
setelah beristirahat semalam kamipun melanjutkan untuk mencari Bu Susi, tidak lupa sebelum berangkat pak Sanusi tidak bosan-bosannya mengingatkan mereka untuk berzikir.
setelah berkemas mereka mulai melanjutkan langkahnya, "bismillahirrahmanirrahim" ucap pak Sanusi lalu menebas dedaunan yang menggangu jalan.
"pak apakah masih jauh" tanya Sabrang sembari mengayunkan parangnya.
"tidak sebelum Zuhur kemungkinan kita sudah sampai di pohon itu, semoga saja perjalanan kali ini tidak terjadi apa-apa lagi" ucap pak Sanusi lalu kami mengaminkan.
*******
"assalamualaikum, pak ada bapak-bapak polisi yang kemari" ujar Ujang pada pak Kasim.
pak Kasim yang mendengar hal tersebut langsung beranjak berdiri, "ada apa ya pak, mari pak silahkan masuk" ucap pak Kasim pada bapak-bapak polisi yang bersama pak Bram dan keluarganya.
"iya pak terimakasih, jadi begini kedatangan kami kesini untuk mencari orang bernama sabrang"
"emangnya ada apa ya pak?" tanya pak Kasim.
"jadi begini pak kedatangan kami kesini untuk membantu keluarga Sabrang soalnya kami mendengar bahwa ibunya hilang, betul pak ?" ucap pak Bram yang maju dan bersalaman pada pak Kasim.
"iya pak memang ibunya Sabrang sekarang hilang, entah kalian percaya atau tidak hilangnya Bu Susi itu tidaklah wajar" jawab pak Kasim.
"maksud bapak ?" kini giliran Sarah yang bertanya.
"huh, mari ikut saya" ucap pak Kasim lalu berjalan didepan dan menuju ke rumah Sabrang.
setelah sampai di rumah Sabrang pak Kasim langsung menunjukkan bekas cakaran di pintu rumah Sabrang, "lihatlah jika memang ini hewan buas setidaknya ada bekas noda darah di sini, tapi lihatlah bahkan keadaan rumah masih sangat bersih dan rapih" ucap pak Kasim.
"jadi maksud bapak ?" ucap seorang polisi tersebut.
"iya memang ini diluar nalar manusia, tapi inilah kenyataannya jika bapak-bapak sekalian ingin pergi bersama ke hutan itu ayo kita sama-sama kesana" ucap pak Kasim.
"sebaiknya anak dan istri bapak di sini saja bersama ibu-ibu di sini,....kang Rahman kalian jaga desa ya" ucap pak Kasim lalu para warga desa laki-laki dan polisi serta pak Bram bersiap-siap untuk pergi ke hutan larangan.
*******
sementara itu Sabrang, Rendy, pak Sanusi dan pak Rohim masih berjalan, "sebentar lagi kita sampai kuatkan zikir kalian, kita tidak tau makhluk seperti apa yang menyambut kita nanti" ucap pak Sanusi.
"siap san kami akan terus berzikir" ucap pak Rohim.
__ADS_1
waktu sudah menunjukkan pukul 10:30 keringat sudah bercucuran di dahi pak Sanusi dan Sabrang, "sudah sab biar bapak lanjutin kamu istirahat dulu" ucap pak Sanusi lalu Sabrang memasukkan lagi parangnya.
"iya pak makasih"
walau sudah agak siang namun pencahayaan di hutan tersebut masih kurang, karena banyak pepohonan yang mengelilingi hutan tersebut sehingga sinar matahari sulit untuk masuk.
*******
"liat pak seperti bekas Sambaran petir dan pembakaran" ucap salah satu desa sembari menunjuk lokasi dimana pertempuran antara pasukan Buto dan panglima kidal.
"iya pak, jangan-jangan fenomena semalam ada kaitannya" ucap salah satu warga yang menimpalinya.
"mungkin"
"lapor Ndan sepertinya di sana ada bekas jalan yang baru saja di buka" ucap seorang polisi.
"iya kalian benar di sana juga masih ada sisa perapian"
*****
setelah melakukan perjalanan yang melelahkan akhirnya kami sampai di pohon beringin yang besar, "sudah berapa lama kita gak kesini san" ujar pak Rohim yang kagum saat melihat pohon beringin yang sangat besar.
