KEMEWAHAN WANITA

KEMEWAHAN WANITA
20 Tak kuingat tapi Tak Terlupakan


__ADS_3

selama ini tak ada satu wanita pun yang berani menyentuh Ken, bahkan pelayan wanita. karena ada rumor setiap kali ada wanita yang menyentuhnya pasti keluarganya bangkrut, atau mereka menghilang.


"maafkan dia Ken, mungkin dia mabuk, aku tidak tau apa yang dimasukkan Riska kedalam minumannya"


Brandon makin terkejut melihat Ken memapah Nara dan menatapnya penuh amarah sambil berjalan pergi. diiringi para pengawalnya.


didalam mobil Ken kelabakan karena Nara seperti cacing kepanasan.


"panas banget Ken"


Nara hendak membuka bajunya, namun ken menahan tangannya. mengambil handuk dilaci mobil dan membasahinya dengan air.


"Nara, kita sedang di jalan, ini air minumlah dahulu yang banyak, dan kompres kepalamu dengan handuk basah ini"


Ken mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi


"awas saja kau Riska, kamu juga Brandon, apa jadinya kalau aku terlambat menemukanmu Nara."


Brandon masuk kedalam mencari Riska masih dengan wajah pias, saat Riska melihat Brandon betapa terkejutnya dia. Riska langung berdiri dari duduknya, dang menarik lengan Brandon menjau dari teman temannya.


"Brandon..... astaga kamu masih disini, bukankah sudah kubilang untuk membawa Nara pergi dari sini?"


Brandon mengepalkan tangannya menahan marah.


"apa kamu sudah gila? apa salahku padamu? kenapa tidak bilang kalau dia gadis Kendra mahendra? apa kamu mau membunuhku?


cecar Brandon pada Riska.


"kata siapa dia gadisnya Ken? dia hanya pelayan dirumahnya Ken, mana mungkin seorang gadis kampungan, menjadi gadisnya Ken"


ejek Riska


"kalau kamu melihat bagaimana tatapan matanya menatap aku bersama gadisnya, pasti saat ini kau tidak bisa tertawa lagi. bersiaplah untuk yang terburuk"


"salah kamu sendiri, bukankah sudah kubilang untuk langsung membawanya pergi? kamu saja yang kelamaan, dasar playboy tak berguna"


"obat apa yang kau masukkan diminuman Bella Riska? apakah obat perangsang?"


"hah...obat, apa kau gila? aku tidak serendah itu untuk memasukkan obat apapun di minuman Nara, aku hanya mengandalkan keahlianmu sebagai playboy yang bisa menaklukkan gadis manapun juga di dunia ini."


"tapi kenapa tadi sepertinya gadis itu mabuk berat"


"mungkin saja kamu yang memasukkan obat, karena memang bukan aku"


"astaga, aku harus bertemu Ken, perusahaanku bisa dalam bahaya, kamu juga hati hati Riska"


"kenapa? apa kamu menceritakan kesepakatan kita?"


"tentu saja, siapa yang berani berdusta pada Kendra Mahendra sialan itu"


"ahh kamu Brandon, kenapa mulut kamu seperti perempuan"


****


dikediaman Kendra.


sesampainya di rumah Ken memapah Nara masuk kedalam rumah, dan langsung menuju dalam kamar. dan meletakkan Nara keatas ranjang.


"ayo mandi sana dinginkan dirimu dan ganti bajumu, kau terlihat seperti wanita murahan saat ini"


Ken masuk kedalam kamar mandi, dan mengisi bak mandi dengan air dingin. betapa terkejutnya Ken, saat Nara memeluknya dari belakang dan mencium tengkuknya, lebih terkejut lagi saat Ken berbalik, dan mendapati tubuh indah itu sudah setengah polos. sebagai laki laki normal Ken sangat kesulitan berusaha menahan dirinya.


