
"sekarang Raden konsentrasi, rasakan energi alam yang disekitar Raden lalu pusatkan di telapak tangan" ujar Cakra lalu Sabrang memejamkan matanya dan merasakan energi alam disekitarnya.
sesaat kemudian warna kebiruan memutari tubuh Sabrang, "sekarang pukul dinding gua dengan telapak tangan dari sini" ucap Cakra lalu Sabrang melakukan apa yang diperintahkan oleh Cakra.
boom
ledakan keras terjadi, Rendy yang sedang latihan terperanjat, "e ayam e ayam, apaan lagi yang dibuat tuh bocah" ujar rendy lalu berbalik dan menatap Sabrang dengan terkejut, karena bekas hitam yang ada Diding gua akibat ledakan dari tenaga dalam Sabrang.
"u napa Rend ?" tanya sabrang dengan polosnya.
"pakek nanya lagi ya kaget lah kocak" cibik Rendy lalu melanjutkan latihan.
"dih"
"bagus Raden, Raden sudah menguasai dasarnya nanti atau besok kita lanjutkan lagi karena untuk saat ini energi Raden cepat terkuras saat berlatih tenaga dalam" ucap Cakra.
"iya aku merasakan sesak di dada saat memukul dinding gua" balas Sabrang yang sudah berkeringat.
setelah itu Sabrang duduk lagi di batu yang tidak terlalu jauh dari tempat Rendy berlatih, "Rend tuh kayaknya gerakan lu sedikit salah deh" ucap Sabrang lalu berdiri dan berjalan ke arah Rendy.
"kaki sedikit di tekuk kebawah, pandangan lu harus fokus" ucap Sabrang sambil membetulkan posisi Rendy.
"nah gitu, sekarang lu coba lagi dah"
"oke-oke terimakasih, sab" ujar Rendy lalu mengulangi gerakannya lagi.
"Raden hamba di suruh oleh kakek buyut Raden untuk menemuinya nanti malam" ucap Cakra saat Sabrang bersantai sembari mengamati gerakan Rendy.
"baiklah Cakra, apa tidak bisa di ganti dengan nama saja sebutan Raden bagiku kurang enak di dengar"
"tidak bisa Raden soalnya ini sudah janji hamba" balas Cakra buana dengan berlutut.
"aih, tapi ingat jangan suka berlutut di hadapan ku" ucap Sabrang lalu mengangkat bahu Cakra buana.
"baiklah Raden terimakasih"
cukup lama kami berlatih di dalam gua hingga adzan dhuhur berkumandang, "udah Rend kita lanjutkan besok lagi latihannya sekarang kita pulang" ucap Sabrang lalu Rendy mengehentikan latihannya.
"woke, gw juga udah laper banget nih" balas Rendy lalu kami pun keluar gua.
di perjalanan menyusuri desa, Sabrang dan Rendy saling bertegur sapa dengan para warga entah itu yang habis dari ladang entah itu habis dari ngarit.
bahkan Sabrang dan Rendy masih banyak anak-anak yang masih bermain permainan tradisional, seperti engklek ( o ya reader sebutan di daerah kalian apa, komen di bawah ya ).
__ADS_1
"mengingatkan tentang masa kecil ya Rend melihat mereka main" ucap Sabrang sembari melihat anak-anak bermain.
"iya sab, dulu kita kecil banget sering nyolong jambu pak Kasim lagi, haha" balas Rendy yang masih ingat kelakuannya masa kecil dulu.
"gak usah di ingetin juga kali" lalu mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
******
di rumah Sabrang
"nih sep makan yang banyak bir gemuk" ucap Bu Susi yang menambahkan lagi lauk dan nasi untuk Asep.
"aduh bude gak usah, kalo gemuk yang ngajarin dan bantu kang Sabrang siapa kan repot" balas Asep sembari melahap makanannya.
"assalamualaikum" Sabrang uluk salam dan di sambut oleh ibunya.
"waalaikumsalam, makan dulu gih sana nanti mandi habis tuh sholat" ucap Bu Susi lalu Sabrang mencium tangannya dan masuk ke rumah.
"loh sep, dah lama disini" tanya Sabrang saat melihat Asep sedang makan.
"baru kang, makan kang" tawar Asep pada Sabrang.
"iya ini juga mau makan laper abis latihan" ujar Sabrang lalu mengambil piring dan nasi serta lauk pauk.
"gimana sep, udah siap belum untuk nanti sore ?" ucap Sabrang sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"nanti kang Sabrang jelasin sekarang Asep habiskan dulu tuh makanannya, sayang kalo gak habis nasinya ntar nangis" ucap Sabrang lalu mereka berdua menghabiskan makanannya.
