Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 28 [ Petunjuk Menemukan Orang Itu ]


__ADS_3

"Maafkan ketidaksopanan rekanku," ucap sang penjaga wanita.


"Biar kujelaskan dulu. Ada alasan kenapa pajak di tempat ini jauh lebih tinggi dari tempat lain. Seperti yang kau ketahui, tempat ini adalah perbatasan dengan Benua Iblis, dengan kata lain tempat ini sangat berbahaya. Banyak monster level tinggi yang siap menyerang kapan saja."


"Dengan membayar pajak, artinya sang pembayar mendapatkan hak penuh perlindungan dari kota ini. Bisa dibilang kota ini menjamin keselamatanmu selama kamu membayar pajak," terangnya.


Kaleena mengangguk, meskipun dia sudah ada di level yang cukup kuat untuk melindungi diri dari monster-monster itu, dia memilih tetap diam dan menurut saja daripada terkena masalah yang lebih merepotkan. Toh tak ada salahnya menerima perlindungan disaat dirinya tengah terluka. Wanita itu memang meninggalkan semua barang-barangnya di Kekaisaran Levana dan sisanya di Kerajaan Amamiya. Namun berbeda dengan uang, dia masih membawa beberapa karena jika tidak punya uang, maka dia akan sulit memasuki kota, membeli makanan, dsb.


Kelima Youkai di Kerajaan Amamiya, masing-masing memiliki momento yang ditanamkan sihir ruang oleh sang master. Disanalah, mereka dapat menyimpan beberapa barang berharga dengan jumlah terbatas. Untuk Kaleena, momento itu adalah hiasan rambutnya. Karena letaknya yang tak biasa, tak ada yang menyangka hiasan rambutnya adalah dompetnya.


Kaleena melepaskan hiasan rambutnya, mengutak-atiknya sedikit, dan membuka sihir ruang didalamnya. Sang penjaga wanita dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Kaleena. Namun dirinya tidak mengatakan apapun, karena itu termasuk privasi seseorang.


Dari hiasan rambut itu, keluar dua buah koin emas kecil sesuai yang diminta mereka. Kaleena langsung memberikannya pada Sang penjaga wanita dengan sopan.


"Maafkan saya sudah merepotkan Anda semua. Lalu, terimakasih sudah menyelamatkan saya dan adik saya."


"Sama-sama, sudah tugas kami sebagai penjaga kota ini untuk menyelesaikan rakyat dan pengelana yang datang," jawab sang penjaga ramah.


"Kalau kau menemui masalah, datang saja padaku. Aku akan mencoba sebisaku untuk menolongmu! Ah, namaku Lynn dan pria bodoh disana itu Hurley."


"Terimakasih banyak, saya sangat menghargai perhatian Nona Lynn."


"Lynn aja, gak usah pakai 'nona' segala dan gak usah ngomong pakai bahasa formal. Aku bukan orang penting juga," senyumnya.


".....Baiklah, Lynn. Namaku Kaleena, adik-adikku memanggilku Kalee-nee, tapi biasanya teman-temanku memanggilku Leena," balas Kaleena tak formal namun tetap sopan.


"Oke, aku akan memanggilmu Leena juga. Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi, Leena?"


"Ada... Tadi kudengar seseorang bernama Chuya lah yang menyembuhkanku. Aku juga ingin berterimakasih padanya, siapa dia dan dimana aku dapat bertemu dengannya?"


Mendengar pertanyaan Kaleena, Lynn diam mematung, tak tau harus menjawab apa. Dia juga sempat menacing ke arah Hurley yang masih terduduk kesakitan karena menerima tinjunya.


".... Apa itu pertanyaan yang tidak boleh kutanyakan?" tanya Kaleena khawatir.


Lynn menggaruk pipinya canggung, "Tidak, bukan begitu... hanya saja..."


"Katakan saja! Toh kamu yang bilang kalau dia boleh tanya apa aja, kan?" timpal Hurley di tengah-tengah kebingungan Lynn.

__ADS_1


Meski sempat mendapat tatapan tajam dari Lynn, Hurley tidak bergeming. Dia hanya menebas-nebas bajunya yang kotor karena tumbrukan tadi.


"Kalau kamu gak mau jawab, apa aku aja yang jawab?"


"Gak usah!"


"Aku bisa jawab sendiri!" kesal Lynn.


Kaleena, "?"


Lynn mengambil jeda beberapa saat lalu menghela napasnya agak panjang. "Emm... jadi gini Leena... Chuya itu adalah... pelayan Tuan Leviathan. Karena para pelayan Tuan Leviathan hampir selalu bersama beliau, jadi sulit untuk bisa menemuinya tanpa mereka sendiri yang datang. Itu karena lokasi Tuan Leviathan selalu berpindah-pindah dan tidak menetap..."


