
para warga desa berbondong-bondong menyiapkan acara syukuran, untuk di gelar bakda Magrib, suasana pagi hari yang nampak para warga suka rela untuk membantu, membuat Sabrang senang.
"oi sab sini, bantuin angkat" teriak Rendy pada Sabrang.
"oke-oke tunggu" balas Sabrang lalu menghampiri Rendy dan membantunya.
Untuk masalah potong-potong daging para warga saling bergotong royong, untuk urusan masak memasak kami serahkan pada ibu-ibu yang ahli dan jago.
jam 10kurang potong memotong sudah kami selesaikan, Sabrang dan Rendy pamit untuk ke pos ronda dengan membawa kopi dan cemilan ala kadarnya untuk para pemuda.
"nih kopi sama rebus-rebusan, gimana selama kami gak ada apa ada orang yang mencurigakan ?" tanya Sabrang dengan meletakkan sepiring kacang rebus dan kawan-kawannya.
"makasih kang, aman terkendali pokoknya selama kami masih bernafas jangan harap ada yang berani masuk ke desa ini dan mengacak-acaknya" jawab Rahman dengan yakin.
"bagus aku percayakan keamanan desa pada kalian, lusa latihan terakhir kalian jadi siapkan mental dan kemampuan kalian" ucap Sabrang lalu mereka ngobrol-ngobrol santai layaknya teman.
Rendy juga tidak sungkan-sungkan untuk melemparkan candaan untuk mereka, agar suasana semakin akrab, "ayam-ayam apa yang besar" Rendy mengasih tebak-tebakan.
"ayam jago ?" celetuk Asep.
"salah ayo apa" jawab Rendy dengan menyemangati mereka.
"ayam semesta?" jawab Asep kembali.
"betul, yah gak asik kau"
"hahaha, itu mah tebak-tebakan anak SD'
"apa iya ?"
"kalo gitu jawab ini, pak Bambang mempunyai 100 ekor sapi lalu di beli oleh pak Tio sebanyak 10 ekor sisa berapa kambing pak Bambang" lanjut Rendy dengan menaik turunkan alisnya.
"gak makasih kang, Asep udah kenyang kapan-kapan aja ya kang" jawab Asep yang di sambut tawa teman-temannya.
"awas kau sep nanti tunggu pembalasanku"
"sudah-sudah lebih baik kita ke mushola sebentar lagi mau masuk dhuhur" ucap Sabrang yang melerai mereka.
"hanyyuk Mamang"
lalu mereka semua berjalan ke mushola yang sudah bagus, tempat wudhu juga bersih apalagi mushola sudah dilengkapi kipas angin.
"sep ayo adzan" pinta Sabrang lalu Asep mengumandangkan adzan.
Setelah Asep mengumandangkan adzan para bapak-bapak sudah berdatangan, setelah menyuruh Asep iqomah Sabrang meminta para jamaah untuk merapatkan saf nya.
__ADS_1
Setelah selesai sholat dhuhur mereka kembali melanjutkan pekerjaan, ada yang membantu acara syukuran nanti dan lain sebagainya.
Setelah sholat ashar persiapan untuk syukuran sudah hampir selesai, rencana mulai setelah sholat magrib, karena mushola juga di perbesar maka syukuran akan di gelar di mushola.
'persiapan acara sudah hampir selesai, semoga nanti lancar' batin Sabrang yang mengingat kejadian kemarin.
"Raden tenang saja, para mahluk yang ada di hutan larangan siap membantu Raden jika kurang pasukan giok putih siap untuk membantu" ucap Cakra yang tiba-tiba muncul.
"sampaikan terimakasih pada penghuni hutan larangan" pinta sabrang lalu Cakra menghilang.
setelah persiapan selesai para ibu-ibu dan bapak-bapak yang membantu pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap-siap untuk hadir ke syukuran nanti.
Adzan magrib berkumandang, para warga berbondong-bondong pergi ke mushola untuk menunaikan ibadah sholat magrib.
Setelah selesai sholat magrib, pak Sanusi memimpin doa dan di lanjutkan dengan makan bersama-sama, para warga menikmatinya dengan penuh suka cita dan canda tawa yang menghiasi.
"sini sab"teriak Rendy yang berada di teras mushola.
