
setelah selesai bermusyawarah para warga kembali, kini tersisa pak Rohim,Rendy dan pak Kasim, "o ya dari tadi aku kok gak liat kyai Suryo ya di masjid" ujar Sabrang dengan tiba-tiba.
"kyai Suryo mengalami sakit yang parah, kayaknya sakit dari pengalamannya dulu" timpal pak Kasim.
"maksud pak Kasim" ucap Sabrang dan Rendy sambil melirik dan mengeryitkan dahi.
"apa bapakmu belum cerita ?" Sabrang menggeleng lemah.
"pak Sanusi gimana sih, ya sudah gini mungkin kalian sudah tau dengan pertarungan Ki Badrus dan Ki mandri dulu yang kekuatannya sangat dahsyat sekali bahkan sampai mengguncang alam gaib dan alam manusia, di pertarungan pertama Ki mandri berhasil selamat dan menuntut balas setelah pertapaan yang cukup lama Ki mandri datang lagi meneror para warga, dan akhirnya Ki Badrus turun tangan bersama muridnya yaitu kyai Suryo mereka bertarung selama 7hari 7malam yang kemudian kemenangan itu berhasil dimenangkan oleh Ki Badrus, kemenangan itu harus di bayar dengan luka kyai Suryo yang cukup parah" ucap pak Kasim yang menceritakan kejadian masa lalu.
"apakah Ki mandri..." ucap Rendy terpotong.
"sesuai dugaan mu dia sudah tiada, sedangkan untuk kyai Suryo mungkin lukanya kembali kambuh, lebih baik kalian kesana menjenguknya" timpal pak Kasim lalu meminum air yang sudah di sediakan.
'cu setelah kamu berhasil mengalahkan bedowo, bawalah daun kelor dari hutan itu dan tumbuk menggunakan air yang sudah di bacakan dengan ayat 15 lalu balurkan ke luka kyai Suryo'
"kalau begitu kami pamit dulu ya pak, setelah dari rumah kyai Suryo kita langsung berangkat mencari ibu" ujar Sabrang lalu Salim dan pergi ke rumah kyai Suryo.
*******
"assalamualaikum" ucap kami lalu seorang pemuda keluar dari rumah kyai Suryo.
"sep ?"
"iya kang ini Asep, apa kang Sabrang ingin bertemu kyai ?" ucap seorang pemuda itu yang ternyata adalah Asep.
"iya sep katanya kyai Suryo sedang sakit, jadi kami datang untuk menjenguknya" ucap Sabrang lalu Asep mengantarkan mereka menuju kamar kyai Suryo yang tidak terlalu besar itu.
"uhuk, uhuk"
"kyai ada yang mau menjenguk kyai" ucap Asep lalu mempersilahkan Sabrang dan Rendy masuk.
__ADS_1
"assalamualaikum kyai" ucap Sabrang lalu mencium tangan gurunya itu dan di susul dengan Rendy.
"nak Sabrang, maafkan kyai karena telah lalai menjaga warga desa hingga ibumu hilang" ucap kyai Suryo dengan susahnya dan terbatuk-batuk.
"tidak kyai, Sabrang tidak menyalahkan kyai Sabrang menganggap ini adalah ujian dari Allah untuk Sabrang agar tetap tabah dan bersabar" ucap Sabrang yang masih menggenggam tangan kyai.
"nak Rendy, ambilah kitab yang ada di laci itu" ucap kyai Suryo sambil menunjuk sebuah meja yang ada lacinya.
setelah mengambil kitab tersebut Rendy langsung menyerahkan pada kyai Suryo, "tidak ini untukmu suatu saat kamu harus membantu Sabrang dengan ilmu yang kamu dapat, kyai Suryo hanya berpesan pada kalian gunakan ilmu kalian untuk menolong sesama makhluk Allah tanpa mengharapkan apapun, uhuk uhuk kyai Suryo hanya bisa memberikan itu untuk kalian, nak Sabrang gantikan kyai untuk melatih anak-anak jika kyai sudah tidak..."
