Keris Leluhur

Keris Leluhur
ch 26. syukuran desa dan kematian kyai Suryo


__ADS_3

setelah sampai di desa kami telah di sambut oleh para warga yang tidak ikut masuk ke hutan larangan, "Sabrang!" teriak seorang perempuan lalu berlari dan memeluk Sabrang.


"kamu gak apa-apa kan ?" tanya seorang perempuan itu yang ternyata adalah Sarah.


"aku gak apa-apa kok, tapi tuh yang kenapa-kenapa" ucap Sabrang sembari melirik Rendy.


"ini kan juga bentuk partisipasi gw dalam pencarian Bu lek Susi, udah kamu mah sama Sarah sana kasian noh kayak cucian lecek gak di perhatiin" ucap Rendy yang membuat wajah Sabrang memerah.


"paan sih, udah gak usah di dengerin ya sar kamu kapan kesini nya ?" tanya Sabrang lalu mengusap kepala Sarah yang membuat wajahnya memerah.


"baru aja kok" jawab Sarah dengan tertunduk.


"ehem, saya di lupain nih" dehem pak Bram.


"hehe" setelah itu kami pun bergotong royong untuk mempersiapkan acara syukuran desa, pak Rohim juga memotong satu ekor sapi nya untuk syukuran nanti.


Sarah juga membatu para ibu-ibu untuk mengiris daging sapi yang di bawa para laki-laki, saat melihat Sarah yang sedang membantu ibu-ibu Sabrang terpesona.


"subhanallah kalau lagi bantu-bantu kayak gini Sarah cantik juga" gumam Sabrang.


"ehem, bukannya gw ngerusak suasana ya tapi masih banyak noh yang harus kita kerjakan" ucap Rendy lalu menyeret Sabrang.


tak terasa magrib pun tiba, setelah sholat magrib kami warga desa langsung melaksanakan syukuran, "Alhamdulillah kita dapat berkumpul bersama-sama di sini syukuran kali ini, kita juga mendoakan kyai Suryo agar penyakitnya segera di angkat dan semoga dengan acara syukuran kali ini desa kita selalu di beri keberkahan oleh Allah SWT, berdoa kita mulai" ucap pak Kasim yang memimpin doa.


saat sedang memakan yang telah di masak tadi sore, Sabrang matanya berfokus pada Sarah, 'subhanallah sungguh indah ciptaan Allah' batin Sabrang yang memandangi Sarah.


"kalo gak mau biar gw aja yang habisin, kasian gw nasi nya di dua in mending gw makan aja" ucap Rendy yang membuyarkan lamunan Sabrang.


"iya-iya nih gw makan" ucap Sabrang lalu menyuapkan nasinya.


"Rend setelah ini kita ke rumah kyai Suryo ya" bisik Sabrang pada Rendy.


"yok lah tapi habis ini ya nasi gw masih banyak soalnya hihi"


"gw bilangnya juga nanti Bambang" balas Sabrang lalu melahap makanannya.

__ADS_1


setelah minum dan cuci tangan Sabrang dan Rendy menghampiri pak Kasim, "pak kami boleh minta bungkus gak, mau ke rumah kyai Suryo soalnya" ucap Sabrang dengan sopan.


"boleh-boleh lagian di sana ada Asep takutnya dia belum makan lagi, tunggu sebentar ya" ucap pak Kasim.


saat pak Kasim sedang membungkus kan makanan Sarah mendatangi Sabrang, "hai Sabrang, Rendy kalian lagi apa di sini" ucap Sarah yang tiba-tiba muncul.


"eh buset kayak kuntilanak aja, tiba-tiba muncul" celetuk Rendy.


plak


bahu Rendy di pukul keras oleh Sarah, "aduhh-aduh sakit woii" ringis Rendy sembari mengusap-usap bahu nya.


"sabar Rend, perempuan memang begitu" bisik Sabrang, melihat itu Sarah melototi Sabrang.


"apa kamu bilang!"


"gak kok, cuma ngasih tau pada Rendy agar tidak tersesat di jalan nantinya hehe" jawab Sabrang.


akhirnya pak Kasim tiba dengan membawa dua bungkus dau jati sebagai lapisannya, "terimakasih pak, kami pergi ke rumah kyai Suryo dulu ya, sar kita pergi dulu ya kamu jangan ikut bahaya malam-malam begini" ucap Sabrang.


