
Mak Ijah dan Nur sudah selesai menata semua keperluan untuk mengurus jenazah.
hingga tanpa di duga saat sedang seperti ini, tiba-tiba sebuah siaran mengejutkan mereka semua.
bagaimana tidak itu adalah pengumuman tentang berita duka, dan dari semua warga tak ada yang mau membantu untuk memandikan jenazah wanita itu.
"Mak sepertinya kita akan berangkat nih, aku jamin tak ada yang mau memandikannya," kata Nur dengan sangat yakin.
"kok gitu, bukankah dia berasal dari desa sebelah, memang apa pekerjaannya?" tanya Mak Ijah.
"dia itu cuma buruh tani yang makan saja belum pasti sehari bisa makan, ya maklum orang miskin Mak," kata Nur dengan nada suara sedih.
benar saja, tak lama seorang pria datang ke rumah Mak nur, "ada apa kamu datang?" tanya Mak Ijah.
"Mak tolong... bisakah Mak membantu memandikan jenazah ibu Ulina karena para warga di desa kami keberatan," mohon pria itu.
"baiklah aku mengerti, ayo nur kita berangkat, biar Mak ambil tas dulu,", kata wanita itu bergegas.
perjalanan ke kampung sebelah ini cukup lumayan, tapi setelah sampai di rumah shokibul musibah.
__ADS_1
Mak Ijah dan nur sangat terkejut, pasalnya rumah itu sangat kecil dan terbuat dari bilik bambu.
ternyata masih ada masyarakat yang hidup di garis kemiskinan. "permisi pak lurah di desa ini siapa ya?" tanya Mak Ijah yang tak mau bekerja tanpa persetujuan dari pihak desa.
karena dia takut di sebut menyerobot wilayah kerja dari para ibu-ibu pengurus rukun kematian di desa itu.
"tenang saja Bu, kaki sudah menjadi saksi untuk ibu, jadi silahkan untuk melanjutkan saja," jawab seorang pria.
Mak Ijah dan Nur mulai melihat kondisi jenazah, sesampainya di dalam sana.
nur ingin muntah karena arimo busuk dan tak sedap begitu tercium nyata.
kemudian mengambil daun kelor di dalam Wadah dir dan memukulkan ke tubuh jenazah.
dan tiba-tiba aroma busuk itu pun hilang dan tak tercium lagi, nur di buat tak bisa berkata-kata lagi.
bagaimana tidak, kenapa bisa begitu, karena baru kali ini dia menyaksikannya sendiri.
"sudah, kenapa bengong begitu, kita mulai saja mensucikan jenazah," kata mak Ijah.
__ADS_1
Keduanya mulai setiap tahapan, setelah jenazah suci, dia memanggil saudara atau keluarganya.
dan setelah itu, Mak Ijah mengkafani jenazah dengan seharusnya tanpa ada satu dan hal lainnya,karena baginya ini adalah tugasnya.
sedang di tempat lain, Sekar dan Zaka sudah memutuskan untuk pindah rumah.
dan mereka akan pamit pada semua keluarga karena di desa itu sudah tak nyaman bagi mereka.
pak Junaidi awalnya tak setuju tapi kemudian dia ingat apa yang harus di lalui oleh Zaka.
jadi dia terpaksa mengizinkan mereka semua untuk pergi meninggalkan desa demi hidup mereka.
tapi syarat pak Junaidi mereka harus menunggu Mak Ijah pulang dan pamitan.
karena restu orang tua itu penting, terlebih Sekar adalah cucu kesayangan dari msk Ijah.
setelah mengurus jenazah selesai, keduanya akan psmit pulang, saat seseorang mencegat keduanya dan memberikan sedikit uang di sebuah amplop.
setelah menerima itu, mereka pun pulang, tapi Mak Ijah memasukkan uang yang di berikan tadi kedalam kotak amal masjid.
__ADS_1
karena dia merasa jika itu yang yang tak akan jadi daging saat di makan.