biar apinya nggak padam"
"aku ikut ya? senternya dibawa Meycan, biar kamu nggak sendiri!"
Nara nggak mau ditinggal sendiri dalam gelap karena dia takut gelap, tapi gengsi untuk mengakuinya
"kamu nggak apa apa kita jalan dalam gelap? semua senter dibawa sama Drew, Riko dan Riki"
"nggak apa apa mending berdua daripada sendiri"
padahal Nara benar benar takut, tapi sok berani dihadapan Dave, bahkan saking takutnya Nara melupakan sejenak perasaan galau dan kalut dihatinya saat ini. Nara berjalan dibelakang Dave, dan terantuk pada sesuatu yang membuat Nara tersungkur.
"Aawww....aduh"
Dave langsung berbalik dan memegang kedua tangan Nara
"kamu nggak apa apa? ada yang sakit"
"nggak kok nggak apa apa!"
padahal Nara kesakitan kakinya terkilir, tapi gengsinya terlalu besar untuk memberitahu Dave. setelah sampai dibelakang tenda Nara, kayu bakar yang tadinya banyak sudah tidak ada.
"ayo ke tenda gue, disana banyak kayu bakar yang kita kumpulkan tadi siang sampai sore."
"tapi..."
"nggak jauh kok itu, mungkin mereka ada ditenda gue!"
"hemm baiklah..."
Nara agak khawatir karena mereka hanya berdua dalam kegelapan malam tanpa senter ataupun alat penerang lainnya. tapi sesampainya mereka ditenda Dave kayu bakarnya juga menghilang.
"loh.. tadi kayu bakarnya banyak kita kumpulin disini, bahkan satupun belom di pakai, kok bisa hilang ya?"
Nara mulai ketakutan, tapi berusaha ditutupi karena tidak ingin ketahuan penakut. Dave pun mulai panik, tapi tidak mau Nara khawatir, jadi sok berani. tiba tiba bunyi suara burung malam sangat memekakan telinga membuat mereka berdua kaget, spontan Nara memeluk Dave sambil berteriak kencang, dan Dave pun memeluk Nara erat saking terkejut dengan teriakan Nara.
"Astagaaaa..... aaaww... apaan tuuh..."
"nggak apa apa kok hanya burung hantu"
"iiihhh... serem hantuuu...."
Nara makin mempererat pelukannya hingga Dave merasa sesak
"bukan hantu... tapi burung ...ehmmm burung malam"
"hah... burung?"
dan Nara mulai melonggarkan pelukannya
"iya burung sudah nggak apa apa!"
"astaga.... Dave maaf ya... aku...aku.."
"sudahlah nggak apa apa kamu terkejut aja"
Dave berusaha menenangkan Nara agar Nara tidak merasa risih
"ma..maaf... aku meluk kamu, nanti ada yang marah!"
Nara tertunduk malu
"ya ampun Nara, beneran nggak apa apa, lagian siapa yang bakalan marah, aku malah senang dipeluk gadis secantik kamu, aku malah berharap.......hemmmm.!"
"berharap apa Dave?"
Nara mengangkat wajahnya yang tertunduk menatap Dave.
"berharap bisa selalu dipeluk kamu, rasanya hangat"
Ujung bibir Dave terangkat memamerkan senyum menawan
"astaga.. Dave memangnya aku siapa kamu sampai berhak meluk kamu segala"
Nara berusaha tertawa renyah mencairkan suasana.
"kamu bisa jadi pacar aku, agar aku bisa tidak hanya berharap, tapi jadi kenyataan, bolehkah Nara"
"astaga..... kenapa nggak dari dulu saat aku sangat mengidolakan kamu Dave, senang sekali pastinya punya pacar setampan kamu, aku bisa pamer ke teman temanku, kalau dulu aku mungkin bisa jingkrak jingkrak kesenangan, tapi sekarang aku punya Clay satu satunya yang kusayangi saat ini, walaupun dia pergi tanpa sepatah kata, tapi aku terlanjur menyayanginya, maafkan aku Dave, karena dilubuk hati kecilku ada rasa bahagia mendengar pengakuan yang terlambat untukku"
Nara terdiam dan bergumam dalam hati.
"maafkan aku Dave, tapi aku sudah punya pacar"
"yahhh.. seberapa terlambat aku mengungkapkannya Nara? sebenarnya aku sudah sangat menyukaimu sejak pertama kali bertemu tapi nggak berani soalnya aku lebih muda setahun, dan juga tidak pernah punya kesempatan mengatakanakanya padamu.Drew juga nggak mau ngenalin kamu sama aku."