"iya benar yang di katakan Sabrang, mbak Sarah di sini saja" timpal pak Kasim lalu Sabrang dan Rendy pergi ke rumah kyai Suryo.


"gw simpan lah buat kenang-kenangan dari mahluk yang nyerang gw" jawab Rendy dengan cengengesan.


"ye si amying"


"o ya dau kelor udah lu bawa belum" ujar Rendy pada Sabrang.


"udah dong tenang aja" jawab Sabrang lalu mereka tak terasa sudah mau sampai di rumah kyai Suryo.


saat kami hendak masuk Asep sudah buru-buru keluar rumah, "sep kenapa sep, kok kayak buru-buru begitu" ucap Rendy lalu kami berlari menghampiri Asep.


"i-itu kang itu kyai" saat mendengar kata kyai Sabrang langsung bergegas masuk ke kamar kyai Suryo.


"kyai!"

__ADS_1


"Rend ambilkan gw cobek dan air putih, sep tolong bantu kang Sabrang lepasin baju kyai" perintah Sabrang lalu Rendy bergegas mencari cobek.


"s-sabrang kyai minta tolong teruskan ilmu kyai pada Asep dia lah satu-satunya murid yang berbakti pada kyai" ucap kyai Suryo dengan nafas tersengal-sengal.


"kyai, Sabrang akan mencoba sebisa mungkin tapi tolong kyai jangan pergi" ucap Sabrang sembari memegang erat tangan gurunya itu.


"s-sudah tidak ada waktu lagi Sabrang nasehat kyai kalian ingat baik-baik ya rumah ini aku berikan pada Asep di desa ini Asep tidak memiliki siapa-siapa lagi" ucap kyai Suryo dengan nafas terakhirnya.


malam itu tangis Asep dan Sabrang pecah, "ini sab cobeknya..." ucap Rendy dengan mulut bergetar dan menjatuhkan cobeknya.


"kyai, sab kyai Suryo kenapa sab,..sep kyai Suryo kenapa sep" ucap Rendy yang masih tak percaya dengan kepergian Kyai Suryo.


"k-kyai sudah meninggal dunia kang" ucap Asep yang mencoba menghapus air matanya.


"Rend kamu kabari pak Kasim dan sebarkan berita atas meninggalnya kyai Suryo biar mayatnya segera di kebumikan" ucap Sabrang yang berusaha tetap tegar.


"baik sab, gw bakal menemui pak Kasim" ucap Rendy lalu bergegas keluar.


******


saat sampai di rumah pak Kasim Rendy langsung mengetuk pintunya, tok tok "pak Kasim, assalamualaikum pak Kasim" teriak Rendy lalu pintu rumah terbuka.


"ada apa nak Rendy" ucap pak Bram yang membukakan pintu.


"pak tolong panggilkan pak Kasim bahwa kyai Suryo telah meninggal dunia" ucap Rendy.


"innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ụn, sebentar bapak panggilkan dulu" ucap pak Bram lalu selang beberapa saat pak Kasim keluar dengan terburu-buru.


"pak Rendy pinjam toa mushola ya untuk mengabarkan para desa, pak Kasim duluan ke rumah kyai Suryo si sana sudah ada Asep dan Sabrang"


"iya Rendy, bapak ke sana dulu ya" ucap pak Kasim lalu mengajak pak Bram ke rumah kyai Suryo.


sesampainya di mushola Rendy langsung menyalakan mic, "innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ụn telah meninggalnya kyai Suryo pada malam hari ini" mendengar itu semua para warga langsung menangis karena semasa hidupnya kyai Suryo sangat baik.


semua warga desa langsung menyambangi rumah almarhum kyai Suryo, "pak Kasim sebelum almarhum kyai Suryo menghembuskan nafas terakhir, beliau berpesan agar rumahnya di serahkan pada Asep" ucap Sabrang.

__ADS_1


"tentu saja Sabrang, bapak juga gak percaya begitu cepatnya Kyai Suryo meninggalkan kita semua" ucap pak Kasim yang masih tidak percaya.


"ya begitulah pak ini semua sudah takdir dan kehendaknya jika sudah ajalnya manusia sebaik manapun tidak akan bisa lari dari itu semua, yang menyelamatkannya hanya lah amal perbuatan di dunia" balas Sabrang yang tetap berusaha tegar.


__ADS_2