Kisah Ibu Pemandi Jenazah

Kisah Ibu Pemandi Jenazah
pilihan lurah


__ADS_3

Kematian dari lurah Sigit membuat desa kehilangan sosok pemimpin, jadi akan di adakan pemilihan lurah baru.


sedang di rumah milik Mak Ijah, terlihat Sekar, Rudi dan pak Junaidi sedang berkumpul sambil berbincang.


"wah sepertinya ayah akan mencalonkan diri menjadi lurah," kata Rudi yang bercanda.


"aku tak mau, itu menyusahkan, lebih baik aku mengurus sawa dan membantu Sekar mengurus usahanya saja, itu cukup," kata pak Junaidi


"benarkah itu ayah?" tanya Sekar dengan nada bercanda.


Dia hanya mengangguk sambil tersenyum, akhirnya kendaraan mobil yang akan mengambil semua hasil kerajinan tangan dari putrinya itu di ambil.


Setelah di bayar, Sekar mulai menata dan membayar sesuai dengan hasil mereka setor kerajinan.


Mak Ijah sekarang merasa tenang, karena hal buruk sudah berlalu, dan sekarang tinggal mencari pemimpin desa yang baik dan benar.


Tapi tanpa di duga, rombongan dari bapak-bapak ini datang, "assalamualaikum..."


"wa'alaikumussalam..." jawab keempat orang itu yang melihat rombongan dari para pria itu.


"Monggo Monggo..."kata Mak Ijah yang mempersilahkan.


"inggeh Mak terima kasih,"


"nduk tolong buatkan minuman dulu dan Rudi bantu mbak mu," kata pak Junaidi.


"inggeh yah,"


"aduh jangan repot-repot kami datang ke sini cuma mau mengatakan sesuatu saja," kata pak RW.

__ADS_1


"apanya yang repot pak,orang cuma air saja kok," kata Sekar yang langsung masuk kedalam rumah.


"aduh dek Sekar bisa begitu manis," kata mas Yudi.


"alah bocah gemblung kumat, gak usah macem-macem kamu sama mbak sekar, dia itu sudah tak anggap seperti anak ku sendiri," kata pak RW.


"iya iya mas,galak amat," kata pemuda itu yang memang menaruh hati pada wanita cantik itu


Sekar datang dengan kopi dan singkong rebus, ada juga beberapa lepet yang memang tadi ada pesanan.


"begini pak Junaidi, kamu sepakat untuk mengajukan anda untuk ikut mencalonkan diri jadi Lurah, karena tak ada yang mau mencalonkan diri," kata pak RW.


"alah kok Yo aneh se, kenapa tak ada yang mau,kalau saya nyalon bisa di tertawa kan anak-anak ku," kata pak Junaidi.


"sudah ayah ikut saja, ikut meramaikan, tapi ayah harus melakukan pemilihan dengan jujur,tak usah ada politik uang atau serangan fajar," kata Sekar yang duduk di ruang tamu.


"tapi ayah tau mau repot ngurusin desa, kamu kan tau jika mengurus desa itu tak semudah kelihatannya," kata pak Junaidi yang tak bisa menolak karena melihat para pria itu dengan penuh harap padanya.


Keduanya pun selesai membuat laporan, dan mulai memilah untuk memberikan bentuk yang di minta oleh pemesan barang.


Dan Rudi juga membuka toko kue uang hanya bisa di pesan baru ada, karena dia tak mau jika harus merugi,kasihan kakak dan neneknya.


Akhirnya pak Junaidi meminta untuk di berikan waktu untuk berpikir terlebih dahulu, karena dia tak bisa jika di paksa.


Sedang pak Inyong dan Dafa di buat heran dengan sikap Davin yang begitu pendiam dan tertutup.


bahkan setelah di bebaskan,pemuda itu malah hanya duduk termenung di depan jendela setiap hari.


"Davin ikut mas jalan-jalan yuk," ajak Dafa.

__ADS_1


Pria itu tak menjawab, tapi hanya bangkit dari kursinya dan mulai berjalan ke luar rumah.


Tak ada obrolan sama sekali, Davin tampak datar tanpa mau bicara, pak Inyong tak menyangka keputusannya membuat pemuda itu jadi tertekan seperti ini.


"maafkan saya mas Davin, tolong bicaralah sedikit saja," mohon pria itu.


Davin hanya menoleh sekilas dan tetap berjalan lempeng saja, hingga mereka sampai di masjid desa.


Di sana Davin memilih duduk di teras masjid, melihat itu Dafa dan pak Inyong juga mengikuti davin.


dan dari tempat mereka duduk terlihat Sekar sedang membawa ember untuk menyiram semua bunga yang ada di halaman rumah mereka.


"selamat siang mbak Sekar,"


"siang pak, sedang apa di sana, apa menunggu sholat dhuhur," tanya Sekar ramah.


"iya," jawab Davin.


Mendengar suara pemuda itu,membuat Dafa dan pak Inyong langsung menoleh, "hei jangan bercanda Davin,kenapa kamu menjawab pertanyaan mbak Sekar, tapi mengabaikan ku," kesal Dafa.


"kamu jahat, tidak menolong ku," jawab Davin.


"maaf itu salah pak Inyong," kata pria sepuh itu menangis.


"bapak juga jahat," kata Davin yang kemudian bangkit dan berjalan ke arah rumah.


Kedua pria itu langsung mengejar Davin yang lari dengan sangat cepat.


Sedang Sekar yang ada di sana bingung,ke apa ada pria yang sepertinya tidak utuh otaknya begitu.

__ADS_1


"dasar pria aneh,"


__ADS_2