
hari pemilihan dari lurah di desa ini sudah di mulai dari tadi pagi, bahkan tadi Sekar dan Mak Ijah datang belakangan karena tak mau berebutan.
setelah pencoblosan, siang hari mulai pemungutan suara, terdengar satu persatu nama para calon di sebut.
Sekar dan Rudi adik menonton sambil menikmati kacang rebus yang di beli di luar balaidesa.
"lah ayah ternyata tetap ada yang pilih meski tidak pakai uang ya mbak," kata bocah itu.
"ya kan yang membuat ayah maju juga para warga, jadi itu bukan hal yang tak masuk akal juga, jika tidak ada yang memilih ayah," kata Sekar.
"iya juga sih,tapi apa bisa menang," kata Rudi yang merasa jika suara milik pak Junaidi ini cukup banyak bahkan sekarang masih memimpin.
"kalau sampai memang,mau menikah dengan ku?" tanya Dafa yang memberikan bunga mawar pada Sekar.
"gak mau ah, kamu ambil mawar dari rumah orang, tak modal sekali anda," kata Sekar tersenyum.
tanpa di duga, Zaka datang dengan menunjukkan wajah kesal karena mendengar ucapan dari Dafa.
__ADS_1
"Siwa tang kamu ajak menikah, dia itu milikku," kata pria itu menghalangi Dafa.
"hei anda siapa, kira sudah tak memiliki hubungan apapun, jadi apa salahnya jika aku berteman dengan dia," kata sekar merasa aneh.
"apa, kamu sekarang berteman dengan pria seperti ini, ingat dia itu orang berbahaya," kata Zaka.
"bagaimana dengan mu, aku sudah menghilangkan perasaan ku, jadi jangan menganggu ku, dan jika mau membuat ku jatuh cinta lagi, buktikan jika kamu mampu membuat ku menyukaimu," kata Sekar santai menantang zaka.
Ya sebulan ini Sekar sebisa mungkin membunuh dan menghilangkan perasaannya, dan sekarang dia berhadapan dengan mantan suaminya itu.
Dan yang paling penting, dia ini adalah pria baik yang membantu psk Junaidi.
Bahkan kadang dia memberikan job pada mak Ijah, ya saat mengantar jenazah dan tak ada yang mau memandikan,maka dia akan menghubungi Sekar dan Mak Ijah.
itulah yang membuat mereka berdua berteman, Rudi hanya menyaksikan kedua pria itu terus berdebat.
"aduh diem dong, itu perhitungan suaranya makin seru nih, lawan ayah si duda itu sudah semakin mengejarnya!!!" teriak Rudi antusias
__ADS_1
Sekar memukul kepala adiknya karena memanggil orang dengan status bukan dengan nama, "yang sopan,"
"itu lihat dan yey!!! nilai ayah terlampaui jadi kita tak harus repot jadi keluarga pak lurah, dan membantu ayah nantinya," kata pemuda itu.
"dasar aneh,ku kira kalian senang jika psk Junaidi memang," kata Dafa
"tidak!!!" teriak Sekar dan Rudi.
itu membuat semua warga kaget,karena anak dari pak Junaidi malah tak mau ayah mereka yang jadi lurah.
Sedang Dafa tertawa melihat wajah polos kedua saudara itu,tapi Sekar ingat biasanya jika ada Dafa pasti ada Davin.
"kok gak lihat adek mu?" tanya Sekar.
"dia sedang ada di rumah sakit bersama pak Inyong untuk terapi, dan kami berusaha membuatnya menjadi normal lagi," kata pria itu duduk dan memanggil penjual camilan.
Tapi anehnya zaka yang tadi berdebat pergi begitu saja, pria itu tak menunjukkan jika dia mau berjuang untuk Sekar dan melawan Dafa sebagai saingannya.
__ADS_1