Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 3 [ Tenshi no Onee-chan!!! ]


__ADS_3

Sementara itu di suatu tempat


"Hatchiii…"


Mio menggosok hidungnya pelan.


"Lilia-nee dan Kalee-nee pasti sudah sadar aku hilang. Aku harus cepat pergi!!" cengir gadis itu.


Beberapa saat yang lalu, di kala Lilia dan Kaleena sibuk membicarakan sesuatu, Mio merasa bosan hanya diam disana. Perhatiannya langsung teralih begitu dia melihat sebuah bola mata agak besar melayang di sekitar sungai merah. Tanpa berpikir dua kali, Mio langsung mengikuti bola mata itu masuk ke dalam hutan.


Semakin lama dirinya memasuki hutan, tumbuhan disana semakin berbeda. Hawanya semakin suram dan gelap, sekarang cahaya matahari tak lagi menyentuh permukaan. Namun anehnya, itu tidak terlihat menyeramkan. Semua ini berkat kunang-kunang yang terbang mengelilinginya.


"Aku kehilangan bola mata tadi saat lengah sebentar," batin Mio kesal.


Mio menoleh kesana kemari. Arah manapun terlihat sama di matanya. Kepala Mio berputar ke kanan 45°, ekspresi dan tangan yang terlihat berpikir itu benar-benar imut.


"Mio tidak bisa kembali. Bola mata juga hilang… sekarang gimana dong?"


Di tengah kebingungan itu, hidung kecilnya mengendus sesuatu yang enak. Perutnya langsung bergemuruh karena lapar. Sembari menggoyang-goyangkan ekornya, Mio langsung memutuskan mengikuti aroma itu.


Dan apa yang dia lihat di ujung aroma itu adalah…



"Wahhh….!!!!" kagum Mio dengan mata berbinar-binar.


"Cantiknya…"


Terlihat pantulan dari mata Mio, sesosok wanita dengan kecantikan luar biasa melebihi siapapun yang pernah dia lihat sebelumnya. Rambut cream dan mata sapphire nya terlihat begitu bercahaya dengan lambang ✡️ cantik. Namun yang paling mengejutkan gadis kecil itu adalah tiga pasang sayap putih bersih yang besar dan lembut di punggung wanita itu dan cincin halo emas bersinar yang melayang di kepalanya.


"Ah!!!"


Namun ada yang tidak benar. Wanita itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dirinya bahkan kesulitan untuk duduk dengan benar. Darah yang mengalir dari sayap dan punggungnya terus keluar tanpa henti. Jika dilihat baik-baik, selain luka parah di punggungnya, dia juga memiliki beberapa luka lain di sekujur tubuhnya.


"O-onee-chan… kamu… terluka!!!" panik Mio begitu menyadari seberapa parah luka wanita itu.


Wanita itu hanya diam melihat Mio yang gelagapan tak tau harus berbuat apa. Dia tidak merasa Mio adalah ancaman, sehingga dia tidak melakukan apapun.


Mio kecil langsung menghampiri wanita itu dan menggunakan sihir cahaya untuk menyembuhkan wanita itu. Tapi tidak ada yang terjadi. Luka wanita itu sama sekali tidak membaik. Melihat sihirnya tidak bekerja, Mio mulai mengeluarkan air mata.


"Ba-bagaimana ini?" ucapnya terisak-isak.


Tak tahan melihat anak kecil menangis, wanita itu menghembuskan napas kecil.


"Tenanglah, sihirmu tidak bekerja itu bukan salahmu. Aku memang tidak bisa di obati lewat sihir cahaya seperti itu."


"Huh?" bingung Mio.


"… HP-ku terlalu besar untuk diisi ulang dengan sihir cahaya tingkat rendah. Jadi berhentilah membuang-buang mana-mu."


"Ka-kalau begitu aku akan memanggil Kalee-nee!! Dia bisa memakai sihir cahaya tingkat tinggi!!!" ucap Mio melihat harapan.


Tanpa mengubah ekspresinya, wanita itu melirik lukanya.


"Tidak ada gunanya. Lukaku terlalu parah."

__ADS_1


Mata Mio semakin berair, untuk pertama kalinya dia merasa jika dia terlalu lemah dan tidak berguna.


"Jangan menyerah begitu!! Kalau menyerah onee-chan bisa mati loh!!" tangisnya.


Wanita itu hanya diam saja. Dia benar-benar tidak pandai berurusan dengan anak kecil.


"Berhenti menangis! Aku tidak akan mati. Meskipun tidak langsung menyembuhkanku, aku punya skill pasif yang bisa memulihkan ku sedikit demi sedikit. Yang harus kulakukan hanya istirahat saja."


"Beneran?"


"I-iya…"


"Syukurlah…" ucap Mio lega.


Wanita itu ikut lega karena Mio berhenti menangis. Sebenarnya dia menyadari keberadaan Mio sejak awal. Bola mata yang melayang di sekitar sungai tadi jugalah skill-nya. Seharusnya tidak ada yang bisa melihatnya, makanya dia sedikit penasaran dengan anak yang bisa melihatnya dan mengikuti mata itu.


Namun dia menyesal sudah penasaran dan membiarkan anak itu mengikuti matanya. Energinya habis karena meladeni Mio meski hanya sesaat saja.


Mio yang sudah lega dan berhenti menangis mendudukkan dirinya disebelah wanita itu.


"?"


"Nee… onee-chan. Aku Mio! Kitsuna Mio! Kalau onee-chan?" tanya Mio ceria.


