
Di rumah lurah Sigit, Lina tampak sedang menikmati daging setengah matang.
Setelah itu, dia melewati kamar tidur yang sering di gunakan suaminya itu untuk beristirahat saat tak bersama dengannya.
Dia membuka kamar itu dan melihat ada Lulu di sana sedang terantai dan tidur di atas kasur busa.
Dia ingin masuk tapi tak bisa karena itu adalah kamar bersih yang tak bisa di masuki olehnya.
"kebaia wanita busuk itu di kamar suamiku,apa dia ingin menjadikannya istri manusia, dia kira dku ini apa!!" teriak Lina yang terus menerus terpental saat ingin masuk.
Dia tak bisa melihat itu, dia sangat marah tapi anehnya Lulu tampak tak terpengaruh sedikitpun.
pukul dua siang, lurah Sigit pulang dan sudah menerima lemparan kursi dari Lina.
Untungnya pria itu bisa menghindar dan tak melukainya, "apa kamu gila aku baru pulang kamu menyambut ku dengan lembaran kursi, jangan lupa jika aku juga bisa melukaimu!!" marah pria itu.
"kamu membohongiku, kamu menjadikan wanita itu sebagai istrimu kan, itulah sebabnya kamu menaruhnya di kamar bersih milik mu," marah Lina yang ingin mencekik lurah Sigit.
"kamu bodoh atau gila, jika aku tak menaruhnya di sana, kamu bisa membunuhnya, kenapa kamu begitu cemburuan, ingat kamu itu sebagai istriku tugas mu adalah membuat ku kata, dan tak usah mengurusi kehidupan ku," kata lurah Sigit yang terlanjur kesal.
"tapi kamu menghianati perjanjian kita!!" teriak Lina.
"kamu lupa diri sepertinya, kamu harus ingat jika aku yang memegang kendali bukan dirimu, jika aku mau aku bisa mtmbunuh mu!!" marah lurah Sigit.
"sialan!!" maki Lina yang tiba-tiba muncul asap hitam di balik tubuh pria itu dan menarik sosok kuntilanak yang merasuki tubuh Lina.
Dan lurah Sigit menahan tubuh Lina yang terjatuh lemah karena arwah yang merasukinya sudah tak ada.
__ADS_1
Ya lurah Sigit meminta sekutunya untuk memberikan pelajaran pada istri ghaibnya.
Sedangkan di dunia nyata, lurah Sigit menaruh tubuh Lina yang sudah tak berdaya di atas ranjang bertabur bunga setaman.
Dia sedang menikmati rokok miliknya, dan perlahan gadis itu membuka mata dan kaget karena dia sudah mengenakan baju tidur.
"ada apa ini, kenapa aku tak bisa merasakan kaki ku, dan kenapa pak lurah ada di sini," kata Lina yang sadar.
"tentu saja aku di sini untuk menikmati waktu ku bersama istriku," kata pria itu yang langsung memaksakan dirinya pada gadis muda itu.
di rumah sakit, Mak Ijah sedang membaca Al-Qur'an, dsn Sekar mendengarkan lantunan ayat suci itu agar lebih tenang.
tak terasa sudah empat hari mereka di rumah sakit, dan Sekar di izinkan pulang.
tentu mereka pulang ke rumah sederhana milik Mak Ijah yang penuh kenangan.
Para warga berbondong-bondong menyambut kedatangan wanita itu yang masih sangat lemah dan rapuh.
Tapi lurah Sigit sekarang tak menginginkannya sebagai istri melainkan menjadi pencetak keturunan yang hebat.
Di sisi zaka kini sudah ada di pondok pesantren milik sang paman di Ciamis.
Pria itu sedang menjalani pengobatan yang di lakukan untuk kesembuhannya secara menyeluruh.
bahkan dia tak sadar jika ustadz Abdullah dan umi Salamah sudah menceraikan dirinya dan istrinya tanpa persetujuannya.
Setiap malam, zaka akan mengikuti ruqyah dan juga pembersihan mengunakan obat herbal.
__ADS_1
Bahkan ada sesi konseling karena keadaan jiwa dan juga pengobatan dengan medis.
siang itu, saat menemani Maya, tiba-tiba Mak Ijah mendapatkan jemputan untuk memandikan jenazah di kampung sebelah.
"nduk kamu di rumah dengan Rudi ya, jangan kemana-mana, Mak dan ayah mu harus pergi karena ada panggilan," kata wanita itu.
"iya Mak, aku akan di rumah saja,"
"tenang mak, aku akan menjaga mbak Sekar," jawab Rudi.
Akhirnya Mak Ijah pun pergi, tapi saat sampai di rumah tempat yang tertimpa musibah.
Mak Ijah dan pak Junaidi kaget karena di sana hanya sedikit orang yang melayat.
Nur juga baru datang bersama suaminya Tono, keduanya langsung menyalami Mak Ijah.
"loh Mak ini kita sdlah alamat?" tanya Nur.
"seharusnya tidak, tapi aku juga tak tau kenapa sepi seperti ini?" kata Mak Ijah yang masih bingung.
Seorang pria mendekati keempat orang itu,"Monggo Mak,jenazah masih di dalam karena tak ada yang memindahkan," kata pria sepuh itu.
"Junaidi, Tono tolong bantu mereka ya," kata Mak Ijah
"inggeh Mak," jawab keduanya.
Setelah mereka melihat jenazah seorang gadis muda belia yang tergletak di kasurnya.
__ADS_1
Tapi saat di angkat, beratnya seperti mengangkat seekor sapi gemuk, bahkan pak Junaidi dan pak Tono sampai sempoyongan karena berat.
Padahal yang menggotong sudah enam orang, tapi tetap saja berat yang tak sesuai dengan bentuk tubuh gadis itu yang tampak kecil.