"wah... ketemu pertama kali masih SMP dong,
ha..ha..ha... dua tahun lalu ...ehm.. aku belom pacaran tuh, baru setahun ini aku punya pacar"
"oh.. ya.. satu sekolah?"
"nggak, dia sekelas sama kamu!"
"wah adik kelas juga dong, waduh.. makin menyesal aku ini, sekarang pacarnya dimana"
"dia pergi jauh"
Nara terlihat sedih
"meninggal?"
tanya Dave polos
"enak aja... siapa yang meninggal, dia pindah sekolah ke ibu kota ikut ibunya."
"jadi dia nggak disini dong, kamu jadi pacar aku aja.. ya.. ya.. please..."
"apaan sih... ayo balik ke tenda aku aja, mungkin mereka sudah kembali."
__ADS_1
"oh ya betul mungkin mereka sudah kembali dan nyariin kita berdua ayo"
Dave meraih tangan Nara dan dipegangnya erat, namun Nara melepaskan tangannya dari genggaman Dave
"nggak apa apa kok Dave aku bisa sendiri"
"hem... maafkan aku Nara, aku tidak bermaksud lain, tapi jalannya gelap, aku takut kamu jatuh lagi, nanti keseleo"
Dave kembali meraih tangan Nara, dan Narapun pasrah karena dia memang takut
saat burung burung malam bernyanyi, Nara bahkan menempel pada Dave dan bergelayut erat ditangan Dave karena ketakutan. sesampainya ditenda Nara, tak satupun dari para sahabat mereka muncul
"astaga mereka belum muncul, aduuuh... pada kemana sih...."
"tunggulah sebentar lagi, mereka kan bersama sama jangan khawatir"
"iya tapi kelamaan, mana gelap, dingin, ngantuk lagi"
"sini duduk dekat aku biar hangat sambil menunggu mereka kembali."
Dave mengambil gitar memainkan sebuah lagu, sambil bersenandung pelan, mengingatkan Nara pada Clay. malam semakin dingin, Nara mulai menggigil.
"Nara kamu masuk saja biar hangat, kamu menggigil"
Dave merangkul pundak Nara, dan tangan yang satunya lagi mengusap usap tangan Nara untuk menghangatkan.
"kamu nanti sendirian, dan kamu juga kedinginan"
"sebentar lagi mereka kembali, aku nggak apa kamu masuk aja nanti sakit"
"tapi aku takut sendirian!"
"mau aku temani? aku janji nggak bakal ngapa ngapain kamu"
"benar, janji?"
"iya janji ayo..masuk"
Nara pun masuk kedalam tenda, berbaring di matras dan diselimuti Dave, karena terus menggigil, dave mengelus kaki Nara dari luar selimut. tapi Nara terus menggigil. Dave pun menutup tenda agar lebih hangat dan duduk di samping Nara sambil memetik gitar dan bersenandung kecil.
"kamu tau Dave"
"hmm..ya.. kenapa?"
"pacarku juga suka bersenandung kecil saat main gitar"
"apa kamu merindukannya?"
"sangat"
"wah.. bahagia banget dirindukan gadis sebaik kamu"
"jangan mulai lagi dong Dave, aku jadi nggak enak nih"
"aku hanya jujur Nara, tapi kamu semakin menggigil, aku peluk boleh ya? bukannya bermaksud lain sih tapi kamu bisa kena hipotermia "
tanpa menunggu persetujuan Nara, Dave masuk dalam selimut dan memeluk Nara dari belakang dengan erat, sambil berusaha menahan diri dari hasrat lelaki normal, yang sedang memeluk gadis pujaannya. rasanya Dave tak mampu menahan hasratnya tapi, Ketakutan Nara bisa sakit membuatnya berusaha menahan diri sekuat tenaga.
"apa kamu merasa mendingan?"
"iya lumayan"
Nara mengangguk malu
"makasih ya Dave, aku sudah ngerepotin kamu"
"nggak kok, aku malah senang, bisa meluk pujaan hati aku, andaikan bisa seperti ini selamanya betapa bahagianya"
"tuh kan... kesempatan dalam kesempitan"
"iya sih..tapi aku tulus kok biar kamu nggak sakit, walaupun aku tersiksa he..he..he.."
"tersiksa kenapa? aku kan nggak nyiksa kamu Dave"
"Nara... aku ini lelaki normal loh, lelaki normal yang lagi meluk wanita cantik, dalam kegelapan, dan cuaca dingin menusuk seperti ini, kamu nggak bisa ngebayangin betapa tersiksanya argghh...."
