Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 11 [ Kesakitan Yang Tiba-Tiba ]


__ADS_3

Istana Arc-Angel, Benua Melayang


BRAAAAAAAAKKKKKKKK


Luciel, salah satu dari 4 Arc-Angel yang memerintah Benua Melayang menggebrak meja dengan ekspresi sangat marah. Disudut meja lain, terdapat ketiga Arc-Angel dengan tambahan 1 kursi kosong.


"APA-APAAN MAKSUDNYA INI, URIEL!!!!?" bentak Luciel.


Uriel dengan tenang meminum tehnya. "Apanya yang apa, Lucy. Tidak biasanya kamu semarah ini karena masalah sederhana."


Gabriel dan Raphael gelagapan dan bingung bagaimana harus merespon di situasi seperti ini. Karena memang benar, tidak biasanya Luciel sampai semarah itu. Apalagi sampai memanggil Arc-Angel lain dengan nama lengkapnya, bukan nama panggilan.


"Masalah sederhana!?"


Luciel menatap Uriel geram. Dia menunjuk sebuah peta yang terlampir di atas meja.


"Apa maksudnya rencana pemusnahan Kerajaan Amamiya itu masalah sederhana!!?"


Dilihat dengan tatapan setajam itu dan kemarahan sebesar itu oleh Arc-Angel lain, tak membuat Uriel gugup atau ketakutan sedikitpun.


"Ini bukan pertama kalinya pihak sana memusnahkan keturunan makhluk dunia lain, bukan? Sebelumnya kamu biasa saja dan cenderung tidak peduli. Tapi kenapa sekarang kamu jadi sentimental begini?"


Luciel tak bisa berkata-kata. Seperti kata Uriel, ini bukan kali pertama keturunan dari transmigran dunia lain dimusnahkan karena berbagai alasan. Dan seperti kata Uriel, Luciel tidak terlalu mempedulikan itu semua sebelumnya karena itu di luar tugasnya.


"Tapi sekarang mana mungkin aku begitu! Habisnya... Kerajaan Amamiya... itukan tempat anak itu berada!!" batin Luciel.


Tangan Luciel gemetaran menahan emosinya. Uriel yang melihat itu hanya menghembuskan napas kecil sambil meletakkan cangkirnya.


"Lucy, kamu tau sendiri ini adalah masalah makhluk dibawah batasan. Makhluk di atas batasan apalagi Arc-Angel seperti kita, tidak boleh terlibat dalam urusan mereka."


"Jadi tenanglah! Jangan coba-coba melakukan sesuatu yang melanggar hukum!"


"Tapi-!"


"Luciel!!" bentak Uriel gantian.


"!"


Uriel memijat kepalanya, "Bagaimana bisa Arc-Angel yang lebih tua dan senior dariku sampai senaif ini tentang hukum."


"Kau tau sendirikan, hukuman apa yang akan menunggumu kalau terlibat masalah mereka!? Ini tidak akan berakhir hanya dengan hukuman sederhana atau skors!"


"..... Aku tau... Aku tau itu... tapi..."


"Ha~ahh... dari awal yang membuat rencana itu bahkan bukan Dewi maupun kita para malaikat. Itu dibuat dari manusia dan untuk manusia. Kecuali tindakan mereka sudah melebihi batas, barulah kita boleh turun tangan," ucap Uriel.


"Bahkan melawan Raja Iblis saja kita tidak boleh karena dia juga makhluk dibawah batasan. Apalagi perang diantara manusia."


Uriel bangkit dari kursinya, diikuti Gabriel dan Raphael yang tidak tahan dengan atmosfer ini.


"Tenangkan dirimu. Tidak ada yang bisa kita lakukan tentang ini. Dan jangan coba-coba turun ke sana untuk membantu mereka."


TAP TAP TAP TAP


Arc-Angel itu pergi meninggalkan ruang rapat agak dingin, Gabriel dan Raphael juga ikut meninggalkan ruang rapat sambil sesekali melirik Luciel untuk memastikan keadaannya. Sedangkan Luciel yang ditinggal sendirian di sana, gemetar dan kesal tentang fakta dirinya tidak bisa melakukan apapun karena dirinya terlalu kuat sehingga jika dia melakukan sesuatu, keseimbangan dunia akam terganggu.


BRAAAAAAAAKKKKKKKK

__ADS_1


"Sial!!!"


"Apa benar-benar tidak ada yang bisa kulakukan!?"


"Sama sekali tidak ada!!?"


"Aku... apa gunanya kekuatanku kalau aku bahkan tidak bisa membantu anak yang menolongku dulu!?" gumam Luciel marah pada dirinya sendiri.


TES TES TES


"Mio... apa yang harus kulakukan...?"


...***...


Ibukota Kerajaan Amamiya


Kota, Lilia dan Kazuha langsung menghampiri dan memastikan adik bungsu mereka baik-baik saja.


"Dasar anak ini! Aku akan menyembuhkan telingamu, diamlah sebentar!!" marah Lilia lega.


"Baik, Lilia-nee..."


Mio duduk dengan tenang dan membiarkan Lilia menyembuhkannya. Sihir cahaya tingkat tinggi di rapalkan, dengan cepat luka Mio sembuh seolah tidak pernah terluka dari awal.


"Makasih Lilia-nee!"


"Sama-sama."


Kota tersenyum lega, dia sungguh-sungguh bersyukur semuanya baik-baik saja.


Lilia langsung menangkap maksud Kazuha, "Kau benar Kota-nii. Itu tadi lebih ke... semacam bunyi sangkakala sebelum perang."