"ayo masuk kedalam bak mandi. kamu harus mendinginkan dirimu"


sambil melepaskan tangan Nara yang memeluknya dengan erat. jantung Ken benar benar ingin melompat keluar saat ini, dan nafasnya mulai tersengal, menahan gairah yang semakin memuncak.


"ah... Ken jangan pergi."


Ken berusaha melepaskan tangan Nara, tapi Nara malah mencium Ken dengan lembut hingga pria tampan itu terhanyut dalam sentuhan Nara.


"Nara apa kamu pernah melakukannya dengan pria lain?"


Nara tidak perduli dengan pertanyaan Ken.nafasnya semakin memburu dan semakin liar, membuat Ken kesal, karena ternyata hal ini bukan yang pertama buat Nara


"Nara apakah ini bukan yang pertama? apakah kau benar benar mengiinginkannya?"


saat tersadar Ken benar benar tidak mampu untuk lepas dari setuhan sentuhan yang menggoyahkan pertahanannya, situasi pun memanas penuh desahan nafas dan gairah yang membara, membawa kedua insan itu berakhir diatas ranjang, dan saling melepas hasrat anak manusia yang saling membutuhkan saat jiwa menyatu, secara alami mencari cara untuk terlepas dari gelora yang mengamuk didalam diri masing masing, yang ingin melepaskan dan saling memuaskan, dengan beragam cara, hal yang tak terpikirkan, hal yang berusaha dijaga, kini benar benar terlupakan oleh rasa nikmat yang menusuk sampai kedalam jiwa mengeluarkan kata kata dan bahasa tubuh yang benar benar membangkitkan rasa hangat, nyaman, dan kenikmatan yang tak terkatakan. saat kedua insan yang terlena terbakar gairah, dan hasrat yang membara itu terlepas dari rasa yang terdalam. Ken terhempas disamping Nara dengan beribu rasa yang berkecamuk, antara bahagia, nikmat, dan rasa bersalah saat menyadari itu adalah yang pertama buat Nara.


"aku pikir, aku tidak hanya menyukaimu Nara, tapi aku mencintaimu,"


bisik Ken sambil mengecup kening wanita yang sedang dalam pelukannya. Nara hanya tersenyum, memejamkan matanya, dan masuk ke alam mimpi.


"mulai saat ini kau benar benar milikku seutuhnya, benar benar milikku"


Ken tertidur dengan senyum menghias wajahnya.


keesokan harinya, Ken terbangun saat tangan Nara. melekat telak diwajahnya. Ken berbalik menatap Nara yang masih tertidur pulas, sangat cantik dengan rambut terurai dan berantakan. karena memang Nara tidur suka berputar putar, tidak tenang.

__ADS_1


"ternyata ini sungguhan, bukan sekedar mimpi. kau sangat cantik Nara, kau milikku, jangan pernah pergi dariku, aku akan membuatmu bahagia, kebahagiaanmu adalah tugasku. kini dan selamanya"


Ken memeluk Nara agar tidak mendapat pukulan atau tendangan tak terduga, dan kembali memejamkan mata, dan tertidur. Nara mulai tersadar, karena merasakan tangan yang berat mendekapnya.


"hmm... apakah aku masih bermimpi?? tubuhku terasa barusan berlari satu kilometer.aaahh.... bagaimana bisa aku memimpikan Ken seperti itu? begitukah rasanya nikmat dunia? dan aku sangat menikmatinya ahh..sangat memalukan."


pikiran Nara melayang dan perlahan membuka matanya dan melihat wajah Ken didepannya.


"loh bukankah aku semalam ikut Riska? apakah semalam bukan mimpi?"


Nara merasakan tubuh Ken yang polos, Nara mengerjapkan mata indahnya dan menatap Ken yang masih tertidur didepannya, melepaskan tubuhnya dari pelukan Ken, mengintip ke dalam selimut.


"Aaaaaaaaaaa................."


Ken yang mendengar jeritan panjang Nara terkejut, dan langsung bangun, terduduk disamping Nara dan memeluknya erat, dengan dagunya tersandar dibahu Nara.


"ada apa Nara, apakah kau bermimpi buruk?"


