
"Haha... ada apa dengan wajahmu...? Aku tidak apa... apa... jangan... menangis... begitu..." ucap seorang wanita sebelum kesadarannya menghilang.
"Ini... pilihanku... sendiri..."
Wanita itu menghembuskan napas terakhirnya sembari memberikan pelukan terakhir pada adiknya.
"........"
Sang adik tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh dengan deras. Dia hancur secara mental. Setelah membantai habis rakyatnya, kini dirinya telah membunuh ketiga kakaknya dengan tangannya sendiri. Bahkan walau ini adalah keputusannya sendiri. Beban mental yang dia rasakan cukup untuk membuatnya hancur.
"Aku minta maaf... aku minta maaf... aku minta maaf... "
"Kota-nii... Kazu-nii... Lilia-nee... aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf..."
"Kumohon... jangan tinggalkan aku sendirian..."
"Aku benci ini... aku tidak mau ini... kenapa semuanya jadi seperti ini..."
"HUAAAAAAAAAAAAAAA........ Kembalikan!! Kembalikan!!! Kembalikan keluargaku!!!!!"
"KEMBALIKAN SEMUA YANG KAU RENGGUT DARIKU!!!!!!!!!!!!!!!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jauh di zaman dahulu kala, dunia masih jauh dari kata damai. Namun mendadak datang seorang wanita yang memakai pakaian tak dikenal dan rambut hitam malam. Wanita itu dituduh sebagai kaki tangan iblis. Namun berkat kebaikan dan kekuatannya yang menyentuh hati, dirinya diterima oleh dunia.
Dirinya mampu mengalahkan raja iblis seorang diri dengan sihir hebatnya. Itulah sebabnya dirinya diberikan sebuah julukan, julukan yang akan terus dikenal hingga berabad-abad kemudian.
⟨ Sang Penyihir Agung Charrlain ⟩
Penyihir Agung yang telah menyelamatkan dunia memutuskan untuk menyendiri, menjauh dari peradaban. Jauh, jauh dan jauh di dalam hutan lebat di Benua penuh mana.
Tanpa seorangpun sadari, dirinya telah memiliki 5 murid yang dia besarkan sedari kecil.
Murid pertama sang peri tumbuhan, Dryad.
Murid kedua sang manusia gagak, Tengu.
Murid ketiga sang siluman kucing, Nekomata.
Murid keempat sang perwujudan iblis, Jorogumo.
Dan murid terakhir sang rubah sembilan ekor, Kitsune.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
"🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶"
Seorang kitsune kecil berjalan pelan sembari bersenandung riang. Wajahnya yang kecil dan merah terlihat sangat imut dalam pandangan siapapun.
Sesekali tangannya yang terayun-ayun menyentuh bunga-bunga di pinggiran jalan.
"!"
"Mio!" sapa seorang pria yang duduk berselanjar di atas pohon.
"?"
"Ah!! Kota-nii!!!" jawab Kitsune kecil ini dengan senyuman lebar.
"Huupp!!"
Dilipatnya buku yang tengah dibacanya dan menggendong gadis kecil ini ke pelukannya.
"Mio, kau pasti bolos lagi ya?"
"Hehehe…" senyum Mio lebar.
"Pfftt… bahkan master tidak bisa mengurangi sifatmu yang terlalu bebas. Dasar kau ini!"
"Kota-nii! Kamu sendiri juga bolos latihan!" ucap Kitsune kecil tidak terima.
"Jangan samakan aku denganmu! Aku ini sedang latihan mandiri!" elaknya sembari menggendong gadis itu ke suatu tempat.
Pria yang menggendong Kitsune kecil ini bernama Tenguna Kota. Dia adalah murid kedua sang penyihir agung yang mana merupakan anak dari ras tengu. Sekitar 20 tahun lalu, penyihir agung mulai melakukan percobaan menggunakan darah dan sihirnya untuk menciptakan ras yang benar-benar baru di dunia ini. Tentu saja dia juga memanfaatkan kombinasi gen dengan ras asli dunia ini.
Hasil dari penciptaan itu adalah keempat muridnya sendiri. Murid pertama sang Dryad memang adalah ras murni dunia ini, jadi dirinya adalah pengecualian. Sedangkan murid kedua hingga kelima adalah satu-satunya dari ras mereka.
Pada mulanya mereka hanyalah binatang sihir yang memiliki mana sangat banyak. Namun kini mereka memiliki wujud manusia dan kecerdasan luar biasa. Usia mereka juga sangat panjang. Sang penyihir agung benar-benar berhasil menciptakan Spirit Beast-nya sendiri.
Karena penyihir agung memanfaatkan spirit untuk melahirkan mereka, tentu saja ada resikonya. Kutukan yang dimiliki spirit beast juga dimiliki muridnya.
"Kota-nii… kita mau kemana?" tanya Kitsune kecil.
Seperti halnya Kota, Kitsune kecil ini juga adalah murid dari Penyihir Agung. Dirinya adalah murid kelima sekaligus terakhir. Nama dari Kitsune kecil ini adalah Kitsuna Mio.