Wanita itu berkedip beberapa kali, "Sekarang tiba-tiba saling perkenalan?"


Dia hening sesaat sebelum menjawab Mio.


"Aku tidak bisa sembarang mengatakan identitasku. Bahkan meskipun itu dengan anak kecil."


"Lucifer? Lalu aku akan memanggil onee-chan Luci-nee!!!" senyum Mio lebar.


Wanita yang mengaku bernama Lucifer itu memiliki pertarungan batin dalam dirinya, "Apa ini… akan baik-baik saja?"


"Luci-nee!! Apa Luci-nee itu malaikat?!" tanya Mio bersemangat.


".... Ya."


"Lalu kenapa ada malaikat disini? Master mengajariku kalau malaikat adanya di Benua Melayang!"


"Ada… sesuatu."


"Jadi begitu! Luci-nee bertarung melawan orang jahat di sini dan terluka parah!!" kata Mio seenaknya membuat kesimpulan.


".... Anggap saja begitu."


"Tapi Luci-nee… master memberitahuku kalau darah malaikat berwarna emas. Kenapa Luci-nee merah?" tanya Mio langsung.


Lucifer terdiam lagi. Sulit memikirkan alasan untuk mengelabui anak kecil.


"Darahku seperti ini karena aku salah satu Arc-Angel pertama. Tapi Arc-Angel pertama itu… tidak bisa kukatakan padanya."


"Ah!! Apa karena Luci-nee setengah malaikat!? Kalau setengah mungkin jadi merah!" ucap Mio seenaknya lagi.


"Anak ini… imajinasinya luar biasa. Yah, tidak perlu membenarkannya juga," batin Lucifer lelah.

__ADS_1


"Begitulah."


"Lalu, lalu! Apa sungai yang jadi merah karena kena darah Luci-nee?" tanya Mio bersemangat.


Lucifer sedikit tidak nyaman karena anak itu mulai mengintrogasinya. Namun dia tidak bisa menolak tatapan berbinar-binar semacam itu.


".... Iya."


"Wahh!! Apa itu berbahaya? Kenapa rasa dan aromanya seperti wine?"


".... Darah malaikat memang memiliki sifat membuat kecanduan. Tak heran jika rasa dan aromanya mirip minuman beralkohol. Tapi jangan khawatir, itu tidak berbahaya. Nyatanya darahku justru bisa digunakan sebagai potion," jawab Lucifer jujur.


"Syukurlah… tadi Kalee-nee meminumnya sedikit," balas Mio lega.


Lucifer menggaruk pipinya canggung. Dia benar-benar tidak mengerti makhluk didepannya ini. Baru beberapa saat yang lalu dia menangis, lalu tertawa, lalu khawatir dan tertawa lagi. Dia pernah merawat sepasang anak kembar dan dia sangat menyayangi mereka. Mungkin karena itu dia lemah terhadap anak-anak.


Waktu berlalu dengan cepat. Selama itu Mio melakukan percakapan satu arah dengan Lucifer sebagai pendengarnya. Tanpa dia sadari, hari sudah mulai gelap.


Lucifer sudah memasang banyak "mata" disekelilingnya untuk memastikan keadaan aman selama dia terluka. Tentu saja dia menyadari kalau hari sudah gelap dan orang-orang di luar sedang mencari Mio. Alasan kenapa hingga saat ini tidak ada yang sampai ke tempatnya, karena sihir ilusi yang dia pasang di sekelilingnya agar orang-orang tidak dapat menemukannya.


Sejujurnya dia sangat bingung apakah harus melepasnya agar Mio ditemukan atau tidak.


"Matahari sudah tenggelam. Pulanglah!" seru Lucifer pada akhirnya.


"Ehhhh… nggak mau!! Mio mau di sini aja sama Luci-nee!!!" rengek Mio.


Lucifer sedang dalam masalah. Kalau dibiarkan, Mio pasti akan menangis.


"Ahh… em… begini saja. Untuk sekarang pulanglah, nanti keluargamu akan khawatir kalau kamu tidak pulang."


Lucifer mencabut sehelai bulu sayapnya dan memberikannya pada Mio.


"Nanti kamu bisa menemuiku lagi. Jika membawa ini, kamu bisa lepas dari sihir ilusinya."


Mendengar itu, seketika ekspresi Mio langsung berubah cerah.


"Beneran!? Horee!!!! Mio pasti akan menemui Luci-nee lagi!!! Janji!!" seru Mio sembari mengacungkan kelingkingnya.


Lucifer tersenyum canggung, lalu menautkan kelingkingnya di kelingking kecil Mio.


"Iya. Tapi kamu juga harus janjir satu hal padaku."


"Tidak boleh memberitahu Luci-nee pada siapapun, kan! Mio tau kok! Pasti bakal heboh kalau Luci-nee ditemukan, soalnya," jawab Mio cepat.


".... Be-benar. Kamu pintar juga."


Setelah janji selesai, Mio mengucapkan selamat tinggal dan melambaikan tangannya cukup kencang. Meski masih canggung, Lucifer juga membalas lambaian anak itu hingga dia tidak lagi terlihat dimatanya.


Tangan Lucifer perlahan menurun.


"Kenapa… aku membiarkan anak itu menemukanku, ya?"


Lucifer melihat jari yang sama dengan jari yang tadi bersumpah janji.


".... Kukira aku akan sendirian di tengah hutan gelap ini hingga beberapa bulan kedepan."

__ADS_1


"Anak yang aneh," senyumnya lembut.


__ADS_2