
Pria itu sedang kesal, karena dia gagal mendapatkan daging, karena keburu di temukan oleh warga.
dia tak menyangka akan ketahuan secepat ini, terlebih dia sudah sebisa mungkin menyembunyikan semuanya tapi tetap saja ini terlalu aneh.
lurah Sigit yang mendapatkan laporan tentang penemuan mayat pun merasa kesal.
pasalnya polisi pasti akan melakukan otopsi dan memastikan penyebab kematian korban.
dia pun tak mengira jika Gondo salah perhitungan, ya karena hal itu akan sedikit membuatnya repot.
tapi untungnya dia kenal kepala bagian kriminal dan akan membuat seluruhnya beres dengan mudah.
Sekar sedang duduk di teras rumah, saat lurah Sigit ini lewat di depan rumah Mak Ijah.
tentu pria itu sempat menghentikan langkahnya untuk melihat wanita muda nan cantik itu, di tambah sekarang status wanita itu sudah janda juga.
saat pria itu ingin menghampiri Sekar yang sedang sendiri, tiba-tiba muncul sosok seorang gadis yang selama ini terkenal pendiam dan ramah, yaitu Lina.
Tapi anehnya, gadis itu langsung lari dan merangkul lengan lurah Sigit tanpa malu.
__ADS_1
"apa ini!" kaget pria itu yang sudah memberikan kode untuk menjaga sikap selama mereka di luar rumah.
sedang Sekar melihat pertengkaran itu, dan dia merasa merinding melihat sosok Lina yang begitu mengerikan
bagaimana tidak, dia sudah mendapatkan kembali indera keenamnya, entahlah kenapa kembali setelah kehilangan anaknya.
"kenapa kamu kesini, dan kenapa kamu begitu gatal?" tanya pak Susno.
"kebepa sih, aku hanya ingin menunjukkan cintaku pada orang itu, benar kan pak lurah," kata Lina
"jangan seperti itu, selama kamu bukan istriku,aku tak bisa menerima sikap mu yang begitu menggelikan," kata lurah Sigit yang mencoba menjaga wibawanya.
Lurah Sigit melotot tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh gadis pendiam itu, seolah tak bisa menahan diri saja.
Lina sudah pergi meninggalkan rombongan itu, lurah Sigit juga kehilangan Sekar, entahlah gadis itu begitu cepat menghilang
Polisi mendapat semua kesaksian para pria yang terakhir bersama didik, dan pak Warto yang akdn menjaga anak dari pria itu yang sekarang jadi sebatang kara.
Pak Junaidi pulang setelah pukul empat sore, dia langsung mandi dan setelah itu beristirahat.
__ADS_1
Rudi masuk kedalam kamar milik ayahnya, ternyata semua buku dan benda milik sang kakek ada di ruangan itu.
"ayah kenapa, sepertinya ada masalah berat begitu?"
"bagaimana tak berat,orang yang ayah ajak untuk keliling desa malah harus mati dengan sangat buruk, bahkan polisi saja bingung dengan cara kematian yang terjadi,karena luka tak di potong dengan baik, seperti orang yang buru-buru,"
"sudahlah ayah,lebih baik istirahat karena wajah ayah juga sangat pucat karena kelelahan," kata Rudi.
Sekar sedang membantu Mak Ijah menyiapkan makan malam, bahkan wanita itu sudah mulai lupa kesedihannya.
Tak butuh waktu lama masakan selesai, dan Sekar memanggil ayah dan adiknya.
Pak Junaidi tampak lebih segar karena pria itu baru tidur tiga jam.
untungnya siang ini tak ada panggilan untuk memandikan baik Mak Ijah atau pak Junaidi.
di sebuah rumah,seorang pria sedang kesakitan karena di hajar dengan rotan.
"aku tak gila!!" teriak pria itu terus menerus memohon hingga akhirnya dia pingsan karena kesakitan, entah sampai kapan dia harus merasakan kesakitan itu
__ADS_1