
'bertahanlah Bu Sabrang akan menyelamatkan ibu' ucap Sabrang dalam hatinya.
"t-tolong" suara misterius menyerupai seorang perempuan berteriak minta tolong.
"teruskan jangan dihiraukan, jika tidak ingin terjadi apa-apa nanti malam kita akan memasang tenda disini" ucap pak Sanusi sembari mengayunkan parangnya.
"iya pak" ucap Rendy yang berusaha tetap fokus untuk berzikir.
tak terasa sore pun tiba, "kita berhenti disini dulu, bahaya jika kita tetap melanjutkannya kedalam" ucap pak Sanusi lalu memasukan parangnya begitu juga Sabrang.
"kita bangun tenda di san ?" ucap pak Rohim.
"di sini saja, kita akan bermalam disini pesanku tetap lah berzikir jangan pernah terputus, jika mau kencing atau lainnya ajaklah teman jangan sendirian" ucap pak Sanusi memperingatkan.
pak Sanusi dan pak Rohim mulai membangun tenda sedangkan Sabrang dan Rendy mengumpulkan kayu yang ada disekitarnya untuk di jadikan api unggun.
setelah terkumpul Sabrang dan Rendy mengumpulkan kayunya menjadi satu, "sab gw mau kencing nih aduh gimana ya, mana udah gak tahan lagi, sab temenin gw kencing ya" ucap Rendy yang sudah tidak tahan lagi.
"ya udah ayok gw temenin" ucap Sabrang lalu mereka mencari tempat untuk membuat hajat Rendy.
swushh
tiba-tiba angin melewati kami berdua yang membuat bulu kuduk Rendy dan Sabrang berdiri, "udah buru kencing" ucap sabrang lalu Rendy segera kencing kebotol yang telah ia bawa tadi.
saat kencing Rendy melihat sesosok makhluk hitam tinggi yang menatapnya dengan seram, "s-sab lu masih di situ kan" ucap Rendy dari balik pohon.
"iya Rendy gw masih di sini, emang ada apaan ?" balas Sabrang lalu Rendy keluar dari balik pohon tanpa menutup terlebih dulu sangkar nya.
"i-itu tadi a-ada makhluk mengerikan menatap gw" ucap Rendy yang sudah keringat dingin.
"takut sih takut tapi yang sangkar nya jangan lupa ditutup kali ah, ntar burung nya terbang lagi" ucap Sabrang sembari menatap Rendy.
menyadari akan hal itu Rendy langsung melihat ke bawah dan alangkah sok nya jika sangkar nya belum di tutup, "ah sue lu" cibik Rendy lalu berbalik dan menutup sangkar nya.
"ayo balik pasti sudah di tunggu sama bapak" ucap Sabrang lalu mereka kembali.
******
"mereka telah datang" ucap sosok hitam tinggi dengan taring yang panjang.
__ADS_1
"awasi mereka jangan sampai mulus perjalanannya, suruh pasukan Buto mengganggu mereka dan panglima kidal untuk membunuh anak itu" ucap sosok hitam besar dengan cakar yang panjang serta taring yang putih yang mengerikan.
"baik tuanku"
********
malam pun tiba setelah melaksanakan sholat magrib kami memakan ubi-ubian serta membakar jagung yang kami bawa tadi.
swushh
angin bertiup kencang tapi anehnya tidak ada satupun pohon yang bergoyang, "apaan tu" ucap Rendy yang mulai takut.
"Jagan pernah terputus tetap lah berzikir" ucap pak Sanusi lalu berdiri dan mengambil air yang telah dibacakan ayat 15.
lalu pak Sanusi mengelilingi tenda sembari menuangkan air yang telah dibacakan ayat 15, angin bertiup kencang tiba-tiba tanah yang kami pijak mengalami goncangan.
setelah itu sosok Buto menampakkan wujudnya pada kami yang membuat Rendy dan pak Rohim pingsan, "gimana ini pak" ucap Sabrang yang mulai panik.