"siapa kalian beraninya memasuki kawasan kami" ucap dua makhluk yang menggunakan baju zirah zaman dulu.
"gimana ni sab" bisik Rendy yang sedang mengumpat di belakang sabrang.
"tenang Rend ada Allah yang selalu melindungi kita, kita berdoa saja supaya kita dilindungi dari mahluk-mahluk yang terkutuk" ucap Sabrang yang masih tenang walaupun di dalam hatinya sudah berkecamuk ingin membebaskan ibunya.
'cu bersiaplah pintu gua akan terbuka'
"kita bersiap pintu gua akan terbuka sebentar lagi" ucap Sabrang lalu prajurit tersebut langsung menodongkan tombak yang di bawa.
"tidak semudah itu, wahai manusia"
swush
angin berhembus kencang lalu menampakkan sosok dengan baju seperti pangeran, "siapa yang lancang sekali menghalangi jalan Raden Arya!" ucapnya yang ternyata adalah Cakra buana.
"Raden hamba akan menahan mereka, jika pintu gua sudah terbuka langsung masuklah, tapi hati-hati di sana masih ada 2 mahluk yang menjaga ibumu" ucap Cakra buana lalu memanggil pedangnya.
__ADS_1
"ayo kita siap-siap tidak ada waktu lagi untuk menanyakan soal ini" ucap pak Sanusi yang bersamaan dengan terbukanya pintu gua.
setelah Sabrang dan lainnya masuk, Cakra buana langsung mengayunkan pedangnya ke arah dua makhluk itu, "mati saja kalian!" teriak Cakra yang mengayunkan pedangnya.
di sisi lain Sabrang, pak Sanusi, Rendy dan pak Rohim sudah memasuki gua, "siapa kalian wahai manusia" lalu kelelawar di sekitar gua membentuk sesosok makhluk yang mengerikan.
"kami hanya ingin menjemput seseorang yang telah kalian culik" ucap pak Sanusi lalu mencabut parangnya.
"hahaha tidak pantas mahluk seperti kalian menyerang ku"
"Rend mana air yang telah di doakan" ucap Sabrang yang meminta air yang telah di bacakan ayat 15.
"ah iya lupa tas yang berisi air itu tertinggal di luar gua" balas Rendy lalu menepuk jidatnya.
"ya sudah kita tenang saja serahkan saja semua pada Allah, kita gak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyerang makhluk terkutuk itu bagaimana pun manusia ada makhluk yang di ciptakan Allah dengan sempurna"
"apa kau yakin ?" tanya Rendy.
"jika aku gak yakin maka aku gak bakalan berbicara seperti itu, sudah saatnya kita menggunakan ilmu yang selama kita pelajari" jawab Sabrang lalu mencabut parangnya.
"hahaha menarik bagaimana jika aku bermain-main terlebih dulu dengan kalian" ucap makhluk tersebut lalu melayang ke arah mereka.
"lompatan harimau, tinju harimau" ucap Sabrang yang menghindari serangan sosok itu dan melayangkan pukulannya tepat di perutnya.
bruk
pukulan Sabrang membuat makhluk tersebut terpental dan menabrak dinding gua, "haha manusia ini kuat juga, baiklah aku juga tidak sungkan-sungkan lagi" ucap makhluk tersebut yang bangun dan melayangkan cakarannya.
sayangnya serangan itu tidak mengenai salah satu dari mereka, "kalian!".
disisi lain Cakra sudah menghabisi kedua prajurit tersebut, "sekarang tinggal kau bedowo" ucap Cakra yang menunjuk sosok hitam besar dengan pedangnya.
"jangan mimpi, bahkan manusia-manusia itu akan tewas di dalam sana"
"jangan mimpi juga jika mereka tewas karena ada sosok yang melindungi mereka" timpal Cakra dengan tersenyum sinis.
"bukankah kau yang melindungi anak itu" ucap bedowo.
"memang benar tapi aku bukan murni penjaganya, tapi aku hanya seorang pangeran yang telah di tolong dan berjanji untuk selalu melindungi keturunannya" jawab Cakra dengan tersenyum sinis.
__ADS_1