
"Alhamdulillaah, kenyang"
"gimana nak tugas kamu ?, lancarkan ?" tanya pak Sanusi membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah lancar pak, Sabrang juga masih perlu belajar dan mengenal para warga dengan lebih dekat lagi" balas Sabrang dengan meminum lagi air putihnya.
"syukurlah bapak jadi tenang, jadilah pemimpin yang adil dan bijaksana dalam mengambil suatu tindakan, jangan hanya memikirkan ego dan hawa nafsu" nasehat pak Sanusi pada Sabrang.
"siap pak, kalo gitu Sabrang keliling desa dulu ya pak"
"hati-hati nak" lalu Sabrang dan Asep bersaliman pada pak Sanusi dan Bu Susi.
*****
"pagi yang cerah seperti senyumannya
bunga-bunga bermekaran nampak indah sekali
udara yang segar dan asri membuat pikiran tenang
duh Gusti sungguh indahnya ciptaan mu" Sabrang ber puitis sendiri sembari berjalan menikmati udara pagi hari yang sejuk dan segar.
"sungguh puitis sekali"
"hehe, walau tiap hari keliling desa tapi kang Sabrang gak pernah bosen" balas Sabrang dengan tersenyum.
"wajar saja sih kang, kan kepala desanya ramah, murah senyum, rendah hati pula" celetuk Asep.
baru saja di omongin seorang warga desa menyapa Sabrang dan Asep, "pagi mas kepala desa"
"pagi juga pak, mau kemana ni pak ?" balas Sabrang dengan ramah.
"ini mas, lagi mau ke ladang liat tanaman"
"semoga panennya bagus ya pak"
"amin mas makasih doanya" balas bapak tersebut lalu pamit.
"tuh kan baru saja di omongin" celetuk Asep yang cengengesan.
"gak juga tuh sep, ada satu yang ngeselin" balas Sabrang yang membuat Asep mengeryitkan dahinya.
"siapa kang ?"
"adalah yang pasti dia selalu bersama kita" balas Sabrang dengan santainya.
dengan berpikir keras Asep lalu menyahuti kata-kata Sabrang, "kang Rendy ?" ucap Asep yang membuat Sabrang terkaget-kaget.
"huft, jangan teriak juga kali ah" balas Sabrang yang di balas cengengesan oleh Asep.
"hihi"
"nah tu, tau...."
"ada yang lagi bicarain gw ya ?" sahut seseorang dari belakang.
"siapa ?" jawab Sabrang dan Asep kompak lalu memutar tubuhnya.
"loh rendy ?....kang Rendy ?" jawab Asep dan Sabrang secara serempak.
"kenapa gak suka ?" balas Rendy dengan tatapan tidak sedap.
"gak gitu Rend, gw cuma bercanda hehe"
"au ah ngambek gw" balas Rendy yang menyilangkan kedua tangannya dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"seh kayak cewek nih bocah" ujar Sabrang dengan sebelah mata berkedut.
'perasaan gw kok tiba-tiba gak enak ya ?' batin Sabrang.
melihat Sabrang yang lagi melamun membuat Asep berinisiatif untuk menepuk pundaknya, "kok ngelamun kang ?" ucap Asep yang membuat Sabrang tersadar dari lamunannya.
"eh enggak sep"
"Rend, daripada lu ngambek gak jelas mending lu ikut gw" lanjut Sabrang yang membuat Rendy bertanya-tanya.
"kemana ?"
"udah ikut aja" lalu mereka berjalan mengikuti langkah kaki Sabrang.
"ke mushola?" tanya Rendy saat Sabrang berhenti di depan mushola desa.
"hooh, kita sholat Dhuha" selesai mengambil air wudhu Sabrang langsung melaksanakan sholat Dhuha dua rakaat.
selesai sholat Dhuha Sabrang berzikir dengan khusuk, dan sukmanya keluar dari raganya, seperti biasa Cakra akan menemani Sabrang ketika di alam gaib.