"Sebaiknya kita bersiap. Apapun yang akan terjadi mulai sekarang, itu pasti tidak sederhana," kata Kota diikuti anggukan ketiga adiknya.


"Sekarang juga, kita harus rapat strategi dengan Heika (Raja). Hime-sama, mari pergi bersama ke Istana!"


"Be-benar, ayo pergi!"


Tanpa membuang waktu lebih lama, para Youkai ditambah sang tuan putri segera melaju menuju Istana Kerajaan. Rakyat yang cemas langsung memberi jalan begitu melihat mereka.


Tapi belum sempat mereka sampai ke Istana...


.


.


.


.


DEEEEEEGGGGGGGGG


.


.


.

__ADS_1


.


"AAAAAAARRGGGGHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"


Para Youkai ambruk di tengah jalan dan menjerit kesakitan hingga membuat siapapun panik.


"!!!!!!"


"KOTA-SAMA!! LILIA-SAMA!!! KAZUHA-SAMA!!!! MIO-SAMA!!!!!"


Darah mereka bergejolak. Tubuh mereka panas dingin tidak karuan. Aliran mana yang kacau dalam diri mereka seakan siap meledak kapan saja. Darah juga keluar dari mata, mulut, telinga dan hidung mereka.


"YOUKAI-SAMA!!!!!!"


Rasa sakit luar biasa menyerang mereka di tempat yang berbeda. Namun reaksi mereka menunjukkan kemiripan. Para Youkai seakan berusaha menghilangkan sumber rasa sakit itu dengan melukai anggota tubuh yang terasa sakit.


"SAKITTT!!!!!!!!!"


Kota terus menerus merobek sayapnya sendiri hingga terluka parah, Lilia mencakar apapun yang bisa dia cakar hingga kuku dan jarinya mengelupas, Kazuha mematahkan dan mencabut kaki laba-labanya tanpa ampun dan Mio membenturkan ekornya kesana kemari sampai bulunya rontok dan kulitnya memar.


Tentu saja rakyat dan samurai yang melihat mereka tidak diam saja. Mereka segera menahan para Youkai agar mereka tidak semakin melukai diri mereka sendiri. Tapi apa daya, kekuatan para Youkai jauh di atas mereka. Mereka dengan mudah di pentalkan hanya dengan kekuatan fisik saja.


"Hotaru Hime-sama!! Apa yang harus kita lakukan!?"


Ekspresi Hotaru memburuk, tekanan dari rakyat yang panik ditambah para Youkai yang selalu mereka andalkan untuk melindungi Kerajaan sedang terbaring kesakitan membuatnya sulit membuat keputusan yang rasional.


"Hotaru Hime-sama!!!"


"! Ah... Menjauhlah dari Youkai-sama!! Mendekati mereka tidak akan membantu dan justru membuat diri sendiri terluka!!"


Hotaru membuat keputusan cepat. Dia memang putri yang sering bermain dan mengikuti Mio konser. Tapi bagaimanapun dia tetap Tuan Putri Amamiya. Jika bukan dia, tidak ada orang yang bisa membuat keputusan sekarang.


"Pasukan! Pergi sampaikan apa yang terjadi ke Istana secepatnya! Lalu bawa Healer dan Komandan Pasukan kemari!!" seru Hotaru.


"Baik, Hime-sama!!"


"Seluruh rakyat! Menjauh dari sini sejauh yang kalian bisa. Bahkan tanpa sihirnya, Youkai-sama tetap kuat dan berbahaya jika dalam keadaan tidak bisa mengendalikan diri!!"


"Ba-Baik, Hime-sama!!!"


"Siapapun yang bisa menggunakan sihir!! Kuperintahkan untuk segera menciptakan barrier atau apapun yang bisa menahan Youkai-sama!!! Lalu siapapun yang memiliki sihir cahaya meski tingkat rendah sekalipun, gunakan semua mana kalian untuk memastikan Youkai-sama tidak kehilangan terlalu banyak darah!!"


"Kami mengerti, Hime-sama!!!"


"Lalu pasukan yang menganggur!! Gunakan transfer mana dan berikan mana kalian pada siapapun yang menggunakan sihir!! Lalu lindungi mereka dengan nyawa kalian!!!"


"Siap, Hime-sama!!!!"


Semua orang bergerak mengikuti perintah Hotaru. Samurai tercepat langsung melaju ke istana, sementara samurai lain melakukan transfer mana sambil melindungi penduduk. Orang-orang yang bisa memakai sihir segera merapal mantra untuk menahan para Youkai, meski dengan mudah itu hancur hanya dengan kekuatan fisik yang melemah saja.


Rakyat biasa yang tidak bisa membantu apapun melarikan diri sejauh yang mereka bisa sembari terus berdoa pada Dewi untuk keselamatan Youkai-sama mereka. Semua rakyat bekerja sama sebisa mereka untuk menolong Youkai-sama yang selalu melindungi mereka. Mereka berpikir, karena mereka sudah sering dilindungi, kali ini adalah giliran mereka untuk melindungi.


Kabar baiknya, berkat arahan sang putri, kerja sama rakyat dan juga kontrol diri para Youkai yang tidak menyerang apapun selain diri mereka sendiri, tidak ada rakyat yang menjadi korban sampai bala bantuan dari istana datang.


Sedangkan kabar buruknya...


Tidak ada yang berubah bahkan ketika bala bantuan telah tiba.

__ADS_1


__ADS_2