
kamu siapa sebenarnya,? kamu sehat kan? kamu orang nggak butuh organ tubuhku kan? kamu nggak bakalan jual tubuhku kan? "
"hmmmm....."
tangan kiri Ken terlipat memeluk dada,menjadi tumpuan siku tangan kanannya yang memegang dagunya, sambil memperhatikan Nara dari atas kepala sampai keujung kaki, dengan sambil mengernyit menandakan sang Tuan Muda sangat serius, membuat Nara semakin ketakutan.
"hemmm..."
melihat Nara yang sangat ketakutan membuat Ken tak bisa menahan dirinya, dan memeluk Nara erat sambil membelai belakang kepala nara, dan menepuk nepuk bahu Nara dengan lembut
"kalaupun aku sakit, mana mungkin aku sanggup menggunakan organ tubuh orang yang sangat kusayangi, lebih baik aku mati"
"huss... nggak boleh ngomong gitu"
"ayo masuk, kuantar ke kamar kamu"
sebenarnya Nara enggan karena masih sangat banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Ken, tapi Nara terlalu Lelah, bukan lelah tubuh tapi lelah hati. hingga dia tak punya tenaga untuk bertanya dan berpikir.
saat menaiki tangga menuju kamar Nara dua orang pelayan perempuan mengikuti mereka.pelayan membuka pintu kamar,
"silahkan masuk ini kamar kamu"
mata Nara yang sembab dan sayu karena menangis terarah ke satu tempat,
ranjang.
dengan sendirinya Nara melangkah ke ranjang kayu king size dengan tiang tiang besar tempat kelambu yang sangat indah tergantung dengan renda yang menjuntai ke lantai dari ujung ujung tiang, terlihat sangat mewah, seperti tempat tidur kerajaan.
Nara langsung merebahkan dirinya yang lelah keatas kasur, dan membenamkan wajahnya diatas bantal bulu angsa yang sangat empuk. dan meneruskan tangisnya yang sedari tadi tertahan.
"Nara, aku benar benar ingin menghancurkan segala hal yang membuat kamu sedih, aku tidak mampu melihat kamu bersedih"
"sudahlah Nara jangan menangis, semuanya kesalahanku, kalau saja aku pulang dan tidak ketiduran, semua ini tidak akan terjadi. maafkan aku Nara kumohon, pleaseeee.....
jangan menangis ya"
Ken mengelus elus punggung Nara, dan kata kata Kendra mulai menenangkan Nara. kamu mandilah dulu biar segar.
" panggilkan buttler jang"
perintah Ken pada pelayan yang berdiri didepan pintu menunggu siap menunggu perintah.
"baik Tuan"
sang pelayan berjalan mundur tidak berani berbalik dan memunggungi Tuannya.
"maaf Tuan Muda, anda butuh bantuan?"
"hmm... tolong belikan dia pakaian dan semua kebutuhan wanita saat ini juga"
"jangan Ken, aku tak mau merepotkan, lagi pula katamu pengawalmu akan mengambil barang barangku"
Nara mengangkat wajahnya.
"iya tapi tetap saja, buttler jang, kerjakan sekarang juga"
"baik tuan muda"
"Nara kamu istirahat dulu ya, aku gerah mau mandi"
"Ken jangan pergi"
"baiklah, aku akan mandi disini, pelayan katakan pada buttler jang aku mau mandi disini, tolong disiapkan"
"baik Tuan"
setelah selesai mandi Ken merasa segar, dia melihat Nara yang terlelap. hari mulai gelap, Ken merasa keroncongan, tapi dia ingin makan bersama Gadis cantik yang sedang terlelap itu, sambil menunggu Ken merebahkan diri diranjang samping Nara, sambil menatap wajah yang tertidur pulas.
"hmmm.. apakah benar kata mendiang mama, aku terlahir sangat beruntung, karena keberuntungan selalu mengejarku. baru saja aku memikirkan untuk bisa melihat wajah cantik ini saat membuka mataku, tapi sekarang ini, dia bahkan sudah ada didepanku sebelum aku melakukan apa pun,
hmm....lihat wajah Cantik ini, betapa banyak derita yang sudah kau lewati. mulai sekarang, aku akan menjadi Dewa keberuntunganmu, aku ingin kau selalu beruntung dan bahagia, aku akan berbagi keberuntunganku denganmu, untuk itu, kau harus menjadi milikku"
Kendra menatap wajah cantik didepannya sambil sesekali tersenyum, hingga akhirnya Ken ikut masuk ke alam mimpi.
Nara terbangun karena merasa perutnya minta diisi. saat Nara membuka matanya.
