
**Kebersamaan, tak mengajarkan cara berpisah.
kehadiran, tak mempersiapkan ketiadaan.
kepedihan
kehampaan
tak terjelaskan
hanya indera yang mengerti
karena semua berubah*
*Narabella***
lengkap sudah Nara benar benar merasa sendirian, setelah sahabatnya pergi tanpa pamit, kini giliran kekasihnya pergi tanpa pamit.
Nara gadis tomboy yang selalu ceria yang sangat pintar menyembunyikan kekurangan dan kesedihannya hingga selalu terlihat tegar dan kuat dimata orang lain.
tapi saat ini Nara tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya, Nara tak punya kekuatan untuk menutupi hatinya yang hancur, setiap kali teringat Clay air mata menetes dengan sendirinya
"apakah sesakit ini kehilangan seseorang yang tersayang? apakah qt akan ketemu lagi?? benar kamu janji akan sukses dan menjemputku Clay? tapi kapan berapa tahun lagi baru kita bisa bertemu?? ahhh apa mungkin ketemu lagi?? bagaimana kalau kamu akhirnya melupakanku sedang aku selalu menyayangimu? bagaimana kalau kita tidak bisa bertemu lagi?
seribu pertanyaan yang tak terjawab berkecamuk di batin Nara, membuatnya lelah dan letih tanpa sebab dari hari kehari Nara menikmati liburan dengan kesedihan yang tak berujung.
Nara yang dulunya periang, selalu optimis, berani, bahkan terkadang nekad. kini bagai bunga yang layu, tak bersemangat, cengeng, menyebalkan. membuat kedua sahabatnya sangat khawatir.
"Nara besok kita berkemah di perkemahan gunung kabut, kamu harus ikut"
Meycan agak memaksa
"nggak, Mey gue males.."
"nggak bisa gitu Nara, kamu nggak bisa terus terusan mengurung diri dikamar, iya kan Mey!"
"iya, untung Ayah dan Bunda kamu sibuk kerja, kalau mereka tau pasti bakalan sedih"
"nggak ah, aku dirumah aja"
"nggak bisa, pokoknya besok kami jemput ngerti, sekarang kamu berbenah, trus istirahat, besok kami jemput.
"pokoknya besok pagi kamu harus sudah siap saat kami jemput"
Nara hanya diam seribu bahasa dan kembali membenamkan wajah kirinya dibantal guling, sambil memeluk gulingnya erat. setelah kedua sahabatnya pergi nara kembali mengunci diri dikamarnya, duduk di sudut ranjang menatap kearah jalan didepan jendela kamarnya memperhatikan kendaraan yang melintas atau para pejalan kaki. tiba tiba lewat sepasang muda mudi yang bergandengan tangan, membuat air mata Nara menetes dengan sendirinya.
apakah benar benar Seperti ini rasanya patah hati? benarkah sesakit ini? apakah aku akan terus menyiksa diri? aku bahkan tak tau dia akan kembali atau tidak, aku bahkan tak yakin lagi apakah Clay sungguh mencintaiku, kalau dia mencintaiku pasti Dia tidak akan menyakitiku sesakit ini, setidaknya ada penjelasan kepergiannya yang tiba tiba..lalu apa yang aku tangisi selama ini??? apakah aku menangisi seseorang yang bahkan tidak mencintaiku? apakah aku harus menunggu? ataukah harus kulupakan? ohh.. Clay apa yang harus kulakukan??
Nara bangkit, dan mulai menyiapkan segala keperluan untuk berkemah diperkemahan gunung selama tiga hari.
"yah aku tidak boleh terus terusan begini, aku harus kuat, aku harus terus hidup, aku harus belajar menjalani hidup tanpa Clay sejah saat ini. hmmm ya.. benar aku harus kuat, anggaplah Clay sedang berlibur panjang dan sebentar lagi kembali. ya... kembali untukku"
Nara menghibur diri dalam pikirannya, dan berjanji untuk menjalani hidup dengan bahagia, walaupun tidak tau apakah akan mampu.
Keesokan harinya saat menjemput Nara, kedua sahabatnya sangat terkejut melihat Nara yang sudah menunggu didepan rumah, dengan pakaian lengkap untuk berkemah, dan senyum dan tawa ceria yang kembali menghiasi wajahnya.
"Astaga.... mimpi apa aku semalam Liv??"
"iya mey luar biasa, dua minggu ini mengurung diri sambil menangis, trus tiba tiba berubah dalam semalam, ada apa apanya ini, gue jadi khawatir"
"Nara..ayo naik"
"pak Sopir tolong berhenti didepan sebentar ya itu temanku mau ikut"
sopir angkot menghentikan mobilnya menunggu Nara naik dan duduk didalam mobil. setelah sampai di tujuan mereka bertiga turun dan harus berjalan kaki satu kilometer untuk tiba di tempat perkemahan.
__ADS_1
"wahh... ternyata hari ini banyak yang berkemah, rame ya...., tendanya banyak"
"kita dirikan tenda di dekat sungai itu aja agak jauh dari tenda yang lain, trus dekat tempat mengambil air bersih."
"iya ayo, kita pasang tendanya"
mereka bertiga dengan lihai mulai mendirikan tenda.
"hallo, saya dari tenda sebelah, apa kalian butuh bantuan?
sapa seorang dari tenda, dekat tempat ketiga sahabat ini mendirikan tenda mereka.
"Memey, kok suaranya gue kenal ya? siapa tuh Mey"
Memey menoleh kearah suara yang menyapa, sedangkan Nara tak perduli dan terus sibuk memasang pancang agar tenda mereka tetap ditempatnya dan tidak bergeser
"Astaga Riko, Riki kalian juga berkemah disini? kebetulan, kami barusan nyampe! berdua aja kalian?"
