
sore hari yang masih dalam suasana idul Fitri, Sabrang dan Asep berserta bapak ibunya telah setuju jika Asep tinggal bersama keluarga pak Sanusi
"ayo sab, ajak Asep ke makam kyai Suryo" ajak pak Sanusi pada Sabrang yang tengah duduk bersantai.
"ayo pak, sebentar ya Asep masih mandi katanya" balas Sabrang lalu masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
"mau kemana kang ?" tanya Asep saat selesai mandi.
"ke makam kyai Suryo, ayo ikut" balas Sabrang lalu Asep langsung antusias.
"ayo kang" setelah mereka bersiap-siap, dan menutup pintu rumah, keluarga pak Sanusi langsung berjalan keluar desa ke arah makam untuk ziarah ke makam kyai Suryo.
setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di makam luar desa, setelah membersihkan makam Sabrang menaburkan bunga di atas makam.
setelah menuangkan air yang di bawa, pak Sanusi memimpin doa untuk kyai Suryo, setelah selesai berdoa Sabrang memegang nisan kyai Suryo.
"kyai, sekarang Asep sudah menjadi tanggung jawab Sabrang dan keluarga, insyaallah rumah kyai akan kami gunakan sebagai padepokan, kyai Sabrang minta restu dan berkah kyai"
setelah selesai giliran Asep yang memegang nisan kyai Suryo, "kyai tenang saja, Asep makan teratur dan juga berlatih dengan giat, Asep juga akan selalu mengingat pesan dan nasehat kyai Suryo, kyai kami pamit dulu ya" ucap Asep sembari meneteskan air matanya.
"sudah sep" ucap Sabrang yang mengelus-elus pundak Asep.
"iya kang, makasih ya sudah menganggap Asep sebagai keluarga kang Sabrang" balas Asep sambil mengusap air matanya.
"ngomong apaan sih kamu tuh sep, kita kan keluarga"
"sudah-sudah ayo kita pulang gak baik lama-lama di makam" ujar pak Sanusi lalu kami semua pulang.
setelah sampai di rumah Sabrang mandi lalu memakai sarung dan baju Koko serta sorban yang melingkar di pundaknya, "wih kang Sabrang kalau pakai sarung, dan sorban yang melingkar terlihat sangat berwibawa dan bijaksana" ucap Asep yang melihat penampilan Sabrang.
"maca cih, ayo ke mushola" balas Sabrang lalu pamit pada orang tuanya untuk duluan ke mushola.
setelah sampai di mushola Sabrang langsung mengambil air wudhu dan menggelar sajadah setelah itu Sabrang duduk bersila dan memejamkan matanya serta mengeluarkan tasbihnya untuk berzikir.
******
"bangun kang sebentar lagi magrib" ucap Asep yang membuat Sabrang membuka matanya.
setelah masuk waktu magrib Asep mengumandangkan adzan, setelah adzan magrib dikumandangkan para warga langsung memenuhi mushola untuk sholat magrib berjamaah.
"ayo sab di imam mi" ucap pak Sanusi yang mempersilahkan Sabrang maju ke tempat imam.
"aku lagi pak ?"
"iya dong penampilan kayak gitu kok makmum" kekeh pak Sanusi.
"Allahuakbar" takbiratul ihram di awali mulainya sholat magrib.
__ADS_1
"assalamualaikum warahmatullah" Sabrang mengakhiri sholat dengan salam.
setelah bersalam-salaman, Sabrang kembali di posisinya dan memimpin untuk doa dan zikir, setelah selesai pak Sanusi mengisi pengajian.
"bapak-bapak sekalian saya tinggal dulu ya" ucap Sabrang lalu berdiri dan keluar mushola menuju rumah almarhum kyai Suryo.
tanpa di sadari, Rendy dan lainnya mengikuti langkah Sabrang, merasa ada yang mengikutinya Sabrang membalikkan badannya, "rawrrr" Rendy memasang wajah menyeramkan untuk mengagetkan Sabrang.
"e Wak wau, ah elah ngagetin aja" ucap Sabrang yang terperanjat kaget.
"hehe"
"nyengir lu, kok kalian gak pulang ?, malah ngikutin kang Sabrang ?" Sabrang bertanya pada mereka.
"gimana sih kang, jatah latihan kita kan di pindah malam, kang Sabrang lupa ya" ucap Rahman yang menggoda Sabrang.
"astagfirullah hampir saja lupa, ya udah ayo" lalu mereka berjalan bersama.
setelah sampai Sabrang menyalakan lampu rumah almarhum kyai Suryo, "kang Sabrang amati kalian di teras".
"ngokey kang" balas mereka dengan serempak.
Sabrang duduk di teras dengan mata terpejam dengan hati yang masih berzikir, "assalamualaikum Raden" ucap Cakra buana yang tiba-tiba datang.
"eh tumben salam, biasa datang tak di undang pulang tak diantar" kekeh Sabrang.
"aduh kayak anak kecil saja" beberapa saat setelah itu mobil sedan hitam memasuki halaman rumah.
keluar lah sosok bapak-bapak dengan tergesa-gesa bersama seorang perempuan dan anak kecil yang di gendong sang perempuan itu.
