Keris Leluhur

Keris Leluhur
ch 41. tamu tak di undang


__ADS_3

5hari berlalu


Rumah Sabrang hampir tiap hari di datangi orang-orang yang kebanyakan dari luar untuk meminta pertolongan pada Sabrang, entah itu terkena teluh, guna-guna atau sakit karena mahkluk gaib.


Walau begitu Sabrang tidak memungut biaya apapun, karena Sabrang ikhlas dan tulus membantu orang lagi pula itu juga adalah amanah yang harus di jalankan.


Sabrang juga telah memulai renovasi Mushola desa supaya untuk ibadah lebih khusus lagi, uang darimana Sabrang ? Tentu saja dari pemberian pak Bram atas nama warga desa.


"Alhamdulillah ya mushola kita akhirnya bisa di renovasi menjadi lebih baik dan nyaman" ucap Sabrang dengan memandangi para warga bergotong royong untuk membongkar beberapa untuk nantinya di renovasi.


"iya mas Sabrang, ini juga berkat mas Sabrang" ujar pak Kasim yang ada di samping Sabrang.


"ah pak Kasim bisa saja, ini semua berkat kehendak Allah dan kebaikan dari pak Bram" balas Sabrang.


"gimana kegiatan ngajinya lancar ?" tanya pak Kasim.


"Alhamdulillah lancar pak, anak-anak juga pada semangat kalo di suruh ngaji, rencana saya sih besok mau ke pasar buat beli juz Ama, Al Quran serta iqro, soalnya saya liat udah gak layak untuk lagi di gunakan" jawab Sabrang.


"ya gak papa mas, biar anak-anak tambah semangat untuk ngajinya, ngomong-ngomong latihan silat mas Sabrang gimana buka juga gak untuk para bapak-bapak"


"kalau mau ya gak papa dateng aja saat anak-anak latihan, kalau mau sih, kalo gak mau latihan bareng anak-anak ya malam aja sama Asep,dan dua kawannya itu" balas Sabrang.


"kalau boleh mah saya juga mau ikut latihan mas, biar badan bugar dan tambah sehat" pak Kasim tertawa kecil sembari menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.


"datang aja pak nanti malam sekitar habis sholat magrib sampe isya" balas Sabrang lalu mereka membantu para warga untuk membersihkan puing-puing.


Setelah selesai membersihkan puing-puing yang memang harus di hancurkan, para bapak-bapak rembungan lagi untuk rencana renovasi selanjutnya.


"kalo masalah pertukangan kita andalkan saja pak Mulyo, dulu pak Mulyo mantan mandor di kota sebelum akhirnya pak Mulyo berhenti dan pulang ke desa" usul salah satu bapak-bapak.


"setuju" sahut yang lain.


"kalau begitu kita serahkan saja pada pak Mulyo, dia yang lebih berpengalaman dan ahli" pak Kasim juga mengasih pendapat untuk Sabrang.

__ADS_1


"kalau begitu kita sudah sepakat, kita serahkan renovasi ini pada pak Mulyo" setelah istirahat sejenak dan rembungan mereka kembali bekerja lagi.


Menjelang makan siang, tugas para ibu-ibu Adalah menyiapkan makanan dan minuman untuk para bapak-bapak yang ikut dalam perenovasian mushola.


"bapak-bapak makanannya sudah siap ya" salah satu ibu-ibu berteriak memberitahukan makanan yang sudah siap untuk di santap.


"kita sudahi dulu bapak-bapak nanti setelah dhuhur kita kerjakan kembali" usul Sabrang lalu para bapak-bapak setuju dan langsung menuju ke arah tempat istirahat.


Di tengah-tengah asiknya menyantap makanan, salah seorang anak-anak berumur 10tahunan berlari ke arah Sabrang dengan tergesa-gesa.


"k-kang, anu kang anu" ucap anak tersebut dengan nafas terengah-engah.


"kamu tenang dulu Din" Sabrang menenangkan anak itu lalu memberinya segelas air.


"sekarang ceritakan" ucap Sabrang ketika anak itu sudah lebih tenang.


"anu kang, ada bapak-bapak yang ingin mencari kang Sabrang di depan gapura desa, tapi kang Asep dan yang lainnya mencegah bapak-bapak itu yang niatnya gak jelas untuk ketemu kang Sabrang" jelas anak yang bernama Udin.


"ciri-ciri bapak itu gimana Din ?" tanya Sabrang memegang kedua bahu Udin dan berjongkok.


