Keris Leluhur

Keris Leluhur
ch 38. belajar dari tanah


__ADS_3

"wih kayak dukun aja lu sab, hahaha" ucap Rendy yang tiba-tiba muncul dan merangkul pundak Sabrang.


"dih paan, dikira gw suka nyembur" balas Sabrang yang membuat Rendy tertawa.


"canda sab, tapi kok lu gak nerima amplop itu kan lumayan sab" ucap Rendy dengan menaik turunkan alisnya.


"gw gak kek lu yang mata duitan, lagian gw juga ikhlas nolong orang selagi gw mampu dan bisa kenapa enggak ya kan ?"


"wih salut gw sama lu sab, kapan-kapan ajarin gw dong" balas Rendy dengan muka memelas.


"dih paan sih lu, yang ada nanti lu gunain buat unjuk kemampuan di depan perempuan lagi, gak-gak" tolak Sabrang.


"ah elah" gerutu Rendy.


"mending yak, nih lu latih dah siswa lu biar jadi jawara kampung" balas Sabrang dengan memperlihatkan barisan giginya.


"iya dah iya, Gus Sabrang" Rendy kembali dengan muka masamnya.


mereka melanjutkan latihannya hingga adzan isya berkumandang, "semuanya kita akhiri latihan dengan membaca Alhamdulillah, sekarang kalian boleh pulang" ucap Sabrang, lalu Rahman dan Subagio bersaliman pada Sabrang.


"hati-hati"


"oke kang"


"ayo kita sholat isya terlebih dulu" ajak Sabrang lalu mereka masuk ke dalam rumah.


setelah mengambil air wudhu dan menggelar sajadah, Sabrang mengimami, setelah sholat isya selesai Rendy pamit untuk pulang.


"oke hati-hati ya Rend, jangan sampe lu kesemsem Ama kuntilanak" kekeh Sabrang dengan mencandai sahabatnya itu.


"ya kagak lah" jawab Rendy lalu pergi.


"sep, sini duduk sama kang Sabrang" ucap Sabrang, dengan melambaikan tangan.


"iya kang ada apa ?" tanya Asep lalu duduk di sebelah Sabrang.


"kang Sabrang boleh minta tolong di pijitin gak ?"

__ADS_1


"boleh kang, Asep dulu juga sering mijit almarhum kyai Suryo" balas Asep lalu Sabrang membuka bajunya.


"hidup itu seperti air mengalir sep, jalani saja apa adanya yang penting kita sudah mencoba urusan belakangan mah itu urusan Allah yang penting kamu udah usaha sebisa kamu, ya walau nantinya gak sesuai sama ekspektasi kamu, kamu mencoba lagi dan lagi serta memperbaiki kekurangan kamu sebelumnya" nasehat Sabrang yang tengkurap sembari menikmati pijatan Asep.


"sudah sep, makasih ya" ucap Sabrang lalu memakai lagi bajunya.


"o iya kang Asep pernah denger, Manusia itu seperti tanah maksudnya gimana ya kang ?" tanya Asep.


"ya coba kamu injak-injak tanah ini" lalu Asep menginjak-injak tanah yang di bawah kakinya.


"dia melawan gak ?" tanya Sabrang yang membuat Asep bingung.


"ya gak lah kang" balas Asep dengan terkekeh.


"nah itu, tanah itu mengajarkan manusia agar selalu bersabar dan tanah, jika kita di injak-injak kita diam dan sabar serta tawakal kepada Allah SWT, itulah yang di ajarkan oleh tanah pada kita"


"dan tanah yang selalu kita injak-injak ini, itu nilainya sangat tinggi walaupun tanah itu di injak-injak, begitu juga dengan manusia ketika di injak mereka harus sabar dan tawakal, suatu saat hidupnya akan di angkat derajatnya oleh Allah SWT."


"jadi tanah mengajarkan kita untuk diam, sabar dan tawakal ya kang ?"