"udah sholat belum sep ?" tanya Sabrang.
"belum kang hehe" balas Asep cengengesan.
"ya udah sholat bareng kang Sabrang aja, tapi kang Sabrang mandi dulu" ucap Sabrang.
"oke kang gak masalah"
setelah Sabrang mandi dan bersiap-siap, Sabrang mengajak Asep ke mushola desa, "Bu kami ke mushola desa ya" sabrang pamit dan mencium tangan ibunya, begitu juga dengan Asep yang pamit ke Bu Susi.
"iya hati-hati"
Sabrang dan Asep melangkahkan kakinya ke mushola, setelah mengambil air wudhu Sabrang dan Asep sholat di imam mi oleh Sabrang karena sholat dhuhur berjamaah sudah usai.
setelah sholat dhuhur Sabrang dan Asep berbincang di teras mushola, "kamu mau tau tapak harimau ?"
__ADS_1
"mau lah kang"
"jadi gini sep, tapak harimau itu kegunaannya untuk membuat serangan fatal di area dada lawan, tapi jangan sekali-kali kamu gunakan di dalam duel sahabat soalnya akibatnya bisa fatal, selain untuk serangan tapak ini juga bisa sebagai pengusir energi negatif, tapi ini ada rapalan khususnya" jelas Sabrang pada Asep.
"susah dong kang berarti" jawab Asep dengan menghela nafas.
"selain itu ada juga ritual khususnya, seperti puasa ngrowot dan lainnya" ucap sabrang lagi.
"waduh kalo gitu sih Asep gak sanggup ya" balas Asep dengan tertawa kecil.
"suatu saat nanti kamu bakal mampu, sekarang kamu pelajari yang kemarin kang Sabrang ajarkan" ucap Sabrang dengan tegas.
"b-baik kang"
sore pun tiba setelah sholat ashar, rendy Sabrang, Asep, Rahman, Subagio sudah berkumpul di halaman rumah Asep, "sudah siap nih kayaknya, jika kalian bisa menumbangkan salah satu dari kami, saya akan kasih kalian jurus tendangan harimau mengamuk" ucap Rendy dengan senyuman yang tercetak di wajahnya.
"wuih, ayo kawan-kawan kita tidak boleh kalah" ucap Rahman dengan semangat yang menggebu-gebu.
"tentu saja, kita kan latih tanding untuk mengasah kemampuan kita sejauh mana" balas Asep lalu mereka semua memasang kuda-kuda.
"sudah siap ?" tanya Sabrang lalu mereka semua kompak menjawab siap.
latih tanding pun dimulai, Sabrang dan Rendy masih tenang karena mereka tidak mengeluarkan segenap kemampuan, dan hanya mengetes sudah sejauh mana mereka berkembang.
bugh
tendangan dan pukulan mereka semua lancarkan untuk menumbangkan Rendy dan Sabrang, namun sayang tendangan dan pukulan mereka dapat di tangkis dengan mudah.
Asep menggeoskan kakinya untuk menjatuhkan Sabrang namun Sabrang cepat dan melompat ke belakang dengan bersalto.
Asep yang melihat itu hanya tercengang dan kaget, disisi lain Rahman dan Subagio berusaha menumbangkan Rendy, "Weits gak kena wle" ledek Rendy yang menghindari jurus Rahman dan Subagio.
latih tanding itu berlangsung hingga 1jam lamanya namun mereka tak dapat menumbangkan Rendy maupun Sabrang, yang ada mereka malah ngos-ngosan dan berkeringat.
namun Sabrang dan Rendy masih terlihat santai bahkan keringat hanya sedikit yang membasahi bajunya, "kalian hebat dapat bertahan dalam waktu satu jam" puji sabrang pada mereka.
"eh satu jam ?" jawab mereka serempak dan sabrang mengangguk kepalanya.
"ini pencapaian baru kawan-kawan, kita bisa bertahan satu jam bersama kang Sabrang dan kang Rendy" ucap Rahman lalu kawannya mengangguk setuju.
"gak usah berlebihan mending kalian pulang dan mandi sebentar lagi magrib, gak baik anak-anak main keluar magrib-magrib" balas Sabrang lalu Rahman dan Subagio bersaliman dan pergi.
"kamu juga pulang ya Rend"
__ADS_1
"oke gw duluan yak, ntar di mushola ketemu lagi" balas Rendy lalu pergi.
"ayo sep pulang, gak laper tuh perut" ucap Sabrang dengan tertawa kecil lalu berjalan berbarengan dengan Asep.