Kisah Ibu Pemandi Jenazah

Kisah Ibu Pemandi Jenazah
malam satu suro


__ADS_3

meski begitu, Lina tak bisa tersentuh oleh para arwah itu, karena tubuh wanita itu sudah memiliki areah yang menjadikan gadis itu inangnya.


sedang Lulu sudah tak terdengar lagi suara teriakannya, mungkin sudah pingsan atau bahkan meninggal karena sosok hitam besar yang sedang menikmati gadis itu.


di desa, lurah Sigit sedang membagikan sembako pada warga dan satu-satunya keluarga yang tak mengambil adalah Mak Ijah


setelah acara, beberapa warga tetap di tempat itu, untuk melakukan keliling desa mengamankan situasi.


"kalau begitu saya pamit ya," kata pak lurah Sigit pada warga.


"inggih pak lurah, terima kasih atas kedatangannya dan sembakonya, nanti kalau mencalonkan diri lagi pasti menang deh," kata pak RT.


"semoga ya," pamit pria itu.


pak Junaidi yang memimpin para warga untuk begadang menjaga desa, bahkan mereka membunyikan kentongan sesuai jam.


di sebuah jalan setapak, seorang pria berbaju hitam sedang duduk di batas desa.


pria itu menunggu kedatangan orang yang menjadi bos-nya, saat orang yang di tunggu itu datang.

__ADS_1


Pria itu langsung mencium tangan orang itu, "jadi apa yang kamu bawa, ingat aku butuh jantung dan rahim yang masih berisi janin bayinya, apa sudah kamu awetkan?" tanya pria itu dengan santai.


"tentu bos, ini adalah pesanan anda, dan terima kasih membuat ku tetap aman," kata pria pemilik warung bakso itu.


"kamu tau Gondo, aku tak akan pernah mengkhianati orang yang mengikuti perintah ku, tapi sekali kamu membuat ku kecewa, kamu akan tau siapa lurah Sigit yang sesungguhnya,cam kan itu dengan baik di otak mu," kata pria itu yang membuat pria pedagang bakso itu takut.


pasalnya dia pernah menyaksikan sendiri bagaimana sosok lurah Aris yang dengan mudah membunuh mantan pesaingnya yang ingin maju menjadi lurah.


tentu semua itu di balut dengan alibi perampokan jadi polisi tak curiga dengan apa yang terjadi.


"baik pak lurah," jawab pak Gondo yang langsung pamit pulang.


Sedang pak lurah juga harus segera memberikan apa yang di inginkan oleh istrinya itu.


Setiap malam dalam tidurnya,Sekar akan menangis dan merintih sambil memanggil bayinya.


Mak Ijah yang menyaksikan itu merasa begitu buruk, karena saat siang hari.


cucunya itu tampak normal,tapi nyatanya dia mengalami hal buruk di dalam dirinya

__ADS_1


"putra ku..." tangis Sekar sampai terisak.


"sabar ya nduk," bisik Mak Ijah.


tiba-tiba burung dares berbunyi keras melintas di atas atap rumah mereka


Bahkan burung itu terdengar sangat keras menuju ke arah pemakaman dusun.


" la haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim," lirih Mak Ijah yang memasrahkan diri pada sang pencipta.


Sedang di pos kamling, para warga kaget melihat burung dares yang terbang rendah.


Karena burung itu sering di identikkan dengan sesuatu pesan yang buruk, seperti kematian atau akan ada musibah besar yang terjadi.


Suasana malam makin mencekam, saat waktu menunjukkan pukul jam dua belas malam lebih tiga puluh menit.


Beberapa orang yang mengantuk pun merasa merinding karena angin yang tiba-tiba berhembus.


"pak Junaidi,ini perasaan saya atau memang seperti banyak mata yang sedang mengawasi kita ya?" tanya salah satu warga.

__ADS_1


"tolong baca dzikir saja ya pak, sepertinya mereka sedang menunggu sesuatu," jawab pak Junaidi yang sebenarnya melihat sosok yang dulu menjadi maklum yang mengikat perjanjian dengannya.


Tapi karena perjanjian itu putus, jadi makhluk itu hanya bisa menampakkan diri sesekali pada pria itu.


__ADS_2