Sapa Meycan pada tetangga kembarnya yang terkenal usil dan jahil.
"nggak kami berlima sama Dave, Owen, Drew."
"Drew juga disini? kebetulan Nara juga disini"
meychan dan Livi sangat senang mendengar nama Drew sepupu Nara yang ganteng juga idola mereka berdua
Ricko dan Ricki pun membantu memasang tenda dan ketiga sahabat itu mengatur barang bawaan, matras selimut tas, ditaruh didalam tenda, kursi lipat, tempat panggangan ditaruh diluar dan merekapun masuk ke hutan mengumpulkan kayu bakar.
Malam harinya ketiga sahabat itu sedang memanggang daging untuk makan malam, sambil merebus air untuk menyeduh mi instan. tiba tiba terdengar suara.
"hei, Nara kamu juga berkemah disini?"
"hei drew, iya nih"
"iya sudah, kami makan di bawah tadi, sekalian membeli persiapan sebelum naik kesini. rencananya kami berkemah tiga hari, jadi butuh persiapan."
"kebetulan, kami juga rencananya begitu!"
"wah, kebetulan kalian punya panggangan. kami punya banyak jagung, tadi pagi kami minta tolong sikembar beli perbekalan, pas balik belinya jagung manis sekarung he..he..he.."
merekapun tertawa renyah
"oh iya, drew masih ingat Meycan ama livi kan?"
"ya iyalah.. masa lupa, hai Memey..hai Livi.."
"halo juga drew"
sahut Meycan dan Livi kompak, salah tingkah, karena memang mengidolakan drew yang ganteng, sejak lama.
"itu yang main gitar siapa, dari tadi kedengaran dari sini"
tanya Meycan
" oh..yang main gitar.. si Dave tuh. oh..ya.... kita boleh gabung bakar jagung nggak? kami punya banyak kayu bakar tapi nggak bawa panggangan lupa! maklum laki laki nggak sedetail perempuan."
"iya boleh sekali.. silahkan"
sambung Livi sambil tersenyum bahagia, ketika Drew kembali ketendanya untuk memanggil sahabatnya, ketiga gadis itu saling berpandangan, berteriak tanpa suara, sambil membekap mulut mereka masing masing yang terbuka lebar menahan kegirangan, bertemu idola, tapi Nara langsung tersadar, dan teringat Clay, senyum pun menghilang dari wajah cantiknya.
Tak berapa lama Drew dan para sahabatnya datang dengan tikar ditangan drew, juga Rico dan Riki yang menggotong karung berisi jagung manis.
"astaga.....banyak amat tuh jagung mau jualan?"
celetuk Livi
__ADS_1
"tau..tuh sikembar pengen buka kedai jagung bakar kali!"
merkapun tertawa bersama
"oh ya.. kenalin teman teman gua, sikembar Riko, Riki udah kenal kan? yang ini Dave sama Owen. ini sepupu gua Nara, sama temannya
Memey ama Livi."
merekapun saling bersalaman dan bertegur sapa.
"kalian sudah makan? kita lagi masak mi kalian mau? gua masakin"
Nara menawarkan
"iya mau, kami udah makan sih tadi dibawah, tapi jalan sekilo buat naik kesini cukup menguras tenaga."
"ok gua masakin lagi"
Nara berdiri dan mulai menyibukkan diri
"sini gua bantu!"
Drew berdiri dan membantu Nara, merekapun bernyanyi diiringi Dave yang memetik gitar terlihat acuh tak acuh tapi sesekali mencuri pandang ke arah Nara, dan hal itu tak luput dari perhatian Livi.
"Mey liat deh, si Dave curi curi pandang sama Nara tuh"
bisik Livi ditelinga Meycan
"iya, dari tadi aku juga perhatiin"
"kita jodohin yuk"
"lu gila ya... orangnya lagi patah hati malah mau dijodohin"
"nah makanya biarin aja sodara lo itu, masa pergi tanpa pamit, kan kasian Nara jadi sedih banget"
"tapi kan mereka saling mencintai! emang Nara mau pacaran lagi?? "
"pasti sih nggak mau tapi kan bisa kita kasih masukan biar dia nggak terus terusan sedih"
"yahhh menikmati liburan dengan hati senang, menikmati masa muda dengan bahagia hidup hanya sekali"
"nah.....itu betul Mey.... "
"iya juga ya, lagian keluarga Clay nggak merestui."
"iya keluarga kalian"
kedua sahabat itu saling berbisik dan dikejutkan suara Meycan yang tiba tiba meninggi
"hei....gua nggak termasuk"
mereka terkejut mendengar ucapan Meycan dengan nada tinggi, dan terdiam, namun Nara mencairkan suasana
"ini sudah siap...ayo makan!"
sambil membawa panci yang berisi mi dengan aroma menggugah selera. selesai makan mi, mereka mulai memanggang jagung sambil bernyanyi,
tanpa Nara sadari Dave selalu curi curi pandang kearahnya, yang tanpa Dave sadari diperhatikan oleh kedua sahabat Nara. saat mereka masih asik terbawa suasana, Nara masuk kedalam tenda dan mulai menerawang dengan pikirannya yang kalut.
"ternyata sangat sulit menghilangkan pikiran tentang kamu Clay, bahkan keramaian tak bisa menghapus bayangmu walau sekejap, bahkan orang yang dahulu sangat kuidolakan, kini tak mampu membuatku bahkan menatapnya, apalagi memikirkannya. Clay entah bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku tanpamu"
air mata kembali menetes tanpa terasa dari mata indah gadis cantik yang sangat merindukan seseorang yang amat sangat dia sayangi untuk saat ini.
Bersambung........
__ADS_1