KEMEWAHAN WANITA

KEMEWAHAN WANITA
22. Jangan Ganggu Gadisku


__ADS_3

Ken kembali ke mobil dengan kesal, lalu Nara terus berjalan masuk ke gerbang kampus, didepan kelas Riska menunggu Nara dengan mata sembab. saat melihat Nara, Riska langsung berlari memeluk Nara sambil menangis.


"Nara kumohon maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu"


Nara kebingungan melepaskan pelukan Riska, menatap Riska penuh selidik sambil memegang pundak gadis yang sedang menangis didepannya.


"kamu kenapa Riska?? maaf untuk apa??"


"perusahaan Papaku diujung tanduk hari ini Nara, dan kami diberitahu cara menyelamatkannya, dengan berlutut memohon ampun kepadamu"


"astaga... Riska... kata siapa aku tidak punya kemampuan untuk menolong perusahaanmu, aku bahkan tidak punya uang"


"kamu mampu Nara, hiks..hikss... apakah aku harus berlutut didepanmu?"


sambil terus terisak


"apa apaan kamu Ris... ayo masuk kedalam, malu dilihat orang"


"tidak sampai kamu memaafkan aku"


"omaigat Riska, harusnya malah aku yang berterima kasih padamu, trus salah kamu apa??"


"aku, aku.... meminta Brandon merayumu"


"astaga.... itu saja kok kamu sampai seperti ini Riska"


"tapi perusahaan Papaku kini bergantung padamu Nara"


"kata siapa?


ujar Nara lembut, sambil mengusap dan menepuk nepuk punggung Riska.


"kata orang suruhan Kendra Mahendra"


Nara terkejut mendengar nama yang disebutkan Riska, Nara kesal sekaligus geram dengan ulah Ken.


"haahh....Kendra?"


tidak hanya Nara yang terkejut, tapi orang orang yang sedang menyaksikan peristiwa unik ini pun terkejut. karena siapa yang tidak mengenal kendra Mahendra. sehingga Nara mulai dicecar pertanyaan yang membuatnya risih.


"apa hubunganmu dengan Kendra?"


"apa kamu saudara Kendra?"


"apa kamu pacar Kendra?"


"apa kamu ibu tiri Kendra?"


"apakah benar Kendra gay?"


"bagaimana caramu menggodanya?


membuat Nara terpojok disudut ruang kelas dan terdiam bisu.


"ehem...ehem....."


suara mendehem terdengar membuat semua mata yang tertuju pada Nara berpaling ke arah suara tersebut.


"apakah kalian ingin bernasib sama seperti Riska?"


semuanya langsung berlalu dan pura pura tidak terjadi apa apa, dengan melanjutkan kesibukan mereka masing masing. Nara yang melihat Ken menjadi salah tingkah, dan pura pura tidak mengenalnya, membuat Ken geram dan berjalan kearah tempat duduk Nara, menunduk mendekatkan wajahnya ketelinga Nara, membuat Nara semakin tegang, dan menutup erat matanya berusaha mengabaikan kehadiran Ken.


"apakah Riska sudah minta maaf kepadamu?"


dengan suara yang jelas terdengar oleh seisi kelas. Nara hanya mengangguk pelan tanpa menatap Ken. Ken memalingkan wajahnya ke arah Riska yang sedang terisak.


"benarkah itu Riska?"


"iya benar, Ken, Nara sudah memaafkan aku"


"jangan panggil namaku, aku bahkan tidak mengenalmu, aku bukan temanmu ka...n?"


"maafkan aku Tuan Muda"


"apakah kamu sudah minta maaf dengan tulus?"


Riska mulai menangis terisak

__ADS_1


"iya Tuan Muda maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti Nara"


di kampus Riska sangat disegani, karena orang tuanya penyandang dana terbesar bagi kampus mereka, belum lagi keluarganya sangat kaya, membuatnya menjadi sombong dan suka memerintah. Riska jadi terbiasa disanjung sanjung. melihat Riska kembali terisak, menimbulkan rasa iba,


tiba tiba Nara berdiri lalu membentak Ken, dan menatapnya tajam.