Nara menyadari ada sesuatu yang keras terasa tersandar di bumpernya.
"Kamu nggak apa apa Dave, maaf ya... aku bisa ngerasain tuh si adik kamu keras banget, maaf ya...sekalian terima kasih, apa jadinya aku tanpamu"
"ssttt... sudah tidur aja, biar tambah hangat"
lama kelamaan Nara tertidur lelap dalam dekapan Dave, dan Dave tidak bisa tidur dalam gelisah disamping gadis pujaan hatinya, cinta pandangan pertamanya, walaupun Dave sempat pacaran dengan teman sekolahnya, tapi entah kenapa wajah Nara sering terbayang, tapi Dave terlalu gengsi untuk menanyakan kabar Nara pada sepupunya Drew yang adalah sahabat karib Dave.
Bahkan saat ini, masih terasa seperti mimpi, dan Dave sangat tidak ingin untuk terbangun.Nara yang tertidur lelap sambil membelakangi Dave, tiba tiba membalikkan tubuh indahnya yang semakin berisi dalam pemandangan Dave, karena dua tahun yang lalu, saat pertama kali melihatnya, Bodynya belum semontok sekarang ini, saat Nara membalikkan tubuhnya, wajahnya, tepat dihadapan Dave, bibirnya tepat didepan bibir Dave, bahkan nafasnya terasa diwajah tampan Dave, membuat Dave tak mampu untuk bertahan.
"ahh.. sial bisa bisa nggak mampu gue menahan diri, tidurnya lelap banget lagi, kalau dicium, bangun nggak ya? Nara, menyesal banget nggak dari dulu punya kesempatan dekat sama kamu, gue bahkan hanya bisa menatapmu dari kejauhan, karena terlalu tidak percaya diri untuk mendekatimu."
Dave berkata dalam hati sambil menyisipkan rambut Nara yang menutupi wajahnya kebelakang telinga Nara, dan menatapnya dengan tatapan penuh Cinta, yang selama ini terpendam. tak tahan Dave mencium kening Nara, dan kembali menatapnya, Sentuhan Dave membuat Nara menggeliat dan tanpa sengaja bibir Nara menempel dibibir Dave, membuat detak jantung Dave makin tidak beraturan, walaupun sebenarnya itu adalah hal yang sangat Dave inginkan dari tadi. Dave menjauhkan bibirnya dari bibir Nara yang terasa sangat lembut dan menggairahkan, sambil kembali menahan hasrat lelaki yang luar biasa dahsyat terasa semakin membara. tiba tiba Nara kembali menggeliat memeluk erat Dave dengan tangan dan kakinya, bak meluk guling. dan menyandarkan wajahnya di dada Dave tanpa sadar.
Di seberang tenda Drew, Owen, si kembar, Meycan Dan Livi kedinginan dibawah pohon
"sepertinya mereka sudah tidur, aku juga ngantuk banget mana dingin lagi, gue nggak tahan dingin banget, gue balik ke tenda ya..."
Ucap Meycan sambil memeluk Livi yang tertidur bersandar di bahu Owen.
"sebentar aku lihat dulu mereka ngapain."
"aku ikut..."
Meycan dan Drew berjalan dan dengan perlahan membuka kain penutup jendela, dan mengintip dari luar jendela.mereka terkejut menyaksikan keduanya tidur bersama sambil berpelukan, Nara memeluk erat Dave sambil tertidur pulas, sedangkan Dave mengelus elus belakang Nara, terlihat belum tidur. seakan tersadar ada yang ngintip
"siapa itu?"
"sttt... ini aku Drew, sudah kalian lanjut aja, kami tidur ditenda sebelah ya"
kata Drew sambil berbisik
"iya sudah sana"
"ayo Meycan kita tidur ditenda gue aja nggak usah diganggu mereka berdua."
setela membuat api unggun, mereka berlima pun tidur di tenda Drew, karena sudah larut malam, setelah kecapekan dan kedinginan akibat sembunyi, mereka tertidur pulas
sedangkan Drew kesulitan untuk tidur.
"*astaga.....gimana bisa tidur kalau begini, sebenarnya, hal ini pernah terjadi dalam mimpiku, malah lebih lagi, saat teman temanku mimpi basah sama artis, aku malah mimpi kamu, gimana kalau kamu tau ya? bisa bisa gue malu banget. saat ini adalah saat terindah dalam hidupku, semoga mereka nggak kembali sampai pagi, aku akan mengenang saat ini selamanya, walaupun kau bukan milikku. mungkin suatu saat kau bisa jadi milikku"
***Bersambung****.......
__ADS_1