Kisah Ibu Pemandi Jenazah

Kisah Ibu Pemandi Jenazah
membersihkan


__ADS_3

Dafa berjalan mendekat, dia terlihat penuh amarah, melihat sosok lurah Sigit yang sedang meregang nyawa.


membuat pemuda itu ingin mengakhiri semuanya, terlebih dengan apa yang dulu pernah dia alami juga.


Saat pria itu ingin menusuk ubun-ubun lurah Sigit, dengan cepat Sekar mendorong pria itu hingga terjatuh bersama.


Ternyata sebuah anak panah melesat dan mengenai salah seorang warga di lengannya.


melihat hal itu Rudi murka, dia langsung bergegas mengejar pria itu dan berusaha untuk menyerangnya.


pertarungan sengit terjadi, dan dengan marah Rudi melemparkan golok miliknya hingga menancap di kaki pria itu


Dia pun tersungkur, tapi dia melepaskan benda itu dan kemudian lari secepat yang dia bisa.


"dasar anak-anak sialan!" marahnya.


Rudi mengambil golok itu, dan memanggil sosok yang tampak berkerumun dan penuh dendam.


"silahkan nikmati pria itu, bunuh sebagaimana dia membunuh mu," gumamnya yang langsung melihat sekelebatan bayangan putih yang begitu banyak melewatinya.


"ceroboh, kamu hampir mati," marah Sekar yang bangkit dari posisinya yang menindih pria itu.


"aku ingin sekali membunuhnya!"


"belum waktunya dia mati," kata Sekar yang membuat semua orang bingung.


Sosok kuntilanak yang menjadi istri ghaib pria itu pun perlahan terbakar oleh api, begitupun jasad dari Lina yang menjadi wadahnya.


semua warga mundur saat melihat itu, Rudi mengikat lengan warga yang berdarah setelah mencabut anak panah itu.


Dia pun meminta tolong pada beberapa orang untuk mengantarnya ke puskesmas terdekat.


tak lama setelah Lina terbakar habis, tiba-tiba lurah Sigit pun mati begitu saja dengan kepala pecah sendiri.


Sekar pun berterima kasih pada semua khodam yang sudah membantunya.


Zaka pun tak mengira akan melihat mantan istrinya yang begitu kuat dan berani.


sedangkan dia bukan membantu malah merepotkan seperti ini, Sekar segera mendekat ke arah Zaka.


"dek sarung tangan mu," panggil Sekar pad Rudi.

__ADS_1


wanita itu memakai sarung tangan yang di lemparkan oleh adiknya dan mulai membacakan sesuatu yang mampu mengeluarkan semua ilmu yang di tanam pada zaka.


pria itu muntah darah kotor dan juga berbagai benda tajam yang sudah berkarat,bahkan ada gumpalan rambut juga.


"sekarang mas Zaka sudah bersih," kata Sekar yang langsung berjalan ke arah Rudi.


Dafa mendekat ke arah pak Inyong yang begitu terharu melihat keberadaannya.


"Alhamdulillah... Mas Dafa masih hidup, maafkan bapak yang hanya membawa mas Davin, karena perintah juragan," kata pria itu


"tak masalah pak, tapi dimana Davin?" tanya Dafa yang ingin melihat adiknya itu.


akhirnya malam itu rumah mewah yang selama ini di tinggali oleh lurah Sigit terbakar tiba-tiba.


jadi mereka semua menyemayamkan jenazah Lurah Sigit di pendopo balai desa, dengan dua orang wanita yang bersamanya.


tentu mereka semua menjaga jenazah karena tak ingin ada masalah, seperti hilang tiba-tiba nantinya.


sedang Sekar memilih pulang bersama Rudi untuk memasakkan makanan untuk para warga yang berjaga.


Sekar bahkan baru tau jika dia juga terluka di tangannya, beberapa luka sayatan bekas tercakar, tapi untungnya lukanya tak dalam


"nduk .. Ayo antar nasinya, ya Allah Gusti nu Agung... Kamu terluka nduk!" panik Mak Ijah melihat tubuh Sekar.


