
hati berganti bulan, tak terasa sudah setengah tahun berlalu, zaka sudah tak pernah menghampiri Sekar dan keluarganya.
Begitupun keluarga dari pak Junaidi ini tak berhubungan lagi dengan keluarga ustadz Abdullah.
Setelah apa yang terjadi mereka semua kini menjadi sangat jauh, dan yang mengejutkan adalah sosok Sekar yang saat ini benar-benar sangat berbeda.
Pasalnya wanita itu kini menjadi pewaris dari ilmu yang dulu di miliki oleh Mbah Tejo.
Ya meskipun begitu, sejar tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Bahkan dia juga aktif dalam semua kegiatan yang berhubungan dengan semua kegiatan masjid.
Seperti hari ini, mereka sedang bersiap untuk mengikuti acara kamisan tapi kali ini di adakan di tempat masjid milik pondok dari keluarga ustadz Abdullah.
"jadi mbak Sekar tak ikut, padahal kamu dan Nur yang selama ini menjadi penuntun kami yang sepuh ini," kata Mak Romlah.
"iya nduk, ikut ya," mohon satu wanita sepuh lagi.
__ADS_1
"baiklah saya ikut, nanti tolong jangan berpencar ya, dan ingat hijab yang saya pakai berwarna putih ya," kata Sekar yang tak bisa menolak.
"iya nduk," jawab para wanita sepuh itu dengan semangat.
Sekar mengambil tas kecil miliknya, dan tak hanya itu mereka juga langsung berangkat dengan mengunakan sepur kelinci.
Nur tau jika sejar pasti keberatan untuk ikut karena dia harus ingat semua yang sudah terjadi
terlebih mantan Suaminya mungkin sudah menikah lagi, karena bagi keluarga suaminya hubungan antara teman yang bisa membawa keuntungan besar pun sangat di utamakan
kereta kelinci sampai di area pondok yang ternyata sudah cukup luas, Sekar mengangkat bendera berwarna pink sesuai dengan slayer para ibu-ibu pengajian di tempatnya.
ya rombongan mereka ini sangat mencolok karna penampilan Sekar yang mengenakan masker dan kacamata.
di tambah dia satu-satunya yang tak mengunakan seragam tapi dia mengunakan jubah lebar dan jilbab syar'i yang juga sangat lebar.
"semuanya silahkan duduk ya,dan tolong yang nyaman ya ibu," kata Sekar yang kemudian duduk di samping neneknya.
__ADS_1
Mak Ijah memeluk Sekar yang tiba-tiba sangat sedih,bahkan terdengar lirih terisak, "yang kuat nduk, masak cucu Mbah Tejo lemah begini?" bisik Mak Ijah yang bisa menebak isi hati cucunya.
"bukan begitu Mak, aku tak mengerti karena hatiku sangat rumit saat ini,entahlah aku tidak mengerti dengan diriku sendiri,"
"kamu bilang mau melupakan masa lalu ku, kenapa sekarang menangis lagi,"
"tapi aku harus bagaimana lagi, aku sudah sangat berusahalah tapi hatiku Mak... Hatiku..." lirih Sekar yang tak memungkirinya.
akhirnya acara pagi itu di mulai, dengan pimpinan tahlil dan Yasin dari regu rombongan Sekar.
dan karena tak ada yang mau terpaksa Sekar yang maju dengan menguatkan diri, setelah itu dia harus tetap tenang.
Terlihat umi Salamah sudah melihat dirinya, dan Sekar menutup dirinyalah dengan Al-Qur'an kecil yang dulu menjadi hadiah dari suaminya itu
acara berlanjut dengan ceramah yang di pimpin oleh Harun sebagai ustadz di tempat itu.
"dan sekarang kami ada kabar bahagia ibu, insyaallah salah satu putra kami akan menikah, dan mohon doanya, dan ini dia," kata umi Salamah yang berada di atas panggung saat itu.
__ADS_1
ternyata yang naik Zaka di ikuti Yusuf adiknya yang paling kecil, pemuda itu tak kalah tampan dengan kakak-kakaknya.