"apa ?" tanya Sabrang ketika sudah di samping Rendy.
"sini lah gabung sama kita di dalam banyak bapak-bapak" kekeh Rendy.
"kalian sudah makan ?" tanya Sabrang lalu mereka menjawab sudah.
"bagus" belum sempat melanjutkan kata-katanya lagi ledakan terdengar, tentu yang bisa mendengar hanya Sabrang karena itu adalah ulah mahkluk gaib.
Melihat temannya sedang melamun Rendy langsung menepuk pundaknya agar Sabrang terbangun, "ada apa kawan ?".
"mereka sudah datang" bisik Sabrang pada Rendy.
"serius lu ?" balas Rendy yang berbisik pada Sabrang.
Asep dan kawan-kawannya melihat rendy dan Sabrang saling berbisik, menjadi bingung,"ada apa kang ?" tanya Asep yang mencoba bertanya.
"gini sep kang Rendy kasih tau tapi kalian harus siap ya ?"
"apa itu kang ?"
"jadi gini" Rendy menceritakannya dari awal hingga akhir tanpa ada perubahan sama sekali.
"lalu ini bagaimana kang ?"
"kalau tidak bisa lewat jalur damai mau tak mau kita harus hadapi mereka" balas Rendy dengan menghela nafas.
"baiklah kang kami siap jika harus menghadapi mereka" tiba-tiba ledakan terjadi kembali kini semua orang dapat mendengarnya.
__ADS_1
"suara apa itu" sahut mereka yang berada di dalam mushola.
"saya minta pada kalian semua untuk tetap di mushola dan berdoa, biarkan ini menjadi urusan kami" pinta Sabrang tanpa menengok kebelakang dan mengajak Rendy, Asep dkk.
sesaat setelah Rendy dan Sabrang tiba di gapura desa, nampak bayangan orang yang sangat banyak, "sudah sampai ya ?" nampak wajah Sabrang yang tenang namun sangat waspada.
"kalian mau jalur damai atau pertarungan?" tanya Sabrang to the point pada antek-anteknya dukun kemarin.
"jelas pertarungan, tiada hari tanpa pertarungan haha" Sabrang mengambil krikil yang ada di kakinya dan melepaskannya dengan menggunakan tenaga dalam.
Seketika orang tadi langsung tergeletak di tanah dengan leher berlubang, "masih ingin lanjut?"
"ayo kita langsung serang saja secara bersamaan" teriak dari mereka yang langsung menyerang Sabrang dkk.
"ambil formasi" perintah Sabrang memberi arahan pada mereka.
Sedangkan di lain sisi, Cakra sedang bertempur dengan pasukan gaib dari dukun-dukun itu,"sapuan pedang jagat samudro" energi kebiruan menyapu semua makhluk gaib.
kembali dengan Sabrang kini pertarungan tidak lagi dapat di hindarkan mereka saling bertukar jurus, dan saling membalas serangan.
'cepat habisi semua anak buah dari dukun-dukun bang*** itu karena sebentar lagi bulan purnama akan bersinar' perintah cakra lewat telepati.
"Rend, sep, man, Bagio, mundur lah biar aku yang hadapi mereka" perintah Sabrang lalu mereka langsung di belakang Sabrang.
Sabrang langsung membaca ajian Waringin sungsang dan menghajar mereka sampai habis tak tersisa, "ampun den ampun" salah satu dari mereka meminta ampun dengan bersimpuh.
"bersujud dan bersimpuh lah pada Allah yang maha esa"
"kalian ikat dan awasi, aku akan segera kembali" lanjut Sabrang yang langsung berlari ke padepokan.
Setelah masuk ke kamar Sabrang langsung membuat asma kurung di sekitar tubuhnya setelah itu langsung duduk bersila untuk melakukan Rogo Sukmo.
"ajian Brajamusti!" teriak Sabrang yang langsung menggoncang pasukan gaib milik dukun-dukun tersebut.
"Raden"
"apa kamu kesusahan?" tanya Sabrang.
"tidak, hanya saja terlalu banyak pasukan setingkat dukun-dukun itu"
"langsung saja habisi"
"tidak bisa Raden, karena nanti akan berdampak juga pada alam manusia terlebih lagi desa Raden"
"lantas kita bagaimana"
__ADS_1
"mau tak mau kita harus melawannya"