"aku tau tentang firasat mu itu Raden, orang yang sedang kamu cintai sekarang lagi mengalami sakit parah di negeri sebrang, orang yang Raden cinta Sarah Anjani Bramasta bukan ?"
"kok tau ?, kamu dukun ya dulu nya ?" sahut Sabrang dengan terkejut.
"pala kau dukun, saya kan murid langsung dari kakek buyut Raden, jadi saya sudah pasti tau walau gak semua saya tau" balas Cakra buana dengan menghela nafas.
"hehe ya maaf, memangnya Sarah sakit apa ?" tanya Sabrang.
"bukan medis tapi gaib" jawab Cakra yang membuat Sabrang terdiam.
"Raden tenang saja, orang tua dari Sarah nanti akan ke sini menemui Raden untuk meminta bantuan, dan saat itu lah Raden berikan air yang berisi doa ayat 15" ucap Cakra yang membuat Sabrang merasa sedikit tenang.
"terimakasih Cakra terimakasih atas jawabanmu" lalu Sukma Sabrang kembali ke dalam raganya.
Asep dan Rendy yang melihat tubuh Sabrang tak bergerak sama sekali hanya mengeryitkan dahinya dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri.
"ayo kita ke padepokan" ajak Sabrang yang membuat Asep dan Rendy tersadar dari dimensinya.
"ayo"
*********
setelah sampai di padepokan tepatnya rumah almarhum kyai Suryo, mereka langsung duduk di teras, "o iya kenapa kalian gak sambung saja ?, aku pengen liat udah sampe mana kalian berkembang serasa kan kita latihan selalu bersama" ucap sabrang memulai pembicaraan.
"ide bagus aku setuju, kalo kamu gimana sep ?" jawab Rendy.
"Asep mah setuju aja, asal kang Rendy jangan keluarin semua jurus ya ?" balas Asep.
"deal ya sekarang kita ke halaman"
"mulai!" Asep dan Rendy beradu jurus.
Saat sedang enak-enaknya sambung mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah almarhum kyai Suryo, tin! Tin!.
sepasang suami istri keluar dan disusul sang sopir, melihat itu Sabrang langsung mengenali mereka, "pak Bram, bu Laras tumben" sapa Sabrang lalu menghampiri pak Bram dan Bu Laras.
"iya nak Sabrang, kedatangan kami kesini karena anak kami Sarah sedang sakit di sana" balas pak Bram dengan raut wajah seperti kurang tidur.
"mari masuk dulu pak" ajak Sabrang, lalu pak Bram dan Bu Laras mengikuti langkah Sabrang.
"duduk dulu pak,Bu tak buatin teh sebentar" ucap Sabrang yang mempersilahkan mereka untuk duduk.
Setelah selesai membuatkan dua cangkir teh Sabrang kembali ke ruang tengah, "diminum dulu, insyaallah saya akan membantu sebisa saya dari sini" ucap Sabrang yang mempersilahkan mereka untuk meminum teh buatannya.
"iya nak Sabrang terimakasih"
__ADS_1
"kalau boleh tau Sarah sakitnya gimana ya pak, Bu" ujar Sabrang lalu pak Bram menceritakannya.
"jadi gini nak, Sarah itu kata dokter sakitnya gak biasa soalnya di periksa itu baik-baik saja, tapi pas di cek tubuhnya itu panas sampe dokter pun bingung" jelas pak Bram lalu meminum teh nya.
"bentar ya pak" balas Sabrang lalu beranjak berdiri dan mengambil sebotol air lalu di bacakan ayat 15.
"ini pak, tolong di minum kan pada Sarah sedikit, taulah pak sisanya di apakan" ucap Sabrang yang telah kembali dan menyerahkan sebotol air.
"terimakasih nak Sabrang, bagaimana saya bisa membalasnya nak Sabrang saja di kasih uang juga gak mau nerima" sahut Bu Laras.
"gak usah pak,Bu lagi pula saya juga temannya Sarah, sudah sepantasnya saya membantu teman yang lagi kesusahan" balas Sabrang dengan tersenyum.
