
tanpa di bayangkan seseorang mulai tertarik dengan sosok Sekar yang memang selama ini terkenal baik hati.
bagaimana tidak, gadis itu sangat membuatnya tertarik saat ini, dia bahkan merasa bodoh karena selama ini tak sadar ada gadis yang begitu menarik di sekitarnya.
"kamu ini sebenarnya kelihatan apa, bagaimana bisa tak menyadari ada gadis cantik, dan sekarang kamu merasa menyesal, telat sekali," gumamnya berdiri di depan foto yang berukuran besar.
bahkan di depannya tertata semua jenis sesaji bahkan ada kepala seekor kambing yang di taruh di atas tampah.
tentu tak lupa dengan bunga tujuh rupa dan dupa yang di nyalakan, "buat dia melihat ku, dan singkirkan siapapun yang ingin menghalangi mu, mengerti.." perintah pria itu pada sosok yang selama ini membantunya.
sosok besar berwarna hitam itu mengangguk dan kemudian pergi, di sisi lain zaka sedang sholat malam.
tadi dia merasa kasihan karena istrinya itu terlalu lelah, itulah kenapa dia memilih sholat sendiri.
sosok hitam itu berdiri tepat di gapura desa, sambil menyeringai menunjukkan gigi taring berukuran besar.
tak hanya itu, kuku tajam itu menyentuh tanah dan mata besar merah menyala semakin memberikan bayangan yang mengerikan.
tapi sosok itu terkejut saat melihat ada rombongan dari pengantar jenazah.
bahkan kali ini pimpinan rombongan itu seorang kakek tua membawa lentera di tangannya yang keriput dengan jari tangan panjang.
__ADS_1
bahkan cara berjalan sosok tua itu begitu kesulitan dengan tetesan darah mengucur deras dari mulut sosok kakek itu.
dan ternyata ada rantai yang mengikat kakek itu dengan sebuah bola besi sebagai pemberat.
"minggir...." lirih kakek itu yang ingin lewat bersama rombongan dari pemanggul Jenazah.
Zaka pun membuka matanya, saat dia merasa ada yang tak beres, tapi dia hanya bisa berdzikir.
setelah beberapa saat, suasana mencekam itu berangsur menghilang karena seekor ayam berkokok.
Sekar terbangun karena tak merasakan kehadiran dari suaminya.
"mas..."
tanpa terduga, Sekar langsung memeluk suaminya dengan manja, "aku mau makan kamu,"
"apa kamu tega makan aku sayang," kata zaka tersenyum mengusap pipi istrinya.
"mas..."
melihat istrinya yang begitu manja, akhirnya zaka dan Sekar pun melakukan olahraga malam dan kemudian tidur karena kelelahan.
__ADS_1
keesokan harinya, hujan gerimis menguyur desa, zaka bangun dan sudah tak mendapati istrinya di sampingnya.
dia langsung bangun dan langsung ke dapur, dan melihat istrinya sedang memasak.
"kenapa kamu bangun, ini hari Minggu kita malas-malasan yuk," ajak zaka.
"aduh mas, tadi ada siaran kematian lagi, aku sedang menunggu mas untuk mengajak mu melayat," kata Sekar
"baiklah, aku mandi dulu dan sholat, setelah itu kita berangkat ya, tapi siapa yang meninggal dunia," tanya zaka.
"itu adalah pak Sukoco yang rumahnya tak jauh dari rumah kita,"
"baiklah, sayang aku mandi dulu tapi tolong buatkan roti isi ya, setidaknya aku tak kelaparan nanti," kata zaka yang langsung di beri suapan roti oleh Sekar.
sedang di rumah Mbah Tejo, pria itu sedang duduk di teras bersama pak Junaidi yang sedang menikmati singkong hangat.
keduanya kaget saat melihat zaka dan Sekar yang datang dengan mengunakan payung.
"mau kemana?" panggil pak Junaidi.
"loh ayah dan Mbah masih di rumah, tak ke rumah pak Sukoco untuk melayat," tanya Sekar bingung.
__ADS_1
"untuk apa,dia itu punya paguyuban tersendiri, tadi Mbah sudah dari sana dan para anggota paguyuban itu melarang kami mengurus jenazah, jadi kami pulang toh tak ada faedahnya juga," kata Mbah Tejo santai.