"jangan panik mereka tidak akan bisa masuk kesini" balas pak Sanusi dengan yakin.
swushh
"Cakra ?"
"siapa dia nak seperti seorang pangeran" ucap pak Sanusi dengan penasaran.
"nanti Sabrang ceritakan pak, sekarang kita berdoa saja memohon perlindungan dari Allah SWT" ucap Sabrang lalu mereka mulai berdoa.
sedangkan Cakra buana sudah terbang dia atas untuk menangani para Buto itu, "hei makhluk terkutuk beraninya kamu mengganggu manusia itu, maka sekarang rasakan lah akibatnya" ucap Cakra buana lalu memecah raga nya menjadi tujuh.
"hanguskan mereka yang mencoba mengincar Raden Arya" ucap Cakra kepada keenam raganya.
swush
keenam raga Cakra menyerang pasukan Buto itu dengan sangat ganas, "cakra lawan mu adalah aku" ucap sesosok yang menyerupai panglima kerajaan.
"ternyata kau masih hidup kidal"
"kau masih ingat denganku ?, oh bangus lah kalau begitu aku akan menuntut balas darimu" ucap mahluk itu yang bernama kidal.
__ADS_1
"oh benarkah ?, dulu kau lari dan memilih menyelamatkan nyawamu sendiri daripada raja mu, cih panglima seperti apa kau" cibik Cakra yang dulu ikut dalam memusnahkan pasukan penguasa hutan jati.
"itu dulu, tapi sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi" ucap kidal lalu menyerang Cakra buana dengan cakarnya.
"kukira kau bakal memiliki kekuatan yang besar, ternyata sama saja seperti dulu" ejek Cakra buana sembari menghindari serangan panglima kidal.
"pedang Samudro datanglah" ucap Cakra lalu secercah cahaya emas melayang dan membentuk pedang yang indah nan tajam.
"kau masih menggunakan senjata karatan seperti itu kah Cakra, biar ku tunjukkan pusaka cambuk naga api" ucap panglima kidal lalu suasana menjadi panas di dinginnya malam hari.
pertarungan dua pusaka tingkat tinggi yang dapat membelah gunung hanya sekali tebasan itupun dimulai, Cakra buana yang masih dalam peluang besar dapat menyudutkan panglima kidal dengan jurus pedangnya.
"tebasan jagad samudera" ucap Cakra buana yang melesat melewati panglima kidal dan menebas lehernya.
"misi complate haha" ucap Cakra buana lalu memasukkan lagi pedangnya ke sarungnya.
namun hanya selang beberapa detik lagi panglima kidal kembali hidup lagi, "kau pikir aku sama seperti dulu Cakra, jangan berharap bisa mengalahkan ku kali ini" ucap panglima kidal lalu mengambil lagi cambuknya.
ctar
cambuk itu menghanguskan sebagian dari hutan itu, "kalau begitu jangan harap aku juga sama seperti dulu" ucap Cakra buana lalu mengayunkan pedangnya lagi.
Trang Trang
kilatan emas dan api saling menyambar satu sama lain yang membuat awan di atas nya menjadi hitam, kini posisi Cakra yang awalnya menang kini mulai tersudutkan karena Cakra harus membagi tenaga dalam nya untuk keenam raganya.
ctar
cambuk naga api berhasil menyabet Cakra buana hingga terpental beberapa langkah kebelakang dan menimbulkan bekas luka di dada.
"uhuk" Cakra memuntahkan darah hijau segar dari mulutnya.
"haha sudah kubilang kau tidak bisa mengalahkan ku kali ini" ucap panglima kidal dengan tersenyum sinis.
disisi lain Sabrang yang terpejam matanya karena sedang berzikir dan berdoa meminta perlindungan kepada Allah SWT, "Cakra!" teriak Sabrang yang tiba-tiba membuka matanya.
swush
angin berhembus kencang, kilatan cahaya putih muncul dihadapan para pasukan Buto dan panglima kidal, "siapa yang beraninya mengusik cucu dan anak ku!" teriak sosok itu yang ternyata adalah Ki Badrus.
__ADS_1