
Para bapak-bapak yang tadi sedang menikmati bakso di warung tengah sawah ini bingung karena mereka terus berputar di jalanan sawah itu.
"pak RT ini perasaan ku atau kita dari tadi kura cuma berputar-putar saja di sini?" tanya pak Warto.
"bukan hanya bapak yang berada begitu, tapi saya juga merasakannya," jawab pak RT mulai takut.
Tiba-tiba terdengar suara sayup-sayup seseorang sedang menyenandungkan sholawat.
"Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah,"
mereka semua mulai berlari ke arah suara pria itu, dan saat melihat ada api dan suara itu makin keras.
"Allahu Akbar!!" teriak para bapak-bapak itu.
Tiba-tiba mereka semua sudah terjatuh di samping pak Junaidi, bahkan membuat pak RW dan Jono terbangun.
"ada apa ini,kok kalian dlosor dengan nafas ngos-ngosan begitu?" tanya pak RW yang baru bangun.
"gak papa kok," jawab para pria yang bergegas bangun itu.
tanpa di duga, pak Junaidi menghalangi mereka yang ingin istirahat ke tempat pos kamling itu
"kalian ada berapa orang," tanya pak Junaidi yang menghalangi dengan kayu yang menyala itu.
"anda ini ngomong apa sih pak, kami bertujuh kok," jawab pak RT.
"kalau begitu, tolong mulai berhitung kerena aku mencurigai sesuatu," kata pak Junaidi yang melihat jumlah kaki yang menapak di tanah.
"satu ... Dua ..-"
Suara itu terdengar sampai angka enam, dan tinggal satu orang yang tidak berhitung.
"bagaimana kalian bisa melupakan mas Didik," kata pak Junaidi yang bangkit dari jongkok dan melihat sosok yang di maksud sudah dengan keadaan yang sangat parah.
pria itu sudah tak memiliki bola mata, dan kepala pria itu pecah dengan otak yang terlihat.
Bahkan darah itu terus mengucur darah, dan yang tak terduga jantung pria itu sudah tak ada di tubuh arwah itu.
"apa maksudmu pak Junaidi," tanya pak RW yang melihat sosok didik di posisi paling belakang.
__ADS_1
"dia sudah tak di sini, sepertinya kalian melupakan sesuatu saat pergi dari warung tadi, padahal sudah ku peringatkan dari awal jika jangan sampai kalian meninggalkan seseorang atau siapapun itu," kata pak Junaidi yang akhirnya ke colongan.
sedang Jono yang baru bangun kaget melihat sosok didik, "setan!!" teriaknya sambil gemetar ketakutan.
bahkan Jono langsung bersembunyi di balik tubuh pak Junaidi, dan pak Warto ingat sesuatu.
"sepertinya kamu melakukan kesalahan, tadi didik sempat pamit untuk ke kamar kecil sendirian, tapi kemudian cukup lama dia kembali dan yang biasanya sangat berisik tiba-tiba sangat pendiam," kata pak Warto dengan suara lirih.
"tapi aku tak menyadari itu," kata pak RT.
Saat terjadi perdebatan, tiba-tiba suara adzan dari masjid berkumandang.
dan di situlah sosok didik ini menunjukkan siapa dirinya, "pak Warto aku tak marah padaku, tapi tolong jaga putra ku..." kata pria itu yang kemudian hilang.
Pak Warto sempat melihatnya dan terkejut melihat sosok pria itu sebelum menghilang, dia pun langsung tersungkur tak percaya.
"maafkan aku..." tangis pak Warto yang merasa sangat bersalah.
Ya dia tak menyangka jika permintaan dari didik untuk menemaninya ke kamar mandi yang dia tolak akan membuat bencana besar.
"sudah tenangkan dirimu pak, kita nanti bisa cari jenazah mas duduk setelah sholat subuh, karena tak baik menundanya, Padahal panggilan sholat yang sudah terdengar," kata pak Junaidi yang langsung mengajak para warga itu je masjid.
Ya memang jamaah sholat subuh ini sangat sepi dari jamaah, setelah para pria itu mengambil wudhu, Mak Ijah dan Sekar juga datang dan ikut berjamaah.
Setelah selesai, mereka pun akan pergi lagi untuk mencari jenazah dari didik.
terlebih kematiannya belum lama, di tambah dari sosoknya itu sebuah pembunuhan.
Sekar merasakan ada aura yang tak biasa yang menyelimuti di sekitar sembilan orang yang sebelumnya sedang begadang.
"ayah apa kalian kehilangan seseorang, karena aku merasa ada aura sedih di sekitar mu," tanya Sekar membuat pak Junaidi menunduk.
"seandainya kamu bisa membantu ayah nduk," kata pak Junaidi yang membuat semua orang bingung.
Sekar menyentuh tangan ayahnya, tiba-tiba pak Junaidi terkejut saat melihat didik masih berada di luar masjid.
"kamu memiliki kekuatan mu lagi?" tanya pak Junaidi.
"setelah aku kehilangan bayiku dan di Campakkan begitu saja, entah sejak kapan aku bisa melihat mereka lagi,dan ayah kenapa aku tak bisa melihat putraku," lirih Sekar yang mulai terisak dalam pelukan ayahnya itu.
"sabar ya nduk, mungkin dia tak ingin membuat mu sedih,sudah sekarang kamu pulang bersama Mak dulu,biar ayah mencari jenazahnya, dan tolong jangan sampai melamun ya," kata pria itu pamit pergi.
__ADS_1
Sekar pun berjalan pulang bersama dengan mbok Ijah, sedang setelah menaruh mukenah miliknya.
dia memilih berjalan pagi bersama Rudi, siapa tau dia bisa menemukan sesuatu mungkin sebuah petunjuk penting jika di perlukan.
Saat mereka melewati rumah lama sekat, wanita itu sempat berhenti dan melihat bayangan indah masa lalunya bersama dengan zaka.
"mas zaka..." lirihnya menyentuh pagar rumah itu.
Rudi berhenti dan menyentuh bahu kakaknya itu, ya bocah itu sudah menjelma menjadi seorang pria remaja yang tampan seperti halnya pak Junaidi.
"mbak..."
Sekar menghapus air matanya, dia melihat adiknya itu dengan sangat sedih.
"ada apa mbak?"
"mas zaka... Aku merindukannya, kenapa kami harus di pisahkan seperti ini, aku tak menyalahkannya jika bayiku meninggal, aku tau dia sedang sakit, tapi kenapa... " kata Sekar yang akhirnya menumpahkan isi hatinya.
Rudi memeluk kakak perempuannya yang sangat rapuh,bahkan tubuh Sekar saja entah sejak kapan sangat kurus begini.
"tenang mbak, tolong jangan menangis seperti ini.." kata Rudi yang merasa kasihan pada kakaknya itu.
saat keduanya saling menguatkan, tiba-tiba dari dalam rumah terdengar teriakan yang sangat keras.
"Sekar!!!"
Kedua orang itu kaget, "apa kamu mendengarnya dek?"
Sekar langsung berlari masuk kedalam rumah,tapi Rudi menahan wanita itu saat mulai mengedor pintu rumah itu.
"tidak mbak!"
"mas zaka!!" teriak wanita itu yang akhirnya pingsan.
Rudi pun menahannya, dan sebisa mungkin membawanya pergi dari rumah itu.
bahkan dia dengan mudah mengendong Sekar, dan langsung membawanya pulang.
Mak Ijah terkejut melihat Sekar pingsan, tapi beruntung tak terjadi masalah.
Rudi pun merasa bersyukur, karena kakaknya itu baik-baik saja.
__ADS_1