
Hari keempat sejak Kaleena menggendong adiknya keluar dari Kerajaan Amamiya. Kaleena merasakan suatu keanehan tak biasa. Entah karena alasan apa, sejak 2 hari yang lalu, pengawasan dari Kekaisaran Anessa mengendur meski tidak sepenuhnya. Namun itu cukup untuk membuatnya bisa istirahat sesekali untuk mengisi ulang mana sebelum kembali berlari.
Dan kini... dirinya telah sampai di ujung Tenggara Benua Sihir, suatu tempat yang disebut Kota Pelabuhan Marina. Pelabuhan tenggara yang menjadi wilayah paling dekat dengan Benua Iblis, jika pulau-pulau yang berada di antara 2 Benua itu dikecualikan. Karena kota ini paling dekat dengan Benua Iblis di Benua Sihir, pengaruh Benua Suci di tempat ini sangat minim. Apalagi karena beberapa ras asli kota ini memiliki darah campuran iblis.
"Aku tidak bisa mengatakan tempat ini aman sepenuhnya, tapi setidaknya disini akan lebih baik dari tempat lain. Iblis tidak suka apapun yang berhubungan dengan Benua Suci, apalagi Kekaisaran Anessa. Jadi mereka tidak akan melakukan sesuatu seperti melaporkan keberadaan kami," batin Kaleena kelelahan.
"Sekarang aku harus cari kapal untuk pergi ke pulau yang master maksud."
Kaleena kembali menggendong Mio di punggungnya setelah beristirahat beberapa menit. Keadaan wanita itu cukup berantakan. Bukan dalam artian dirinya kotor dan bau, melainkan kondisi fisiknya. Kantung matanya besar karena tidak tidur berhari-hari, tubuhnya keram disana-sini karena terus menggendong Mio, pakaiannya sobek dimana-mana karena terus terluka demi memastikan tangan dan kakinya tidak berhenti bergerak.
Dalam keadaan seperti itupun, sang kakak terus memaksa dirinya ke tempat tujuan dengan adik di punggungnya.
Mata Kaleena mulai mengabur, tak peduli apa yang terjadi pada dirinya, Kaleena tetap menggeret kakinya menuju Kota Pelabuhan Marina. Didepan gerbang, dirinya dicegat oleh 4 penjaga gerbang yang memiliki keunikan khusus. Mereka memiliki sisik ikan di tubuh mereka, sirip yang menempel di wajah, selaput di antara jari-jari mereka dan beberapa ada yang memiliki ekor atau antena.
Hampir semua penghuni kota ini berpenampilan seperti itu. Karena mereka berasal dari ras yang sama.
⟨ Okeanid ⟩
Adalah sebutan untuk semua makhluk yang termasuk dalam ras yang hidup di laut. Okeanid dilindungi dan memuja naga air Leviathan sebagai pemimpin mereka. Ras-ras seperti Mermaid, Kraken, Cetus, Hippocampus, dsb termasuk kedalam Okeanid. Siren yang merupakan kaum Naiad (ras yang hidup di air tawar) menjadi salah satu pengecualian dari ras-ras itu dan diizinkan untuk tinggal di laut bersama mereka.
"Berhenti disana! Apa tujuanmu datang ke kota ini?" tanya salah seorang penjaga.
"Aku harus menemui seseorang... adikku... dia butuh pertolongan..."
Kaleena sudah mempersiapkan diri mengatakan itu pada penjaga, namun...
"Aku har... us..."
BRRUUUUGGHHHH
"!!!!!!!!"
Belum sempat dirinya menjelaskan apa tujuannya, tubuh Kaleena yang mencapai batasnya ambruk didepan keempat penjaga gerbang dan membuat mereka panik kebingungan.
"Se-seseorang pingsan!!! Ambil tandu!!!!!!"
"Cepat!! Kita harus membawanya ke..........."
"Aduh, kenapa saat aku lagi bertugas sih....."
"Jangan bicara gitu, kita......"
"..... iklah...."
__ADS_1
Suara-suara para penjaga tak lagi dapat Kaleena dengar. Dia sudah tidak memiliki tenaga untuk melakukan apapun lagi. Dirinya yang sudah membuat 80% mana-nya secara otomatis akan tersalur menjadi sihir pembeku waktu, hanya memiliki sisa 20% mana untuk bergerak cepat dan regenerasi tubuhnya yang dia potong karena kelelahan ekstrim. Walaupun dirinya juga sesekali mengisi ulang mana lewat pohon, tidak mungkin itu semua tidak memiliki batasan. Dan sekaranglah batasannya, tubuhnya tidak kuat lagi menanggung tindakan-tindakan ekstrim wanita itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku yakin gadis di punggungnyalah alasan itu semua," balas wanita muda disebelahnya.