"temen apa temen" sahut Rendy saat memasuki rumah yang membuat Bu Laras dan pak Bram tertawa kecil.
"pak Bram dan Bu Laras istirahat dulu, gak mungkin pak Bram dan Bu Laras ingin berangkat dengan keadaan pucat begini" ucap Sabrang lalu menyuruh Asep untuk merapikan kamar.
"jadi merepotkan begini saya" ucap pak Bram dengan tertawa kecil.
setelah kamar di rapikan Asep mempersilahkan pak Bram dan Bu Laras untuk istirahat, entah kenapa Bu Laras dan pak Bram ketika memasuki kamar terasa sangat kantuk dan tertidur pulas.
Di teras Sabrang, Rendy, Asep dan pak Tio sedang mengobrol santai, "bisalah saya kalau libur ikut latihan silat di sini" canda pak Tio.
"ya datang aja ke sini pak, biar Rendy nanti yang latih dijamin nanti keluar desa langsung jadi jawara" kekeh Sabrang yang membuat suasana cair.
"tapi boleh gak bawa temen masa saya sendirian"
"ya boleh lah pak, kawan-kawan satpam juga boleh asal niatnya baik, kalau niatnya untuk sok jagoan jangan harap ilmu itu berkah" balas Sabrang.
"betul pak, karena nanti ilmu itu juga yang akan menjadi senjata makan tuan" sahut Rendy.
"siap lah kalau itu mah"
"ya udah untuk permulaan pak Tio belajar kuda-kuda dulu sama Rendy" balas Sabrang lalu menepuk pundak Rendy.
********
Adzan dhuhur berkumandang, pak Bram dan Bu Laras masih tertidur pulas, "hoam, jam berapa ini" gumam Bu Laras dengan menggeliat dan mengecek hpnya.
Saat melihat berita di hp nya mata Bu Laras terbelalak kaget, bukan karena tanpa sebab, pesawat yang akan mereka tumpangi tadi mengalami kecelakaan dan terjatuh di daerah perairan.
"pak-pak!, liat ini pak" ucap Bu Laras yang membangunkan suaminya.
"ada apa mah" balas pak Bram lalu membuka matanya.
"i-ini pah" ujar Bu Laras lalu menyerahkan hp yang berisi berita tadi.
"Alhamdulillah mah, kita masih di beri umur panjang oleh Allah kalau kita gak tertidur di sini mungkin kita sudah tidak ada lagi di dunia ini mah"
"iya pah, coba saja kita tadi tidak menerima tawaran nak Sabrang" ucap Bu Laras yang masih shock atas berita tadi.
*******
"gimana pak,buk tidurnya nyenyak gak" ucap Sabrang dengan tersenyum.
"nyenyak sekali nak, bahkan tidur kami menyelamatkan hidup kami" balas pak Bram lalu menunjukkan berita tadi.
"innalilahi, maksud bapak ini pesawat yang mau bapak dan ibu tumpangi nantinya?" ujar Sabrang lalu mengembalikan hp milik pak Bram.
"iya nak, kalau tidak karena kamu mungkin kami tidak akan bisa berjumpa dengan anak semata wayang kami" sahut Bu Laras.
"berterimakasih lah pada Allah, karena atas hendaknya bapak dan ibu masih diberi kesempatan untuk melihat anak ibu dan bapak" balas sabrang dengan tersenyum.
pak Sanusi dan Bu Susi yang sudah lebih tau kedatangan pak Bram dan Bu Laras langsung menyusul ke rumah Asep membawa rantang berisi makanan.
setelah sampai mereka makan bersama ber alasan daun pisang dengan menu seadanya, walau sederhana tapi mereka makan dengan lahap dan sangat menikmati.
__ADS_1
"sekali lagi kami terimakasih, kalau begitu kami pamit ke bandara"
"iya pak sampaikan salam saya dan keluarga" balas Sabrang lalu mobil pak Bram meninggalkan desa.