Keris Leluhur

Keris Leluhur
ch 27. pemakaman kyai Suryo dan permintaan Sabrang


__ADS_3

"kamu benar Sabrang" ucap pak Bram.


"kita tunggu para warga desa sekarang kita adakan yasinan di rumah kyai Suryo, biar para pemuda desa yang membuat kerandanya" di desa Sabrang memang tidak mempunyai keranda karena memang jarang sekali ada yang meninggal.


jika adapun para pemuda akan membuat keranda dari bambu, "aku setuju, tapi pak kita makamkan kapan kyai Suryo tidak mungkin kita memutuskannya secara sepihak bukan ?"


"nah makanya itu kita tunggu para warga desa dulu" jawab pak Kasim.


selang beberapa saat para warga sudah datang dan memenuhi rumah kyai Suryo, "kang Ujang tolong beli kain kafan ya" ucap pak Kasim yang memberikan beberapa lembar uang.


"maaf pak bukannya saya gak mau, t-tapi tau sendiri kan malam nya gimana jalanan sepi banget" ujar kang Ujang yang udah ngalamin hal-hal di luar nalar.


"kang Rahman tolong ya suruh para pemuda desa untuk membuat keranda secepatnya, untuk ibu-ibu di sini saja di rumah kyai Suryo melakukan yasinan bersama, untuk bapak-bapak kita segera buat bilik untuk memandikan mayat" ucap pak Kasim yang membagi tugas masing-masing.


"kang Ujang beli kafannya besok saja, saya tidak mau mengambil resiko" lanjut pak Kasim.


"iya pak sekali lagi saya minta maaf ya" balas kang Ujang.


"kamu yang sabar ya sep, kang Sabrang dan kang Rendy juga merasa terpukul atas kematian kyai Suryo, kamu belum makan kan ? itu tadi kang Sabrang bawakan makanan untuk Asep dimakan ya" ucap Sabrang yang mencoba menghibur Asep.


"iya kang bagaimanapun kyai Suryo sudah menganggap saya sebagai cucunya"


"nah kalau begitu Asep yang ikhlas ya denger sendiri kan tadi kyai Suryo pesan apa" ucap Sabrang lalu Asep hanya mengangguk.


"ya sudah sana makan dulu" ujar Rendy yang datang dan menghampiri Sabrang.

__ADS_1


"iya kang terimakasih banyak ya sudah baik sama Asep" jawab Asep lalu pergi untuk makan.


"kita sekarang harus mengganti tugas almarhum kyai Suryo untuk menjaga desa ini serta mengajarkan semua ilmunya pada anak-anak dan pemuda desa disini" bisik Sabrang pada Rendy.


"gw ikut aja soalnya ilmu gw masih di atas lu lagian gw juga percaya bahwa lu dapat mengemban amanah dari almarhum kyai Suryo daripada gw" jawab Rendy dengan mengacungkan jempolnya.


"makasih Rend"


malam berlalu para pemuda desa telah selesai membuat keranda dari bambu, tinggal menunggu penggalian liang lahat untuk memakamkan almarhum kyai Suryo.


karena para warga takut untuk menggali pada malam hari pak Kasim terpaksa menunda pemakaman hingga esok hari, pak Bram juga sudah kembali ke rumah pak Kasim.


kukuk


ayam pun berkokok pada pagi hari yang cerah, selepas sholat subuh para bapak-bapak memandikan mayat kyai Suryo sisa nya ke makam untuk menggali liang lahat untuk pemakaman nanti.


setelah semua di persiapkan para bapak-bapak mulai memandikan mayat kyai Suryo, setelah dimandikan jenazah kyai Suryo langsung di bungkus dengan kain kafan.


setelah itu jenazah kyai Suryo di bawa ke mushola untuk di lakukan sholat jenazah, Usholli 'ala hadzal mayyiti arba'a takbirotin fardho kifayatin.


setelah di sholat kan para warga langsung membawa jenazah kyai Suryo ke TPU luar desa untuk dilakukan proses pemakaman, setelah sampai Sabrang menyuruh Asep untuk turun dan mengumandangkan adzan ke telinga kyai Suryo.


saat mengumandangkan adzan bulir bening berjatuhan dari pipi Asep karena tak kuasa menahan air matanya, setelah di kebumikan dan berdoa para warga mulai kembali ke desa.


"udah sep kamu yang ikhlas ya, yuk kita pulang" dengan nafas berat Asep pulang ke desa bersama Sabrang.

__ADS_1


di depan gapura desa pak Bram telah bersiap untuk kembali ke kota, "Sabrang kami pamit ya maaf jika selama di sini kami selalu merepotkan kamu dan warga desa" ucap Bu Laras.


"gak kok malah kami semua warga desa senang kedatangan tamu" jawab Sabrang dengan tersenyum.


"sep kamu duluan ya kang Sabrang nanti nyusul" tanpa menyela ucapan Sabrang Asep langsung pergi ke rumah Kyai Suryo yang telah di berikan pada Asep.


"Sabrang aku pamit dulu, besok aku akan berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi di sana" ucap Sarah lalu memeluk Sabrang.


"iya sar kamu di sana hati-hati, jaga sholat juga aku cuma bisa memberikan mu ini" ucap Sabrang lalu merogoh kantong celananya.


"ini adalah tasbih yang sering aku gunakan untuk berzikir, aku berikan ini padamu" ucap Sabrang dengan menaruh tasbih kayu di tangan Sarah.


"terimakasih Sabrang, aku akan mengingat pesan mu" balas Sarah lalu memeluk Sabrang untuk sekian kalinya.


"pak Bram boleh aku minta tolong" ucap Sabrang dengan pelan.


"iya ada apa Sabrang, jika bapak mampu pasti bapak akan lakukan semaksimal mungkin" jawab pak Bram dengan tersenyum senang.


"gini pak desa kami kan belum terjamah listrik sama sekali, jika bapak berkenan apakah bapak mau menyalurkan listrik ke desa kami, jujur saja pak surat yang kami kirim ke bupati tidak di respon sama sekali" ucap Sabrang dengan pelan pada pak Bram.


"masalah itu jangan khawatir nak Sabrang terima beres saja, besok setalah saya mengantar Sarah ke bandara saya langsung ke sini menemui pak Kasim" jawab pak Bram dengan gembira.


"terimakasih pak, semoga usaha bapak semakin lancar dan berkah selalu"


"Amin makasih nak Sabrang, kalau begitu bapak pamit dulu"

__ADS_1


"iya pak hati-hati di jalan" jawab Sabrang lalu mobil pak Bram meninggalkan desa jati Rejo.


__ADS_2