
"Baiklah, cukup sampai disitu semuanya. Kalau kalian melakukannya lebih jauh lagi, kita sama saja dengan dirinya bukan? Jangan buat posisi kita berubah dari korban menjadi pelaku!"
Mayat seorang gadis berhasil membuat ratusan mayat dihadapannya tunduk seketika. Entah karena kecocokan mana gadis itu dengan Mio. Mayat gadis itu adalah satu-satunya mayat yang mampu berbicara dengan normal dan juga bergerak dengan normal tak seperti mayat yang lainnya.
TAP TAP TAP TAP
Sepanjang dia berjalan, semua mayat akan berhenti bergerak dan hormat padanya. Mayat itu sudah membawa sebuah katana bersamanya dari awal. Dan dengan cepat...
SLAAAASSSHHHHHHH
Dia memenggal kepala sang Kardinal hingga terlepas dari tubuhnya. Jika seperti biasanya, sang Kardinal akan beregenerasi dengan cepat. Namun sang Kardinal mati saat itu juga di tangan gadis itu karena Mio juga menuruti kemauannya.
Gadis itu berhenti didepan Mio yang kelihatan pucat karena kehabisan mana dan berbagai alasan lainnya. Melihat Mio melakukan semua tadi, gadis itu hanya tersenyum saja.
"Kelihatannya kau sudah kembali jadi dirimu sendiri ya, senpai!" ujar sang gadis penuh senyuman.
Seperti yang bisa diduga, gadis yang membuat para mayat hidup hormat seketika adalah pemimpin mereka, tuan putri pertama Kerajaan Amamiya, Amamiya Hotaru.
"Tapi bukan berarti kami memaafkan semua perbuatan kalian hanya karena kamu sudah kembali normal dan membunuh penjahatnya. Jangan lupa kalau kalian sendirilah yang membunuh kami dengan tangan kalian."
Mio tak membantah sama sekali. Gadis kitsune ini hanya diam menundukkan kepalanya. Dia tak berani melihat wajah Hotaru dan rakyatnya karena rasa bersalah dan penyesalan. Tapi disisi lain dirinya lega karena akan ada orang yang membalas dendam Kerajaan Amamiya padanya. Mio tak keberatan dibunuh ataupun disiksa jika itu oleh Hotaru dan rakyatnya.
"Mio-senpai, kenapa kau tak mengangkat kepalamu dan melihat kami?" tanya Hotaru.
Mio tidak berani, dia bisa membayangkan wajah penuh amarah, dendam dan kebencian yang terarah padanya dan kakak-kakaknya. Bahkan jika alasannya karena mereka dikendalikan kutukan, tetap saja mereka sendirilah yang membunuh rakyat Amamiya.
"Kalau begitu bisa kuanggap kalau kamu setuju dengan apapun yang akan kami lakukan padamu?" tanya Hotaru lagi.
Mio mengangguk, dia siap dengan segala yang menantinya. Semua itu pasti tak akan sesakit penyiksaan batin oleh rasa bersalah ini.
"Baiklah. Aku sudah memutuskan hukumanmu."
Mio, "........"
Hotaru dengan tegas mengangkat pedangnya ke leher Mio. Mio hanya diam memejamkan matanya.
"Youkai kelima, Kitsuna Mio. Sebagai salah satu Keluarga Kerajaan Amamiya, sekaligus keturunan langsung dari Sang Penyihir Agung. Aku memberikanmu perintah!"
GLEKKK
"Mulai sekarang, jalanilah hidupmu sesuai keinginanmu. Kau tak perlu lagi terikat dengan sesuatu yang bernama Kerajaan Amamiya ini lagi. Hiduplah! Temukan kebahagiaanmu! Lalu... meski akan sulit... lupakanlah kami."
"!!?"
Mio kaget, dia seketika mengangkat kepalanya seakan meminta penjelasan pada Hotaru. Disaat itu juga...
