
Tak terasa waktu berlalu cepat, sudah satu bulan berlalu penyelesaian perenovasian mushola sekarang sudah 100persen siap untuk di gunakan.
sekarang para warga bisa beribadah dengan khusuk, apalagi di tambah kipas angin serta etalase untuk menaruh rukoh,sajadah maupun sarung, lalu di atasnya di taruh Al Quran, juz Ama serta iqro.
Alhamdulillah itu semua bantuan dari orang-orang yang meminta tolong pada Sabrang, karena sabrang tidak menerima pemberian apapun jadi orang-orang yang di tolong Sabrang menyumbang untuk perenovasian mushola.
Tentu saja Sabrang tidak menolak, mushola sudah bagus perekonomian warga desa juga mulai sejahtera bapak Rendy yang usahanya kian hari makin sibuk.
Perekonomian warga yang di dukung dengan kopi-kopian dan biji-bijian juga tidak kalah, setidaknya bisa memperbaiki ekonomi desa.
Melihat itu Sabrang juga senang, apalagi sekarang rumah yang di wasiatkan kyai Suryo sekarang di jadikan padepokan panca macan.
Entah kenapa tapi di otak Sabrang hanya terbesit nama itu, "Alhamdulillah, mushola desa sudah bagus warga-warga bisa semakin khusuk untuk menjalankan ibadah sholat" ucap pak Kasim.
"Alhamdulillah pak, ini semua atas berkat Allah SWT" sahut pak Sanusi.
"kebetulan usaha saya semakin semakin banyak yang memesan sapi, rencana saya besok akan membuat syukuran untuk para warga desa" ujar pak Rahman.
"saya ikut senang mendengarnya, kalau untuk syukuran saya setuju pasti para warga menyambutnya dengan baik" balas pak Sanusi dengan senang.
"betul itu, kita beritahu saja sekarang biar besok kita bersiap-siap" ujar pak Kasim.
Di sisi lain Sabrang dan Rendy serta ke tiga orang kepercayaan yang tidak lain adalah Asep dan kawannya, "gimana keamanan desa ?" tanya Sabrang.
"aman kang" jawab Asep dengan memperlihatkan deretan giginya.
"bagus-bagus, jika ada gerak gerik mencurigakan segera cegat dan beritahu kang Sabrang, jika mereka bermain kasar langsung saja kasih paham" balas Sabrang dengan senang.
"gw setuju dengan pendapat Sabrang, jika kami suatu saat tidak di desa kalian bertanggung jawab atas keamanan desa" rendy juga mengangkat pembicaraan.
"Yap betul, kalian harus bertanggung jawab apalagi ilmu kalian semakin hari semakin oke"
"untuk keamanan gaib gimana kang, kami setiap berjaga pasti ada saja seperti sepasang mata sedang mengawasi kami" ucap Rahman dengan mengusap-usap tengkuknya.
"tenang saja, kang Sabrang telah memasang pagar gaib jika kalian seperti di awasi berzikir saja"
__ADS_1
"kalian mau ikut kang Sabrang apa mau langsung ke pos ronda?"
"kayaknya kami langsung ke pos ronda aja kang, mau ngopi hehe" jawab Subagio.
"wouuu" Asep dan Rahman kompak meneriaki Subagio.
"kalau gitu kang Sabrang sama kang Rendy pergi dulu, assalamualaikum"
"waalaikumsalam kang" jawab mereka serempak.
********
"kita mau kemana sab ?" tanya Rendy yang melihat Sabrang tergesa-gesa.
"diam dulu" Sabrang mempercepat langkahnya untuk sampai ke padepokan.
Setelah membuka pintu, Sabrang langsung ke kamar almarhum kyai Suryo, "Rend ambilkan se baskom air dan garam" pinta Sabrang.
Tanpa menjawab Rendy langsung menyiapkan semuanya, setelah siapa Rendy langsung menaruh di depan Sabrang, setelah melarutkan garam dalam bas Kom air tersebut, mulai tampaklah seperti sekumpulan orang-orang berpakaian hitam dengan blangkon yang ada di kepala.
"siapa itu sab?" tanya Rendy dengan mengeryitkan keningnya.
******
"kita di sini untuk membahas perencanaan penyerangan, kepala desa Jatirejo sudah keterlaluan terus-menerus ikut campur untuk membantu, orang-orang kalau begini terus yang ada pemasukan kita akan berkurang"
"lalu kita harus gimana, serang secara gaib atau kita langsung datangi dan langsung ada ilmu ?" ujar seorang dukun.
"jangan gegabah, kalau kita langsung adu bukan sama saja menyerahkan nyawa aku dengar kepala desa Jatirejo memiliki murid dari luar desa dan hitungannya tidaklah sedikit" ujar seorang dukun yang satunya.
"serang secara gaib ?" tanya dukun yang lain.
"jangan, susah untuk menembus dinding gaib desa tersebut kecuali kita bekerjasama dan menyerang secara gaib dan langsung" saran dukun yang lain.
"aku setuju kita kerahkan semua pasukan dan anak buah kita"
__ADS_1
"lalu untuk kepala desa keparat itu ?"
"kita hajar secara bersama, setelah pasukan gaib kita menyerang"
******
"bagaimana ini, sab kalau mereka sampai menyerang desa bukan tidak mungkin kita akan tewas, apalagi ke lima dukun itu membawa pasukan yang pastinya tidak lah sedikit" ucap Rendy kalang kabut.
"tenang saja, masalah serangan gaib biar aku saja yang menanganinya, sisanya aku serahkan padamu dan lainnya"
"apa kita harus telfon pak Tio dan lainnya agar membantu kita" tanya Rendy.
"jangan, mereka pasti sibuk menjaga pak Bram dan lainnya" cegah Sabrang.
Semalaman Rendy dan Sabrang tidak tidur, hingga tengah malam datang akhirnya mereka bisa tidur dengan nyenyak hingga matahari pagi menunjukkan senyumannya.
Tok tok
"kang bangun kang, sudah pagi" ucap Asep membangun Sabrang dan Rendy.
"hoam, iya kang Sabrang bangun" sahut Sabrang lalu membangunkan rendy.
Setelah mandi bersiap-siap mereka keluar mencari udara segar, tentunya setelah makan,"kita gak kasih tau Asep?" bisik Rendy.
"jangan dulu" balas Sabrang.
"apanya yang jangan dulu kang ?"
"bukan apa-apa maksudnya jangan-jangan dulu, jangan lah di ganggu biarkan saja dia duduk dengan tenang, ya gak Rend" Sabrang menyikut rendy.
"eh i-iya"
"nahkan, sep kamu ke pos ronda ya jaga keamanan desa selagi desa mengadakan acara syukuran" pinta sabrang lalu Asep segera pamit menuju pos ronda.
"kenapa gak lu beritahu aja sih" ucap Rendy dengan geram.
__ADS_1
"sttt,itu tugas lu nanti, sekarang kita bantu bapak lu buat potong sapi untuk acara syukuran nanti" balas Sabrang.
"hampir ae lupa, okelah gas"