
setelah urusan tadi selesai, Sabrang langsung pulang ke rumah bersama bapaknya, setelah sampai di rumah sabrang langsung merebahkan tubuhnya ke kasur.
karena sudah kelelahan dan kecapean, Cakra juga di suruh sabrang untuk menjaga desanya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sabrang tertidur sangat nyenyak hingga sukmanya, di ajak oleh kakek buyutnya untuk berkelana, "cu ayo ikut kakek" ucap Ki Badrus.
"lagi-lagi kakek paksa Sabrang" balas Sabrang dengan helaan nafas.
"hehe, jangan banyak bicara ayo ikut kakek" lalu tangan Sabrang di pegang oleh kakeknya dan menghilang.
"bukalah matamu cu" ucap Ki Badrus lalu Sabrang membuka matanya.
alangkah terkejutnya Sabrang ketika sampai di sebuah bangunan mirip seperti istana, bahkan istana itu dilapisi oleh berlian.
"apakah ini istana kakek ?" tanya Sabrang yang masih penasaran.
"tidak ini titipan dari Allah, semua yang kakek miliki suatu saat akan di ambil lagi oleh Allah jadi Sabrang jangan pernah sombong, apa yang kamu miliki sebenarnya itu adalah titipan Allah jangan takabur jika ingin menolong orang tolonglah dengan hati yang ikhlas dan tanpa pamrih" jawab Ki Badrus dengan tersenyum.
"baik kek akan Sabrang ingat-ingat pesan kakek"
"ayo kita masuk" ajak Ki Badrus lalu pintu istana terbuka lebar.
pemandangan di dalam membuat Sabrang tak henti-hentinya untuk mengucapkan subhanallah, karena di dalam istana tersebut hampir semuanya di lapisi dengan berlian.
__ADS_1
"subhanallah kek indah sekali istana ini" ucap Sabrang dengan takjub.
"ayo kita duduk di sana" ajak Ki Badrus lalu Sabrang mengikuti langkahnya.
Ki Badrus menyuruh Sabrang untuk duduk di sampingnya, "semuanya tolong berbaris, ada yang akan saya sampaikan" ucap Ki Badrus lalu semua penghuni istana langsung berbaris rapih di hadapan Ki Badrus.
"semuanya kenalkan, ini adalah cicitku kalian hormatilah seperti kalian menghormati ku" ucap Ki Badrus lalu semua penghuni istana langsung berlutut.
"baik Ki" mereka menjawab dengan kompak dan lantang.
"kalian boleh kembali menjalankan tugas kalian masing-masing" ucap Ki Badrus lalu mereka pergi dengan beraturan.
"kakek, nama istana ini apa ?" tanya Sabrang.
"kakek tidak mungkinkan cuman mengenalkan aku pada pasukan kakek ?"
"hahaha tentu saja tidak, kakek membawa untuk memberikan ini untukmu" ucap Ki Badrus lalu mengeluarkan buku yang sangat tebal dan kusam.
"tebal sekali, apa aku sanggup kek ?" ucap Sabrang dengan mata hampir keluar.
"haha, ekspresi mu jangan begitu, kau pasti sanggup lagi pula ada Cakra yang akan membantu mu" balas Ki Badrus.
"iya, kakek guru benar, ada aku yang akan bersama Raden" sahut Cakra yang tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"e ayam, lain kali uluk salam gitu Lo, biar gak kaget aku nya" balas Sabrang.
"hehe maaf Raden" jawab Cakra cengengesan.
"sekarang kembali lah sebentar lagi akan subuh, dunia gaib dan nyata tidak sama waktunya" ucap Ki Badrus.
"baik kek"
"Cakra aku titip Sabrang pada mu, jaga dia baik-baik dari gangguan manusia maupun jin" ucap Ki Badrus lalu Cakra memegang tangan Sabrang.
seketika itu Sukma Sabrang sudah bersatu dengan raganya, dengan keringat dan nafas yang ngos-ngosan seperti habis lari maraton Sabrang langsung terbangun.
"sebuah kita ?" ucap Sabrang dengan mengeryitkan dahi nya.
"o ya aku kan tadi di istana kakek buyut dan di kasih ini, kenapa bisa lupa hadeh" gumam nya laku bangkit dan mengambil handuknya setelah itu Sabrang mandi.
setelah mandi Sabrang, melihat bapak dan ibunya sudah bangun, "loh anak bapak udah bangun toh" ucap pak Sanusi dengan tersenyum hangat pada anaknya.
"hehe iya pak, sabrang siap-siap pak mau ke mushola"
"ya sudah sana nanti ajak Asep makan bareng-bareng" sahut Bu Susi.
"beres Bu"
__ADS_1