"apa yang kau lakukan padaku Ken!"


"maafkan aku, aku benar benar minta maaf"


"kenapa kamu setega itu padaku Ken?"


"kumohon maafkan aku, kumohon dengarkan penjelasanku"


"tega kamu Ken"


"maafkan aku Nara, danaku khilaf"


Nara melepaskan diri dari pelukan Ken menarik selimut menutupi dadanya, wajahnya bersandar dilututnya dan terisak dengan pilu.


"kamu sungguh tega Ken..hiks...hikss.."


Buttler jang yang mendengar teriakan Nara dari luar pintu kamar Ken ujung bibirnya tertarik keatas menampakkan senyum bahagia.


Ken memeluk Nara dari samping, untuk menenangkannya, sambil membelai rambut indahnya, dan mengusap usap punggung polos Nara.


"kamu memiliki segalanya Ken, kamu bisa mendapatkan gadis kaya manapun yang kau inginkan, sedangkan aku, aku tidak punya apa apa, yang kupunya hanyalah harga diriku, dan sekarang apa.... ? aku tidak punya apa apa lagi, aku hanya gadis kampung yang tidak berharga."


"Nara, kamu adalah hal yang paling berharga dari segala yang aku miliki"


Nara berkata lirih dalam isaknya


"aku bahkan bukan milikmu Ken"


"kumohonbjangan menangisvNara dengarkan penjelasanku dulu"


Ken lalu menceritakan segal sesuatu yang terjadi secara terperinci, mulai dari kesalahan Buttler Jang yang mengganti supir yang tidak dikenali Nara, hingga bagaimana seluruh pengawal Ken bahkan pengawal Papanya, mencari Nara ke setiap rumah teman teman kampus Nara, sampai berakhir melihat Nara bersama laki laki playboy yang terkenal mampu membuat wanita manapun bertekuk lutut di kakinya, dan bagaimana Nara menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Ken.


"begitulah ceritanya, untunglah aku datang tepat waktu, apa jadinya jika aku terlambat!"


"tapi harusnya kamu menahan diri Ken"


"aku juga laki laki normal Nara...dan aku sudah sangat tersiksa menahan diri selama ini"


Nara menatap Ken dengan linangan air mata yang membasahi wajahnya. mendorong dan menendang Ken hingga terjatuh dari ranjang.


"kamu jahat"


Nara kembali terisak, Ken mengepalkan tangannya menahan geram. namun entah mengapa dia tidak mampu untuk marah terhadap gadis itu. Ken bangun dan berjalan ke arah kamar mandi, sambil melirik bercak noda darah di atas seprai, membuatnya tersenyum sangat bahagia.


selesai membersihkan diri Ken sudah rapi bersiap ke kantor.


"Nara, ayolah, aku sakit melihatmu bersedih, kamu tidak ke kampus hari ini?"


"aku kuliah siang hari ini"


"kamu kelihatan lesu, ayo mandi, kita sarapan ya! kamu mau sarapan apa?"


"aku tidak lapar, rasanya hari ini ingin bolos kalau Dosennya tidak killer, tubuhku rasanya sakit semua"


"Bittler Jang...."


Buttler Jang masuk ke dalam kamar


"iya Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?"


Buttler jang melirik Nara dengan wajah senang yang tak bisa disembunyikan.


"bawakan kami sarapan"


"baik Tuan Muda"


"oh ya... sipkan supir untuk Nona Nara, dan carikan tutor mengemudi untuk nengajari Nona Nara, dan jangan lupa pengawal untuk menemani Nona Kemanapun dia pergi"


"Ken kamu terlalu berlebihan. aku tidak suka diikuti"

__ADS_1


"Buttler Jang, buat para pengawal membaur, kalau perlu daftarkan mereka kuliah sekelas dengan Nona Nara"


"Ken apa apaan kamu"


"Nara itu untuk keselamatan kamu, aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi, aku benar benar bisa gila memikirkannya"


"tapi kan.."