"apakah benar ini yang namanya mas Sabrang kepala desa di sini" ucap bapak-bapak tersebut lalu bersalaman pada Sabrang.
"betul pak, ada yang bisa saya bantu ?"
"iya mas, anak saya ini sakit panas gak sembuh-sembuh mas" jawab bapak tersebut dengan tatapan mata sendu.
"sekarang gini, pintu mobil bapak di tutup dulu" balas Sabrang dengan tersenyum, setelah menutup pintu mobilnya pria itu kembali lagi.
"sekarang bapak ceritakan apa yang terjadi,....sep tolong buatkan minuman tiga ya ?" pinta Sabrang lalu Asep langsung menuju ke dapur.
"jadi gini mas, anak saya itu sudah lama sakit panas gak sembuh-sembuh, kami sudah membawanya di rumah sakit manapun dan hasilnya sama saja mas katanya tidak ada apa-apa, kami juga pernah membawanya ke seorang kyai tapi kyai tersebut juga tidak mampu mas, tapi kyai tersebut mengatakan bahwa yang mampu untuk menyembuhkan anak saya adalah seorang bernama sabrang seorang kepala desa jati Rejo" ucap pria itu.
"begitu ya, insyaallah saya akan berusaha tapi yang menyembuhkan adalah Allah saya hanya perantara" balas Sabrang lalu mulai membaca ayat 15.
anak yang di gendongan perempuan itu tiba-tiba, melotot dan melompat ke meja dan menatap Sabrang dengan tajam, "ini tubuhku!, tidak ada seorang pun yang dapat menggangu ku!" anak itu meronta.
"pegang dengan kuat" perintah Sabrang lalu memfokuskan lagi untuk membaca ayat 15.
__ADS_1
bugh
karena anak itu telah di masuki jin maka tenaganya lebih besar daripada manusia biasa, "kau keluar apa aku yang memaksamu keluar" ucap Sabrang dengan menatap tajam ke arah makhluk itu.
'cakra sekarang kau lumpuhkan makhluk itu' pinta Sabrang melalui telepati.
"dasar mahluk biadab, kau akan merasakan akibatnya" ucap Cakra yang sudah datang dan mengeluarkan paksa jin itu dari tubuh anak itu.
"kalau boleh tau siapa nama anak bapak ?" tanya Sabrang yang melihat anak dari bapak itu tergeletak lemas.
"Arini Astuti" jawab bapak itu.
"baiklah bapak tunggu dulu, dan jaga tubuh saya jika ada apa-apa jangan di apa-apakan bapak diam saja" balas Sabrang lalu memejamkan matanya dan menerawang nama anak itu.
'dasar Manusia serakah, hanya karena harta kau rela mengorbankan keponakannya' batin Sabrang.
Sabrang duduk bersila dan melakukan Rogo Sukmo untuk mengambil jiwa Arini yang telah di jadikan budak oleh seorang dukun.
"Cakra habisi dukun itu, aku akan membawa jiwa Arini kembali ke tubuhnya" ucap Sabrang melalui telepati.
setelah Cakra datang, Cakra langsung mengobrak-abrik tempat dukun itu melakukan prakteknya, "kita kembali" ucap Sabrang yang telah mendapatkan jiwa Arini.
setelah kembali ke raga nya jiwa Arini berterimakasih pada Sabrang, "terimakasih kak" lalu jiwa itu langsung masuk kedalam tubuh Arini.
"ibu dan bapak tenang saja, insyaallah anak bapak akan baik-baik saja, saran saya bapak lakukanlah acara syukuran untuk yatim piatu dan kaum duafa"
"iya mas terimakasih banyak"
"sebenarnya Arini sakit apa mas" tanya perempuan itu yang tidak lain adalah ibu Arini.
"bukan sakit tapi Arini di tumbalkan, kalau bapak mau tau ungkap sendiri siapa pelakunya yang pasti dia masih saudara bapak, karena kita bicarakan hal mistis tidak akan masuk di akal" balas Sabrang yang tidak mau menimbulkan fitnah.
"apa paman ya pah ?, kan akhir-akhir ini dia sering ke rumah kita" bisik istri bapak tersebut.
"hust, ga boleh ngomong gitu, kita berdoa aja supaya siapa pelakunya bisa terungkap" mendengar perkataan itu Sabrang hanya tersenyum.
"silahkan di minum pak, buk maaf hanya teh saja" ujar Sabrang yang menengahi situasi.
"iya mas makasih, ini ada bingkisan dari kami mohon di terima ya Mas" balas bapak itu lalu mengeluarkan amplop coklat.
"gak usah pak, saya ikhlas kok menolong bapak" tolak Sabrang.
"tapi mas..."
"jika bapak memaksa, uang itu bapak gunakan untuk menyantuni anak yatim-piatu dan orang-orang duafa, sering-seringlah bersedekah, insyaallah bapak dan sekeluarga hidupnya akan berkah" potong Sabrang lalu bapak tersebut memasukkan kembali amplop nya.
"kalau begitu kami pamit dulu ya mas, terimakasih banyak atas bantuan mas Sabrang" balas bapak itu lalu bersalaman pada Sabrang dan menuju mobilnya.
__ADS_1