
"ternyata aku sudah di sini kembali, apakah ini ada hubungannya sama kakek buyut ya" pikir sabrang.
"mungkin saja begitu," ucap sabrang berdialog kembali.
Saat sabrang ingin kembali, ia malah tertarik untuk pergi ke gua itu dan mempelajari kitab yang diberikan oleh kakek buyutnya.
Setelah sampai di gua dan membuka kitab sabrang langsung mempelajarinya, berbeda dengan sebelumnya kini sabrang dapat mempelajarinya dengan cukup mudah.
"Alhamdulillah aku bisa mempelajarinya dengan lancar dan mudah," ucap Sabrang berdialog sendiri.
"sudah jam berapa ini sebaiknya aku pulang." gumam sabrang lalu keluar dari gua dan segera pulang ke desa.
Sesampainya di desa Sabrang langsung menyimpan bunga tujuh rupa tersebut, di jalan Sabrang juga banyak bertegur sapa pada para warga.
'aku hanya takut nanti malam akan terjadi bencana,' batin Sabrang yang menatap ke langit-langit.
Setelah sampai di rumahnya, Sabrang uluk salam yang ternyata di rumahnya sudah ada Asep, ibu serta bapaknya yang lagi mengobrol.
"sudah pulang nak ?," ucap pak Sanusi.
"sudah pak, Alhamdulillah." balas sabrang dengan tersenyum.
"kamu mandilah, lalu sarapan."
__ADS_1
"iya pak," lalu Sabrang langsung ke bilik kamar mandi.
Setelah selesai mandi sabrang memakai baju takwa dan bersarung, lalu Sabrang pergi dengan membawa kembang tujuh rupa yang di kumpulkannya tadi.
Sesampainya di mushola ternyata jam masih menunjukkan pukul 15:45 yang dimana masih ada waktu untuk sholat ashar, Sabrang pun langsung melaksanakan sholat.
Setelah selesai sholat dan wirid Sabrang lalu memejamkan matanya, secara tiba-tiba sukma Sabrang telah terpisah yang kini sukma nya telah berada di alam gaib.
"Cakra" panggil Sabrang lalu asap putih muncul dan menampakkan seorang berpakaian seperti seorang raja.
"Hamba menghadap Raden" ucap Cakra dengan salah satu kaki ditekuk dan membungkuk.
"Bangunlah, sekarang tugasmu lindungi Asep dan kawan-kawannya" balas Sabrang lalu memegang kedua bahu Cakra dan menyuruhnya untuk ber diri.
"Iya Cakra, aku disuruh untuk menyebarkan dakwah di desa jamping"
"Sebelumnya aku menyuruh Asep dan kawan-kawannya tapi rasanya aku tak tega" lanjut Sabrang.
Lalu Cakra membalas, "Owh aku paham, Raden bermaksud untuk menyuruhku mengawasi mereka bukan ?"
"Tepat sekali, sebelum itu aku akan mengajari Asep ilmu yang telah aku pelajari lewat mimpi" kata Sabrang memuji Cakra.
"Itu mah urusan gampang, kebetulan aku juga ingin menemui temanku yang ada disana" ujar Cakra.
__ADS_1
Lalu Sabrang bertanya, "Siapa itu ?"
"Dia Rasip, dulu aku pernah melawannya hingga 7 hari 7 malam dan berakhir imbang lalu kami berdua bersalaman hingga akhirnya kita menjadi teman" jelas Cakra.
"Aku tidak tau sebanyak apa relasi mu" kekeh Sabrang.
"Nanti Raden juga tau sendiri" balas Cakra.
"Ya sudah kau boleh pergi" ucap Sabrang lalu Cakra segera menghilang dan dirinya juga langsung menyatukan sukmanya.
Waktu di alam gaib sendiri jauh berbeda dengan apa yang ada di alam nyata, walau keliatan di alam gaib sebentar namun di alam nyata sudah ber jam-jam.
Terbukti dengan Sabrang sekarang yang melihat jam sudah menunjukkan pukul 17:15, hampir memasuki waktu magrib.
Tak terasa jam sudah memasuki magrib lalu Sabrang segera mengumandangkan adzan, segera para masyarakat langsung berbondong-bondong untuk ke mushola.
Dengan pak Sanusi sebagai imam sholat magrib pun terlaksana, setelah selesai dan wirid serta berdoa para warga langsung kembali ke rumah masing-masing ada juga yang masih di mushola.
"Nak nanti kamu ke mushola ya waktu isya, sekarang kan malam satu suro" ucap pak Sanusi pada Sabrang.
'Iya-ya sekarang kan malam satu suro' batin Sabrang.
"Tunda dulu apa yang kau lakukan" lanjut pak Sanusi kembali.
__ADS_1
Mau tak mau Sabrang juga harus patuh, karena memang Sabrang tidak mau ambil resiko dia lebih memilih untuk memikirkan muridnya.