"Ken? kenapa dia tidur disini?"
Nara terharu melihat ken tertidur sambil memegang tangannya.
"dia menepati janjinya untuk tidak kemana mana"
perut Nara benar benar lapar, membuatnya terpaksa membangunkan Ken. dengan menyentuh pipinya dengan ujung jari telunjuk dan menggoyang pipinya.
"Ken..Ken.....bangun, ken....bangun"
"hemm.. kamu sudah bangun "
"aku lapar Ken"
"iya aku juga, tapi aku tidak ingin mengganggu tidurmu, ayo.."
"sebentar aku mandi dulu, tapi bajuku dimana?"
"mungkin anak buahku belum tiba, pakai bajuku saja dulu ya"
__ADS_1
selesai mandi Nara memakai kemeja Ken dengan handuk masih melingkar dikepalanya, membungkus rambutnya yang masih basah.
saat Nara keluar kamar mandi, ken benar benar dibuat kelabakan dengan penampilan Nara, kaki jenjang dan paha mulus membuat Ken mengalihkan wajahnya ketempat lain, berusaha menahan godaan.
"ah.. sial kenapa si macho tiba tiba bereaksi, dia bahkan tidak telanjang, aku bahkan berkali kali disuguhi penari telanjang di kelab malam, ataupun di hotel hotel mewah, tapi aku tidak bereaksi seperti ini. bahkan sahabat sahabatku, bahkan diriku sendiri mempertanyakan kejantananku. syukurlah ternyata aku benar benar lelaki normal. tenyata si macho hanya pemilih. dan pilihannya sangat tepat he..he..he.."
"ehmm.... ayo makan malam"
"Ken, kamu punya pengering rambut di kamar mandi, tapi aku tidak tau cara menggunakannya, tolong ajari dong"
"oh..itu... ayo ikut aku"
Ken mengeringkan rambut Nara sambil kepanasan menahan gairah, melihat leher jenjang Nara.
"Ken kamu capek ya? wajahmu merah"
"ehm..anu..panas eh.. pengering rambutnya panas banget, rambutnya sudah kering ayo makan"
merekapun turun keruang makan, dan Ken kembali dibuat terkekeh dengan melihat tingkah Nara.
"wuuaahhh.... ini makan malam atau pesta Ken, memangnya berapa banyak orang yang makan? kenapa makanannya banyak sekali?? aahh..asiiikk, hemm...harum..pasti enak enak semua makanan ini, puding.... kue.....king lobster....wuaahhhh"
Nara mengelilingi meja makan besar itu, sambil terus mengagumi setiap hidangan buatan Chef, yang khusus untuk melayani makanan yang diinginkan Ken.
"Ken sini duduk disamping aku, kalau aku di sini trus kamu disana nggak bisa ngobrol, nanti teriak teriak dikira berantem"
Ken tertawa tapi mengangkat piringnya dan diletakkan disamping Nara, membuat empat orang pelayan yang berdiri siap melayani ditambah buttler jang kebingungan, dan ketakutan, karena Ken melayani dirinya sendiri. tapi ken hanya menggeleng memberi isyarat agar jangan mengganggu.
"ahhh.. kenyang banget, makasih ya Ken, makanannya enak semua"
"hemm kamu suka"
"suka banget"
"oh ya barang barang kamu sudah tiba"
"oh ya.. dimana"
"masih didepan"
"ayo kita kedepan"
Nara berbalik dan keluar dari pintu ruang makan setengah berlari diikuti Ken.
"Nara..bukan disitu"
Nara berhenti dan berbalik, melihat kearah Ken.
"bukan situ apa???"
"oh...jadi malu, aku sok tau banget ya he..he..
abisnya rumah kamu, seperti istana, salah lebih besar dari istana"
"ha..ha..ha...kamu berlebihan Nara"
"sini, kupegang biar nggak salah jalan"
sambil tertawa Ken mengulurkan tangannya, dan Nara menerimanya, karena tidak mau kesasar lagi.
"sampai juga didepan, mana barangku?"
"itu.."
ken menunjuk ke arah setumpuk buku.
"hah...pakaianku mana??"
Ken mengangkat bahu
"entahlah..."
"lalu bagaimana aku akan ke kampus??"
Ken merangkul bahu Nara.
"ayo, masuk, diluar dingin. nanti pelayan akan akan membawanya kekamarmu"
"tapi, dimana pakaianku, aku harus mengambilnya"
"sudahlah, nanti kita beli yang baru, ayo masuk"
"tapi... sekarang akhir pekan jadi, besok libur, kita belanja ya"
"aku nggak punya uang belum dapat kiriman, ini kan akhir bulan."