"betul sekali sep, sekarang kita tidur udah malem juga" ajak sabrang lalu Asep ke kamar.


selesai sholat tahajud, Sabrang duduk bersila sembari berzikir Sabrang melakukannya dengan khusuk hingga sukmanya keluar.


"Cakra" panggil Sabrang lalu Cakra buana datang di hadapannya.


"siap Raden"


"temani aku keliling desa yuk ?"


"ayo Raden" mereka berdua pun melayang dan berkeliling desa, saat berkeliling desa Sabrang banyak menjumpai warga desa yang sedang ronda.


bahkan Sabrang juga melihat berbagai macam makhluk gaib yang berada di luar desa, "sungguh pemandangan yang memilukan hati, kenapa masih ada beberapa warga desa yang kekurangan yang luput dari mataku" ucap Sabrang yang terhenti.


"ini bukan kesalahan Raden, sesungguhnya manusia tepatnya salah dan dosa walau kita sendiri, jadi Raden jangan menyalahkan diri sendiri" ujar Cakra.


"kau benar Cakra, tolong ambilkan uang yang ada di lemari ku, uang itu dari pak Bram untuk warga desa" ucap Sabrang lalu Cakra langsung menghilang dan kembali dengan membawa amplop berisi segepok uang.

__ADS_1


setelah menerima uang tersebut Sabrang langsung mendatangi rumah warga desa yang benar-benar tidak mampu, tok tok.


"siapa ?" sahut seseorang dari dalam.


saat membuka pintu orang itu terkejut saat mengetahui segepok uang berada di bawah pintu rumahnya, "pak-pak liat ini pak ada segepok uang" teriak seorang wanita yang tadi di beri uang sebesar 1,2jt oleh Sabrang.


"Raden sangat dermawan" puji Cakra.


"kalau mau puji, jangan ke saya tapi pak Bram uang ini di serahkan atas nama warga desa, aku juga tidak bisa melihat para warga ku kesusahan sedangkan kepala desanya bersenang-senang" balas Sabrang dengan tenang.


"kalau boleh jujur saya baru kali ini menemui kepala desa seperti Raden, ketua desa yang biasa saya lihat itu pada serakah bahkan uang rakyatnya saja di embat" .


"hanya sebagian tidak semua, mereka hanya di kuasai hawa nafsu saja, kelak mereka akan di beri hidayah" balas Sabrang dengan tersenyum.


"makanya itu saya suka ikut Raden, selain baik hati Raden juga tampan" ujar Cakra dengan tertawa kecil.


"idih, gw masih normal ya Cakra, amit-amit gw" balas Sabrang dengan ekspresi jijik.


"ye saya juga masih normal kali Raden, kita kembali yuk Raden waktu di sini berbeda" ajak Cakra lalu mereka kembali.


di tengah-tengah jalan, Sabrang menjumpai tuyul yang habis melakukan pekerjaan, tak tinggal diam Sabrang langsung menghampiri tuyul itu.


"enak ya, mencuri di desa saya lalu pergi begitu saja, sini kamu" ucap Sabrang lalu menjewer kuping tuyul itu lalu mengangkatnya hingga mata mereka saling bertatapan.


"adik kecil siapa yang menyuruhmu ?" tanya Sabrang dengan lembut dan penuh penekanan.


"a-anu, a-anu"


"kalau di tanya tuh jawab!" bentak Cakra yang membuat tuyul itu menangis.


"kalau gak mau jawab, biar ku kasih kamu ke om-om itu" ucap Sabrang dengan menunjuk sosok genderuwo.


"gak mau, i-iya yang menyuruh saya kepala desa sebelah" jawab tuyul itu lalu Sabrang langsung melemparnya ke arah hutan larangan.


"dasar manusia serakah" ucap Sabrang lalu langsung kembali ke raga nya.


tepat di saat raganya kembali adzan subuh berkumandang, Sabrang mendengar adzan subuh langsung membuka matanya dan membangunkan Asep.

__ADS_1


Sabrang mengajak Asep untuk sholat di mushola desa, selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, mereka langsung pulang dan makan bersama-sama.


__ADS_2