"bapak-bapak saya tinggal dulu untuk menyelesaikan masalah, Din ayo antar kang Sabrang" ucap Sabrang tanpa membalikkan badan.


"ayo kang" lalu mereka berdua berjalan dengan tergesa-gesa.


Didepan gapura sendiri Asep, Rahman dan Subagio masih adu mulut dengan seorang bapak-bapak serta ke tiga anak buahnya, "jika alasan bapak-bapak tidak jelas, maka saya tidak akan mengijinkan bapak untuk masuk ke desa kami, benar gak kawan-kawan" ucap Rahman.


"dasar anak-anak bau kencur, beraninya menghalangi jalan kami" ucap seorang pria dengan tubuh tidak terlalu besar umurnya sekitar 30tahunan.


"kami disini di tugaskan untuk menjaga desa dari tamu yang tak di undang seperti kalian" ujar Rahman kembali yang kini tangannya sudah terkepal.


"kita ulur waktu, sebelum Udin ke sini bersama kang sabrang" bisik Asep pada Rahman.


"hei jangan main bisik-bisik tidak sopan" tegur seorang pria berbadan kurus yang tak ubahnya seperti pria tadi.

__ADS_1


"terserah kami dong mau apa, ya gak" Subagio kini bicara dengan raut wajah sedikit tersenyum.


"kalian...." seorang pria yang sudah tersulut emosinya di tahan oleh tangan yang sudah keriput dan sosok pria sekitar umur 50an berjalan ke depan.


"tujuan kita ke sini tidak untuk ribut dengan anak-anak bau kencur seperti mereka" ucap seorang pria dengan pakaian serba hitam dan blangkon yang melilit di kepalanya.


"tapi Ki mereka semua menghalangi jalan kita" sahut anak buah dari pria itu.


"biar aku yang bicara,.....nak jika kalian tidak minggir maka jangan salahkan kami jika kalian terjadi apa-apa...."


"coba bilang lagi, jangan salahkan siapa jika mereka terjadi apa-apa" potong Sabrang lalu berjalan mendekat ke arah pria yang memakai baju serba hitam itu.


"apa kamu kepala desa di sini, ternyata masih muda dan bau kencur berani-beraninya kamu menggagalkan rencana saya" ucap pria tersebut dengan angkuhnya.


"rencana yang mana ya, aku saja tidak kenal kamu wahai pria tua" balas Sabrang dengan tersenyum penuh arti.


mendengar ejekan Sabrang pria tersebut langsung marah dan menyuruh anak buahnya langsung menyerang, "lo-lo mau kemana toh, masih ada kami di sini" ucap Asep dengan tersenyum.


Lalu pertarungan terjadi antara anak buah pria itu dengan para siswa Sabrang, "aku tidak ada salah pada kalian kenapa, kalian mencari masalah denganku ?" Sabrang maju dan mendekat ke pria tersebut.


Entah kenapa pria itu ketika menatap mata Sabrang nyalinya menjadi ciut, "k-kamu...." lalu pria tersebut langsung mencabut kerisnya yang terselip di antara tubuhnya.


Melihat itu Sabrang langsung meloncat ke belakang, "Sun amatek ajiku waringin sungsang wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami" Sabrang merapalkan ajian Waringin sungsang laku kakinya di hentakan ke tanah.


Tiba-tiba angin langsung masuk kedalam tubu pria tadi, "ajian macam apa ini ?, anak bau kencur seperti dia bisa menguasai ajian yang seperti ini" ucap pria itu dengan terkejut dan meronta.


"sekarang kamu ingi tobat atau tidak, berhenti menyesatkan para manusia" ucap Sabrang lalu berjongkok dan menatap mata orang itu yang ternyata adalah seorang dukun.


"a-ampun, saya akan bertobat tolong lepaskan saya" ronta dukun itu yang telah ambruk ke tanah.


"wah-wah ada pertarungan aku gak di ajak" sahut Rendy yang tiba-tiba datang entah darimana.


"langsung saja bantu murid mu yang sedang bertarung di sana" balas Sabrang tanpa menengok.

__ADS_1


"sekarang pergilah jauh-jauh, kau sekarang sudah tidak memiliki ilmu apapun lagi dan jangan pernah coba-coba lagi datang dan mengusik ketenangan desaku" ucap Sabrang pada dukun tersebut.


Mendengar itu dukun tersebut langsung lari tunggang langgang karena tidak mau nyawanya sampai di ambil oleh Sabrang, tanpa Sabrang sadari Cakra juga membatu secara tidak langsung.


__ADS_2