"aku yang ajak, artinya aku yang bayar, nggak mungkin banget pria ditraktir wanita, itu namanya tidak jantan, nggak boleh, aku bukan tipe pria seperti itu"
"nggak nanya"
"oh itu buttler jang datang, tolong bawa buku buku ini ke kamar Nara ya"
buttler jang memerintahkan para pelayan untuk mengantarkan buku buku itu ke kamar gadis yang dibawa pulang oleh Tuannya. Nara sedang mengatur buku bukunya ketika Bunyi burung burung malam terdengar dari balik pintu yang mengarah ke balkon, karena memang belum dikunci. sehingga gorden sutra putih beterbangan tertiup angin malam, dan aroma pepohonan dibawa angin, terasa dingin menyentuh kulit putih mulus yang membuat bulu kuduk berdiri. tiba tiba pintu balkon tertutup kencang dan hujan mulai turun, gemuruh kilatan petir membuat, Nara berteriak kencang menutup telinganya, dan berlari keluar menuju kamar Ken yang dia bahkan tidak tau ada di mana. hanya asal berlari karena ketakutan.
"aaaaaaa...aww....Keeeeeeennnnnn.........Aaaaaaaaa"
__ADS_1
sambil terus berteriak, tiba tiba seseorang memeluknya.
"ada apa Nara"
"Aaaaaa...."
"husss Nara ini aku Ken... jangan takut"
teriakan Nara membuat seisi kastil heboh, para bodyguard langsung berkumpul, dan berjaga disekitar Ken.
"Nara kamu Kenapa????"
"aku takut petir, aku sangat takut sendiri diruangan besar itu"
Nara menggigil hebat membuat Ken mengelus elus punggung Nara.
"Buttler Jang tolong buatkan Teh hijau hangat buat menenangkan Nona Muda"
Ken menuntun Nara ke dalam kamarnya, karena kamar Nara agak jauh.
"kamu istirahat dikamarku dulu ya"
Nara hanya mengangguk lemah. setiap kali kilat menyambar dan petir bergemuruh, Nara menutup telinganya, dan menyembunyikan wajahnya didada Ken. membuat jantung Ken berdebar hebat.Nara berbaring diranjang, dan Ken menyalakan lampu, menutup semua tirai agar kilatan cahaya petir tak terlihat dari dalam kamarnya. kemudian Ken menyelimuti Nara.
"Nara jangan takut ya, kan ada aku"
"maaf ya, aku sudah menyusahkan kamu"
"tidak apa apa itulah gunanya aku, tempat kamu bersandar. ingat ya kalau ada apa apa cari aku"
"baiklah"
Nara memejamkan matanya
"sebentar aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu"
"jangan tinggalkan aku"
Nara memegang piyama Ken.
"aku tidak keluar, aku duduk dimeja kerja itu disamping ranjang, sebentar saja"
Nara menatap Ken sayu dan mengangguk pelan. Narapun masuk, dan bersembunyi dalam selimut, membuat Ken menggeleng gelengkan kepala, dan kembali menekuni pekerjaannya. setelah selesai Ken meregangkan tubuhnya, dan melebarkan tangan, dan mengusap wajahnya.
"ahh.. selesai juga, ngantuk banget"
Ken berdiri dari kursi meja kerja berjalan ke ranjang untuk tidur, dan betapa terkejutnya Ken melihat pemandangan menggairahkan didepannya, Nara yang sudah tertidur pulas memeluk guling, dan selimut yang tadinya menutupi seluruh tubuhnya, telah terbuka, Nara yang hanya mengenakan kemeja kebesaran milik Ken, tidak mampu menutupi kaki jenjangnya, paha mulus menggoda hasrat Ken membuat rasa kantuknya hilang berganti rasa Gerah, dan gairah sebagai lelaki tak tertahankan. Ken duduk diranjang samping Nara, dan mengelus paha mulus yang sangat menggoda, sambil menelan ludah. saat tangannya mulai merayap keatas, Nara menggeliat, membuat Ken terkejut dan tersadar.
"astaga.. apa yang sudah aku lakukan? apa yang kupikirkan oomaigat...."