Dirinya melihat semua itu. Senyuman tulus dan hangat tanpa setitik pun amarah, dendam ataupun kebencian yang dia bayangkan sebelumnya dari Hotaru dan rakyatnya. Karenanya air mata Mio mengalir tanpa bisa dia kendalikan.
"Kenapa...?"
"Kenapa?"
"Kenapa!?"
"Kenapa kalian... memaafkanku?"
"Kenapa kalian tidak membenciku!!?"
__ADS_1
Seluruh emosi Mio pecah. Berbagai perasaan campur aduk di hatinya. Gadis itu menutup wajahnya dengan tangan agar tangisannya tak semakin banjir.
Hotaru menggaruk pipinya canggung, dia menengok ke arah para rakyatnya. Seakan paham yang dikatakan sang putri, para rakyat menganggukkan kepalanya. Satu persatu rakyat Kerajaan Amamiya maju ke depannya.
"Mio-sama... anda adalah Youkai-sama yang baik hatinya dan sangat kuat. Namun bagi saya, anda hanyalah gadis remaja yang menanggung beban berat tak sesuai umur anda, meski anda memang hidup lebih lama dari saya, tapi di umur manusia, anda hanyalah anak remaja 15 tahun," ucap seorang paman samurai yang sering berpatroli bersama Mio.
"Mio-sama, anda satu-satunya Youkai yang setiap kali saya berikan makanan, akan membuat ekspresi anda menjadi sangat bahagia. Mengetahui anda yang seperti itu, membuat saya sebagai pembuat makanannya ikut bahagia, bukan?" tanya seorang wanita tua pemilik rumah makan yang sering didatangi Mio.
"Bergosip bersama Mio-sama itu menyenangkan! Kami sebagai para ibu rumah tangga, tak akan pernah bosan jika Mio-sama sudah datang!!"
"Mio-sama sering membantu pekerjaan remeh seperti memperbaiki genting, mencari anak-anak, menjemur pakaian, dan lainnya. Sampai saya sering bingung, apa anda benar seorang Youkai yang agung."
"Bermain bersama Mio-sama nee-chan itu paling seru!!! Ya gak?!"
"Iya!!!!!"
"Kalau ada Mio-sama nee-chan, semua hal bisa jadi menyenangkan!!!!"
"Sa-saya... saya adalah penggemar musik Mio-sama!!! Tak ada musik yang lebih enak didengar selain alunan Lyra anda!!!"
"Mio-sama sering melindungi kami dari monster berbahaya apapun dan dari ras lain juga!!! Bagi kami, anda dan Youkai-sama lainnya adalah pelindung kami!!!!"
"???????"
Mio kebingungan, dia tiba-tiba diserang oleh rangkaian kekaguman dari rakyatnya.
"Kenapa tiba-tiba!?"
Hotaru tertawa kecil melihat Mio seperti itu. Namun itu tak lama sebelum dia melanjutkan maksudnya.
"Mio-senpai... tadi kau tanya kenapa kami tidak membencimu dan justru memaafkanmu, kan?"
Hotaru membalikkan badannya menghadap rakyat.
"Kami membencimu dan Youkai-sama lainnya. Kami tidak bisa memaafkan kalian yang sudah membunuh kami sekejam itu."
NYUUUTTTTT
"......"
"Tapi..."
"?"
"Jauh sebelum itu, kami mencintaimu dan Youkai-sama lainnya. Kami berhutang budi sangat banyak pada kalian. Kami mengagumi sosok kalian. Kami tidak akan melupakan semuanya yang pernah kalian perbuat pada kami hanya karena sebuah kesalahan," lanjut Hotaru.
Mio berdiri dengan penuh amarah. Dia menepuk dadanya agak kuat.
"Hanya karena!!? Kau sebut ini semua 'hanya'!?? Setelah semua ini... kamu bilang begitu!!??"
Melihat itu, Hotaru justur semakin tersenyum.
"Mio-senpai, kami sudah memutuskan semuanya. Daripada melihat kesalahan kalian di akhir, kami memilih untuk melihat kebaikan kalian dari awal selama 300 tahun lebih ini."