"Hmm~ mari kita lihat. Kau mau kemana, Mio?" tanya Kota.
"Master bilang tidak baik menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!!"
"Kamu ini… hanya disaat begini saja kamu memakai ilmu master ya."
__ADS_1
"Mio gitu!!"
"Hahahaha…"
Kota dan Mio tertawa riang sepanjang perjalanan mereka. Tempat tinggal mereka ada di puncak gunung yang sangat tinggi hingga awan dapat disentuh. Karena tak ada orang lain yang tinggal disekitar sana, tentu saja hubungan mereka semua sangat dekat. Meski terkadang terjadi pertengkaran dan perkelahian yang tak dapat dihindari.
"Hmm…? Itu…" gumam seseorang begitu melihat mereka.
"Kota!!! Mio!!!!"
Kota dan Mio seketika melihat asal suara itu. Kali ini seorang gadis remaja berambut coklat panjang lengkap dengan hiasan rambut membentuk daun yang melingkar dahannya tengah meyapa mereka. Wajah Mio yang sangat ceria mengerut.
"Gehh… Kelee-nee…" keluh Mio malas.
"💢"
Melihat eskpresi adik seperguruannya seperti itu tepat setelah melihatnya membuat gadis Dryad itu kesal. Gadis itu langsung menghampiri Mio dan Kota dengan cepatnya, sampai-sampai mereka berdua tidak sempat bereaksi.
"M-I-O… apa tadi kau bilang?" ucap gadis Dryad bernama Kaleena ini tersenyum menyeramkan.
Mio mengalihkan pandangannya sembari bersiul-siul iseng, "Mio tidak bilang apapun tuh…"
"Ha~ahh… dasar bocah tidak ada sopan santunnya…"
"Sudah sudah… kayak Kalee-nee gak tau gimana sifat Mio aja," lerai Kota.
"Ini semua karena kalian terlalu memanjakannya. Lihat! Sifat bungsu kita sudah tidak bisa dibenarkan," sindir Kaleena.
".... Seperti biasa kata-katamu tajam sekali ya," senyum Kota.
"Aku anggap itu pujian."
"Baik, baik…"
Meski sesaat mereka tampak tak akur, suasana disana sebenarnya cukup harmonis. Bagi Mio dan Kota, Kaleena adalah kakak mereka yang paling tua. Memang secara usia juga dirinya yang paling tua. Namun kelima murid penyihir agung ini masih berusia belia. Yang tertua saja baru berusia 18 tahun. Yang kedua 17 tahun, ketiga 16 tahun, keempat 15 tahun dan kelima 11 tahun.
Jeda usia Mio sedikit lebih banyak dari yang lainnya karena "proses penciptaan dirinya" lebih rumit dari saudaranya yang lain. Bisa dibilang Mio adalah "anak" ciptaan Penyihir Agung yang paling sempurna.
Berbeda dengan manusia atau ras lain yang terlahir dalam wujud bayi, murid Penyihir Agung tidak begitu. Nyatanya saat mereka lahir, secara fisik dan mental mereka langsung berusia 7 tahun. Setelah beberapa tahun tubuh mereka akan berkembang mengikuti aliran waktu dan akan berhenti saat wujud fisik mereka berada di masa paling sempurna.
"!"
"Kalee-nee, kamu mau mencuci?" tanya Kota begitu menyadari Kaleena membawa keranjang cucian.
"Iya, hari ini giliranku."
".... Sebaiknya Kalee-nee lebih berhati-hati. Tadi aku baru turun ke desa untuk mencari alkohol, disana ada sesuatu yang tidak enak didengar menyebar," kata Kota serius.
"Sesuatu… rumor aneh lainnya?"
"Kupikir tidak sesederhana itu. Warga desa melihat sungai berubah merah di saat-saat tertentu. Saksinya tidak hanya satu orang, saat ditelusuri tidak ada apapun disana. Tapi sudah jelas itu darah. Anehnya meski semerah itu, tidak ada tanda orang ataupun hewan terluka," terang Kota.
Kaleena berpikir sejenak, ".... Apa mungkin itu darah monster?"
"Sayangnya tidak. Orang-orang pasti langsung tau kalau itu darah monster, karena darah monster akan mengundang monster lainnya. Baunya pun sangat busuk. Ini yang aneh lainnya, orang desa yang melihatnya langsung bilang aroma sungai menjadi wangi saat berwarna merah. Seperti… aroma wine."
"Wine? Bagaimana mungkin?!"
"Aku juga tau itu sulit dipercaya. Namun kesaksiannya terlalu banyak untuk sekedar rumor kosong. Itulah kenapa, tolong berhati-hatilah saat didekat sungai."
"Aku mengerti. Terimakasih informasinya."
Kaleena berpisah dengan Mio dan Kota setelah itu. Terlihat Mio sempat menjulurkan lidahnya saat kepergian gadis itu. Tentu saja Kota langsung memarahi dan menasehatinya. Namun seperti biasa, nasihat itu hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.
__ADS_1
"Omong-omong, Kota-nii… apa sungai merah tadi beneran?" tanya Mio polos dengan mata berbinar-binar.