Ken mengusap wajahnya, dan masuk kedalam kamar mandi dan membasahi diri dengan air dingin, dengan satu tangan tersandar didinding. masih memakai piyama. untuk menenangkan diri, dan melemaskan si macho yang sudah sangat tegang, hingga membuatnya uring uringan
"kenapa aku jadi begini, biasanya aku sangat kuat menahan diri, bahkan saat didepan penari telanjang di kelab malam elit, aku tidak tergoda, bahkan tak terpengaruh dengan suasana erotis, aku bahkan sempat mempertanyakan kejantanan diriku sendiri.tapi saat ini, bagaimana mungkin aku tak bisa menahan nafsu terhadap gadis yang satu ini, ah sial... apakah aku akan terus tersiksa, apa yang harus kulakukan"
Ken terus berdiri dibawah shower, mengguyur tubuhnya dengar air dingin, hingga mulai menggigil kedinginan. ditengah malam yang memang udaranya sangat dingin karena hujan lebat. setelah berganti pakaian, Ken menyelimuti Nara, meletakkan bantal guling ditengah, dan masuk dalam selimut. sambil berusaha menenangkan diri. baru saja hendak terlelap.
Bukk...
tangan Nara menghantam dada, belum hilang keterkejutan Ken.
"ahh.. kaget"
Bukk...
kembali kaki Nara dengan cantik mendarat di perut Ken.
"aahhh...... astaga, mimpi apa kamu Nara, nih gadis tidur atau main silat?"
setiap kali Ken menurunkan kaki atau tangan Nara dari tubuhnya, mereka selalu kembali mendarat pada organ tubuh yang lain maka Ken memutuskan untuk mendekap Nara.
"hmmm begini saja nyaman, mendingan kau kupeluk erat, kalau tidak bisa bisa besok tubuhku penuh lebam"
Karena kesakitan Ken melupakan hasratnya dan tidur dengan nyaman.
"ahh... apa dia sengaja ya?? atau ini karma karena sempat berpikiran mesum, tidur sajalah hmmm..ternyata lebih nyaman tidur berdua, hangat dan empuk"
Ken tersenyum dan menutup mata, dalam tidurnya, ken merasakan tangannya yang lembut menggerayangi perutnya yang berotot, membuat Ken geli. jemari lembut itu, terus naik ke dada, seperti sedang merasakan otot otot yang bagaikan terpahat rapi pada tubuh Kendra Mahendra, karena walaupun ditengah kesibukan pekerjaannya, selalu menyempatkan diri untuk berolah raga. apalagi disaat banyak pikiran, Ken menyalurkan penatnya dengan berolah raga.
merasakan sensasi jemari yang membelai lembut tubuhnya, Ken mulai bergairah, tapi berusaha mengendalikan diri, dan menahannya. tak sampai disana, kembali terasa jari jemari dengan sangat lembut, perlahan membuka satu persatu kancing piyama Ken, sehingga membuat pria tampan itu lebih bergairah, dan si macho mulai nakal. nafas hangat terasa ditelinga Kan membuatnya tak mampu lagi menahan gairah, ken membuka perlahan matanya, dan tampak wajah cantik didepannya sangat terkejut. tangan kanan Ken langsung menyusup ke belakang kepala dan tangan kiri memeluk pinggang yang ramping, dan langsung menarik tubuh Nara dan tersandar di tubuh Ken. terasa dua gunung kembar polos tanpa bra, dan padat berisi melekat didada Ken, bibir sexy yang sangat diinginkannya selama ini.
"oah.. gadis ini nakal juga ternyata, sangat pintar membuatku merasakan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya"
Ken sangat bahagia saat mereka mulai tenggelam dalam nafsu yang menggelora tak tertahankan, bahkan Ken mulai menggerayangi tubuh molek didepannya itu.
"astaga.. benar benar sintal, lekuk tubuhnya bak gitar spanyol, kulitnya lembut bak kulit bayi, ohh.. gunung kembarnya padat berisi ouww kenyal, ahh tak tertahankan hasrat ini, melihatmu saja membuatku bergairah, apalagi saat menyentuhmu, Nara maafkan aku, dan yang tak bisa menahan diri lagi, maaf"
Ken yang ada disamping Nara, berpindah tempat ke atas sambil terus mengulum bibir sexy yang sangat lihai membangkitkan gairah. ciuman Ken berpindah ke leher dibawah telinga Nara,
******* ******* lembut sambil menggeliat, membuat Gelora hasrat membara semakin memuncak, Ken mulai melucuti pakaian Nara hingga polos. debaran jantung yang tidak beraturan semakin cepat, melihat tubuh indah yang benar benar sempurna sebagai manusia. Ken semakin turun kebawah , dan terus kebawah, membuat wanita cantik mendesah tertahan
Nara meremas selimut dan mendesah sambil menggeliat pelan, sehingga harus ditenangkan oleh Ken
" Ken aku tak tahan lagi kumohon naik Ken pleasee......"
Ken yang sudah tak tahan dengan gairahnya dengan cepat Naik siap menindih Nara tiba tiba...
__ADS_1
Bersambung..........