Kini Hotaru kembali menghadap Mio dengan penuh senyuman.
"Target kebencian, amarah dan dendam kami tak akan menjadi kalian. Karena kami melihat semuanya bahkan ketika kami sudah mati."
__ADS_1
"Jadi jangan khawatir, kebencian kami tak akan salah sasaran."
PSSSSHHHH
Perlahan, tubuh Hotaru dan rakyat lainnya mulai kembali rusak seperti semula namun memancarkan cahaya hijau kekuningan yang hangat dan sejuk dimata.
"!?"
Tentu Mio tidak membiarkannya begitu saja, dia kembali menyalurkan mana dan energi kehidupannya pada para rakyat.
"Hentikan itu! Ini perintah!!" bentak Hotaru tegas.
"!!!"
Mio tidak bisa melawan, dia berhenti seketika seakan ada sihir yang menahannya.
Sang Putri menghela napas kecil, "Daripada itu dengarkan saja kami."
"......"
Mio menuruti sang putri, dia menarik kembali tangannya, bergelantung di lengan. Gadis itu masih memiliki ekspresi sangat terluka diwajahnya.
"..... Mio-senpai... kami memaafkanmu."
"Kerajaan Amamiya memaafkan anda dan Youkai-sama lainnya!!!" jerit rakyat Amamiya bersamaan.
"!!"
Ekspresi Mio semakin menjadi-jadi, apalagi karena wujud fisik rakyat Amamiya sudah kembali jadi mayat normal dan roh mereka yang bersinar hijau melayang di langit.
"Tunggu!!! Jangan pergi!!! Aku akan melakukan apapun!!!!! Kumohon... kumohon jangan tinggalkan aku sendiri!!!!!" jerit Mio sangat keras dan memilukan.
Tak ada satupun rakyat yang menjawab, mereka hanya tersenyum dan terbang semakin tinggi ke atas. Hotaru yang berdiri paling depan dari ribuan rakyat Amamiya melemparkan sebuah senyuman penuh ekspresi dan misteri.
"Mio-senpai... jika kau benar-benar memikirkan kami, tolong laksanakan perintah yang kuberikan padamu tadi."
"TUNGGU!!!! JANGAN TINGGALKAN AKU!!!!!!!!!"
"Dan juga... tolong... berhenti menyalahkan dirimu sendiri dan menanggung semua dosanya. Dari semua orang, kamulah yang paling harus memaafkan dirimu sendiri," batin Hotaru tepat sebelum dirinya dan rakyatnya benar-benar menghilang di bawah cahaya bulan.
"HOTARU!!!!!!! MINNA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
"Ukh...."
"UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Mio yang ditinggalkan sendirian oleh semua orang di Kerajaan Amamiya menangis sejadi-jadinya. Semua air mata dia tumpahan sekaligus. Bahkan air mata yang sudah dia keluarkan sebelumnya tidak bisa dibandingkan dengan tangisannya kali ini. Karena meski telah menangis cukup lama hingga air matanya berubah menjadi air mata darah, dirinya sama sekali tak berhenti.
Kata-kata, "Kami memaafkanmu."
Yang mereka ucapkan sebelumnya justru menjadi bumerang yang menghancurkan pertahanan terakhir Mio. Sejak dia sadar hingga sekarang, satu-satunya alasan dia bertahan hidup meski di tembak jutaan panah rasa bersalah adalah karena dia ingin rakyat Amamiya sendiri yang membunuhnya. Kini alasan itu telah lenyap.
Bukannya membuat Mio ingin hidup dengan baik karena harapan mereka, harapan itu justru membuat Mio ingin mati saja.
Mio mengambil katana milik Hotaru yang satunya (karena yang satu sudah dibawa Mio diawal). Di arahkan pedang itu ke lehernya sendiri meski awalnya pedang itu digunakan untuk sumpah perintah sang putri.
"...... Kau menyuruhku untuk hidup sesuai keinginanku. Tapi sekarang... keinginanku bukan untuk hidup..."
__ADS_1
"Aku lelah... Hotaru..."