"tidak ada tapi tapian... sejak saat ini kamu adalah tanggung jawabku, kamu harus ingat, kalau orang terpenting bagiku saat ini adalah kamu, kau segalanya bagiku Nara"


"gombal"


"bahkan seumur hidupku, baru sekarang aku mendengar kata itu. apakah aku orang seperti itu Buttler Jang?"


"tentu tidak Tuan Muda"


"apakah perintahku tadi malam sudah selesai kau laksanakan?"


"sudah Tuan Muda, sebentar lagi akan ada di surat kabar"


"bagus"


"saya permisi Tuan Muda"


tak lama kemudian pelayan mengantarkan sarapan kedalam kamar, Nara membungkus dirinya dengan selimut, saat berdiri terasa sakit disekujur tubuhnya, terutama di daerah **** * sehingga Nara terduduk kembali ke ranjang.


"ahh...... .."


Ken yang sedang duduk di kursi depan meja tampat sarapan, berdiri dan dengan cepat pergi memeluk Nara, dengan wajah yang sangat khawatir.


"kamu kenapa Nara??? apa yang sakit"


"ahh... apa yang sudah kau lakukan padaku hah..? kenapa tubuhku sangat sakit semua?"


"harusnya pertanyaannya, apa yang sudah kau lakukan padaku!, itu akibat karena kau sangat liar dan buas padaku semalam, seakan akan kau ingin menerkamku"


Ken menggoda Nara yang memerah menahan malu.


"benarkah? apakah kau menikmatinya? atau mungkin, kamu tidak menginginkannya?"


"oh.ho..ho.aku bahkan menantikan season kedua dan seterusnya. atau kau ingin melakukan reka ulang saat ini? agar kamu sadar seberapa besar aku sangat menginginkanmu, saaaa...ngaat"


"apa kau sangat menginginkan tubuhku Ken?"


"aku menginginkanmu seutuhnya tidak hanya tubuhmu, tapi segalanya, bahkan jurus pencak silat saat kamu tertidur"


"apa maksudmu Ken?"


"kamu kalau tidur suka nendang, tangan dan kaki kamu suka terbang kesana sini"


"he.. he... iya kata sepupuku, dan sahabatku juga begitu"


Nara tertawa membuat Ken senang


"nah.. gitu dong tertawa kan cantik"


sambil mengacak rambut Nara. dan menggendongnya ke kamar mandi


"aku bisa sendiri Ken"


ujar Nara lembut


"iya bisa, dan aku tau kamu bisa, tapi pasti kesakitan jalannya, kan semalam aku kamu obok obok"


"sudah sana keluar, aku mau mandi"


"kan mau aku mandiin"


"enak aja, pergi sana"


"kenapa, malu? aku bukan hanya melihat kamu seutuhnya Nara aku bahkan hafal letak tahi lalat, dan tanda lahir kamu tuh dimana aja"


"kalau nggak mau keluar salah sendiri ya"


Nara melwpaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan melangkah masuk kedalam bak mandi, membuat Ken kelabakan menatap tubuh yang sangat diinginkannya. Ken menelan salivanya, dan berjalan keluar dengan cepat.


"ahh.. pagi pagi bikin meriang kamu Nara"


bayangan kejadian semalam membuat Ken tidak fokus, dan benar benar menginginkannya sekali lagi dan lagi. saat Nara keluar dari dalam Kamar mandi dengan jubah mandi dan rambut basah membuat Ken benar benar tidak bisa menahan rasa penasaran sejak semalam. Ken berdiri dari duduknya, berjalan ke arah Nara sambil menatapnya tajam dan tak berkedip, membuat Nara ketakutan, dan kebingungan.


"Ken, kenapa kamu menatapku seperti itu?"


"maafakan aku Nara, tapi sungguh tak bisa kutahan lagi"


bisik Ken di telinga Nara dan mengecup leher Nara, meraih tengkuknya dan mencium mesra gadis cantik yang hanya pasrah dengan ulah Ken saat ini.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2