Dia baru tau saat Mak Ijah menunjukkannya di depan cermin, dan dia tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"kenapa bisa," gumamnya.


Mak Ijah segera mengambil salep yang dulu sering di pakai mbak Tejo, dan mulai mengoleskannya sambil membaca tembang Jawa yang bahkan Sekar pun tak mengerti.


Setelah itu perlahan rasa sakit dan tidak nyaman pun hilang, dia segera berpakaian dan membantu adiknya dan Mak Ijah mengantar makanan.


Saat sampai di balaidesa, terlihat ada seorang pria yang sedang di potong rambutnya.


Ya dia adalah Davin yang baru di lepaskan oleh pak Inyong, dan pria itu bisa di katakan tampan.


"assalamualaikum... Ayah tolong bagikan pada semuanya, dan kenapa ketiga Jenazah belum di sucikan, bukankah menunda pemakaman itu tak baik," tanya Sekar yang tak menyukai hal ini


"kamu juga tau nduk, warga tak ada yang mau bantu," kata pak Junaidi.


"maaf ustadz Abdullah, bisa tolong minta tolong beberapa santriwati datang untuk membantu mengurus jenazah," kata Sekar dengan sopan

__ADS_1


"tentu saja nduk, dan kamu bisa tetap memanggilku Abi, seperti halnya dulu," kata ustadz Abdullah.


"ngapunten Abi, tapi bagiku itu tak pantas karena saya bukan lagi menantu Abi," jawab wanita itu tegas.


Akhirnya mereka semua pun duduk bersama untuk makan sambil menunggu para santriwati.


Bahkan saat zaka ingin mendekati wanita yang pernah menjadi istrinya itu.


Ia terhadang oleh Rudi, karena pemuda itu tak ingin Sekar kembali terluka dan gila seperti yang sudah-sudah.


tak perlu menunggu lama, akhirnya sepuluh santriwati datang bersama dengan umi Salamah.


Tentu saja Sekar menyambutnya dengan sopan tapi sebatas itu saja, bahkan dia memilih untuk diam tak mengucapkan satu kata pun.


akhirnya pengurusan jenazah kedua wanita itu dengan cepat dan mudah, sedang pak Junaidi dan para pria yang mengurus jenazah lurah Sigit yang mengalami kesulitan.


Mulai darah yang tak mau berhenti mengucur, dan aroma busuk yang kadang datang dan hilang.


Dan air yang menjadi keruh dan kotor,entah epa yang memang harus terjadi ya terjadilah.


Setelah semua drama itu, akhirnya mereka pun berhasil mengkafani jenazah meski harus mengenakan kain yang berlapis-lapis karena kain terus kurang.


"kita bawa ke pemakaman saat ini juga?" tanya pak RW.


Di saksikan oleh pihak kepolisian akhirnya mereka semua memakamkan tiga orang itu.


Sesampainya di makan kejadian tak banyak terjadi hanya saja makam dari pria itu sepertinya sangat sulit di gali.


Tapi beruntung setelah berdoa semuanya aman, dan pemakaman lancar, tak terasa sudah jam tiga pagi hari.


saat para warga ingin pergi, tiba-tiba ada petir menyambar dan mereka pun berlarian pergi.


esok paginya,semua pria masih ada di pendopo balai desa membersikan semua bekas semalam yang ternyata ada belatung di bawah tempat memandikan jenazah.


setelah beres mereka semua pamit pulang, bahkan Zaka tak punya sedikitpun waktu untuk menyapa mantan istrinya itu.


bahkan langkah kakinya sangat berat untuk meninggalkan desa itu, karena dia meninggalkan istrinya di sana.


"ayo le..."


"tidak bisakah kita di sini sedikit lama lagi, karena aku ingin menemuinya," kata pria itu.

__ADS_1


"lain kali ya, kamu pasti butuh istirahat juga, dan Abi yakin jika Sekar juga, jadi tolong mengertilah ya le," kata ustadz Abdullah yang berhasil mengajak putranya itu pulang bersama rombongan.


__ADS_2