Keris Leluhur

Keris Leluhur
ch 28. puasa mutih


__ADS_3

setelah keluarga pak Bram pergi Sabrang ke rumah kyai Suryo yang kini sudah di tempati oleh Asep, "assalamualaikum" ucap Sabrang saat memasuki rumah kyai Suryo.


"waalaikumsalam" ucap para warga desa yang masih di rumah kyai Suryo.


"sini sab" panggil pak Kasim lalu Sabrang menghampirinya.


"iya pak ada apa ya" ucap Sabrang dengan sopan.


"gini sab, bapak udah tau kamu siapa dan keturunan siapa bapak sudah tau, rencana bapak kamu akan saya angkat menjadi kepala desa berikutnya dan ini nantinya juga para warga desa akan ikut andil, gimana sab bapak percaya bahwa kamu dapat memajukan desa ini" ucap pak Kasim dengan menepuk pundak Sabrang.


"duh gimana ya pak, soalnya ini tanggung jawab yang besar dan menyangkut para warga desa, saya takut nantinya malah gak bisa mengemban tanggung jawab itu" balas Sabrang dengan tertunduk.


"bapak percaya sama kamu, nanti saya akan bermusyawarah sama semua warga desa nantinya kamu tenang saja"


"kalau memang itu kemauan bapak Sabrang akan berusaha semaksimal mungkin untuk mensejahterakan warga desa" balas Sabrang dengan menatap yakin pak Kasim.


"ini yang saya mau dari ucapan kamu...."


"tapi pak saya masih mau menjalankan dulu amanah dari bapak saya, kalau bapak mau tunggu saya dalam 15hari dari besok soalnya ini harus di segerakan" potong Sabrang yang tadi sudah di kasih bisikan agar mempercepat puasa mutih.


"baiklah bapak akan tunggu kabar baiknya" balas pak Kasim lalu mempersilahkan Sabrang untuk mencicipi makanan yang di buat oleh ibu-ibu.


'dimana Rendy tumben banget gak keliatan dari tadi' batin Sabrang.


saat sedang mencicipi makanan Sabrang melihat Asep berjalan keluar, tanpa berpikir panjang Sabrang langsung mengikuti Asep.


'ini kan jalan menuju hutan larangan ngapain Asep ke sini' batin Sabrang yang mengikuti Asep dari belakang.


"salam hormat Raden" tiba-tiba Cakra muncul di hadapan Sabrang.


"eh ayam!, kukira siapa ternyata lu kalau datang salam kek" ucap sabrang lalu melihat ke arah Asep yang sudah menghilang.


"kemana dia, ah hilang kan"

__ADS_1


"dia sedang tidak sadar Raden karena atas meninggalnya kyai Suryo, keimanan dia menjadi lemah dan mudah di rasuki kenapa begitu karena pagar gaib yang di buat kyai Suryo telah melemah"


"kalau begitu lakukan sesuatu lah" ucap Sabrang dengan panik.


"baik-baik, Raden tenang saja" ucap Cakra lalu menghilang.


selang beberapa saat Cakra membawa Asep yang sudah tidak sadar, "bismillahirrahmanirrahim" lalu Sabrang membaca ayat 15 dan mengusapkan tangannya ke wajah Asep.


"aduh kepala Asep kok sakit ya" ujar Asep yang sudah sadar.


"loh kok aku di sini bukannya tadi di kamar"


"kamu tadi masuk ke hutan larangan, apa kamu gak sadar sep ?" jawab Sabrang.


"enggak kang, Asep gak sadar seingat Asep tadi di kamar almarhum kyai Suryo" ujar Asep sembari memegang kepalanya yang masih pusing.


"iya tadi kamu keluar rumah, makanya kang Sabrang ikuti kamu sampai kamu berjalan ke hutan larangan, untung saja kamu tidak apa-apa sep, lain kali kamu jangan ngelamun kalau ada waktu senggang berzikir lah atau baca Al Quran biar pikiranmu terisi" ucap Sabrang lalu mengajak Asep kembali.


