
Malam itu Mio menerima ocehan panjang lebar dari kakak-kakaknya dan Masternya juga. Tapi dia sama sekali tidak mempermasalahkan itu karena dirinya mendapatkan teman baru.
Semenjak itu, Mio selalu menyelesaikan latihannya lebih cepat dari biasanya dan segera datang menemui Lucifer tanpa sepengetahuan yang lainnya. Mio kerap kali membawa barang-barang beraneka ragam untuk diberikan atau sekedar di tunjukkan ke Lucifer. Dirinya sempat membawa High potion, namun itu juga tidak terlalu berdampak pada Lucifer.
Lucifer tidak pernah mempermasalahkan itu, namun Mio sangat keras kepala. Dia jadi mempelajari cara pengobatan dan pembuatan potion lebih giat dari biasanya hingga membuat yang lainnya bingung. Sayang sekali, sihir cahaya adalah kasus yang berbeda.
Berkat kerajinan anak itu, kemampuannya bertambah drastis setiap harinya. Setelah 1 bulan dia giat berlatih, akhirnya potion buatannya ada yang berhasil menyembuhkan Lucifer meski hanya sedikit. Melihat adanya harapan, Mio semakin senang dan semangat belajar. Sejujurnya Lucifer merasa tidak enak karena seperti sedang memanfaatkan Mio. Namun melihat ketulusan anak itu pada dirinya, dia hanya bisa berterimakasih dan menyimpan budi baik itu untuk dibalas suatu saat nanti.
Begitulah waktu kebersamaan mereka telah berjalan selama kurang lebih setengah tahun.
Kakak-kakak Mio dan Masternya sudah mengetahui kalau Mio bertemu seseorang yang "terluka" dari tindakan Mio selama ini. Mereka tidak mempermasalahkan Mio mau melakukan apa, karena berkat orang itu, Mio menjadi semakin hidup. Mereka benar-benar bersyukur Mio bertemu teman baru yang baik itu.
Namun suatu hari, hari-hari biasa dan menyenangkan itu berakhir.
Jorona Kazuha, murid ke-4 Penyihir Agung saat ini tengah menyapu halaman rumah mereka.
TAP TAP TAP
"Oh! Kau sudah pulang, Mio. Bagaimana hari ini? Apa mainnya menyenangkan?" tanya Kazuha ramah.
__ADS_1
"Kazu-nii… HUAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!"
"!!"
Kazuha belum mendengar jawaban Mio, namun dirinya langsung membanting sapu dan berlari memeluk adiknya itu. Tangisan Mio semakin pecah hingga setiap kakaknya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing langsung menghampirinya.
Tak peduli bagaimana mereka mencoba menenangkan anak itu, Mio tidak berhenti menangis hingga beberapa hari berlalu.
"Mio. Sudah seminggu sejak saat itu. Kapan dia akan berhenti mengurung diri di kamarnya?" tanya Kota khawatir.
"Aku juga tidak tau. Ini pertama kalinya aku melihat Mio seperti itu. 'Teman' misteriusnya pasti sangat berharga baginya," jawab Lilia sama khawatirnya.
"Tapi kalian menyadari hal yang aneh tidak? Memang cairan merah yang mengalir di sungai semakin sedikit akhir-akhir ini. Tapi… sejak itu, cairannya benar-benar hilang," timpal Kaleena.
Samar-samar mereka tau kalau cairan merah itu kemungkinan adalah darah dari teman misterius Mio. Namun karena cairan itu tidak merugikan siapapun dan justru menjadi obat yang cukup ampuh, mereka membantu Mio agar teman misteriusnya tidak ditemukan orang-orang jahat hingga dia sembuh sepenuhnya.
BRAAAAAAAAKKKKKKKK
"!!!"
Suara pintu dibanting langsung mengejutkan mereka.
__ADS_1
"Mio!"
Miolah orang yang membanting pintu tadi. Akhirnya dia keluar kamar setelah seminggu menangis dan mengurung dirinya di kamar. Tentu saja penampilannya sangat berantakan. Matanya bengkak dan rambutnya acak-acakan.
"Mio… apa kamu… sudah tidak apa-apa?" tanya Kaleena.
Mio mengangguk lalu menggeleng.
"Mio tidak baik-baik saja… tapi Mio juga tidak boleh seperti terus. Kalau Luci-nee melihat Mio seperti ini… pasti Luci-nee akan sedih…"
"Mio…"
"Kamu benar! Jika temanmu memang seperti yang kamu selalu bicarakan, dia pasti akan begitu!" kata Kota menenangkan Mio.
"Lagipula… aku yakin dia punya alasan kenapa dia pergi begitu tiba-tiba. Apapun itu, pasti adalah hal yang mendesak. Jika tidak, dia pasti setidaknya akan berpamitan," ucap Kaleena ikut menenangkan adiknya.
Mio mengangguk, dia sudah bisa berpikir lebih jernih sekarang. Dia tidak bisa menangis dan meratapi kepergian Luci-nee setiap saat.
"Luci-nee… kita pasti akan bertemu lagi! Jika Luci-nee tidak datang menemuiku… maka aku yang akan mendatangi Luci-nee saat sudah besar nanti!" tekad Mio.
Kakak-kakak Mio bersyukur anak itu dengan cepat kembali ceria dan tetap rajin belajar seperti dia yang biasanya setelah bertemu Lucifer. Lama-kelamaan kesedihan akibat kepergian Lucifer semakin terobati oleh waktu. Namun sepertinya, dalam waktu yang sangat lama, Mio tidak akan bisa bertemu dengan Lucifer.
__ADS_1
Tepat seperti yang dikatakan Kaleena, Lucifer memang tidak pergi begitu saja karena keinginannya. Apa yang terjadi pada malam setelah Mio meninggalkan Lucifer yaitu…