
sebelumnya saya mau minta maaf, ternyata saya salah pakai nama ya, seharusnya Zaka jadi Azam.
maklum saya lagi kepikiran dengan salah satu novel yang ada di judul lain, maaf ya...🤭🤭🙏🙏
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
pak Junaidi syok melihat hal itu, terlebih Zaka yang tak pernah terdengar sakit.
"nak kamu kenapa, ya Allah..." panik pak Junaidi.
"saya tak tau pak, tolong antar saya ke rumah Abi, karena saya harus bertemu Abi untuk tau penyakit ini, karena ini bukan penyakit biasa," kata zaka yang memegangi dadanya.
pak Junaidi segera mengambil sepeda motornya dan bergegas mengantarkan zaka pulang.
sesampainya di depan rumah orang tua zaka, ternyata ustadz Abdullah sudah menunggu putranya itu.
"kamu terlalu lengah, dan besan tolong bilang pada nak Sekar, suaminya akan berada di sini untuk beberapa hari," kata ustadz Abdullah.
"baiklah, biar Sekar aku yang jaga dan tolong selamatkan menantu ya," kata pak Junaidi yang harus segera pulang.
karena pria itu takut jika Sekar terbangun dan tak menemukan semua orang, setelah beberapa ternyata rumah masih tampak sepi.
ustadz Abdullah mulai melakukan pengobatan secara islami, karena dia tau jika putranya itu di ganggu barang yang tak biasa.
di dalam sebuah rumah, seorang pria tersenyum menang, dia tak menyangka mengirimkan sedikit saja sudah membuat kepanikan.
tapi tentunya dia tak akan membunuh zaka sekarang karena dia juga punya kasihan
keesokan harinya, semua warga bergotong royong untuk memasak tujuh harian dari Mbah Tejo.
ya tak terasa hari terakhir pengajian itu akan segera selesai, Mak Ijah juga perlahan sudah mulai ikhlas dan Sekar juga fokus menemani neneknya.
__ADS_1
dia juga sudah rindu suaminya itu tapi dengan pesan zaka yang harus bekerja ke luar kota secara mendadak.
itu membuat Sekar percaya begitu saja, karena dia tak ingin melukai sosok istrinya.
"ayah, ini uang yang nanti di taruh di berkat tahlilan, mau bapak simpan?" tanya Sekar yang tampak sedih.
"kamu saja nduk, dan lagi jangan sedih begitu, kamu sepertinya begitu sedih karena suami mu ya, tenang saja ayah yakin jika dia memang masih sibuk,"
"aku tau ayah, tapi Sekar merasa tak di anggap karena mas Zaka pergi tanpa pamit dan pamitnya hanya telpon padahal jika dia mau, dia bisa membangunkan ku saat itu," kata Sekar sedih
"sudah nak, dia tak mau menganggu mu karena mungkin dia tak mau menganggu mu yang sedang beristirahat," kata pak Junaidi.
"mungkin ya yah, ya sudah aku akan menyimpan ini dulu, dan mau menyuapi Mak dulu, karena mak baru mau makan," kata Sekar.
malam itu ternyata pak lurah datang membagikan sarung juga pada semua orang.
seluruh warga senang dan keluarga Mbah Tejo juga tak menyangka pak lurah sebaik ini.
bagaimana tidak, pria itu meninggal dunia di tempat Terpencil dan tak ada satu pun saksi mata yang memberikan sedikit petunjuk.
akhirnya tujuh harian selesai, dan sekarang Sekar kembali tinggal di rumah neneknya.
karena tak mungkin wanita itu pulang ke rumahnya, siang ini Sekar sedang membuat kue kesukaan umi mertuanya.
dan tanpa memberitahu pak Junaidi, Sekar ingin mengantarnya sendiri di temani Rudi adiknya.
"Mak kami berdua pergi dulu ya sebentar, mbak Nur titip Mak Ijah ya, saya sebentar saja kok untuk mengantar kue ini,"
"iya Sekar, Rudi jaga mbak mu ya," kata Nur yang sebenarnya khawatir tapi Sekar tetap saja tak bisa melarangnya.
saat sampai di rumah mertuanya,Sekar melihat banyak orang yang ada di sana berpakaian putih.
__ADS_1
mereka semua seperti sedang melakukan pesta atau pun pengajian tapi Sekar tak tau.
saat langkah kakinya mendekat ke arah kerumunan orang yang berkumpul di tengah.
dia melihat sesosok pria yang dia kenal sedang melakukan ijab qobul, langkah kaki Sekar makin melemah saat itu.
untungnya Rudi menahan tubuh kakaknya, "sebelum menikahinya,lebih baik ceraikan istri mu ini dulu!!" suara Sekar mengejutkan semua orang.
Zaka yang sedari tadi sudah menyadari kedatangan istrinya pun tak bisa menoleh.
karena ini tidak seperti yang terlihat, karena dia terpaksa harus melakukan ini.
ustadz Abdullah pun meyakinkan putranya itu, Zaha menghapus air matanya kemudian berbalik.
"aku Zakaria, menalak dan mengharamkan diri ku untuk mu Sekar Maharani binti Junaidi,"
plak.
semua orang terkejut karena Sekar menampar pria itu, dan tiba-tiba wanita itu terjatuh lemas.
"sakit...." suara erangan Sekar memegangi perutnya.
Zaka ingat jika istrinya itu sedang hamil dan di rahasiakan, umi Salamah lari dari dalam rumah karena wanita itu tak setuju dengan acara yang di usulkan oleh pria biadab itu.
ya dia itu adalah ayah dari Salwa, mantan kekasih yang dulu menghina Zaka dan sekarang datang bak penolong tapi sebenarnya penghancur.
"cepat bawa dia ke rumah sakit,aku tak mau kehilangan menantuku dan calon cucu pertama ku!!" teriak umi Salamah yang membuat semua orang kaget
"sakit...." lirih Sekar.
Zaka pun menguatkan dirinya, meski terasa ribuan jarum menusuk tubuhnya saat menyentuh Sekar.
__ADS_1