Kisah Ibu Pemandi Jenazah

Kisah Ibu Pemandi Jenazah
kampanye di mulai


__ADS_3

Sekar yang dari awal mendukung semua keputusan sang ayah pun hari ini sedang membantu pria itu membagikan makanan.


tentu saja dia tak membagikan nasi itu atas nama ayahnya yang sedang ikut pemilihan lurah.


Tapi memang selalu setiap hari Jumat, dia membagi-bagikan nasi, dan setiap itu juga dia akan melihat Davin dan Dafa yang ikut mengambil bagian.


"kalian baru datang, padahal nasinya sudah habis," kata Sekar tersenyum menggoda kedua saudara itu.


"kalau begitu aku tak mau makan," kata Davin yang bertingkah seperti anak kecil.


"ya kita kesiangan maaf,karena semalam mas harus mulai bekerja untuk mengurus warisan ayah,karena kamu belum bisa membantuku," kata Dafa sedih.


"aku hanya bercanda, aku menyisihkan masing-masing satu untuk kalian berdua, silahkan nikmati dulu," kata Sekar yang menyerahkan nasi bungkus itu.


Mak Ijah keluar dengan membawa dua gelas teh hangat,"Monggo mas Dafa dan mas Davin di minum,"kata wanita itu.


"terima kasih Mak, kok malah kami merepotkan seperti ini,"kata Dafa tak enak.

__ADS_1


"tidak masalah, karena dulu juragan Dandi sangat baik dan sering membantu kami," kata Mak Ijah.


saat seperti itu, tiba-tiba sosok yang tak pernah di harapkan datang, bahkan dari aroma parfum yang tertiup angin saja sudah bisa membuat Sekar membeku.


Mak Ijah terkejut melihat sosok pria yang tak di sangka akan datang ke rumahnya setelah semua yang terjadi.


"assalamualaikum..."salam zaka drngdn lembut.


"wa'alaikumussalam..." jawab semua orang.


Dafa bisa melihat rasa sedih dsn juga kerinduan di mata Sekar, tapi tanpa di duga wanita itu langsung lari masuk kedalam rumah.


"saya datang mau mengajak Sekar berbincang tentang sesuatu Mak, dan saya ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya," kata zaka dengan lantang dan tegas.


Mendengar itu Dafa tak enak, jadi dia mengajak adiknya itu pulang, awalnya Davin tak mau tapi setelah di bujuk akhirnya mereka pamit.


Dafa tak menyangka jika mantan suami wanita itu masih menyimpan cinta pada wanita itu, padahal Dafa tertarik dengan Sekar Sari pertama dia bertatapan mata dengan sosok wanita kuat itu.

__ADS_1


"tidak ada yang ingin aku bicarakan Mak, tolong minta dia pergi dan minta dia lanjutkan hidupmu dengan menikahi wanita yang pantas untuk mendampinginya, terlebih wanita yang mengenal agama dengan dalam," kata Sekar.


"tapi aku mencintaimu, maaf jika karena aku,anak kita harus mati dan maafkan aku yang lemah sebagai suami yang tak berguna ini," kata Zaka yang merasa sedih


"semua tak berguna lagi, karena aku tak mau mendengar apapun lagi dari mu," kata Sekar yang tak bisa bersama pria itu.


"nak zaka pulang dulu,seminggu lagi saat ada pemilihan lurah datang ya, insyaallah nanti Sekar bisa lebih kuat untuk berbicara dengan mu secara langsung," kata Mak Ijah.


"baiklah Mak saya pamit dulu, saya harap kami bisa membicarakan semuanya lebih tenang lagi," kata zaka yang pamit.


Sekar ingin berlari dan memeluk pria itu, tapi dia takut jika dia bersama Zaka lagi.


pria itu akan terluka dan membuatnya tak mau itu terjadi,jadi dia harus merelakan semuanya.


Sedang pak Junaidi memilih ke sawah seperti biasa, dia tak mengadakan kampanye seperti yang lain.


Tapi memilih berbincang dengan para warga dan apa yang mereka keluhkan, bahkan mereka sering ngopi bareng di pis kamling juga.

__ADS_1


Dan tak ada kampanye yang heboh seperti yang lain, itulah bedanya terlebih dia ikut juga hanya untuk memeriahkan saja.


__ADS_2