"Pelayan Tuan Leviathan!?" kaget Kaleena.


"Hari ini kebetulan saja Chuya sedang pulang. Jadi aku memintanya datang untuk menolongmu sebentar. Dia sudah kembali ke sisi Tuan Leviathan karena waktunya libur sudah habis," lanjut Lynn.


"Hm? Kamu yang memintanya? Terimakasih banyak... bukan hanya menolong kami, kamu juga membawakan seorang penyembuh untuk mengobatiku," tunduk Kaleena rendah hati.


"Ah!! Gak perlu gitu! Yang menolongmu itu Chuya! Dia juga yang melakukannya tanpa mengharapkan imbalan! Rasa terimakasihmu untukku sudah cukup dengan yang tadi!" sanggah Lynn sedikit kelabakan.


"Tetap saja, terimakasih banyak. Kalau kamu tidak memintanya mengobatiku, aku pasti sudah dalam kondisi yang buruk sekarang."


Kaleena tersenyum, dia benar-benar bersyukur dirinya bertemu dengan orang baik begitu tiba di Kota ini.


"Lynn, bolehkah aku bertanya beberapa hal lagi?"


"Tentu."


"Kenapa orang bernama Chuya ini setuju untuk menolongku? Terlebih lagi tanpa bayaran. Apa semua pelayan Tuan Leviathan memang baik seperti itu?" tanya Kaleena lagi.


"Hah!? Ya kali mereka pada mau nolong gitu aja. Kalau bukan karena Lynn yang minta, mana mau anak itu nolong kamu!!" sanggah Hurley agak kasar.


"Hurley!!!!"


"Apa!? Memangnya aku salah bicara!?"


"?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa bisa begitu?" tanya Kaleena.


Lynn, "Itu karena-"


"Chuya itu adiknya Lynn," potong Hurley.


"Bocah ini!! Bisa diem dulu gak sih!!!!" marah Lynn yang dari tadi dipotong terus ucapannya.


Kaleena membelalakkan matanya. Dirinya tidak menyangka, disaat dia mencari arang, dia justru menemukan berlian. Dari semua hal yang membuatnya bersyukur begitu sampai, hal inilah yang paling membuatnya bersyukur. Karena dirinya menemukan cara untuk terhubung dengan Tuan Leviathan yang merupakan guru dari masternya. Sekaligus orang yang harus dia temui untuk menyelamatkan Mio.


"Master memang menyuruhku pergi ke pulau itu untuk mencari Tuan Leviathan karena beliau paling sering mampir ke sana. Tapi tetap saja butuh waktu cukup lama untuk menunggunya datang. Namun sekarang aku gak harus ke sana lagi, ada cara yang lebih efisien untuk menemukan beliau!" batin Kaleena senang.


"..... dung?"


"Huh!?"


Karena terlalu sibuk berdebat, Lynn dan Hurley tak begitu mendengar pertanyaan Kaleena. Jadi mereka diam sejenak agar bisa mendengarnya dengan jelas kali ini.


"Apa Lynn dan Chuya adalah saudara kandung!?" tanya wanita itu penuh harapan.


"I-Iya... kami saudara kandung... kenapa?" jawabnya agak tertekan dengan tatapan penuh harapan itu.


"Bagus!!!!"


"!?"


Kaleena yang sudah begitu putus asa memegang kedua tangan Lynn dan menatapnya dengan mata memohon yang dipenuhi sinar harapan. Lynn dan Hurley seketika membeku karena terkejut dan kebingungan dengan situasi ini.


"Bi-biar kukatakan lebih dulu, aku gak bisa mempertemukan mu dengan Chuya, loh! Meskipun kami memang saudara kandung. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, hanya saat para pelayan sendiri yang datang, orang-orang baru bisa bertemu dengan mereka. Kita tidak bisa menemui mereka duluan," jawab Lynn gelagapan karena panik dan tertekan.


"Be-benar!! Jangan kau kira tatapan seperti itu bisa membuatmu mendapat apa yang kau mau!!" timpal Hurley yang entah kenapa ketularan panik.


Namun berbeda dari kekhawatiran mereka, Kaleena justru menggeleng ringan. Seolah menjawab bahwa bukan itu yang dirinya inginkan. Setelah menggeleng, lagi-lagi Kaleena mengeluarkan tatapan yang sama, kali ini terlihat lebih bersemangat.


"Tolong berikan aku rambutmu!!!!"


"?"

__ADS_1


"HAAAHHHHHHHH!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?"


__ADS_2