"sudah cukup Ken, ini ruang kuliah, bukan kantor kamu atau pengadilan! jika kamu merasa tidak kuliah disini silahkan pergi, dan hentikan ulah kekanak kanakanmu itu, aku malah harus berterima kasih pada Riska yang sudi menampungku, saat aku tidak tau harus kemana, karena kesalahan seseorang. benar kan?"


semua orang dalam ruangan itu terkejut dan menahan nafas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ken sangat geram karena baru sekarang dia merasa dipermalukan. Ken mengepalkan tangannya, dengan geram, sambil menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya, yang tidak mampu untuk marah kepada Nara, benar benar Kendra Mahendra yang berbeda. Ken hanya diam terpaku tanpa suara dengan ekspresi datar.


"ayo pergi dari sini"


Nara menggandeng tangan Ken, dan menyeretnya keluar dari ruang kuliah, sebelum Dosen datang.


saat sudah agak jauh dari ruang kelas Nara melepaskan Ken.


"kok bengong... pulang dong"


Ken hanya diam menatap Nara cemberut


"Ken ayo pulang, kumohon jangan permalukan dirimu disini, dan... a..ku juga"


Ken melangkah mendekati Nara membuat Nara melangkah mundur, hingga tersandar di dinding. sedangkan semua orang mengintip dari jendela, ada yang dari balik pintu, bahkan ada juga Dosen, yang ingin melihat apa yang hendak dilakukan seorang Kendra mahendra selanjutnya. Kendra menyandarkan tangannya disamping telinga Nara yang tersandar didinding dan menundukkan wajahnya berbisik kepada Nara.


"aku tidak akan pernah merasa malu melakukan semuanya untukmu, inilah kejutanku, orang yang paling berkuasa di kampusmu, bertekuk lutut padamu."


"tapi aku tidak mau kamu seperti itu Ken!"


"kenapa"


"karena itu jahat"


"mereka juga jahat, dia sengaja memberikan obat diminuman kamu"


"yang jahat itu kamu, kamu kan yang tega!"


"aa...ku...aku...kalau aku tidak datang tepat waktu, pasti si Brandon sialan itu yang mendapatkan kamu"


"belum tentu dia setega kamu kan Ken?"


"oh..kamu tidak kenal siapa si Brandon! Playboy kelas dunia?"


"yah... nggak mungkin kalau dia tidak akan mempergunakan kesempatan dalam kesempitan"


"jangan berpikiran dangkal Ken, tidak semua yang terlihat jahat, pasti berbuat jahat. dan tidak semua yang terlihat baik, akan berbuat baik. jangan menilai orang dari kelopak matamu, tapi bicaralah dengannya, dan hatimu akan menuntunmu pasa kebenaran"


"tapi mereka memang berniat jahat padamu Nara..!"


"Ken.... coba lihat aku, lihat diriku, tubuhku, siapa yang tidak akan menginginkan aku?? saat ini aku bahkan tidak seperti malam itu. saat itu aku merasa bak orang kaya, dengan pakaian bagus, dan di dandani"


deg....Ken menelan salivanya saat menatap tubuh Nara, terbayang liukan liukan gadis itu dalam dekapannya. membuat Ken langsung memegang tangan Nara, agar mengikutinya kemobil.


"Ken.. mau kemana? aku harus masuk kelas, kuliah sebentar lagi dimulai"


"nanti aku bicara dengan Rektor kamu"


"hah..."


sesampainya didepan mobil, Brandon sedang berdiri di depan mobil Ken.


"Brandon...?? kenapa kamu kesini"


"hai.. Bella, kebetulan kamu bersama sang Tuan Muda"


"Ken maksudmu?"


Nara bingung dan melepaskan tangannya dari genggaman Ken. Ken pun berdiri menatap Brandon sinis sambil memeluk dada dengan angkuh.


"maaf kalau aku sempat menyukai pacarmu, aku benar benar tidak tau kalau wanita cantik ini adalah wanitamu"


"Ken, apalagi kali ini????"


"tanyakan saja padanya, apa yang dia dan Riska rencanakan kepadamu di pesta malam itu"


"apa yang dimaksud Ken, Brandon tolong jawab aku"


"saat itu Riska hendak ke toilet dan melewatiku......"

__ADS_1


****


*flash back


Brandon, pria tampan yang terkenal Playboy baru turun dari mobil, saat melihat seorang wanita yang sangat cantik turun dari mobil Riska, rambut panjangnya tergerai indah, tatapan mata coklat bening dengan bulu mata lentik menghiasi wajah cantiknya, dengan senyum yang bisa menggoda siapapun yang melihatnya, dan make up natural menambah kesempurnaan gad8s dengan pembawaan riang iy, seakan menghipnotis Bradon untuk selalu menatapnya.


didalam ruangan pesta, Brandon selalu menatap Nara dari kejauhan. tampak Nara menikmati makanan yang tersedia di meja.ketika Riska melihat Brandon menatap Nara tanpa berkedip sambil tersenyum sendiri, Riska yang hendak ke toilet melewati Brandon dan bertanya.