*****


"biar Asep istirahat dulu, Rahman temani Asep ya" ujar Sabrang lalu Rahman mengajak Asep ke kamar.


"memang ada sab, kok Asep bisa bersama kamu padahal tadi Asep di rumah" tanya salah satu warga.


"jadi gini, saat aku mencicipi makanan aku melihat Asep keluar dari rumah dengan tatapan kosong, makanya aku ikuti Asep hingga ke hutan larangan jadi gitu Asep saat ini butuh kehadiran kita semua, bukan hanya kita yang kehilangan tapi Asep juga kehilangan sosok seperti almarhum kyai Suryo"


"kamu tenang saja kami akan menjaga Asep, lebih baik sekarang nak Sabrang pulang dan istirahat bapak lihat kamu kecapean dari kemarin belum istirahat" ucap salah satu warga pada Sabrang.


"iya pak kalau begitu Sabrang pamit pulang, titip Asep ya" ucap Sabrang lalu pamit pulang.


setelah sampai di rumah Sabrang langsung merebahkan badannya, tanpa uluk salam ataupun apapun Sabrang langsung tidur karena memang sangat capek sekali.


adzan ashar berkumandang, Sabrang terbangun dari tidur cantiknya, "hoam" setelah merentangkan tangannya Sabrang beranjak ke bilik mandi.

__ADS_1


"loh kapan kamu pulang nak" ucap Bu Susi.


"baru tadi jam 10an Bu, Sabrang kecapean jadi gak sempat uluk salam" jawab Sabrang.


"jaga kesehatan nak"


"iya Bu, bapak ada gak Bu ?"


"ada tuh di teras, kamu mandi dulu gih ibu mau siapin makanan dulu" tanpa menjawab Sabrang langsung bergegas mandi.


setelah mandi Sabrang memakai sarung dan kaosnya, setelah itu menghampiri bapak nya, "pak Sabrang mau ngomong" lalu Sabrang duduk didekat pak Sanusi.


"mau ngomong apa nak"


"gini pak tadi pak Kasim meminta Sabrang untuk menjadi kepala desa selanjutnya, dan di satu sisi Sabrang juga harus segera melakukan puasa mutih, menurut bapak gimana" ucap sabrang.


"pilihan di tanganmu nak, kalau menurut bapak sendiri ya sholat istikharah soalnya menjadi kepala desa tidaklah mudah tanggung jawabnya besar di dunia dan akhirat, tapi bapak percaya jika kamu bisa menjalankan itu semua dengan baik" jawab pak Sanusi lalu menyeruput teh nya.


"gitu ya pak baiklah pak makasih untuk sarannya, Sabrang sholat dulu ya pak" balas Sabrang lalu beranjak pergi untuk sholat ashar.


malam pun tiba para warga desa berbondong-bondong ke rumah kyai Suryo Untuk melakukan tahlilan, begitu juga dengan Sabrang dan Rendy.


"kamu nyium juga gak sab, baunya wangi banget dan menenangkan" bisik Rendy pada sabrang.


"subhanallah, iya Rend wangi banget dan menenangkan"


"subhanallah wangi banget pak sejuk dan menenangkan" ucap seorang warga desa.


para warga juga mencium bau wangi dan menyejukkan serta menenangkan, "inilah bapak-bapak ibu-ibu, timbal baliknya Allah kepada orang yang suka berbuat baik mereka diterima dengan gembira oleh malaikat bahkan bumi pun senang" ucap pak Kasim lalu semua warga desa juga takjub dengan apa yang mereka rasakan saat ini.


disisi lain Sabrang melihat roh kyai Suryo yang sedang tersenyum ke arah Sabrang, 'kyai para warga desa sekarang sedang mendoakan kyai, insyaallah amanah kyai akan Sabrang lakukan' ucap Sabrang yang mengirim suara batin pada roh kyai Suryo.


tak terasa acara tahlilan berjalan dengan lancar para warga desa yang belum pulang mengobrol santai di depan rumah kyai Suryo.

__ADS_1


Sabrang dan Rendy mengajak Asep untuk mengobrol dan bercanda agar tidak terlarut dalam kesedihan.


__ADS_2