Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 5 [ Kepergian Luci-nee (2) ]


__ADS_3

Malam Kepergian Lucifer


Wanita malaikat itu lagi-lagi menyisir sayap putihnya setelah ditinggalkan anak kitsune pulang ke tempat asalnya. Dia sedikit sedih dan kesepian. Saat Kitsune kecil ada disisinya, tempat itu tidak pernah terasa kosong dan sepi.


"Ini lucu… kalau Gaby melihatku sekarang, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak," ucapnya sendiri.


Malaikat yang menyebut dirinya Lucifer ini melihat langit di atasnya. Ada siluet kerinduan yang terpancar pada mata wanita itu.


"Gaby… Ury… Raphy… Azry… bagaimana kabar kalian ya…"


"Kita semua terpisah karena serangan terakhir Dewa Kejahatan sebelum kembali tersegel. Aku akan sangat bersyukur kalau keadaanku adalah yang paling parah. Karena itu artinya… kalian pasti lebih baik dariku," gumamnya sedih.


Ingatan kala itu kembali melintasi kepalanya. Pada serangan terakhir Dewa Kejahatan sebelum dirinya kembali tersegel, dia masih sempat melemparkan mantra yang meledakkan tubuh kosongnya agar dia bisa menyeret para malaikat itu kembali pada sang Dewi. Ledakan yang dia ciptakan begitu kuat hingga langsung merubah peta Benua Iblis dan membuat area yang tak terkena dampak langsung mengalami kegersangan.


Tentu saja tidak mungkin Lucifer dan teman-temannya yang berada tepat di depannya tidak terluka. Pada saat itu, Lucifer dan teman-temannya terkena ledakan langsung dan terpental ke segala arah. Saking dahsyatnya ledakan itu, Lucifer terpental dari Benua Iblis langsung ke Benua Sihir. Dia menabrak sebuah gunung dan membuat gunung itu seketika terbelah dua.


Sungguh suatu keajaiban dirinya masih bertahan hidup meski berada di ambang kematian. Butuh waktu sekitar 2 bulan hingga Lucifer melewati masa kritis berkat skill pasif pemulihan dirinya. Dan pada waktu itu, dirinya bertemu dengan Mio sang kitsune kecil.


Lucifer memeluk membenamkan wajahnya sembari memeluk kakinya. Air matanya menetes beberapa kali saat mengingat terakhir kali dia melihat ke-4 sahabatnya.


"Aku merindukan kalian…"


"....."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"....el.."


".....iel…"


Telinga Lucifer samar-samar menangkap suara.


"Hmm?"


"..... ciel!


"Suara itu!" batin Lucifer tersentak.


"Luciel!!!!!"

__ADS_1


Begitu suara tadi terdengar jelas, Lucifer seketika bangun dan menoleh ke asal suara itu.


Dari atas langit terlihat beberapa malaikat yang dipimpin oleh malaikat lain yang lebih mencolok terbang ke sana kemari. Wanita malaikat yang memimpin mereka terus-menerus meneriakkan nama yang sama.


"LUCIEELLLL!!!!!!!!!!"


Mata Lucifer seketika berair saat wanita yang meneriakkan nama itu terlihat jelas di matanya.


"U…riel…" jawabnya hampir menangis.


Wanita malaikat yang dipanggil "Uriel" tadi langsung menoleh dengan cepat ke arah bawah, di tengah hutan. Matanya langsung menangkap keberadaan Lucifer yang kesulitan berdiri itu.


"Luciel!!!!!"


Uriel, sang wanita malaikat terbang secepat yang dia bisa menuju sahabatnya. Tanpa memberi waktu Lucifer untuk melakukan apapun, wanita itu langsung memeluk Lucifer hingga tangisnya pecah.


"Lucy!!! Dasar bodoh!! Kenapa tidak menghubungi kami!? Kenapa tidak… menjawab panggilan kami… Kukira kamu sudah… kamu sudah…"


Lucifer… tidak, Luciel membalas pelukan Uriel perlahan.


"Maaf Ury… aku-"


Belum sempat Luciel menjawab, Uriel langsung mengadahkan kepalanya dan menatap Luciel lekat-lekat.


"Penjelasannya nanti saja!! Lukamu sangat parah!!! Kita harus segera mengobatinya!!!!"


"Eh? Tung- Sebentar… aku…" balas Luciel ragu. Dia tidak bisa pergi sekarang, dia bahkan belum mengucapkan selamat tinggal pada kawan kecilnya.


"......."


Luciel sebenarnya hendak meminta waktu sedikit lebih lama lagi. Namun melihat tubuh Uriel yang gemetaran, dia mengurungkan niatnya.


