Keris Leluhur

Keris Leluhur
ch 45. memperkokoh pertahanan gaib


__ADS_3

Benturan antara tenaga dalam saling terdengar, bahkan suara itu sangat nyaring di telinga, sabrang yang tidak mau terus berkelanjutan dalam pertarungan gaib menggunakan ajian Waringin sungsang nya.


telapak tangan saling beradu dengan kekuatan gaib, satu persatu pasukan dari dukun-dukun itu tumbang satu persatu dan menjadi debu.


Namun itu belum usai masalah lain kembali, 5 dukun tersebut sudah datang ke desa seluruh murid dari padepokan panca macan.


Asep dan yang lainnya terkena luka dalam, para warga desa terkena sirep yang membuat mereka tidur untuk sementara, "Raden apakah kita harus meminta tolong pada kakek guru ?"


"tidak Cakra, kali ini kita harus bisa menghadapi masalah kita sendiri, tenang masih ada Allah SWT yang berada di samping kita" ujar Sabrang dengan tenang.


"hoi anak bau kencur" teriak salah satu dukun itu dengan membawa keris.


Brakk


Pintu padepokan terbuka Sabrang dan Cakra dengan bentuk manusia keluar, "aku disi kakek tua"


"kukira sudah sepuh ternyata masih anak-anak" sahut dukun yang lain dengan meludah ke tanah.


"lantas jika aku anak-anak maka kau ku sebut apa, kakek ? Cih aku tidak sudi menjadi cucu mu" balas Sabrang.


"rasakan ini anak muda" lalu dukun tersebut ber komat-kamit, membacakan mantra.


Seketika langit bergemuruh hebat, petir-petir saling bersahutan lalu akar panjang dari tanah muncul dan langsung melilit tubuh Sabrang dengan erat.


"Raden!" Cakra pun panik yang langsung mengeluarkan pusaka nya.

__ADS_1


"pusaka yang bagus, hoii bocah berikan pusaka itu padaku maka aku akan melepaskan semua orang-orang" ucap salah dukun tersebut.


"cuih ora sudi aku(tidak bersedia)" balas Cakra


Namun saat hampir menebas akar dari tubuh Sabrang, tiba-tiba tubuhnya di lapisi cahaya putih yang bersinar hingga membutakan mata siapa saja yang melihat.


Perlahan keris pagodan keluar dari pusar Sabrang, "ugh" Sabrang ambruk ke tanah namun langsung di tahan oleh Cakra.


"Raden"


"aku tidak apa-apa, meditasi sebentar juga sudah pulih" balas Sabrang yang menyeka darah dari mulutnya.


"Melukai raden, akan langsung menyusul ajalnya" lalu Cakra menggenggam erat pedangnya.


Keris pagodan yang masih melayang di udara langsung melesat ke arah dukun tersebut dengan cepat, klang!


Benturan antara keris pagoda dan keris para dukun membuat percikan api, "raga pembelah jiwa" Cakra langsung mengayunkan pedangnya ke arah dukun-dukun itu.


Namun saat serangannya hampir menyentuh leher dukun itu, dukun tersebut langsung menghilang meninggalkan jejak asap hitam.


"biarkan saja, lebih baik kita tolong teman-teman kita" ucap sabrang yang kini lukanya mulai pulih, dan keris pagodan juga telah kembali masuk ke tubuh sabrang.


'aku harus menguasai ajian yang ada' batin sabrang.


'tidak usah terburu-buru cu, terburu-buru adalah sifatnya syaiton' balas kakeknya lewat jalur gaib.

__ADS_1


"astagfirullah"


"ada apa raden ?" tanya cakra.


"tidak apa, kita langsung periksa keadaan semua orang tanpa terkecuali" lalu sabrang dan cakra memeriksa satu persatu muridnya dan menyembuhkannya.


Cakra mendapat tugas untuk menyadarkan semua warga desa yang terkena sirep, "ini ada apa kang, kok badan asep pegal-pegal" ucap asep sembari memegang kepalanya.


"kalian semua istirahat dulu di padepokan, biar ini menjadi tanggung jawab kang sabrang" balas Sabrang lalu mereka pergi ke padepokan.


"warga desa sudah sadar, selanjutnya kita harus bagaimana?"


"buat pagar baru, kali ini kita pakai bambu kuning yang di tanam di sekeliling desa" jawab sabrang lalu mereka langsung mencari bambu kuning.


Bambu kuning di percaya memiliki energi positif yang membuat makhluk halus enggan untuk ber dekat jika memaksa mereka akan terpental dan kesakitan.


setelah mendapatkan bambu kuning sabrang dan cakra mulai menanamnya di beberapa titik luar desa sebagai pagar gaib, setelah membaca password doa, seketika desa sabrang seperti tertupi oleh kubah berwarna emas.


"sudah selesai, semoga saja dapat menahan mahkluk gaib yang mencoba menyerang" gumam sabrang.


"semoga, kenapa tidak tugaskan mereka untuk menjaga desa ?" tanya cakra sembari menunjuk Wewe gombel dan kawan-kawannya.


"boleh juga kamu negosiasi, aku udah capek" lalu sabrang melenggang pergi meninggalkan cakra.


"dasar"

__ADS_1


__ADS_2