"kyai jangan berucap seperti itu, kami akan menyembuhkan kyai agar kyai dapat terus melatih anak-anak dan berkumpul bersama kami, kami yang akan gantikan kyai untuk menjaga desa ini" potong Sabrang yang pipi nya saat ini telah mengalir butiran air benih yang jatuh dari matanya.
"Asep jaga kyai, kang Sabrang dan kang Rendy akan ke hutan itu, mungkin kang Sabrang akan pulang beberapa hari" ucap Sabrang lalu beranjak berdiri dan menghapus air matanya.
"baik kang serahkan semuanya pada Asep" balas Asep dengan mengacungkan jempolnya.
"terimakasih sep jaga rumah kyai baik-baik" timpal Rendy lalu kami berdua segera kembali ke rumah Sabrang untuk melakukan persiapan.
*****
"kami sudah siap pak" jawab mereka dengan mantap.
"baiklah sebelum kita berangkat lebih baik kita berdoa agar selalu dilindungi oleh Allah SWT, berdoa mulai,......berdoa selesai"
"bismillahirrahmanirrahim" lalu kami semua segera berangkat menuju hutan itu.
'bu tunggu Sabrang, Sabrang pasti akan menjemput ibu, ibu bertahan ya'
"sudah lama yang san kita gak kesini sampai jalurnya tertutup rumput dan ilalang" ucap pak Rohim sembari menebas ilalang untuk membuka jalan.
"iya him, semoga saja aku masih ingat tempat itu" kekeh pak Sanusi pada pak Rohim.
__ADS_1
"kalian jangan sampai terputus zikir nya, jika ada yang memanggil kalian hiraukan saja tetap berzikir" ucap pak Sanusi lagi.
"iya pak" jawab mereka serempak.
di tengah perjalanan sendiri gangguan dari alam gaib mulai berdatangan, "Rendy" suara perempuan memanggil nama Rendy.
"sab kok gw merinding ya" ucap Rendy sambil mengusap tengkuknya.
"Rendy"
"tuh kan sab" ucap Rendy sambil menepuk-nepuk pundak Sabrang.
"lu istighfar aja, selagi lu gak nge gubris biarin aja tetep zikir aja jangan berani macem-macem di sini, ini wilayah wingit" nasehat Sabrang pada Rendy.
"Rendy" suara itu lagi-lagi datang karena iman yang paling lemah ada Rendy.
srak srak
suara seperti orang menyapu kian mendekat, "bulu kuduk gw kok berdiri ya" ucap Rendy sambil mengusap tengkuknya.
tiba-tiba cengkraman tangan entah darimana memegang kaki Rendy dengan kuat, "sab tolong sab" ucap Rendy yang sudah jatuh tersungkur ke tanah saat tangan itu menarik kaki Rendy.
"pak airnya siramkan ke tangan itu, dengan membaca ayat 15" ucap Sabrang lalu pak Sanusi memasukan parangnya dan mengambil botol berisi air ayat 15.
setelah air yang telah di bacakan ayat 15 mengenai tangan itu, tangan itu langsung hangus dan menjadi abu, "Rohim lebih baik kamu dampingi anakmu saja, biar aku dan Sabrang yang membuka jalan kasian dia" setelah itu Sabrang dan pak Sanusi mulai lagi mengayunkan parang untuk membuka jalan.
tak terasa sudah tengah hari kami berada di hutan larangan, "kita istirahat dulu dan sholat duhur setelah itu kita lanjutkan lagi" ucap pak Sanusi lalu memasukkan parangnya.
"aku ikut saja kamu yang lebih tau tempat ini" ujar pak Rohim, lalu mereka beristirahat di dekat pohon.
kami semua sholat dengan bertayamum karena didekat kami tidak ada sumber air yang dapat dijadikan untuk berwudhu, setelah sholat dhuhur kami memakan ubi-ubian yang kami bawa tadi untuk mengisi kekosongan perut.
__ADS_1
setelah perut terisi kamipun melanjutkan lagi, "pak apakah masih jauh ?" tanya Sabrang sembari mengayunkan parangnya untuk membuka jalan.
"tidak nak seperti bapak bilang kemarin besok siang kita akan sampai jika tidak ada hambatan" ucap pak Sanusi.