"siapa yang dari tadi kau lihat?"


"siapa dia, gadis yang datang bersamamu?"


"oh.. Nara, tapi dia bukan kelasmu, dia bukan dari kalangan atas yang bisa kau poroti, dia hanya seorang pelayan "


bisik Riska, yang juga naksir Brandon.


"apa dia punya pacar?"


Tanya Brandon sambil terus menatap kagum ke arah Nara, tanpa memperdulikan Riska.


"setahuku sih tidak"


"terima kasih Riska"


Brandon mengecup pipi Riska, memberikan senyum yang sangat menawan, dan berlalu meninggalkan Riska yang sedang tersipu bahagia, berjalan ke arah Nara. berbincang sambil makan, dan keluar dari dalam ruangan ke taman belakang,hingga akhirnya bertemu Ken.


****


"begitulah ceritanya, kami tidak merencanakan apapun. bahkan minuman yang dihabiskan Bella sudah dipegangnya dari dalam ruangan pesta"


"Nara apa kamu ingat bertemu orang lain selain Brandon?"


"hm....tidak"


"apa kamu yakin?"


"hanya ada seorang pelayan yang sempat menyenggolku. saat itu aneh kalau didalam ruangan banyak orang saling bersenggolan, tapi di luar halaman sangat luas bagaimana bisa dia menyenggolku?"


"ia benar, Bella hampir saja terjatuh, tapi aku menahannya dalam pelukanku"


Ken menahan senyum.


"ternyata kalian tidak berpelukan, tapi Nara hampir terjatuh, hampir saja aku salah paham kalau kalian berpelukan"


baiklah aku akan menyelidikinya.


"lalu Riska bagaimana Ken? kamu tidak salah paham lagi kan"


"tenanglah, aku akan menyelesaikan semuanya, secepat mungkin."


"terima kasih Ken"


sambung Brandon, yang bukan datang dari keluarga kaya, ataupun mendapat warisan dari orang tua, tapi memang benar benar merintis bisnisnya dari nol, ibunya hanya wanita simpanan pebisnis Italy, yang meninggal tanpa meninggalkan apa apa saat ibunya sedang hamil. kehidupan keras membuahkan hasil kini oerusahaan yang dirintisnya dari nol berkembang pesat. tapi pagi tadi, semua investor menarik seluruh uang mereka, untunglah Brandon tau siapa dalang dibalik mundurnya para investor,dan dimana menemukan Nara.


"berterima kasihlah pada Nara, dan mulai saat ini jangan berani mendekatinya lagi"


Nara langsung sewot.


"loh.. kok gitu Ken? jadi maksudmu aku tidak boleh berteman? enak aja? kita masih bisa berteman kok Brandon, jangan perdulikan omongan Ken, sebenarnya dia tidak bermaksud seperti itu. maafkan ulahnya ya"


"baiklah, aku permisi, Tuan Kendra.. kamu benar benar beruntung"


Brandon menatap Ken dan berkata tulus.


Ken mengiring Nara masuk ke dalam mobil, dan dengan setengah berlari menuju ke kursi kemudi. didalam mobil Kendra menelefon.


"Buttler jang suruh semua pelayan keruang belakang, kosongkan rumah, pengawal suruh berjaga ke depan, dansekarang juga, aku hampir tiba.


terdengar jawaban suara berat dari seberang sana


"baik Tuan Muda"


"ada apa Ken"


Ken tegang tidak menjawab, hanya membelai rambut Nara dan memegang tangannya sehingga mengemudi hanya dengan satu tangan.


"Ken pegang setirnya jangan pegang tanganku, ada apa sebenarnya Ken? kenapa kamu membawaku pulang, apakah ada hal penting? kenapa wajahmu tegang sekali? aku jadi takut"

__ADS_1


ken diam menatap Nara sekilas sambil tersenyum, mengecup tangan Nara, lalu kembali fokus menatap aspal, dan melaju kencang dengan mobinya, membuat Nara terdiam dan bertanya tanya dalam hati.


Bersambung........


__ADS_2