"Kalau bawa orang terluka, ngapain kesini!!? Harusnya ke tempat para healer kan!? Tempat ini perbatasan, loh!? Perbatasan dengan Benua Iblis lagi!!!" kesalnya.
"Dia pasti punya alasan..."
"Apapun alasannya, itu pasti gila!! Kau lihat sendiri Lynn, kondisi gadis di punggungnya itu gak normal!!! Dia sekarat dan bisa mati kapan aja!!"
"Kau kira aku gak tau itu, Hurley!? Melihat wanita ini bawa dia kesini sambil bekuin waktu gadis ini, artinya dia butuh bantuan seseorang dari tempat ini!!!"
"Mana ada seseorang sehebat itu di sini!!!??"
"Ya mana aku tau!!!!!"
"Berisik... Kepala sakit... Apa yang terjadi?"
Samar-samar Kaleena mendengar suara dari dua orang yang berdebat di sebelah kasurnya. Saat ini, Kaleena tengah berada di suatu tempat perawatan di Kota Marina. Saat dirinya pingsan didepan gerbang, keempat penjaga yang melihatnya tidak diam saja dan membawa Kaleena serta Mio ke tempat ini. Sekarang dua dari mereka menjaga Kaleena dan Mio di sebelah mereka meninggalkan dua penjaga lain untuk berjaga di gerbang.
__ADS_1
"Ukhh..." Kaleena mencoba bangkit dari tidurnya sembari memegangi kepalanya.
"!"
Menyadari wanita yang mereka tolong sudah bangun, dua penjaga tadi berhenti berdebat dan seketika mengalihkan perhatian mereka pada Kaleena.
"Apa kamu sudah lebih baik?" tanya penjaga wanita ramah.
"Kau tiba-tiba pingsan gitu didepan gerbang, jangan coba-coba salahin kami atau kota ini karena salahmu sendiri ya!" kata penjaga pria memperingati Kaleena.
DUUGGGHHHH
Mendengar kata-kata tidak sopan dari temannya, penjaga wanita disebelahnya memukul kepala si penjaga pria agak keras. "Adaoww!!! Apaan sih mukul-mukul!!?"
"Ya kamu itu!! Apa yang kamu katakan sama orang yang baru sadar dari pingsan, gobl*k!!"
"Akukan cuma jaga-jaga biar dia gak sembarangan!!"
"Tapi itu gak sopan banget, woi!!
Kaleena tidak bisa berkata-kata, dia tidak menemukan celah untuk berbicara di tengah pertengkaran mereka. Jadi wanita itu memutuskan untuk membiarkan mereka bicara sepuasnya dulu sembari mencoba mencerna situasi yang ada. Dengan kepala dingin, dirinya melihat sekelilingnya. Mio terbaring disebelahnya.
"Sepertinya ini tempat pengobatan... semacam rumah sakit atau UKS. Artinya penjaga gerbang menolong kami dengan membawa kami kemari. Luka di tubuhku juga cukup membaik, ada yang memakaikan sihir penyembuh padaku ya?" batin Kaleena.
"Anu... terima kasih sudah menolong saya dan adik saya, bagaimana saya bisa membalasnya?" tanya Kaleena sopan saat keduanya selesai bertengkar.
"Cukup bayar pajak masuk aja," jawab penjaga pria ketus.
Penjaga wanita tersenyum menyeramkan lalu mendorong penjaga pria ke belakang agar dia dan lidah pedasnya menjauh dari pasien.
"Sudah kewajiban kami untuk menolong orang yang dalam masalah. Tapi seperti yang dia bilang, untuk masuk ke Kota ini, pengunjung harus membayar pajak sebesar 2 koin emas kecil untuk orang dewasa."
"2 Koin emas kecil!!??" kaget Kaleena dalam hatinya.
"Bahkan di Kekaisaran besar saja pajak masuk cuma 4 koin perak untuk orang dewasa dan 2 koin perak untuk anak-anak. Tapi disini 5x lipatnya!?"
"Ah!! Barusan kau kaget karena harganya kan!!! Denger ya! Kamu harusnya bersyukur cukup bayar segitu aja!! Biaya pengobatanmu gak di tagih karena kebaikan hati Chuya!!!" marah sang penjaga pria.
DUBBRAAAKKKKKK
Melihat rekannya sekali lagi bertindak kasar pada pasien, sang penjaga wanita bertindak lebih kasar. Dia memukul penjaga pria tepat di perutnya hingga pria itu terpental jauh menabrak dinding.
__ADS_1
"Hohohoho~ abaikan saja dia. Kita bicara berdua saja," ucapnya seolah tak terjadi apa-apa.
"Ba-baik..."