Uriel menutup mulutnya. Namun dirinya tak bisa menghentikan tubuhnya yang gemetaran dan matanya yang mulai sembab.


"Kumohon Lucy… aku tidak mau… kehilanganmu juga…"


"!?"


Luciel mendorong bahu Uriel agak keras dengan ekspresi shock.


"Tunggu! Apa maksudmu 'juga'!?"


"......"


Firasat Luciel langsung memburuk.


"Hei, katakan padaku!! Apa yang terjadi selama aku tidak ada!?"


"......"


"URIELLL!!!!!!" jerit Luciel marah.


Uriel mengigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya ke samping, dia tidak berani menatap Luciel sekarang. Dia juga tak kuasa mengatakan yang sebenarnya pada Luciel. Namun dia tau, Luciel juga berhak untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Azry… dia…" jawab Uriel gemetar.

__ADS_1


Mata Luciel terbelalak, meski Uriel belum mengatakan apapun selain itu, dia langsung tau. Luciel adalah malaikat yang hampir tidak pernah menangis, namun saat ini… air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.


"...... Uriel. Ayo pergi."


"?"


"Apa yang kau tunggu!!? Kita pergi sekarang!!!" jerit Luciel antara sedih dan marah.


Uriel mengangguk, dia tau Luciel adalah wanita yang sangat peka. Luciel pasti menyadari apa yang terjadi.


"Umm…"


Uriel membantu Luciel terbang. Di temani beberapa malaikat lain, mereka meninggalkan hutan itu dengan cepat tanpa meninggalkan apapun. Saat itu, seluruh pikiran Luciel benar-benar kacau. Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain sahabatnya yang disebut Uriel tadi. Dia juga meluncurkan Mio sejenak karena kepanikannya.


Puluhan malaikat itu langsung terbang menuju Benua Melayang tanpa berhenti bahkan untuk istirahat.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Luciel memastikan.


"Gaby dan Raphy terluka cukup parah saat ditemukan. Namun itu tidak mengancam hidup mereka. Aku beruntung, aku terpental ke arah Benua Suci. Meski keadaanku cukup berbahaya saat itu, Saintess menemukan dan mengobatiku," jawab Uriel jujur.


"Begitu, syukurlah… lalu… Azry?"


"...... Azry… terpental jauh ke dalam Benua Iblis…"


Mata Luciel berkedut, hatinya terasa di sobek-sobek sekarang.


"Berapa… berapa lama… dia bisa bertahan sekarang?" tanya Luciel takut.


"Maafkan kami… tidak peduli apapun yang kami lakukan… itu tidak bisa sampai 1 Minggu lagi," jawab Uriel semakin menusuk hati Luciel.


"Begi…tu. Aku mengerti, itu artinya kita harus cepat. Setidaknya… aku ingin kita berempat tetap disisinya sampai akhir."


"..... Ya."


Tanpa sepengetahuan Uriel, Luciel menggenggam tangannya terlalu kuat hingga berdarah. Dia juga melakukan hal yang sama pada bibirnya.


"Maafkan aku… maafkan aku… aku minta maaf Azry… aku minta maaf… kalau aku tau akan begini jadinya… aku tidak akan berdiam lebih lama di dalam hutan… seharusnya aku langsung pergi mencari kalian meski aku terluka… kalau aku melakukan itu… kamu mungkin… tidak akan…"


"Jangan berpikir untuk menyalahkan dirimu sendiri Lucy," ucap Uriel tiba-tiba.


"?"


Uriel tersenyum pahit, "Aku… menemukan Azry satu Minggu setelah aku bertemu Saintess. Saat itu lukanya memang sudah terlalu parah untuk diselamatkan bahkan dengan kekuatan Saintess."


"Dia masih bisa hidup sampai sekarang… benar-benar suatu anugrah."


"......."


Uriel berusaha untuk tersenyum, namun dirinya tidak bisa. Air matanya mengalir begitu saja.


"Kau tau… saat itu… ada satu hal yang sempat dia katakan sebelum kesadarannya hilang."


"?"


"Aku ingin… melihat keempat saudariku didepanku. Dengan begitu aku… tidak punya penyesalan apapun lagi…" kata Uriel menirukan kata-kata sang sahabat.

__ADS_1


Mendengar itu, tidak mungkin bagi Luciel menahan air matanya lagi. Tangisnya pecah dalam keheningan. Para malaikat biasa yang terbang bersama mereka menundukkan kepala seolah membiarkan mereka berdua untuk menangis sepuasnya tanpa perlu memikirkan citra mereka sebagai pemimpin.


Pada hari itu, puluhan malaikat terbang di langit bersama. Dan dua wanita didepan mereka… meluapkan kesedihan dengan tangisan yang sangat memilukan hati siapapun yang mendengarnya.


__ADS_2